Jejak Sang Alpha - Prolog


PROLOG


Alpha. Beta. Omega.

Manusia terbagi dalam tiga kategori di atas. Perbedaan tersebut menyebabkan munculnya tingkatan kasta. Berada di posisi teratas adalah Alpha, diikuti para Beta dan yang terakhir, Omega. Meski perbedaannya begitu signifikan, dunia ini masih terbilang adil dan merata dikarenakan semua hal itu tidak kasat mata.

Sejak lahir, para Alpha sudah ditakdirkan menjadi pemimpin. Mereka mengambil alih segalanya; kekuatan fisik yang melebihi batas, kepintaran yang jauh di atas manusia umumnya, tidak luput pula kekuatan mental mereka. Sejak zaman dahulu dan terus berlanjut hingga sekarang, para Alpha lah yang memimpin kelompok, komunitas besar, bahkan kemajuan dunia. Dilihat dari genetikanya, ada dua jenis Alpha yaitu Alpha Dominan dan Alpha Resesif. Tentu saja, yang sempurna ialah Alpha Dominan.




Selanjutnya Beta. Hampir 90% populasi dunia dipenuhi oleh mereka. Beberapa ratus tahun belakangan, Beta adalah kasta yang paling bisa bertahan lebih lama daripada Alpha dan Omega. Jika dibandingan dengan Alpha, mereka ini kalah jauh, lebih tepatnya biasa-biasa saja. Beta tidak dapat mencium bau feromon para Alpha dan Omega. Beta hanyalah manusia normal yang menjalani hidup dengan segenap kemampuan mereka, yang hanya bisa mengubah takdir dengan usaha dan kerja keras yang dilakukan. Tentunya tidak semua orang menyadari hal tersebut.

Lantas, yang terakhir ialah Omega.

Apapun jenis kelaminnya, Omega dapat bereproduksi dan hamil. Para Alpha hanya bisa meneruskan keturunannya lewat bantuan Omega, hal ini membuat para Omega disebut sebagai yang paling terpenting dan berharga di dunia ini.

Berbeda dengan Beta, para Alpha dan Omega dapat mencium feromon  satu sama lain, menggunakannya untuk menggoda, melakukan pendekatan yang berujung membangun ikatan tak terputuskan demi kelangsungan hidup kasta keduanya. Mereka yang terikat bisa saling berbagi kenikmatan, hubungan batin yang kuat pun dapat terus terjaga demi keberlangsungan kasta. Perlu diketahui menandai merupakan salah satu proses terpenting dalam menautkan ikatan tak terputuskan, yang juga khusus hanya dilakukan oleh Alpha dan Omega.

Selama ini aku selalu mempercayai dan berpegang teguh pada semua hal di atas.

Hingga datanglah orang itu.

***

Rasanya bagaikan gelap malam yang ditelan secercah cahaya yang datang dari langit. Merah, hijau, biru, kuning, ungu… Semua jenis warna itu berpendar dari palang terang neon yang membungkus kehampaan gedung dan menyembunyikan wujud aslinya; warna-warna itulah yang berfungsi sebagai penggoda, menuntun siapapun untuk berkunjung sampai akhirnya menjadi pelanggan tetap. Daerah itu dipenuhi oleh berbagai macam orang dan mobil-mobil yang tergoda untuk mendatangi klub yang begitu gemerlap dan sangat menawan. Di tempat ini, garis tak kasat mata yang membangun pilar perbedaan antara Alpha, Beta dan Omega tidak berlaku. Apa yang ada di sini hanyalah monster dengan insting liar mereka. Tempat ini dipenuhi dengan hasrat dan kenikmatan, sementara pikiran rasional lenyap ditelan kegelapan.

[The Alpha]

Papan penandanya pun cukup berbeda dengan klub-klub lain, siapapun bisa merasakan kesan misterius yang terpancar dari sana. Biru kelam yang seolah-olah membungkus tulisan [The Alpha] mengeluarkan sinar ambiguitas malam, membuatnya terlihat sebagai tempat yang tidak seharusnya eksis di sepanjang jalan ini.

