Garland - 1.1 (ID)

PERTEMUAN


Memetik herbal di halaman belakang adalah salah satu pekerjaan yang Jill senangi.

Peppermint dan chamomile. Dill, basil, rosemary, parsley, juga fennel.

Memetik herbal yang memiliki wangi harum membuat perasaannya menjadi bahagia, bahkan melihat serangga-serangga kecil keluar masuk permukaan tanah juga menyenangkan.

Ketika sedang memetik herbal yang diminta oleh chef Stella dan memasukkannya ke dalam keranjang, terdengar suara dari semak-semak di seberang.

“Permisi. Ada kiriman dari desa.”

Itu suara orang suruhan yang biasa datang mengantar barang belanjaan.

Jill buru-buru membungkukkan badan di bawah semak di mana asal suara tersebut berasal. Menghindari agar dirinya tidak bisa terlihat, lantas pergi mendaki lereng yang ada di belakang mansion.

Sambil memilih bayangan pohon yang tidak akan terlihat dari pintu belakang, Jill mendaki lereng yang sebentar-sebentar menurun lalu menanjak lagi. Di antara pepohonan tersebut terlihat suatu tempat untuk memandang ke arah desa.

Desa yang rapi dan indah itu terletak 1 jam menumpang kereta dari pusat ibukota Barnerude. Berdekatan dengan desa, di atas sebuah bukit kecil, di sanalah tempat Jill lahir ― mansion keluarga Müller.

Jarak dari mansion ke desa hanya satu kilometer bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Sayangnya bagi Jill, ia tidak diperbolehkan untuk mengikuti pelayan yang dengan bebasnya bisa pergi-kembali ke desa. Bahkan, ia tidak bisa menerima barang belanjaan yang diantarkan oleh orang suruhan tersebut.

Ada suatu peraturan, terkhusus bagi omega dari keluarga Müller dilarang untuk menunjukkan diri kepada orang-orang luar mansion.

Sebab omega merupakan 'barang' penting.

Di Barnerude, ada banyak keluarga yang pekerjaanya mengirimkan omega untuk bangsawan.

Sebagai ganti jerih payah mereka merawat omega selama kurun waktu tertentu, jika nantinya omega tersebut bisa melahirkan keturunan, mereka akan menerima hadiah istimewa sesuai yang telah disepakati.

Omega yang orang-orang tersebut rawat hampir tidak pernah ada yang menjadi pasangan tetap dengan partner bangsawan mereka. Selepas melahirkan, para omega akan kembali kepada keluarga masing-masing, sementara sebagian besar lainnya akan dikirimkan lagi ke mansion yang berbeda.

Keluarga Müller sebagai salah satu keluarga yang menjalankan bisnis macam itu, sangat terkenal akan omega berkualitas tinggi yang telah mereka hasilkan selama beberapa generasi.

Jill terlahir dan juga merupakan keturunan langsung dari keluarga Müller tersebut.

Mata abu-abu gelapnya membuat rambut hitam berkilau yang ia punya terlihat suram.

Dengan hidung mancung serta dagu kecil karakterisitik indah dari keluarga Müller, sudah banyak bangsawan yang ingin merawat Jill sejak usia dini.

Tetapi kini, Jill diabaikan oleh ibunya sendiri. Dan sebagai hukuman dari kebiasaan 'kelakuan membangkang'nya, ia pun melakukan pekerjaan rendahan bersama-sama dengan pelayan lain.

Jill sebenarnya tidak bermaksud untuk membangkang.

Tetapi ketika Jill bertanya mengapa ia dilarang untuk mempelajari hal lain di luar mansion, ibundanya berpikir bahwa hal itu tidak pantas untuk seorang omega dari keluarga Müller.

Tersebab tidak ingin membuat sang ibunda melampiaskan kemarahannya kepada omega lain, Jill berusaha sekeras mungkin agar tidak terlihat seperti membangkang. Sayangnya seperti halnya hari ini, Jill tidak bisa berbuat apa-apa jika pekerjannya terganggu dan dia harus menyembunyikan diri.

