Garland - 1.2 (ID)

PERTEMUAN


Jill yang sejak dulu tidak hanya mencoreng nama baik keluarga tapi juga tidak mampu beradaptasi dengan kehidupan sehari-harinya, memang sungguh tidak bisa mematuhi sang ibunda. Membuat perselisihan yang bertahun-tahun terjadi tidak bisa dielak lagi.

Bahkan sebelum waktu pernikahannya, ibunda Jill sampai berpikir untuk menyuruh anak itu melakukan pekerjaan pelayan agar bisa berbaur dengan manusia hewan.

…Aku pun sebenarnya tidak ingin berselisih dengan ibunda.

Mansion ini terasa menyesakkan.
Jill tidak memiliki cara untuk kabur, satu-satunya jalan adalah dengan menjadi pasangan Albert.

Untuk tanggal pastinya masih belum ditetapkan, namun Jill tahu bahwa Albert tengah memersiapkan pernikahan mereka.

Jill menyukai Albert yang bersedia menerima dia apa adanya. Albert yang bahkan mau berteman dengan Jill yang diabaikan oleh keluarga sendiri, juga selalu menjadi dukungan moralnya.

Jika sampai Jill menjadi bagian dari keluarga Albert, dia pasti akan lebih bahagia dari sekarang.

Daripada pergi ke tempat yang jauh, kalau tidak ada gangguan dan bisa hidup dengan tenang pun, bagi dirinya yang dikucilkan ini harusnya kebahagian macam itu sudah cukup.

Harusnya.

Tapi entah mengapa perasaanku masih kalut.

Dari pintu saloon di seberang, terdengar tawa bahagia para omega. Jill membekap dadanya sementara mendengar suara-suara itu di lorong yang gelap gulita.

“…Kenapa aku terlahir sebagai omega?”

Omega.

Sebagai salah satu dari jenis kelamin kedua yang ada di dunia ini, omega manusia ada hanya untuk melahirkan anak dari alpha manusia hewan. Ini bukan pernyataan yang berlebihan.

Kedengarannya bagus bila jenis kelamin kedua dibilang sebagai pembangun jembatan penghubung antar manusia hewan dengan manusia biasa. Namun ketika masa kawin datang, omega yang hanya ada untuk para alpha akan sekadar dianggap sebagai sebuah alat.

Dari mansion bagus yang menenangkan ini pun tidak bisa keluar barang selangkah. Tapi jika dasarnya memang peduli soal mansion ini, hal kecil sebenarnya bisa terasa bahagia.

Seperti mereka yang tengah tertawa di dalam saloon. Mereka yang sangat bangga menerima dirinya sebagai seorang omega dan hidup hanya dengan tujuan untuk melahirkan anak manusia hewan. Jill tidak tahu betapa mudahnya hal itu.

Sebab bagi Jill, kebahagiaan omega semacam itu bukanlah kebahagian seperti yang dipikirkannya.

Jill berpikir kebahagiaan itu di mana dia bisa melakukan hal yang ingin dia lakukan, tanpa ada pihak lain yang menghakimi apalagi menentang.

Jill tidak mengerti mengapa dia harus ditentang.

Apakah aneh jika dia ingin mendengarkan musik dan bepergian ke negara asing? Ingin melihat pemandangan jauh yang tergambar seperti di lukisan dengan mata kepala sendiri?

Bau asin laut yang tidak pernah ia hirup, negeri asing di seberang samudera, sesuatu di balik gunung yang menjulang tinggi ― semua itu, Jill heran jika tidak ada seorang pun yang ingin mengetahuinya.

Tetapi, kesempatan untuk memuaskan semua hasrat keingintahuannya itu tidak datang seumur hidup.

Pada dasarnya Albert adalah laki-laki yang baik, namun ia tetap seorang Alpha. Dan yang paling penting ― untuk melahirkan keturunan dari manusia hewan.

Begitupun tidak apa-apa. Lagipula aku ingin membalas hutang budiku kepada Albert.

Tidak apa-apa karena saling suka, Jill menuruni tangga sambil teringat kembali rasanya ketika burung kecil yang ada di tangannya perlahan-lahan menjadi dingin.

Kadang-kadang hal ini tidak tertahankan lagi. Ingin kabur. Ketika perasaan kuat ingin terbang bebas muncul secara mendadak, rasanya Jill ingin mencakar dadanya.

Untuk menghilangkan perasaan itu, dengan penuh semangat Jill kembali ke dapur dan tersenyum sewaktu melihat Stella.

“Aku sudah mengantar jusnya dengan selamat loh. Selanjutnya apa lagi yang bisa kulakukan?”

Dengan senyum seakan telah tidak terjadi apapun dan raut wajah yang seolah berkata bahwa dia akan melakukan apa saja, Stella menghela nafas lega. Meski tadinya sempat menampakkan muka cemas.

“Kalau begitu sembari membersihkan kandang ayam, tolong ayam-ayam itu juga dilepaskan. Jill-sama sangat menyukai binatang, kan.”

“Serahkan padaku.”

“Tapi, setelah selesai Anda harus mandi dengan bersih. Bau ayam bisa membuat orang lain jijik.”

Stella mengelap tangan yang basah, kemudian memasukkannya ke dalam kantung celemek. Ia mengeluarkan sebuah amplop, dan terlihat dari segelnya Jill tahu siapa pengirimnya.

“Dari Albert?”

Seketika wajah Jill bersinar. Stella tersenyum menganggukkan kepala.

“Ya, tentu saja.”

Keduanya sering bertemu di titik tengah antara rumah mereka sambil mengobrol dan menyantap sandwich. Menghabiskan waktu membicarakan hal-hal bodoh. Bagi Jill ini merupakan hal yang membahagiakan.

Untuk janji bertemu itu, mereka meminta tolong pelayan masing-masing untuk mengantarkan surat secara sembunyi-sembunyi.

“Tidak apa-apa, bersantailah.”

Stella melihat Jill dengan pandangan lembut seperti cucunya sendiri. Para pelayan dapur lain tersenyum seakan berkata ‘bersenang-senanglah’. Membuat Jill bergelitik senang mengambil surat itu.

Tidak hanya senang karena bisa bertemu dengan Albert yang dia cintai, tapi ia juga senang terhadap perhatian para pelayan yang menjaganya dengan baik ini.

“Terima kasih semuanya.”

Walaupun diasingkan, Jill sangat bersyukur dengan segala kebaikan dari para pelayan. Jika tidak ada mereka, kehidupannya di rumah ini pasti akan lebih menderita lagi.

Walaupun perlakuan Jill sebagai pelayan merupakan hukuman dari ibundanya sendiri, tetapi karena waktu yang dihabiskan bersama dengan para pelayan lebih lama maka Jill bisa tertawa bahagia hingga kini.

Sehingga Jill mampu terus hidup sementara terus mengingat perasaan mencekik yang ia derita tanpa menjadi putus asa.


pn/ed: Sola, Jo



PREV | LIST | NEXT