WOC - Bagian 5


RINDU


HARI-HARI selanjutnya terasa menyebalkan bagi Jung Yuan. Ia sebenarnya ingin sekali melabrak Xiao Guan― menanyakan ‘soal-soal aneh’ yang sempat tertunda, tetapi akhir-akhir ini lelaki tinggi tersebut justru menghindar darinya. Seolah, ia tidak ingin mengulangi kejadian ‘salah’ di kebun jeruk tempo hari. Dan entah kebetulan atau memang telah membuat kesepakatan, Wei Feng juga ikut-ikutan menghindar seperti Xiao Guan. Ini konyol. Mereka saling membenci, tapi kompak sekali dalam membuat Jung Yuan berkesal hati.
Dan virus sebal itu ternyata terus menguntit hingga ia bangun tidur pagi ini.
Jung Yuan menyibak tirai jendela dan mendapati langit dalam keadaan mendung. Sejauh mata memandang, awan hitam bergumpal di atas hamparan kebun jeruk dan hutan, sementara udara terasa dingin dan sepi. Kalau saja saat ini suasana hatinya sedang berbeda, dijamin, pemandangan indah awan bergumul itu pastilah bisa menghibur hatinya sedikit. Tapi tidak. Meskipun sedap dipandang, namun hatinya sedang kalut hari ini. Makanya ia cuma menatap nanar langit tanpa sedikitpun mengapresiasi.
Si lelaki cantik ke luar dari kamar dan turun menuju dapur. Ayahnya sudah ada di meja makan, membaca koran sambil minum kopi.
“Pagi,” sapanya. “Bagaimana perasaanmu?”
“Luar biasa,” jawab Jung Yuan bohong, menampakkan senyum.
Ia menyiapkan semangkuk sereal untuk sarapan. Saat ia menyuapkan sendok pertamanya ke dalam mulut, Zhongguo terlihat berjalan menuruni anak tangga sambil menguap lebar sekali. Rambutnya acak-acakan persis seperti sarang burung yang baru kena topan. Ia duduk di sebelah Jung Yuan dan menjawab sapaan sang ayah.
Selama makan, Tuan Han menurunkan koran dari wajahnya dan mengajak kedua anaknya untuk mengobrol. Mereka berbincang mengenai sekolah, ekskul, dan hal-hal umum lain yang biasa ditanyakan oleh para orangtua. Beliau memang selalu begitu, tak pernah sekalipun menyia-nyiakan waktu bersama keluarga. Bila ada masalah sedikit saja, pasti langsung dibicarakan. Dan terlepas dari usianya yang telah menginjak empat puluh tahun, namun wajah Tuan Han itu masih kelihatan muda sekali. Sangat tampan. Bahkan tak jarang, Jung Yuan dan Zhongguo juga pernah memergoki ada satu-dua wanita yang berusaha mendekati ayah mereka, mencoba mengambil hati Tuan Han untuk dijadikan pasangan. Yang lantas membuat si dua bersaudara itu bakal sadis bin rese menggodai sang ayah dengan mengungkapkan kalimat-kalimat yang memojokkan.
“Cie, yang masih berjiwa muda,” godaan jenis pertama.
“Cie, yang masih laris padahal udah tua,” godaan jenis kedua.
“Cie, yang masih tetap setia walaupun banyak yang menggoda,” godaan sekaligus fakta jenis ketiga.
Dan ketiganya akan selalu tertawa di akhir lelucon itu. Terpingkal-pingkal sampai tak bisa menahan air mata yang keluar. Bahkan selama beberapa jam berikutnya. Selalu.
Namun, ada kalanya Jung Yuan merasa begitu asing berada di antara keluarga ini. Secara harfiah, ia memang merupakan bagian dari keluarga Han. Tapi dia selalu tidak yakin bahwa dirinya benar-benar merupakan bagian ‘asli’ dari keluarga ini. Bahkan sesekali, sempat pula terlintas pikiran konyol mengenai sosoknya yang sama sekali tidak mirip dengan sosok sang ayah atau ibu. Padahal adiknya, Zhongguo, bila disandingkan dengan mendiang ibu mereka, wajahnya kelihatan mirip sekali. Begitupula bila disandingkan dengan sang ayah, matanya sungguh kelihatan sama. Sementara Jung Yuan? Hanya satu kata: berbeda. Disamakan dari sisi manapun, sosoknya benar-benar kelihatan sangat berbeda. Tidak terlihat mirip sama sekali. Konyol memang, tapi begitulah kenyataannya. Ia merasa asing.
