WOC - Bagian 7


DI DALAM HUTAN ENTAH DI MANA


ADA sesuatu yang memanggil-manggil namanya, menyuruh ia untuk bangkit dan masuk ke dalam hutan. Berupa suara angin. Menelisik dari luar, melewati jendela, kemudian sampai pada telinga Jung Yuan.
Kata suara itu, jika ia ingin mengetahui segalanya, mengakhiri segala kegelisahan dan kerinduan, Jung Yuan harus menemuinya di dalam hutan. Sendiri.
Suara itu terdengar begitu menghanyutkan, merasuk ke dalam hati, membuat Jung Yuan bertanya-tanya siapakah pemilik suara tersebut.
Sambil menyeret tabung oksigennya, Jung Yuan mendekat ke arah jendela besar, menyingkap tirainya yang berwarna gading. Dan ia baru sadar kalau semenjak tadi malam jendela ini hanya tertutup oleh tirai, lupa dikunci karena kehadiran sosok kelam yang sempat membuatnya ketakutan.
Sesuatu menarik perhatian Jung Yuan.
Terpisah oleh jarak seratus meter, di sela-sela pepo-honan pinus, seseorang tengah berdiri menatap Jung Yuan. Itu bukan sosok yang sama seperti tadi malam―atau barangkali begitu kira Jung Yuan? Sebab mata itu tidak berwarna kelam, tidak pula memancarkan ancaman, tetapi berwarna emas yang penuh kesedihan. Orang asing tersebut barangkali sebaya dengan Jung Yuan, lebih tua tiga atau empat tahun mungkin. Rambut hitam legamnya bergerak-gerak tertiup angin dan tatapan matanya terasa pilu. Jung Yuan lamat mengamatinya, lelaki itu pasti tahu mengenai hal-hal janggal yang akhir-akhir ini terus menghantuinya. Lagipula kalau tidak, mengapa ia ada di sana? Mengapa ia memiliki selubung aura yang aneh?
Jemari kurus Jung Yuan perlahan menyentuh permukaan bingkai jendela. Lelaki asing yang tadinya hanya memandangi Jung Yuan dengan tatapan sendu, kini sedikit menarik ujung bibirnya, membentuk seringaian kecil. Mereka berpandangan. Dan waktu seketika terhenti.
Citra-citra mendadak berdatangan lagi di kepala Jung Yuan.
Segalanya tergantikan oleh warna putih. Terlalu putih kalau boleh dibilang. Tidak ada hijau, kuning, maupun ungu. Hanya putih. Lantai, langit-langit, dan dindingnya bersatu dalam warna itu. Kemudian, bagai tamu yang tak diundang, Jung Yuan telah berada di ujung jurang besar terbuat dari bebatuan keras. Air laut di bawahnya berkecambuk menakutkan. Satu per satu bebatuan yang diinjaknya mulai runtuh. Serpihan-serpihannya melayang jauh ke bawah, menimpa lautan berbuih yang ganas. Jung Yuan sangat takut kalau sewaktu-waktu ia akan jatuh, tapi tubuhnya serasa mati rasa. Ia tidak bisa bergerak.
Dan saat Jung Yuan tahu bahwa dirinya benar-benar akan terhempas ke runcingnya bebatuan, air laut di bawah mendadak berubah jadi merah. Saking merahnya, Jung Yuan yakin bahwa itu adalah tumpahan darah. Ia menoleh ke belakang, hatinya tersentak seketika. Jung Yuan melihat wajah seseorang di sana. Pucat, penuh darah. Terlentang di atas tanah yang juga sama-sama terkubangi oleh warna pekat merah.
Lantas seseorang datang, menjeritkan namanya. Menge-rang frustasi, mengguncang-guncangkan tubuh sang sosok yang telah mati. Si lelaki terlihat kacau. Tubuhnya dipenuhi oleh cipratan darah. Ia tersengguk, seolah tak percaya melihat apa yang ada di depannya. Meratapi. Ia berteriak-teriak, memanggil-manggil nama sang kekasih. Memprotes entah pada siapa. Memilukan.
