Sweet Revenge - Bab 5 (ID)

KEAJAIBAN SEMANGGI


"Apa kamu baik-baik saja?"

Anak laki-laki itu membawa seorang pria yang sedikit lebih tua dariku.

"Ini."

Dia membuka tanganku dan dengan lembut meletakkan semanggi berdaun empat di atasnya.

"Semanggi berdaun empat. Oh... maaf... aku menangis."

"Yah, senang bertemu denganmu juga. Anak ini adalah putraku, Mei. Konyol sekali... apa keajaiban Shirotsumegusa benar-benar berhasil?"

Dia menatap ujung jariku dan memiringkan kepalanya.

"Eh... ajaib."

"Tahukah kamu bahwa Shirotsumegusa adalah bunga putih yang mekar di semanggi?"

"...Entah."

"Lalu bagaimana bisa ada semanggi yang berdaun empat?"

"...Oh, ayolah."

“Ada satu teori, dikatakan bahwa jika titik tumbuh rusak, daun lain akan keluar dan menjadi empat daun. Oleh karena itu, di tempat-tempat seperti pinggir jalan dan taman yang kemungkinan besar akan diinjak orang, tampaknya keempat daun itu mudah ditemukan."

"Saya tidak tahu soal itu."

"Ya, menyedihkan memang. Terluka karena sering diinjak-injak."

Kupikir itu persis sepertiku sekarang, secara masokistik.

"Tapi tetap saja, luar biasa karena ada air mata untuk menghasilkan empat daun keberuntungan.... Kamu mengalami sesuatu yang sangat menyedihkan. Mungkin ada seseorang yang sangat kamu cintai sampai-sampai kamu bahkan tidak ingin balas dendam?"

"...Kenapa Anda bisa tahu?"

Pria itu tersenyum lembut dan mengusak kepalaku. Tangannya hangat.

Ini memalukan. Tiba-tiba ada orang asing yang menyemangatiku seperti anak kecil...

"Aku baru saja menceraikan istriku tahun lalu. Waktu itu mataku memerah sepertimu, jadi entah bagaimana aku bisa mengerti. Sewaktu merasa depresi, anakku memberi cincin semanggi. Aku tidak punya pendamping, tapi aku tidak sendirian. Kupikir cincin itu adalah keajaiban yang melepaskan kesepian."

"Tapi... aku... aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi."

Aku hanya tahu Kazuma, aku hanya berkencan dengan seorang Kazuma.

"Tahukah kamu ada pepatah di luar negeri yang bilang bahwa hidup bahagia adalah balas dendam termanis?"

"Kebahagiaan adalah balas dendam?"

"Ya. Tidak apa-apa kan buat balas dendam seperti itu?"

"...Ya, mungkin."

"Benar. Itu sebabnya... aku memutuskan untuk jujur ​​pada diriku sendiri dan tinggal bersama putraku. Tanpa menyembunyikan apa pun lagi...."

"Barangkali... apa kamu punya masalah?"

Baru kemudian aku menjadi tertarik pada pria itu.

Bagaimana bisa? Aku menyadari bahwa gelombang hatiku agak merapat padanya.

"Tapi aku tidak bisa... tiba-tiba bicara dengan orang yang baru pertama kali kutemui."

Dia memiliki tersenyum riang.

Di bawah langit biru, kupikir senyuman itu sangat menyegarkan.





PREV | LIST | NEXT