RID - Bagian 3

KAMAR 03: SELASA, RABU, KAMIS

"Mau bagaimana mana lagi kan…! Ayahku seorang Dewa Iblis dan kakakku seorang Kaisar Iblis! Aku memanglah seorang iblis, tapi sebenarnya aku ini seorang freeter pecinta damai...!"

"Benar… benar. Kau pasti tidak punya pilihan lain selain melakukan hal tersebut. Sudah, ayo minum dulu, ayo minum."

"Huhu.!"

Perlahan, aku menuangkan teh hitam ke dalam cangkir. Sang Raja Iblis yang sedang menangis itu kemudian menerima dan meminum teh tersebut dalam sekali teguk.

Aku penasaran apakah perutku akan sakit ya setelah ini.

Aku sudah tidak ingat berapa banyak cangkir yang telah kuhabiskan hingga saat ini, tetapi aku ingat bahwa aku sudah mendengarkan keluh kesah sang Raja Iblis selama dua jam.

Tampaknya keluarga sang Raja Iblis adalah keluarga yang benar-benar gelap dan bisa dikatakan bahwa ia sering dimarahi oleh keluarganya karena selalu bersikap lemah.

Dia memang terlahir sebagai Raja Iblis, tapi, selalu ingin menghabiskan waktunya dengan penuh kedamaian. Mungkin itulah alasan mengapa dia tinggal di apartemen ini.

Dan yang lebih mengejutkanku lagi, ternyata pemilik dari kompleks apartemen ini adalah sang Raja Iblis.

Bisa dibilang bahwa permasalahan kontrak apartemen dan lain sebagainya, biasanya ia serahkan langsung pada manajer perusahaan. Pastinya, hal remeh-temeh semacam itu bisa ditangani dengan mudah oleh para iblis kecil seperti Bai*nman.

Sembari menggunakan keigo, aku mengusap punggung sang Raja Iblis yang sedang minum teh.

"Jadi, apartemen Ketinggian Yang Amat Damai ini milik Maou-san ya?"

"Benar. Tempat ini benar-benar sangat damai kan…? Tapi orang biasa terlalu takut untuk menjadi penghuni tempat ini. Dan seperti iblis pada umumnya, keluargaku sendiri bisa dikatakan memiliki garis keturunan langsung dengan yakuza… Huhu… Huwaaa…!"

"Oh! Ah, sudah... sudah. Jangan menyia-nyiakan wajah tampanmu dengan menangis lagi, oke?"

"Hiks…!"

Karena sang Raja Iblis terus melanjutkan tangisannya, dengan terburu, kupeluk dan kuusap perlahan kepala juga punggungnya. Dia ini benar-benar seperti anak kecil.

Keterkejutan melandaku untuk sesaat! Tubuhku agak berjengit sementara aku terus memeluk  sang Raja Iblis yang masih penuh dengan air mata. Di ruangan berukuran delapan tatami itu, kami berdua saling berpelukan erat.

Benar-benar terasa sangat damai.

Tubuh yang kupeluk saat ini jauh lebih besar dari tubuhku dan lebih hangat. Dia ini mungkin saja seorang Raja Iblis, tapi, kehangatan tubuhnya sama sepertiku.

Sembari tetap menangis, dia membenamkan wajahnya di leherku, kembali melanjutkan cerita.

"Huhuhu… dan ini adalah pertama kalinya aku diberi salam oleh seorang penghuni baru. Semua orang selalu melarikan diri begitu melihat papan nama di kamarku. Saat itu aku benar-benar terkejut sehingga membuat jari kelingkingku terbentur… Sakit sekali rasanya…"

"Ah, begitu rupanya. Apa jari kelingkingmu sudah tidak apa-apa?"

"Uhm. Biar bagaimanapun aku kan Raja Iblis…. Ngomong-ngomong, terima kasih atas soba-nya. Aku meletakkan semuanya di kamidana dan pada hari itu juga aku langsung memasak semuanya untuk makan malamku…. Aku memakannya setelah membersihkan diriku kok…. Soba-nya benar-benar enak… Hiks!"

Sejak pertemuan pertama kami, setiap malam dengan perasaan menyesal, aku selalu memakan soba yang tersisa. Dan kudengar, rasanya bisa jadi semakin enak jika saja aku menambahkan telur mata sapi. Tapi yah, aku lebih senang bisa berbahagia saat ini.

Selepas sang Raja Iblis akhirnya berhenti menangis juga, kami lantas makan udon bersama.

Tentu saja yang kami makan adalah tsukimi tororo udon.

Selama makan, sang Raja Iblis terus mengusap kedua matanya yang terlihat merah sebelum akhirnya kembali menatapku.

"Uh, hei, H-H-H-Hero! Bukankah aku sudah bilang kalau aku libur pada hari selasa? Lalu kenapa kau tidak datang kemarin?"

"Oh, maafkan aku. Aku pergi untuk melakukan misi pada hari Selasa."

Tepat setelah aku mengatakan hal tersebut, sang Raja Iblis lantas berkata singkat, "Uhh… Apa boleh buat kalau begitu."

Namun dengan sekali lihat saja, aku tahu bahwa dia sebenarnya kecewa karena ucapanku.

Aku jadi sedikit memiliki keinginan untuk melindunginya.

Dan karena perasaan hangat ketika memeluk 'anak ayam' ini, aku pun memutuskan untuk menjadikan 'hari Selasa, Rabu, dan Kamis sebagai hari untuk pergi bermain ke kamar sang Raja Iblis'.



-  C A T A T A N  -

Freeter:
ungkapan untuk menggambarkan fenomena yang terjadi pada kaum muda Jepang yang berusia antara 15 sampai 34 tahun yang bekerja paruh waktu atau yang tidak bekerja. (sumber)

Bai*nman / Baikinman:



Keigo:
Bahasa hormat atau ragam bahasa yang lebih sering digunakan dalam keadaan formal.

Kamidana:


Miniatur altar rumah tangga yang disediakan untuk menguilkan kami (dewa) Shinto. (sumber)

Tsukimi tororo udon:



PREV | LIST | NEXT