Garland - Prolog (ID)

PROLOG


Di bawah gemerlapnya cahaya keemasan, seekor burung mungil dengan sepasang mata bulat besarnya terlihat begitu memikat hati. Dengan tubuh kecil, ia tak berhenti melompat riang. Kanan-kiri, penuh rasa ingin tahu.

Alunan merdu nan hangat nyanyian si mungil terdengar dari balik sangkar. Sayang, ia hanya bisa terbang pendek dan berputar-putar di dalamnya. 

Sesungguhnya, burung kecil yang berada di dalam sangkar itu bukanlah seutas origami belaka, melainkan Jill yang tengah terkurung.

Tanpa lelah Jill terus memerhatikan keindahannya; yang tersayang dan paling berharga. Aku akan terus melindungimu  begitu janjinya.

Tata krama, memainkan bermacam-macam alat musik, bernyanyi, belum lagi teknik origami, menenun, bahkan merajut pakaian  semua itu harus dipelajari para omega dengan antusias demi mendapatkan kasih sayang dan perhatian. Meski sejujurnya tak satu pun dari pelajaran di atas yang menyenangkan.

Jill sangat berterima kasih pada Albert, teman kecil sekaligus orang yang memberikan si burung mungil; kicauannya membuat suasana tempat ini serasa di tengah rindangnya hutan lebat.

Yang paling berharga bagi Jill; harta yang tersayang.

Karena begitu menyayanginya, Jill juga ingin si mungil bahagia. Makanya, dia ingin melepas bebas sang burung mungil dari sangkar.

Si mungil mengepakkan kedua sayapnya begitu lebar di dalam sangkar yang sempit.

Ah, si mungil ingin secepatnya bisa terbang bebas ― pikir Jill. Andaikan dia juga seekor burung, Jill pastilah ingin bebas mengarungi langit luas.

Hempasan angin di birunya lautan angkasa, memasuki hutan yang rimbun, melihat hijaunya dunia di dalam sana, jauh; ke mana pun, sejauh apa pun, dia ingin terbang dengan bebas.

Meski hanya dalam hitungan detik, Jill yang terkunci di balik sangkarnya ingin bisa merasakan kebebasan itu. Begitu pula dengan burung mungil ini, pasti… 

Si mungil masih berputar-putar di dalam 'sangkar' besar sampai menyentuh langit-langit. Ketika dia melihat secercah cahaya langit luas dari balik jendela, si mungil langsung menyerbu; berusaha menggapainya.

"...!"

Tersentak. Suara Jill tercekat di tenggorokan.

Si mungil yang tidak menyadari kaca jendela yang tertutup, menabrak. Terantuk, kemudian terjatuh lemas. 

Panik, Jill lekas mendekap si mungil di dalam telapak tangan. Si mungil terlihat begitu lemah, deru napasnya cepat, tubuhnya bergetar hebat sampai akhirnya  diam tak bergerak.

Cepat sekali kejadian itu. Kehangatan yang terpancar dari tubuh si mungil enyah begitu saja; warna kehidupan perlahan menghilang dari tubuh.

Rasa dingin mulai menyebar di telapak tangan Jill; tubuh tak bernyawa si mungil tergeletak kaku. Entah berapa lama waktu berlalu, Jill pun ikut terpaku dalam diam.

Semua ini salahku.

Padahal Jill tahu, burung jenis apa pun, ketika dia melihat lapangnya langit biru pasti tubuhnya bergerak sendiri ingin terbang mengarungi. Padahal Jill tahu…

Ω

Tak lama, waktu makan pun tiba. Meski begitu Jill tetap tidak keluar dari kamarnya. Para pelayan sudah beberapa kali datang dan mengetuk pintu, tetapi tetap saja tidak ada sautan. Hingga membuat saudara Jill yang lain cemas.

Kakak laki-lakinya yang ikut khawatir memutuskan mengunjungi kamar Jill. Betapa terkejutnya sang kakak ketika membuka pintu dan memasuki kamar Jill. Di dalam ruangan yang gelap, Jill terduduk sambil memangku burung kecil di dalam telapak tangannya.

"Jill yang malang. Kenapa kamu keluarkan dia dari sangkarnya?" Nada jahil yang biasa dialunkan sang kakak, kali ini tak terdengar.

"...aku, semuanya gara-gara aku. Andai saja aku tadi membuka jendela… Salahku. Kalau dari awal sudah kubuka, si mungil pasti tidak akan mati."