“...Dasar tidak berguna.”

Semilir angin lembut menelisik rambut Jill yang tengah menatap desa, terlihat dekat namun terasa jauh sekali.

Tanpa sadar Jill menyentuh kalung yang berada di lehernya.

Walaupun dibilang sebagai kalung, dari bentuknya jelas ini adalah collar. Jill tahu mengapa dia harus memakai benda ini.

Semua omega seumpama burung yang tidak bisa terbang bebas karena terperangkap dalam sangkar kasat mata.

Seekor makhluk hidup yang tidak mempunyai tempat lain selain dalam sangkar yang disediakan, tetapi tidak bisa pula bertahan hidup jika keluar dari sangkar tersebut.

Walaupun sudah terbiasa dan menerima keadaan, terkadang masih ada keinginan kuat untuk terbang bebas.

Misalkan segera mati pun, jika bisa terbang dengan bebasnya ― Ah, betapa enaknya perasaan itu.

Ketika membayangkan pemandangan yang cerah dengan perasaan sebagai seekor burung kecil, Jill mendengar suara dari bawah.

“Jill-sama, Jill-sama? Aku minta tolong untuk memetik herbal kan, ke mana Anda pergi? Kalau terlalu lambat nanti basilnya bisa layu.”

Sedikit serak, tanpa keraguan, namun penuh dengan kasih sayang, itu suara chef Stella.

“Maaf, Stella! Aku kembali sekarang.”

Menjawab dengan suara lantang, Jill berlari menuruni lereng yang tadi ia daki.

Muncul dari pintu belakang mansion yang terbuka lebar, Jill mendengar tawa cekikikan beberapa pelayan dapur yang tengah membantu Stella ketika ia memasuki dapur bawah tanah.

“Lagi-lagi ada daun yang tersangkut di rambutmu, Jill-sama.”

“Ada ranting juga yang tersangkut di pakain. Anda pergi ke hutan lagi ya?”

“Aku cuma mendaki lereng yang ada di belakang.”

Menyerahkan keranjang yang ada di genggaman kepada Stella, Jill balas tersenyum kepada para pelayan dapur yang terlihat sibuk mempersiapkan makan siang sekaligus persiapan untuk makan malam.

“Bagus. Basil, dill, lalu mint.”

“Kita lihat... Ah, rasa dan baunya sudah pas sekali sewaktu Anda memetiknya.”

Stella tertawa hingga tubuh gemuknya bergetar.

“Saya sangat terbantu dengan Jill-sama yang pandai dalam memelihara tumbuhan herbal juga ahli menangani ayam.”

“Aku juga pandai dalam mengupas kentang loh. Bilang saja kalau butuh bantuanku.”

Jill mengambil kursi kecil lalu duduk, dengan pisau di tangan, lantas mulai mengupas kulit kentang yang diambil dari gunung. Seorang pelayan menyeduh secangkir teh untuknya.

“Waktu itu, Mary bilang kalau Anda juga membantunya melipat cucian.”

“Iya, karena terlalu banyak.”

“Omega yang juga bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, pasti cuma Jill-sama.”

“Kalau dalam keluarga Müller mungkin cuma aku, tetapi kalau dicari di seluruh dunia, pasti setidaknya ada satu orang lagi yang juga bisa.”

Perbincangan mengenai hal-hal acak seperti ini adalah keseharian rutin Jill yang bekerja di ruangan bawah tanah mansion, bersama dengan para pelayan lain.

Hal ini sudah menjadi makan sehari-harinya semenjak beberapa tahun terakhir. Meski, terkadang Stella masih menunjukkan raut wajah kesepian.

“Jill-sama memang seorang pekerja keras. Tapi, seberapa pun Anda bisa menyelesaika pekerjaan para pelayan, keterampilan ini tidak akan bisa digunakan di keluarga yang akan Anda nikahi nanti. Madam juga sebaiknya segera memaafkan Anda.”

“Bukan soal memaafkan, tapi memang karena ibunda sudah muak dan memang ingin mengusirku.”