Tanpa sadar, Jung Yuan yang berdiri di ambang jurang, menggigit bibir bagian bawahnya. Asin. Berdarah. Ia melihat si lelaki yang bersimpuh di atas tubuh mayat itu. Dadanya jadi ikut-ikutan sesak mendengar ratapan yang begitu menyayat. Ia ingin mendekat pada si lelaki untuk mene-nangkannya. Mengatakan bahwa segalanya baik-baik saja, bahwa perang ini akan segera usai dan kematian sosok yang ada dalam rengkuhannya tidaklah percuma. Jung Yuan juga ingin mengucapkan kata maaf pada rasa kehilangan yang dialami oleh si lelaki. Maaf karena telah membuat kekasihnya mati begitu saja. Tanpa kecupan akhir. Tanpa kata-kata perpisahan.
Jung Yuan tersadar kembali.
Pipinya terasa basah, tenggorokannya kering. Air mata mengalir tanpa bisa ia bendung. Jung Yuan tahu pasti, bahwa kilasan tadi amatlah nyata. Perasaan pilu itu dengan sadis hinggap di hatinya. Tapi yang Jung Yuan bingung, perang apa yang ia maksud? Rasa bersalah apa yang membuat hatinya jadi begini sedih? Kenapa ia seolah mengenali dua sosok itu?
Jung Yuan tidak mengerti.
Lama, ia hanya memandangi sang lelaki asing, hingga sosoknya pergi dan menghilang di balik perdu pepohonan. Jung Yuan berpikir. Ah, kenapa aku tidak turun saja? Menemui lelaki itu? Dengan begitu, bukankah ia jadi bisa leluasa bertanya padanya? Perihal kebingungannya akan segala hal janggal yang terus menghantuinya? Lagipula lelaki itu tidak terlihat mengancam sama sekali, benar bukan? Barangkali ia akan menceritakan segalanya. Barangkali suara itu berasal darinya.
Maka, Jung Yuan balik tubuh kurusnya. Ia melepaskan selang oksigen dari hidung, membiasakan paru-parunya dengan udara sekitar beberapa saat, kemudian mengenakan jaket dan sepatu. Ia menuruni anak tangga, keluar melewati pintu samping rumah, dan mulai berjalan memasuki hutan.
Menjadi seorang yang katanya berbeda, atau aneh lebih tepatnya, Jung Yuan jadi teringat satu temannya. Teman yang semenjak kepindahannya ke kota ini, dengan anehnya tidak pernah menghubungi Jung Yuan lagi. Sama sekali.
Padahal menurut Jung Yuan, dia itu adalah teman paling setia dan menyenangkan yang pernah ada. Ah, siapa namanya? Bagaimana rupanya? Jung Yuan tidak tahu. Ia tak pernah bisa mengingat nama atau rupanya. Pun ia tidak pernah merasa perlu untuk mengetahui kedua hal itu. Yang jelas, mereka berdua adalah sahabat baik.
Pada mulanya, Jung Yuan mencoba menceritakan hal ini pada ayah, ibu, dan adiknya. Mereka awalnya terlihat kebingungan, namun setelah paham apa yang dimaksud Jung Yuan, mereka mengatakan apa yang dilihat Jung Yuan hanyalah imajinasi. Tak lebih dari sekadar buatan otak kanak-kanaknya belaka. Tapi Jung Yuan menyanggah hal itu keras-keras.
Temannya itu nyata.
Mereka hanya tidak mampu melihatnya. Sama seperti kala mereka tidak dapat melihat kuda putih, istana, atau makhluk-makhluk lain yang selalu memukau Jung Yuan.
Seribu sayang, semenjak kecelakaan tujuh tahun silam, hampir semua penglihatan tersebut sirna. Hanya menyisakan satu. Yang tak lain adalah temannya itu. Pun kehadirannya juga tidak sesering dulu. Sangat jarang hingga membuat Jung Yuan menjadi seorang yang pemurung dan lebih sering diam.
Kadangkala Jung Yuan berpikir, barangkali memang ada yang salah pada dirinya. Barangkali ia memang berbeda dari anak sebayanya. Jung Yuan telah berusaha sebaik mungkin untuk melihat dan memahami dari sudut pandang mereka. Ia bahkan sempat berusaha tidak menghiraukan ‘teman imajinasinya’ itu, menganggapnya tidak ada. Ia berupaya, mati-matian. Namun ketika semua usaha itu tak bekerja, tak ada korelasi mana yang nyata dan mana yang hanya ilusi, Jung Yuan memutuskan untuk berhenti melihat dari sudut pandang ‘orang-orang normal’. Ia kembali berbicara pada temannya lagi. Tetapi kali ini secara sembunyi-sembunyi.