Tidak berapa lama sebuah mobil sport berhenti di depannya. Jika diperhatikan, kemewahan yang mencuat dari mobil sport tersebut sungguh bagaikan langit dan bumi dibandingkan papan murahan klub dengan aura misterius yang mengelilingi.

"Se-selamat datang!" Petugas yang juga seorang Beta sempat terperanjat, kaget akan deru bising mesin mobil dan kini tengah berlari kecil menghampiri pintu pengemudi. Sayang, dia terlambat. Tepat ketika dia sampai di samping mobil, sang pemilik justru sudah berjalan menuju pintu masuk klub. Petugas lainnya pun menundukan kepala sebagai penghormatan terhadap sang tamu; saat dia kembali menegakkan tubuh, kunci mobil sport kini telah berada di genggaman tangannya. Dia melihat pria itu memasuki klub dengan langkah kaki terburu-buru seakan-akan tengah dikejar oleh sesuatu.

Criiing!

Warna biru papan penanda [The Alpha] berkedip-kedip, memberi salam kepada para pelanggan. 

"Ivan!"

Suara panggilan tersebut pastilah tenggelam di tengah membahananya musik yang berisik, silau lampu dan orang-orang mabuk yang memenuhi ruangan. Meski begitu, 'dia' tetap percaya diri. Mau bagaimanapun juga, dia adalah Alpha yang memanggil nama Alpha lainnya. Seorang Alpha memiliki telinga sensitif yang bisa mendengar apa yang mau dia dengar. Kemampuan ini bahkan lebih sempurna, lebih hebat jika pemiliknya adalah Alpha Dominan. Meski begitu, sang empunya nama tidak serta-merta membalas panggilan itu.

"Ivan! Hei, di sebelah sini!"

Masih tidak ada jawaban.

"Ivan!"

Hingga akhirnya diapria bernama Ivanmenembus lautan orang dan menghilang di ujung koridor.

Sebenarnya Ivan dapat mengenali dan mendengar panggilannya. Merasa kesal, sang Alpha pun mengumpat pelan, 'apa-apan sih, orang itu?!'

Ivan sendiri sudah sering menerima keluhan dan sejauh ini dia selalu tak memedulikannya. Tidak ada waktu untuk memikirkan hal-hal remeh; bergegas turun melalui tangga.

Bersamaan dengan suara keramaian yang mulai redup di atas, Ivan memperhatikan deretan ruang VIP di sepanjang koridor penuh warna ini. Daerah ini adalah tempat rahasia yang disediakan klub. Tidak sembarang orang dapat memasukinya. Dibutuhkan kartu member eksklusif untuk mengakses tempat ini; tentunya tak ada orang yang cukup bodoh untuk tidak menyadari bahwa Ivan adalah salah satu pelanggan tetap. Makanya dia bisa leluasa memijakkan kaki tanpa peringatan di sana-sini.

Berjalan melintasi koridor, penciumannya menangkap bau insting liar yang bercampur dengan feromon mengalir dari pintu-pintu yang tertutup. Sambil menghela napas, Ivan pun segera memasuki ruangan di balik pintu. Semua ini membuatnya ingin muntah. Dia menahannya dengan cara mengatupkan rahang kuat-kuat, Ivan menelan ludah. Dulu, situasi semacam ini membuatnya senang, tapi sekarang justru sebaliknya.

Semua ini karena orang itu.

