RID - Bagian 2

KAMAR 01: NGOMONG-NGOMONG, MAOU-SAN

Rabu.

Dengan membawa hadiah di tangan, aku mendatangi kembali kamar sang Raja Iblis.

Kali ini aku tidak membawakannya soba melainkan udon.

Di dekat sekolahku saat ini sedang diadakan Pameran Nasional Kagawa. Aku berpikir untuk mengajaknya makan di sana. Ini bukan berarti aku ingin makan bersama dengannya, oke?

Sebenarnya aku datang tanpa membuat janji dan aku penasaran apakah dia saat ini sedang beristirahat. Dengan wajah penuh senyuman, aku lantas mengetuk pintu.

Tok tok

"Maou-san~ Ini Hero."

Duk duk. Klik.

Woah… Hanya butuh beberapa detik dan pintu itu langsung terbuka!

Raja Iblis, cepat sekali. Aku tersenyum lebar.

Sang Raja Iblis yang baru saja membuka pintu seketika memasang wajah cemberut dan mengeluarkan aura hitam. Sampai-sampai aku kesulitan untuk melihat ke dalam kamarnya.

Entah mengapa, aku merasa bahwa rambutnya jauh terlihat lebih rapi dibanding kali terakhir aku melihatnya. Pakaian yang dia kenakan juga tampak lebih mewah.

Oh, bahkan sekarang ada sepasang anting-anting indah yang menghias telinga lancipnya. Benar-benar cocok sekali!

Tapi tetap saja, yang ia kenakan tidak tampak seperti pakaian sehari-hari. Keningku tanpa sadar mengerut dalam. Jangan-jangan dia sudah punya rencana lain hari ini? Sepertinya aku salah waktu.

"Kenapa rapi sekali? Jangan-jangan mau pergi keluar ya?"

"Pertanyaan bodoh, hmph! Ini pakaian sehari-hariku! Cepat masuk!"

Sembari mendengus keras, sang Raja Iblis yang masih memasang wajah cemberut akhirnya mengundangku masuk.

Hei, rupanya dia tidak punya rencana untuk pergi keluar. Pakaian sehari-harinya saja sudah sehebat ini, Raja Iblis benar-benar modis ya.

Desain kamar sang Raja Iblis seharusnya sama dengan kamarku. Tapi, kamar ini jelas lebih digosok sehingga tampak bersinar. Bersinar seperti sang Raja Iblis sendiri, membuat kamar ini jadi terlihat contoh kamar di pameran. Apakah seseorang yang ahli membersihkan kamar baru saja mendatangi kamar ini?

Lantai kamarnya dipoles dengan wax. Benar-benar terasa sangat halus. Oh, ada tanaman hias!

Selain itu, kamar ini benar-benar wangi sehingga membuatku sulit percaya bahwa dia tinggal seorang diri. Kutarik napasku dalam-dalam karenanya.

TV di kamarnya sangat besar dan di sudut gelap ruangan ini, terdapat rak anggur atau semacamnya. Woah, kasurnya benar-benar empuk! Bokongku sampai tenggelam!

Kalau saja kasurku seperti ini, aku pasti tidak akan bisa bangun setiap pagi dan terus tertidur sampai siang hari.

"K-K-K-Kau! Jangan duduk di kasur! Nanti kasurku tidak empuk lagi! Manusia tidak penting sepertimu lebih pantas duduk di lantai!"

"Ah, terima kasih atas bantal duduknya. Eh, hebat! Bantal duduk ini juga sangat empuk!"

"Tidak empuk!"

Meskipun dia menyuruhku untuk duduk dengan benar, aku tetap saja membiarkan bokongku menikmati kasurnya. Sang Raja Iblis kembali bertatap muka denganku, matanya melotot terlihat marah, lantas menunjuk ke arah lantai. Meksi begitu, dia tetap menawarkan bantal duduk yang empuk kepadaku. Benar-benar baik.

Sembari menggumamkan sesuatu, ia kemudian meletakkan minuman dan manisan di atas meja kaca rendah yang indah itu. Sang Raja Iblis mulai menunjukkan keramah-tamahannya dengan gagah berani.

Kukis berbentuk mawar? Apakah ini macaroon?

"Mau ingin minum apa? Teh hitam, kopi, cokelat, teh hijau, jus, air mineral, atau air non-mineral?"

"Uh, apa aku boleh minta kobucha? Apa kau punya?"

"Sepertinya sih ada."

Setelah semua persiapan diselesaikan dengan riang, sang Raja Iblis pun kembali dengan tenang.

Entah mengapa karena diperlakukan seperti ini, aku jadi tidak bisa berpikir bahwa aku datang kemari sebenarnya untuk minta maaf.

"Pertama-tama, aku akan memujimu terlebih dahulu karena berhasil datang ke tempat ini… Kekeke…!"

"Tidak, tidak perlu memujiku sama sekali. Lagipula kita kan tetangga jadi aku bisa sampai ke sini dalam hitungan menit. Ngomong-ngomong, maaf ya karena aku berkunjung secara mendadak. Maaf juga karena hanya bisa membawakan ini untukmu… udon."

"Uh, kau ini benar-benar sopan ya… Maksudku, kau ini benar-benar keras kepala ya!"

Dengan cengiran lebar, aku lantas menyodorkan kotak berisikan udon tersebut pada sang Raja Iblis. Dia secara spontan menerimanya, sembari memiringkan kepala.

Hm, begitu rupanya.

"Ngomong-ngomong, Maou-san."

"Ah?"

"Jangan-jangan kau itu tipe yang sulit untuk mengungkapkan perasaanmu dengan jujur ya?"

"Ah!"

Dia ini benar-benar mudah ditebak ya.

Sembari menunggu sang Raja Iblis memulihkan diri menenangkan hati, dengan santai, aku pun memutuskan untuk menyesap kobucha yang sempat ia suguhkan tadi.