Sweet Revenge - Bab 4 (ID)

DUA CINCIN


Aku memandangnya mengendarai mobil hitam dari pintu depan hotel, melihatnya menghilang ke kota dengan pengantin wanita yang menangis bahagia.

"Selamat tinggal Kazuma... berbahagialah."

Memunggungi hotel, selangkah demi selangkah, aku tidak pernah berbalik lagi dengan pundak yang berat.

Apa yang harus kulakukan mulai sekarang.... Bagaimana aku harus hidup?

Perasaan lemah tentang apa yang tertinggal tiba-tiba meluap.

Aku berjalan di sepanjang kawasan pejalan kaki di sisi sungai yang mengalir di dekatnya.

Aku tidak tahu harus ke mana, tetapi aku ingin pergi ke suatu tempat selain di sini.... Aku ingin pergi ke antah berantah.

Aku tidak mampu langsung kembali ke kamar tempatku tinggal bersama Kazuma dulu.

Aku... akhirnya sendiri.

Aroma bulan Mei terlalu menyegarkan dan kehijauan yang segar terlalu menyilaukan... air mataku merembes.

Akhirnya... aku menangis.

Air mata yang tumpah disambar oleh angin.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan perasaan yang terlempar di tengah jalan ini.

Akhirnya, sungai sempit itu berakhir dan menjadi kanal, laut terbuka di baliknya. Halaman rumput membentang di sekitar kanal dengan perosotan besar berbentuk ikan paus dan ayunan merah.

"Ada taman di tempat seperti ini...."

Karena berjalan sambil menangis, mataku mungkin sekarang menjadi merah.

Tiba-tiba aku menjadi malu menyadari bahwa wajahku mungkin berantakan dan terlihat mengerikan di taman pada hari Minggu sore ketika para keluarga lain tengah tersenyum sementara anak-anak berlarian. Tapi aku berdiri di sini tidak bisa pulang.

Di sini.... Aku ingin istirahat sejenak.

Ketika aku mencoba untuk berbaring di atas rumput dengan mata tersembunyi di balik punggung tangan, suara seorang anak tiba-tiba mengagetkanku.

"Nii-chan menangis?"

Dia adalah anak laki-laki dengan senyuman yang polos.

"Kuberikan nii-chan ini. Ayahku bilang benda ini bekerja dengan baik untuk hati yang sedih."

Apa yang dipikirkan bocah kecil itu? Dengan berhati-hati, dia memasang cincin yang terbuat dari tumbuhan semanggi ke jariku.

Kemudian aku teringat akan cincin kawin yang baru saja ditukar oleh Kazuma dan istrinya, membuatku langsung menangis seperti orang dungu.

"Uh... ugh...."

Ini buruk.... Aku tidak bisa berhenti menangis.

"Oh, nii-chan tidak apa-apa? Apa nii-chan sakit? Akan kupanggil ayahku!"





PREV | LIST | NEXT