Ivan menggigit bibir bawahnya, berjalan lebih cepat dari sebelumnya dengan diiringi kemarahan dan perasaan lain yang campur-aduk. Mempercepat langkahnya, dia mulai berlari bak dikejar-kejar sesuatu. Dari ujung kaki hingga kepala, dirinya mulai tampak semrawut dan acak-acakan. Walau begitu, kondisinya itu tidak sedikitpun mengurangi karismanya sama sekali. Khususnya dia yang juga merupakan Alpha Dominan dengan kesempurnaan fisik dan ketampanan tiada tara. Dengan melihat wajahnya saja sudah cukup untuk para Omega berlomba mendapatkannya agar dapat menghabiskan malam bersama.

Sayangnya tidak sedetikpun hal tersebut terlintas di benak Ivan, baginya hanya ada satu tujuan yang harus dia capai. Tepakan langkah kakinya tak berhenti, sungguh, dia sudah hampir tak bisa menahannya lagi. Tenggorokannya tercekat, membuatnya sulit bernapas dan terus menggeram sambil mengatukkan gigi. Dia sudah mencapai batasnya, dan kali ini Ivan benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Tersengal, dia pun memelankan langkahnya hingga akhirnya terhenti. Di ujung koridor VIP, seorang penjaga berbadan kekar berdiri menahan laju Ivan.

"Mulai dari sini anda tidak boleh masuk," si penjaga berkata dengan suara monoton. Tapi sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Ivan mengambil sebuah kartu dan langsung memamerkannya tepat di depan kacamata hitam si penjaga. Kartu itu berwara biru dengan logo bertuliskan [The Alpha] persis dengan papan penanda yang berada di depan klub. Setelah melihat kartu tersebut, si penjaga langsung menutup mulutnya rapat-rapat, meraih kartunya untuk digesek di pembaca kartu khusus di samping pintu.

Lampu bercahaya kemerahan itu pun berubah menjadi biru dengan tulisan "Akses Diterima" di atasnya.

Si penjaga berbadan besar itu pun menarik langkah ke samping, memperlihatkan pintu yang berada di belakangnya. Daun pintu mengayun terbuka diikuti dengan suara derit pendek. Untuk sesaat Ivan ragu-ragu, dia pun menelan ludah. Tepat ketika dirinya mengambil pijakan, memasuki ruangan, dia kembali terhenti.

"Halo, Ivan."

Langsung saja Ivan mengenali suara itu. Ekspresi wajahnya yang kaku kini mulai mencair saat melihat orang yang berada di depannya tersenyum. Bahkan kalaupun sekarang dia menutup mata, orang ini tidak akan ke mana-mana, tetap berdiri di hadapannya. Kehangatan tubuh disertai deru napas orang ini menembus hingga ke sumsum tulang.




Bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan, di ambang keputusasaan dan rasa bingung, sepasang kaki yang tadinya terhenti kini menyerbu tanpa ragu.

"...sialan kau! Kenapa baru muncul sekarang?" Mukanya memanas, Ivan berteriak memarahi lawan bicaranya.

Pria itu justru tertawa renyah sebelum akhirnya dia berhenti dan berkata, "Aku selalu ada di sini, menunggu. Berharap kau akan datang," suaranya begitu lembut membuat Ivan menangis sambil menahan haru.

"Aku tidak sanggup lagi. Rasanya… begitu menyakitkan."

Merentangkan kedua tangannya, pria yang menanti di balik pintu kini meraih pundak Ivan, menariknya ke dalam pelukan sambil berbisik pelan, "Shh, tenang saja. Aku di sini, oke?"

Pintu yang sebelumnya memisahkan keduanya masih terbuka lebar, memperlihatkan sosok mereka yang tengah berpelukan kepada dunia luar. Pria itu menatap ke arah koridor di balik pintu yang berada di belakang Ivan. Detik itu juga, senyum di wajahnya memudar.

Di saat yang bersamaan, dengan nada suara yang terkesan ramah namun sebenarnya agak dingin, pria itu berbisik, "Akhirnya kau kembali dalam dekapanku lagi."

Pintu pun tertutup, bersamaan dengan suara grenang-greneng dunia luar.


Bersambung...


LIST | NEXT