Jill tertawa.

“Aku juga sudah tidak peduli lagi. Dibandingkan dengan meningkatkan pengetahuan yang membosankan, bekerja dengan kalian seperti ini lebih menyenangkan.”

Itu suara hati Jill sesungguhnya. Dibandingkan dengan keberadaan omega yang diperuntukkan untuk melahirkan anak dari bangsawan alpha setengah hewan, menjadi beta seperti para pelayan ini tentu lebih bebas. Walaupun bila bersama mereka ia harus terus bekerja tanpa istirahat, itu sudah cukup karena ia tidak perlu memikirkan hal-hal yang tidak penting.

Setelah mengupas kentang, ketika Jill sedang memotong roti tua dengan grater di samping Stella yang sedang membuat special dressing, dari pintu masuk dapur terlihat seorang pelayan rumah yang mengintip ke dalam.

“Stella-san, apa yang harus kita lakukan?”

Dia memerlihatkan air muka khawatir sementara mengenggam erat celemeknya.

“Para omega yang berada di saloon, mereka meminta untuk menambahkan jusnya lagi.”

“Ah, untuk istirahat waktu jeda pelajaran ya? Tadi sebelum Dan dan yang lain keluar, mereka harusnya sudah menyiapkan cukup banyak.”

“Tapi mereka bilang belum cukup.”

Kedua pelayan dapur itu terlihat bingung.

“Karena hari ini ada persiapan festival di desa, para pelayan laki-laki keluar semua, kemungkinan akan kembali sebelum siang... Sekitar satu setengah jam lagi.”

Keluarga Müller berpegang teguh pada kebiasaan lama. Pekerjaan para pelayan harus sesuai dengan pembagiannya masing-masing. Sebagai contoh; pelayan dapur hanya diperbolehkan untuk membantu chef di dapur. Untuk mengantarkan makanan kepada para omega di mansion adalah tugasnya para pelayan laki-laki.

“Tidak apa-apa, aku saja yang antar. Mungkin karena hari ini sedikit panas, para guru jadi lebih sering minum. Stella, bisa tolong siapkan segera?”

Jill meletakkan roti yang dipegangnya lalu melihat ke arah Stella.

“Baik, tentu saja.”

Stella mengeluarkan sebuah kendi keramik besar, wajahnya terlihat cemas.

“Tapi Jill-sama, kalau ke saloon di jam seperti ini pasti bakal ada banyak omega.”

“Benar sekali, Jill-sama. Sekalipun tidak ada pelayan yang bisa mengantar ini, kalau Madam sampai tahu kami meminta bantuan Jill-sama, pasti beliau akan marah besar.”

“Tapi kalau kalian yang mengantar pun, sama saja bukan? Kalau aku yang mengantar, tidak apa-apa aku saja yang dimarahi. Lagipula, aku juga sudah terbiasa digunjing orang banyak.”

Jill membusungkan dada, seakan berkata, "serahkan semuanya padaku!"

Para pelayan bertukar pandang cemas, tetapi tidak mengatakan bahwa mereka yang akan melakukannya.

Dalam keluarga Müller, sebagai seorang nyonya rumah yang memegang kuasa segala hal dalam rumah ini ― keberadaan ibunda Jill adalah mutlak.

Tidak ada seorang pun yang berani menentang peraturan yang ia tetapkan.

Walaupun begitu, dengan tingkah yang acuh tak acuh, Jill keluar dari dapur membawa jus yang telah disiapkan Stella.
Sewaktu menuju tangga khusus pelayan yang suram dan sempit, terdengar suara para wanita yang ada di dapur.

“Mengapa Madam memperlakukan Jill-sama dengan sangat buruk ya?”

“Entahlah.”

Stella menghela napas, menjawab, "Karena Jill-sama berbeda dengan omega kebanyakan ― maksudku, dia tidak ada kecocokan dengan Madam."

Tersenyum sendiri mendengar cara bicara Stella yang lembut, Jill lanjut menaiki tangga.