Tetapi, meski begitu, tak pernah sekalipun Jung Yuan berani menyuarakan pikiran konyol itu pada mereka. Tentu saja tidak. Ayahnya pasti bakal marah sekali kalau ia sampai bertanya mengenai hal semacam itu. Dan pada akhirnya, setiap kali pikiran konyol itu datang dan menyangkut di kepala, Jung Yuan akan lekas membuangnya jauh-jauh. Menetapkan hatinya bahwa itu adalah bagian terbodoh dari otaknya. Lagipula, toh mereka berempat saling menyayangi. Tak pernah sekalipun ayah dan ibunya memarahi apalagi membentak Jung Yuan. Baginya, ini adalah keluarga yang sangat sempurna. Tanpa cela.
“Hari ini sepertinya bakal dingin,” ujar Tuan Han membuyarkan lamunan Jung Yuan. “Jangan lupa untuk bawa jaket kalian ke sekolah nanti.”
Zhongguo dan Jung Yuan mengangguk. Mereka menghabiskan sereal, memasukkan mangkuk ke dalam bak cuci piring, lalu mandi. Sepuluh menit kemudian Jung Yuan sudah berpakaian, celana jins dan sweater hangat krem lengan panjang berleher kura-kura. Tak lupa ia juga mengenakan jaket hijau pekat kesayangannya.
Dalam perjalanan ke sekolah, Zhongguo memberitahu Jung Yuan bahwa hari ini ia ada ekskul bola.
“Pastikan nanti gege menungguku dulu di dekat lapangan, jangan ke mana-mana.”
Mendengar suruhan bernada tegas itu, si lelaki cantik tertawa.
“Rasa-rasanya kamu ini jauh lebih pantas menjadi seorang kakak ketimbang aku.” Begitu jawabnya.
Saat tiba di sekolah, hujan turun rintik-rintik. Jung Yuan dan Zhongguo menyelubungi kepala mereka dengan tudung jaket, lantas menerobos gerimis yang tak sampai membuat mereka basah kuyup.
Di dalam, lorong dipenuhi dengan berbagai kegiatan. Para murid mondar-mandir di dekat loker, mengobrol, tertawa. Sebagian kecil yang melihat si dua bersaudara ramah menyapa. Jung Yuan tidak tahu nama mereka masing-masing tapi ia tetap balas melambai dan tersenyum pada semuanya. Keduanya lantas berbelok dan berjalan menuju tempat loker mereka berada untuk mengambil segala yang dibutuhkan pagi itu.
Saat kembali ke lorong, Jung Yuan melihat Xiao Guan sedang bersandar di dinding, di tengah sekelompok anak―salah duanya ia kenali sebagai Jing Mo dan Su Yang. Mereka tengah mengobrol dan tertawa. Si lelaki cantik berhenti sekitar lima meter dari kelompok berisik itu. Namun, Xiao Guan yang menyadari kehadiran Jung Yuan di dekatnya, langsung menengadah. Kedua mata mereka saling terkunci untuk beberapa saat sebelum Xiao Guan akhirnya menegakkan diri dan berjalan menjauh menghindari Jung Yuan. Meninggalkan sisa kelompoknya dalam kebingungan.
Jung Yuan mengejar Xiao Guan, mengabaikan seruan Zhongguo yang menanyakan mau ke manakah ia. Tetapi langkah si lelaki bertubuh tinggi itu sangatlah cepat hingga hampir membuat dirinya terjatuh karena tertubruk oleh kerumunan anak-anak sekolah. Dan ketika ia akhirnya berhasil menegakkan posisinya kembali, mendongakkan kepala melewati lautan manusia, tubuh Xiao Guan sudah tidak terlihat lagi. Tenggelam, tertelan para murid yang mondar-mandir di sepanjang lorong.