Sebab, memangnya mereka bisa paham apa yang Jung Yuan mampu lihat?
Jung Yuan tak bisa membicarakan masalahnya ini pada kedua orangtuanya, Zhongguo, apalagi orang lain. Kemurungannya ini membuat ia jadi malas untuk berdebat dengan mereka. Karena setiap kali ia membicarakan perihal penglihatan-penglihatan tersebut, mereka selalu saja menganggap itu sebagai khayalan belaka. Dan urusan berbeda pendapat inilah yang sering membuat si lelaki cantik jadi sungkan bercerita kembali. Ia yakin bahwa keputusannya untuk tidak membicarakan soal ini adalah benar. Bukankah ada kalanya sesuatu tidak harus kau ceritakan pada orang lain? Simpan di hatimu, dan segalanya akan jauh lebih baik.
Berjam-jam Jung Yuan menghabiskan waktunya untuk mencari pencerahan, terus berjalan menelusuri hutan sembari mengingat-ingat masa lalu. Jika ia bisa menemukan lelaki itu, yang entah di mana, di dalam hutan, mungkin saja Jung Yuan bisa mendapat penjelasan. Daripada memilih berdiam di rumah, tenggelam dalam rasa ingin tahunya sendiri.

ζ

HUTAN, semakin lama semakin lebat. Cahaya matahari tiada yang mampu menembus tebalnya gumpalan awan, pun kabut pegunungan yang mulai turun. Hiruk-pikuk keliaran memenuhi langit-langit hutan. Ada yang berdengking, berkicau, tetapi semua suara itu seolah memeringatkan Jung Yuan agar ia tidak masuk lebih jauh lagi ke dalam hutan. Bising. Aneh. Tapi kepala Jung Yuan serasa telah tersihir. Ia tidak peduli akan jeritan-jeritan makhluk itu. Ia sudah berjalan hampir tiga jam. Menyusuri jalan setapak yang kadang ada, kadang hilang di tengah hutan.
Tapi, di manakah lelaki itu?
Tanpa bisa Jung Yuan cegah, ia tidak bisa mematuhi peringatan-peringatan para keliaran hutan. Ada sesuatu tak kasat mata yang terus mendorongnya untuk memasuki hutan lebih jauh. Terlalu menghanyutkan untuk ditolak. Jung Yuan benar-benar seperti tersihir.
Ia benar-benar serupa orang linglung, hanya seorang diri.
Jadi, ketika tetes demi tetes hujan mulai jatuh, Jung Yuan juga tidak menghiraukannya. Ia cemas, tapi ia tidak peduli. Hujan membuatnya semakin terperangkap dalam hutan. Seperti dalam lingkaran. Tanpa ia sadar.
Jung Yuan mendongak ke atas, mendung tebal membuat suasana hutan nampak suram dan kelabu. Udara terasa dingin dan lembap. Tanah di bawah sepatunya terlihat basah. Sembari merapatkan jaket, Jung Yuan terus melangkah memasuki hutan yang menyeramkan. Pepohonan yang ia temui tumbuh lebih rapat. Jung Yuan terus berjalan ke dalam, di antara pepohonan, berusaha mengacuhkan peringatan-peringatan para keliaran hutan. Yang anehnya, dan entah bagaimana kini telah berhenti seutuhnya. Tergantikan oleh senyap.
Sangat senyap.
Sunyi.
Tak ada seekor binatang pun yang berkelakar lagi.
Mendung makin menebal. Rintik semakin besar.
Langkah kakinya tak terasa membawa Jung Yuan menuju sisi lain hutan, jauh yang tak pernah ia kira. Seperti digiring. Menuju sesuatu.
Jung Yuan memejamkan matanya, berusaha menenangkan tangan dan tubuhnya yang mulai gemetaran. Gelap. Jung Yuan tiba-tiba mendengar sebuah jeritan. Menyayat hati. Serupa lolongan.
Lolongan siapakah itu?
Mengapa lolongan itu terasa menyakitkan? Menyayat hati, merobek-robek sampai tiada satu kebahagiaan pun yang tersisa? Apakah ini yang dinamakan kepiluan murni? Seperti terlempar ke dalam jurang yang tanpa dasar? Kapankah sampainya? Kapankah hilangnya? Apa maksud dari semua ini?