"Jangan bicara begitu, Jill." Kakaknya menghela napas, "Jill pikir semuanya akan lebih baik kalau Jill membuka jendelanya? Memang, burung itu bisa keluar dan terbang bebas, tapi di luar sana ada gagak dan juga elang yang bakal memburunya. Pada akhirnya burung peliharaan Jill akan mati juga. Meski harus berada di dalam sangkar, tapi dia memang terlahir dan tumbuh menerima banyak limpahan kasih sayang, kalau ujung-ujungnya dia mati di alam bebas, bukankah itu akan sangat menyedihkan?"

Jill membalas sengit sang kakak, "Tapi dia bebas!" 

Jill memandang tajam ke arah kakaknya. Gelegakkan amarah pada dadanya bergemuruh. Rasa panas meluap-luap hampir tumpah. Kecewa. "Aku tahu, aku paham karena aku selalu memerhatikannya. Hanya bisa mengepakkan sayap di dalam sangkar yang sempit, padahal dia ingin terbang dan menjelajah sampai ke ujung dunia. Dengan kicauannya yang begitu merdu… Aku yakin dia sebenarnya ingin mengunjungi hutan tempat asalnya, mengobrol dengan saudara-saudaranya yang ada di sana. Terkurung di dalam sangkar, bukankah ini yang lebih pantas disebut menyedihkan?

...Aku heran. Kakak ini cuma mengatakan hal yang bisa diterima dan sejalan dengan apa yang ada dalam pikiran kakak. Lantas menolak yang lain."

Seketika raut wajah sang kakak berubah; menampakkan senyum miris.

"Kamu cuma tidak bisa menerimanya, malah menyamakan posisimu dengan si burung itu. Sebenarnya yang Jill ucapkan tadi semuanya bukan tentang burung itu, kan? Tapi keinginan Jill sendiri?"

"Tidak, bukan begitu!"

"Masih tidak mau mengakuinya, eh? Jill, kamu tidak pernah mau mengikuti pelajaran tata krama, juga benci berada di dalam rumah seharian. Tingkahmu itu sampai membuat Ibunda kerepotan."

Jill hanya bisa terdiam, "...."

"Ingat, kita itu omega!"

Ucapan sang kakak diakhiri dengan bentakan keras; dadanya naik-turun.

"Ibunda selalu bilang, sejak lahir, kita, para omega adalah orang-orang yang spesial, keberadaan kita begitu penting dan berharga. Kita selalu dilimpahi kasih sayang, dan kita juga telah ditakdirkan untuk hidup bahagia. Sayangnya, walau sudah memiliki semua kebahagian itu, Jill tetap saja berkeinginan untuk pergi ke luar; yang ada di luar sana hanya kesengsaraan. Kenapa Jill, kenapa...?"

"Aku…"

"Sama saja dengan burung itu."

Tatapan matanya dingin. Menusuk dengan kebencian yang tersirat. Sang kakak menatap Jill seakan-akan tengah mengasihaninya.

"Burung seperti milikmu itu tidak lahir di hutan. Manusia lah yang merawat dan membesarkannya dengan rasa sayang dan belas kasih. Kalau tidak ada yang menyayangi, burung itu tidak akan bisa hidup; sumber kebahagiaan sang burung adalah manusia itu sendiri. Kamu yang dengan egoisnya melepas burung milikmu itu justru mendatangkan kematian baginya. Andai saja dia tetap berada di dalam sangkarnya, besok maupun tahun depan, dia pasti masih bisa berkicau riang."

Jill kembali menatap si mungil di telapak tangan.

Meski dirinya tidak mau mengakui apa yang telah diucapkan sang kakak, Jill juga tidak bisa membantah. Jill sangat menyayangi si mungil, makanya dia ingin melepas bebas burung itu.

Manusia atau burung sekalipun, keduanya berhak untuk hidup  meski sesungguhnya, apa yang dikatakan sang kakak, semuanya benar. 

Pada akhirnya, si mungil telah tiada.

...si mungil dan aku sama.

Jill seorang omega, untuk itu dia tidak boleh menginjak dunia luar. Omega sudah ditakdirkan untuk terus terkurung di dalam sangkar. 

Demi mendapat limpahan kasih sayang, Jill dilarang pergi ke luar. Bahkan kalau dia berhasil meninggalkan tempat ini, tak ada tempat yang akan menerimanya di luar sana.

Benar, Jill ialah burung yang tak dapat terbang.


pn/ed: Ron, Jo