Meninggalkan si lelaki cantik yang lagi-lagi hanya bisa mendesah karena kecewa berat.

ζ

SETENGAH hari berikutnya lewat dengan penuh kebo-sanan. Jung Yuan sulit memusatkan perhatian pada apa yang dikatakan guru. Apalagi sekarang ia tengah berada di kelas bahasanya Guru Tombol Cokelat―Ah, nama sebenarnya sih bukan itu, tapi Guru Yang. Namun karena ia memiliki tahi lalat yang cukup besar di dagu sebelah kanan, makanya anak-anak suka memanggil beliau dengan sebutan itu. Mirip butiran coklat di biskuit katanya. Ia adalah lelaki tua yang sangat membosankan, selalu membicarakan hal-hal yang tidak penting. Dan kalau boleh jujur, suara Guru Yang itu sengau, tidak jelas bila menerangkan sesuatu.
Dan untuk pertama kalinya, Jung Yuan mulai merasa bahwa orang-orang memang tengah berkonfrontasi untuk membuatnya kesal setengah mati. Padahal sesungguhnya ketika pertama kali ia memutuskan untuk pindah, Jung Yuan berharap semoga kepindahannya ini bakal menjadi sesuatu yang sangat berkesan. Tapi toh yang ada malah sebaliknya.
Apakah mungkin, ini semua ada kaitannya dengan rahasia yang disimpan oleh Wei Feng dan Xiao Guan? Pada perasaan asing yang selalu ia rasakan di tengah keluarganya sendiri? Pada rasa rindu berat yang selalu menyeruak tiap kali ia menatap ke dalam mata emas Wei Feng? Pada kejadian-kejadian janggal yang terus ia alami hingga kini? Jung Yuan merasa bahwa memikirkan hal tersebut tidak akan pernah ada ujungnya, selalu buntu di tengah jalan.
Ketika bel jam makan siang berbunyi, Jung Yuan buru-buru berjalan ke kantin. Di sana, di meja tempat ia biasa duduk, si lelaki cantik hanya melihat sosok Zhongguo, Shin Qing, Taiheng, Xiao Tian, dan Minghao. Tidak ada Xiao Guan. Begitu pula ketika ia menyapukan matanya pada meja paling pojok. Di sana hanya ada Min Qing, Jin Hun, dan Ming Rei, si lelaki bermata emas tidak ada.
Jung Yuan mencoba bertanya pada Zhongguo di mana keberadaan si lelaki bertubuh tinggi, namun ia hanya membalas dengan kedikan bahu belaka. Padahal Xiao Guan itu biasanya bakal menguntit ke manapun Jung Yuan pergi, tetapi kini ia benar-benar tak nampak batang hidungnya. Ah, kecuali di kelas Matematika sih. Tapi itupun duduknya jauh di pojok kanan paling belakang, menghindari Jung Yuan yang duduk di pojok kiri paling depan. Sengaja betul ia berpindah tempat duduk agar dirinya tak bertatap kontak langsung dengan Jung Yuan.
Pun dengan Wei Feng. Ketika ia bertanya pada Xiao Tian soal keberadaan Wei Feng, ia juga hanya mendapat balasan kedikan bahu tidak tahu. Ini benar-benar sempurna. Mereka berdua benar-benar berkonfrontasi untuk membuat Jung Yuan jengkel!
Si lelaki cantik mendesah. Ia gelisah memikirkan dua lelaki yang telah membuatnya linglung setengah mati. Ia berharap, semoga keduanya akan segera muncul dan membeberkan semua rahasia mereka. Dan jujur, di lubuk hatinya yang paling dalam, Jung Yuan juga sebenarnya mati-matian ingin mengenyahkan rasa penasaran itu jauh-jauh. Membuangnya ke tengah laut. Tapi itu tidak mungkin. Terlalu mustahil.
Seusai pelajaran terakhir, Jung Yuan menepati janjinya untuk tak pergi ke mana-mana. Ia patuh menunggu Zhongguo di deretan bangku penonton lapangan sambil membaca artikel online dari ponselnya―senang karena tak ada orang yang berani mengganggu.