Ah, Jung Yuan tidak bisa membuka kedua matanya kembali. Seperti ditahan, dipaksa untuk mengingat. Dipaksa untuk merasakan apa yang pemilik suara lolongan itu rasakan. Tubuhnya kaku, diam.
Dalam gelap, seharusnya ia tidak dapat melihat apapun, dan hanya mendengar lolongan yang panjang. Tapi ia tidak. Jung Yuan justru dihadiahi oleh penglihatan-penglihatan mengerikan. Ia benar-benar dipaksa untuk menyaksikan kengerian ini. Dalam mata tertutup yang seharusnya menampakkan gelap.
Ia tiba-tiba berada di tengah medan perang. Ia melihat tubuh-tubuh bergelimpangan, mati. Darah menggenang di mana-mana. Bau anyir menyeruak. Suara teriakan mem-bumbung.
Lolongan-lolongan menyayat hati terdengar semakin jelas. Ceceran darah mengubang. Kepedihan mengepul. Tangan-tangan berpedang berayun-ayun.
CLASH!
Satu kepala tertebas. Menggelinding. Satu jantung tertusuk. Satu perut terobek. Tanah sempurna menjadi lautan merah. Darah.
Suara-suara memilukan tertahan.
Jung Yuan terpaku. Tak bisa bergerak. Ta-kut.
Dan dari segala pemandangan itu, ada sesuatu yang membuat Jung Yuan yakin bahwa sebagian kematian dari tubuh-tubuh itu adalah karena kesalahannya. Menggerogoti kepala Jung Yuan. Membisikkan sesuatu. Sesuatu yang tak ingin Jung Yuan dengar.
Kilasan-kilasan itu menghantui Jung Yuan. Ia membolak-balik, mengamati, menerka setiap jengkal dari ingatannya. Berusaha mencari tahu apa yang telah ia lakukan di masa lampau. Lupakah ia pada sesuatu? Ataukah... Jung Yuan pernah hidup sebelum masa ini? Jika benar, apakah ada dimensi lain yang beriringan dengan dimensinya kini? Jung Yuan tak bisa berhenti untuk bertanya-tanya. Semua hal itu membuat otaknya jadi sesak.
Ia terus dihantui oleh penglihatan-penglihatan meng-erikan itu. Apakah nyata atau tidak? Ia terus ada di sana. Kaku. Diam. Tak dapat memutar kepala kiri dan kanan. Seberapa keras pun Jung Yuan mencoba, hingga kepalanya berdenyut-denyut tak keruan, ia tak bisa menemukan apa-apa.
Apa yang salah dengannya? Apa semua ini benar-benar nyata? Ia menerka. Ataukah ini hanya sesuatu yang sesung-guhnya adalah buatan otaknya belaka?
Kilasan. Wei Feng. Xiao Guan. Mata kelam. Teman. Rasa rindu. Ibu. Semuanya bercampur menjadi satu. Teraduk. Membingungkan. Serupa mimpi, penglihatan itu seperti tak nyata dalam kepalanya.
Mungkinkah semua ini benar kesalahannya? Tapi apa? Bagaimana bisa? Jung Yuan benar-benar tidak mengerti. Pilu hatinya. Gemetar seluruh tubuhnya.
Dalam perasaan sedih dan takut yang teramat sangat, terdengar lagi suara lolongan. Ah, tidak. Kali ini lolongan itu telah berubah menjadi geraman. Geraman yang menakutkan, penuh ancaman, dan ingin membalas dendam.
Lantas matanya tiba-tiba dapat terbuka kembali.
Bukan hanya hutan. Bukan hanya kabut yang ada di hadapan. Ketakutannya mendadak jadi berlipat-lipat ganda. Dadanya bergemeretupan. Seluruh tubuhnya gemetar.
“S-siapa kau?”
Rupa yang muncul di hadapan Jung Yuan sangatlah mengerikan. Semengerikan-mengerikannya seekor makhluk di bumi. Rupa iblis. Mata kelam. Penuh dendam. Makhluk itu tidak membalas. Ia justru menggeram, mendekat dengan keempat kakinya yang yang tertanam cakar tajam.
Jung Yuan takut. Ia tidak bisa bergerak. Bagaimana ini?
LARI!