Jika ibundanya sampai mendengar hal itu, sudah pasti dia akan mengerutkan alis. Bukan soal ketidakcocokan. Ini salah Jill, dia sudah gagal sebagai seorang omega dari keluarga Müller. Jill berpikir seperti itu.

Semenjak menyadari akan hal-hal yang terjadi di sekitar, Jill yang tidak bisa beradaptasi dengan mansion ini, barangkali merupakan suatu kesalahan terlahir sebagai omega. Ibundanya selalu menghela nafas hanya dengan melihat wajah Jill, begitu pula para saudara yang selalu menertawakannya.

Melewati tangga, Jill membuka pintu kemudian keluar ke bagian depan mansion. Terlihat saloon yang luas hingga mencapai gerbang depan, digunakan para omega untuk belajar tata krama serta seni pertunjukan tradisional.

Di dalam saloon yang bercurahkan cahaya terang itu, terlihat para omega sudah menunggu dengan tidak sabar.

Sekarang jumlah omega di keluarga Müller meningkat menjadi lebih dari 10 orang.

Ada juga anak kandung lain yang mempunyai darah keturunan dari seorang kepala keluarga seperti Jill. Orang tua mereka berharap agar anaknya kelak bisa dikirimkan demi menjadi pendamping bagi bangsawan yang mempunyai status sosial tinggi. Mereka menitipkan anak-anaknya untuk diasuh oleh keluarga Müller.

Dengan peran ibunda Jill sekaligus sebagai Madam yang menjalankan pendidikan omega, beliau tidak bisa menerima dan memaafkan jika omega hanya tinggal diam di dalam mansion. Untuk itu lah, saloon dibuat sangat gemilang.

Semua omega terlihat cantik dan berperilaku anggun sehingga enak dipandang mata.

Walaupun begitu, bukan berarti kepribadian mereka juga anggun.

Ketika Jill meletakkan kendi jus di atas meja yang berada di tengah-tengah saloon, terdengar suara tegas seseorang yang penuh ketidaksukaan.

“Duh, kenapa harus dia yang mengantar minuman sih. Eh, kamu sebaiknya jangan berbicara sama pelayan itu.”

"Kenapa? Dia juga memakai collar yang sama dengan kita, kan?"

"Anak itu, walau terlihat begitu, dia sebenarnya omega dari keluarga Müller. Tapi dia malah membuat Madam marah jadi dia sekarang diperlakukan sebagai pelayan."

Tanpa memedulikan Jill, perempuan itu terus berbicara sementara mengisi jus ke dalam gelasnya, menghadap seorang junior yang baru saja masuk ke mansion itu. Melirik Jill dengan tatapan menghina.

“Sejak kecil, dia dengan wajahnya yang cantik itu membuat banyak keluarga bangsawan ingin mengasuhnya dengan baik. Suatu hari, kami membawa dia ke villa para bangsawan sewaktu liburan musim panas. Tapi si Jill ini malah kabur dari villa dan membuat Madam marah besar. Bangsawan itu juga marah besar karena merasa dipermainkan. Membuat kami terpaksa menyerahkan dua omega terbaik yang saat itu tersedia.”

“Sudah bagus dia lahir di keluarga Müller, dasar dungu. Harusnya dia memertahankan posisi yang diberikan karena terlahir di keluarga yang istimewa, bukannya justru menyiakan.”

Omega lain yang berwajah imut mengangguk menyetujui perkataannya sambil mengambil kue. Mereka melihat Jill sembari tertawa kecil.

“Dungu sekali ya. Pada akhirnya dia akan dinikahkan dengan bangsawan miskin dari wilayah tetangga, kalau aku sih pasti bakal menolak.”

“Di tempat si kucing dari bangsawan kampung itu?”

“Betul betul. Kalau benar kejadian, tidak hanya sebagai omega dari keluarga Müller, namun dia juga tidak akan diterima oleh keluarga Reinhart. Biarpun Jill merupakan teman kecil dari anak laki-laki mereka, tapi aku benar-benar terkejut karena mereka bertemu ketika dia sedang kabur dari mansion.”