Dua jam kemudian kakak-beradik itu pulang dari sekolah. Berkendara seperti biasa. Dan menghabiskan sisa hari itu seperti biasa. Makan siang, mandi, lantas menger-jakan PR.
Malamnya, meskipun hari itu adalah hari Jum’at, Jung Yuan masuk ke kamar lebih awal. Sementara ayahnya yang melihat kemuraman di wajah sang anak, berusaha merayunya agar jangan naik dulu ke lantai atas sehingga mereka bisa nonton film bersama di ruang keluarga. Tetapi si lelaki cantik menolak, berkata bahwa ia merasa lelah dan ingin pergi ke tempat tidur untuk membaca buku.
Tuan Han jelas khawatir. Tidak biasanya Jung Yuan berlaku seperti itu, menolak ajakannya untuk menonton film bersama keluarga. Apalagi ini adalah film karya sutradara kesayangannya. Ini aneh.
Sementara di sisi lain, Jung Yuan agaknya merasa bersalah karena telah menjadi sumber kekhawatiran bagi ayahnya. Tetapi saat ini ia benar-benar sedang tidak ingin melakukan apa-apa kecuali menyendiri di kamar.
Ketika ayahnya datang sekitar jam sebelas, Jung Yuan sedang duduk di ambang jendela sambil membaca buku.
“Yuan, jangan duduk di situ. Berhentilah membaca, ini sudah malam.” Katanya.
“Nanggung Yah, sebentar lagi.”
“Ayah kira kamu benar-benar sedang kelelahan, tapi jam segini malah belum tidur. Ayah tahu kamu itu sudah besar dan tidak perlu diomeli lagi macam anak kecil, tapi kamu juga tahu bagaimana kondisi tubuhmu sendiri.” Ia berhenti sebentar, mengamati Jung Yuan lamat-lamat. “Apa kamu baik-baik saja, sayang?”
Ini sulit. Kadangkala Jung Yuan bingung sendiri bagai-mana harus menghadapi sisi ayahnya yang satu ini. Tapi ia harus meyakinkan beliau bahwa saat ini ia benar-benar dalam keadaan yang sangat baik.
Jung Yuan mengangguk.
“Kamu sedang tidak ada masalah kan?”
Jung Yuan mengangguk lagi.
“Apa ada yang menganggumu di sekolah?”
Jung Yuan menggeleng.
“Kamu yakin?”
“Yah, sungguh, aku tidak apa-apa. Tidak ada yang mengangguku di sekolah. Dan tidak ada pula satu masalah pun yang sedang mengganggu pikiranku.” Jawab Jung Yuan meyakinkan.
Ayahnya mendesah pelan, lantas berkata, “Baiklah kalau kamu merasa baik-baik saja. Tapi menurut Ayah, kamu harus bangkit dari situ dan tidur sekarang juga.”
Namun, Jung Yuan tetap duduk di ambang jendela selama waktu yang entah berapa lama. Hingga akhirnya, ia hampir tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Saat itu jam satu.
Jung Yuan baru saja akan pergi ke tempat tidur ketika tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan yang muncul dari pepohonan jeruk.
Meskipun di luar nyaris gelap, Jung Yuan sangat yakin bahwa itu adalah sosok seorang manusia. Sosok tersebut berdiri membelakangi dirinya, memandang lurus pada hamparan pepohonan jeruk. Selubung auranya begitu pekat dan menakutkan. Selintas, Jung Yuan merasakan aura mirip Wei Feng yang melekat pada sosok itu. Tapi bukan, ini sangatlah berbeda. Selubung auranya jauh lebih hitam dan mengisyaratkan kegelapan. Jung Yuan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kaget. Lantas turun dari ambang jendela dan menutup tirainya rapat-rapat.
Ia merasakan detak jantungnya berdegup sangat kencang. Tubuhnya bergetar. Ia takut, tapi insting perta-manya adalah ingin mengetahui siapakah sosok yang sedang berdiri di tengah malam buta begini. Maka, dengan hati yang tak karuan, Jung Yuan memberanikan diri untuk menyibak sedikit tirai jendela dan mendekatkan matanya di sela-sela sibakan itu.