Sebuah suara merasuk ke dalam kepala Jung Yuan. Entah milik siapa. Entah dari mana asalnya.
Jung Yuan tidak mengerti, tapi ia tahu kalau suara itu benar adanya. Ia harus lari. Secepat kilat, seumpama ia sama sekali tidak memiliki penyakit, Jung Yuan berlari. Sangat kencang hingga ia tidak bisa merasakan lagi udara dingin yang menyumsum. Tidak peduli pada kondisi paru-parunya. Tidak peduli pada hujan yang tiba-tiba turun begitu deras. Tidak peduli pada sekitar. Jung Yuan tidak peduli!
Yang saat ini ia pedulikan hanyalah menjauh dari makhluk menyeramkan itu. Makhluk besar berbulu hitam dan bertaring kuat mengilat. Berotot. Kuat meraksasa. Cengkeramannya laksana ragum seolah-olah dapat mematahkan manusia dalam sekali coba.
M-e-n-g-e-r-i-k-a-n.
Jung Yuan menoleh ke belakang. Makhluk itu masih mengejarnya. Ah, bukan lari. Di mata Jung Yuan, makhluk itu hanya berjalan normal, seolah mengejek Jung Yuan yang berlari ketakutan. Seolah mengejek Jung Yuan bahwa berlari secepat apapun tidak akan menyelamatkannya dari makhluk itu. Jung Yuan hanya manusia. Sementara pemburunya adalah monster ganas. Iblis.
Namun Jung Yuan tetap tak menggubris ejekan itu. Meskipun kecil, masih ada sedikit harapan yang tertinggal di hatinya. Ia berlari layaknya orang kesetanan. Menembus apapun yang ada di hadapan. Sesekali terjatuh karena tersandung tonjolan akar pohon besar. Mukanya pucat sedikit berdarah karena tertampar oleh ranting-ranting pohon. Nahas, setelah berlari entah berapa lama, barangkali rekor terlama sepanjang hidupnya, mengerahkan seluruh tenaga, kaki Jung Yuan terperosok oleh batuan yang menyembul. Batu itu tajam. Melukai kakinya. Jung Yuan kehilangan keseimbangan. Lantas tubuhnya terjatuh pada tanah yang menurun. Berguling-guling. Sekali. Dua kali. Berkali-kali tubuhnya menghantam dahan-dahan kayu. Tanah berkerikil. Jatuh semakin dalam. Sangkut-menyangkut di semak belukar, jatuh lagi. Berdebum. Lantas kepalanya meluncur pada sebuah batu besar. Menghantam.
Tapi Jung Yuan masih sadarkan diri.
Ia mengerang sebentar. Seluruh tubuhnya kotor. Dipenuhi ranting, tanah, dan kerikil. Satu tangannya menyentuh dahi, berdarah. Pening mendatangi kepalanya. Mendadak, ia kehilangan seluruh tenaga. Keringat deras mengucur. Membasahi kaos, sampai pada seluruh tubuh. Jantungnya berkejaran. Napasnya tersengal. Berat. Dan perlahan, ia tak mampu lagi mendengar suara-suara. Tidak pada jeritan keliaran hutan, dan tidak pula pada napasnya sendiri.
Lari! Lari! Lari!
Suara itu panik menyuruh Jung Yuan. Ketakutan. Seumpama ia sendiri yang merasakan. Menangis.
Tak ada waktu! Kau harus bangkit! Lari!
Jangan menyerah, kumohon!
Gemetar seluruh tubuh Jung Yuan. Ia berusaha tersadar kembali. Tertatih ia bangkit. Susah payah ia menumpu seluruh beban tubuh. Sakit. Sepertinya tulang mata kakinya bergeser. Ah, tapi tidak ada waktu! Jung Yuan harus bangkit. Ia harus berlari.
Hujan deras terus membuncah di atas kepala. Guntur menggelegar. Tubuh kurus itu kuyup. Basah. Kedinginan. Menggigil.
Jung Yuan menitikkan air mata, menahan rasa sakit yang teramat sangat. Kakinya nyilu karena dipaksa terus untuk berlari. Dalam hati, ia bertanya-tanya, apa arti semua ini? Apa yang ia cari? Rindu. Kosong. Pilu. Bagaimana bisa semua rasa itu tercampur menjadi satu? Terus-menerus menohok hati Jung Yuan? Air matanya mengalir. Jung Yuan tidak mengerti. Jung Yuan tersengguk.