Sesuai dugaan, hal ini akan membuatnya marah, namun Jill tidak membalas perkataan mereka. Kalau dibalas barangkali nanti akan semakin dikatai macam-macam.

Faktanya, apa yang diucapkan mereka semua benar adanya. Jill yang diabaikan orang tuanya sudah diputuskan akan dinikahkan sebagai pendamping Albert Reinhart yang tinggal di mansion dekat sini.

Semua keluarga Reinhart adalah orang baik. Mereka keluarga rajin yang disegani oleh petani penyewa lahan mereka. Sementara Albert yang merupakan manusia hewan dari keluarga kucing besar merupakan pasangan yang berharga bagi Jill.

Albert, yang air mukanya selalu terlihat muram semenjak kecil namun sebenarnya berwatak baik, sewaktu mengetahui bahwa burung kecil yang dihadiahkannya dulu kepada Jill mati, turut bersedih dan berjanji akan memberikan Jill burung yang baru lagi. Tentu saja, Jill dengan halus menolak. Jill berpikir menjadi pendamping Albert yang baik merupakan hal yang membahagiakan.

Bekerja bersama dengan para pelayan dan menjadi pendamping Albert, Jill bukan tidak mau dengan semua hal itu. Ia menerima dengan senang hati.

Jill maklum dan bisa menerima segalanya, namun omega lain lagaknya tidak mengerti akan perasaanya itu.

Ketika Jill berniat keluar dari saloon tanpa kata, terdengar suara seseorang memanggilnya.

“Hei, Jill.”

“...Ada apa?”

Jill membalikkan badan, perempuan itu tersenyum senang.

“Kamu sebentar lagi bakal menikah dengan Reinhart, kan? Jadi berjuanglah. Kalau kamu tidak bisa melahirkan anak dengan Albert kesayanganmu itu, Madam bilang akan mencabut hak warismu. Kalau ikatan kalian terputus maka kamu akan dijual ke tempat pelacuran, tentu saja kamu tidak mau jika hal itu sampai terjadi, bukan?"

Mendengar perkataan perempuan itu, semua omega serempak tertawa. Walau dengan elegan dan tanpa menaikkan suara, dari manapun itu tetap terdengar sebagai tawa yang jahat.

Tanpa membalas, Jill berbalik dan berjalan pergi. Melangkah di lorong yang hanya digunakan oleh para pelayan, kemudian membuka sebuah pintu yang berbeda dengan tampak luarnya. Ruangan ini terlihat sempit dan remang-remang. Jill masuk ke dalamnya.

Lelah Jill menghela nafas, menyederkan punggung ke tembok.

Bukan hal baru bagi Jill mendengar hinaan dari para omega di mansion. Meski dibiasakan, bukan sekadar hatinya yang merasa tersayat. Sakit perih itu selalu terasa ketika ia teringat kembali akan semua hinaan yang telah ia terima.

Apakah karena dia terlalu berbeda dengan yang lain? Sekaligus karena diabaikan oleh ibundanya sendiri?

Tradisinya, walaupun seorang omega dari keluarga Müller tidak bisa mempunyai anak selepas menikah, ia akan kembali lagi. Tetapi kembali untuk dikirimkan ke mansion lain. Tentu harga mereka jadi berkurang, namun bukan berarti mereka akan dibuang.

Bagi Jill, kalau sampai ia dikirimkan ke mansion lain, reputasi keluarganya pasti akan jatuh dan terhakimi. Lantas kemungkinan buruk apabila Albert sudah bosan dengannya, ibunda telah mendeklarasikan bahwa ia akan dihapus dari daftar ahli waris dan dijual kepada para pedagang.

Padahal ia merupakan 'barang' yang dirawat dengan menghabiskan banyak waktu dan uang. Hingga sampai berkeinginan kuat serupa ini untuk dibuang, Jill memang sudah diabaikan oleh ibundanya sendiri.

pn/ed: Sola, Jo