Tetapi, anehnya, hanya pekat yang Jung Yuan lihat. Sosok itu telah hilang dari dekat pepohonan jeruk. Dan sedetik kemudian, secercah cahaya berkelebat. Hanya sedetik, namun cukup membuat Jung Yuan tersadar dan luar biasa terkejut. Sosok itu ternyata sudah pindah ke sisi rumahnya. Berdiri tepat di bawah jendela kamar Jung Yuan.
Sosok itu mendongak ke atas. Sungguh, matanya hitam pekat tanpa warna! Tanpa putih, biru, hijau, ataupun emas!
Dan mata itu seakan menyeringai jahat pada Jung Yuan.

ζ

JUNG YUAN mundur selangkah, dua langkah, lantas tiga langkah. Saking terkejutnya pada pemandangan mengerikan itu, ia hampir saja terjatuh karena tersandung oleh sudut tempat tidur. Ia menurunkan telapak tangannya dari mulut, lalu menelan ludah dalam-dalam. Pikirannya benar-benar kacau. Tadi itu nyatakah? Atau sekadar halusinasi? Jung Yuan tidak bisa membedakan apakah itu hanya khayalan yang muncul di tengah rasa kantuknya atau bukan. Tapi hatinya cukup yakin bahwa sosok itu nyata. Mata kelam itu nyata.
Lama Jung Yuan hanya diam berdiri di situ, menatap nanar pada jendela yang tertutup tirai rapat. Ia merasa, bukan hanya seringaian jahat matanya saja yang menakutkan, namun ada sesuatu lain. Sesuatu mengerikan yang menyeruak dari dalam diri sosok itu. Sebuah rasa. Nostalgia. Ah, tapi bukan. Bukan nostalgia yang sering ia alami ketika berada di dekat Wei Feng, bukan rasa rindu. Melainkan ketakutan dan rasa bersalah. Sangat dalam hingga menohok dada Jung Yuan begitu keras. Serupa kutukan.
Jung Yuan mengerjapkan mata, sekali-dua kali, lantas menyadari bahwa dirinya masih berdiri mematung dengan tangan yang mulai gemetar. Ia tak bisa berpikir. Otaknya tidak menyuruh dia untuk kabur atau lari dari sana. Ia justru merangsek ke atas tempat tidur dan menyelubungi seluruh tubuhnya dengan selimut. Agak aneh memang, sebab ia merasa tak perlu untuk angkat kaki dari kamar dan meminta pertolongan. Ia takut, tapi ia merasa aman pada saat yang sama. Seolah, seseorang tengah melindunginya dari jarak jauh, entah di mana.
Menghiraukan kehadiran sosok kelam yang barangkali belum enyah, Jung Yuan berusaha untuk tidur. Ia memaksa matanya untuk terlelap. Kadangkala sambil menghitung domba, lain waktu memikirkan hal-hal yang dapat membuat matanya lekas terpejam. Tak lama, kesadaran lelaki cantik itu mulai hilang, terdorong jauh menembus kegelapan.
Dan malam itu, ia bertemu dengan seseorang.

ζ

SAAT membuka mata, Jung Yuan telah berganti tempat. Segalanya terasa menyilaukan dan berbeda. Matanya terbuta-kan oleh cahaya yang sangat terang. Amat benderang hingga ia harus menghadangnya dengan kedua tangan.
Dan ketika Jung Yuan merasa bahwa cahaya itu telah berangsur kadar terangnya, setelah perlahan mampu mem-buka kedua mata, hatinya langsung tersentak. Kaget sekaligus kagum. Mata beningnya tak menemukan langit-langit kamar atau lemari pakaian, melainkan sebuah taman! Dan itu bukanlah sekadar taman biasa, melainkan taman yang maha luas dan sangat indah!
Ia memandang sekeliling. Rumput hijau segar terpang-kas rapi di bawah kaki telanjang Jung Yuan. Ratusan jenis bebungaan mekar di berbagai sudut, merekah indah dengan kupu-kupu yang beterbangan di atasnya. Ribuan larik cahaya matahari lembut menerobos pagi. Syahdu. Merdu.
Tetapi, bukan hamparan bunga dan kupu-kupu yang paling membuat hati Jung Yuan takjub, melainkan pohon itu.