Ia terseok berjalan. Pasrah sudah pada segalanya. Pada sisa-sisa tenaga yang hanya tinggal secuil. Menerobos perdu. Melewati batang pohon yang tumbang. Entah berapa lama. Barangkali lima belas menit.
Jung Yuan mendengar suara raungan keras dan dalam ketika ia menyadari ada sungai berbatu menghadang di depannya. Aliran airnya sangat deras. Membuat siapapun yang nekat menyebrangi sungai itu tanpa pengaman akan hanyut seketika. Bahkan bagi perenang handal sekalipun. Jung Yuan bingung. Peluang satu-satunya hanyalah menye-berangi sungai itu. Dia harus berani kalau ingin selamat dari ganasnya cengkeraman sang monster. Satu kesempatan untuk menyelamatkan nyawanya. Namun, Jung Yuan ragu-ragu. Melewati sungai berarti ia harus hanyut dan mungkin tenggelam kehilangan nyawa. Atau mundur dan mati tersobek-sobek dalam cengkeraman sang monster.
Raungan yang memekakan telinga terdengar lagi di belakangnya. Dan seketika itu juga, seolah mengamini takdir hidup Jung Yuan, paru-parunya yang sedari tadi diam kini mulai bereaksi. Ia terduduk lemas di atas tanah. Posisinya tersimpuh, dua tangan mencengkeram kuat di dada. Rasanya sesak sekali. Padahal ia sedang berada di dalam hutan, oksigen sangat berlimpah di sana. Namun, ia tahu, inilah akhirnya. Jung Yuan harusnya sudah menduga bahwa ia tidak bisa lepas dari takdir kematian. Cepat atau lambat pasti nyawanya akan melayang. Tenggelam atau tercabik.
Dia tidak mungkin lolos.
Jung Yuan berbalik, sang monster kini telah berada tiga meter di hadapannya. Jung Yuan memandangi mata hitam gelap menyala itu. Mata yang seolah menyimpan dendam ratusan tahun. Mata yang penuh kemarahan sekaligus pilu luar biasa. Perasaan Jung Yuan jadi ikut sedih seperti tatapan makhluk menyeramkan itu. Bayangan sang ayah, mendiang ibu, Zhongguo, kakek, dan neneknya berkelebat. Saat itu juga ia seolah ingin meneriakkan kata maaf terakhir pada mereka. Atas segala kerepotan yang selama ini telah ia timbulkan.
Penglihatan Jung Yuan mengabur, air mata sudah buncah ingin keluar dari pelupuk mata. Kepalanya juga mulai pening dan sakit. Sepersekian detik setelah itu, tubuhnya ambruk ke atas tanah.
Ia tahu, ini adalah akhirnya.
Monster itu makin mendekat ke arah Jung Yuan. Salah satu kaki sang monster yang amat besar mencengkeram kuat pundak kanan Jung Yuan. Kuku-kukunya yang tajam dan panjang membuat kulit Jung Yuan robek dan mengeluarkan darah. Kalau saja penglihatan Jung Yuan tidak mengabur, ia mungkin akan sangat ketakukan melihat rupa mahluk itu. Menggeram tepat berada di depan wajahnya. Taring kuat mengilat seolah baru diasah, mata hitam pekat menyalak penuh dendam, dan tubuh super besar penuh bulu lebat. Siapa pula yang tidak akan merinding menyaksikan itu? Ah, namun dari kejauhan pun Jung Yuan sudah tahu bagaimana mengerikannya rupa mahluk itu. Agaknya ia amat bersyukur karena matanya berair, tidak perlu bertatap-tatapan secara langsung sedekat ini.

Namun, entah bagaimana tiba-tiba Jung Yuan merasakan cengkeraman mahluk itu enyah dari pundaknya. Di tengah kesadarannya yang tinggal secuil, samar-samar ia mendengar suara keretakan keras sekali. Seperti dua batang kayu besar yang ditumbuk. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Tiap keretakan selalu diiringi dengan suara raungan yang amat menyakitkan.
Perlahan, mata Jung Yuan mulai menutup, tapi secara bersamaan ia juga merasakan ada seseorang yang meng-guncang-guncang tubuhnya lembut.
“...Yuan...” ada yang memanggilnya. “Jung Yuan...”


PREV | LIST | NEXT