Pohon besar yang berdiri gagah tepat di tengah taman. Begitu besar dengan lekukan-lekukan yang indah. Batangnya berwarna putih dan sangat mulus, menjulang sempurna ke angkasa. Dahan-dahannya rimbun dan tumbuh simetris. Dedaunannya lebat berwarna jingga kemerahan. Sama sekali tak ada goresan pada batang pohon, ranting patah, ataupun daun layu. Begitu sempurna dan meneduhkan. Pun di dasar pohon itu, ada sebuah jalan setapak yang terbuat dari pualam berwarna gading. Menjuntang panjang serupa karpet penyambut tamu agung, lantas berakhir pada sebuah gerbang besi tempa raksasa yang melengkung, hampir seluruh jengkal besinya terlilit oleh tanaman sulur.
Jung Yuan mendekat pada sang pohon agung, hatinya begitu terkesima. Ia ingin menyentuhnya, merasakan tiap lekukan dan celah pohon itu. Namun, saat tangannya hampir menyentuh batang pohon itu, ada angin yang bertiup. Bukan angin kecemasan, bukan pula angin ancaman. Angin tersebut justru membawa kehangatan yang syahdu, menghantarkan aroma yang begitu dikenalnya, dari seseorang, begitu lembut, ringan, dan kehangatannya menyeruak dalam dada Jung Yuan.
Lantas, datanglah sosok-sosok itu.
Mereka bertujuh. Berjalan di atas setapak pualam dengan langkah yang begitu anggun. Seolah terbang atau mengambang. Jubah putih panjang mereka melambai-lambai tertiup angin magis. Cahaya terang sekaligus menenangkan menyeruak dari balik tubuh-tubuh malaikat itu.
Seorang lelaki cantik, penuh karisma dan daya tarik, menyita perhatian Jung Yuan. Perutnya agak membesar. Mengandung, Jung Yuan menduga. Mungkin ia seorang pemimpin. Sang lelaki memiliki wajah yang benderang bersinar. Begitu cantik. Serupa malaikat. Mengenakan jubah terindah yang pernah Jung Yuan lihat, paling terang di antara jubah-jubah terang lainnya. Sementara untaian aster jadi mahkota. Senyum lembut menghaturkan kehangatan. Sangat indah dan sakral.
Dan semenjak kedatangan ketujuh sosok itu, alam seolah tunduk. Angin berdesir lebih lembut, kupu-kupu hinggap di atas bebungaan seolah berlutut, nyanyian makin syahdu. Dan Jung Yuan hanya berdiri, ikut tunduk pada kedatangan mereka, pada lelaki bermahkota aster.
Tidak lama, si lelaki anggun melanjutkan perjalanannya sendiri mendekati sang pohon agung. Para pengantarnya berhenti sekitar lima meter dari pohon itu, menunggu. Dan meski sedang mengandung, langkah kakinya tak terlihat tersaruk atau kesusahan. Masih anggun di balik jubahnya yang bersinar.
Jung Yuan memerhatikan sosok sang lelaki bersimpuh di bawah pohon agung. Tangan tertelungkup di atas paha, mata terpejam. Ia menyalurkan energi positif ke seluruh penjuru taman, mungkin pula hingga bermil-mil jauhnya ke luar, membuat tanah-udara makin bersinar, bercahaya, dan tenang.
“Jangan khawatir, anakku....”
Tubuh Jung Yuan seketika bergetar, ia terkejut. Suara itu masih terdengar sama, masih mendayu seperti lagu pengantar tidur terindah yang pernah ia dengar.
“Kasih Ibu seperti sungai yang tak berujung, tak berbatas menampung segala deras air. Tahukah kau, kalau Mama selalu ada di hatimu? Menjagamu sepenuh hati? Dari segala keburukan yang makhluk-makhluk jahat itu lakukan? Percayalah, Mama menyayangimu, sayang. Begitupula dengan Babamu, selalu....”
Hati Jung Yuan luruh bersama suara mendayu itu. Meremasnya penuh kerinduan. Air mata merembes dari ujung kelopaknya. Perlahan, tangis tanpa suara, tanpa sengguk, tanpa jeda.
“Menangislah sayang. Karena setiap tetesnya membasuh luka di hati kita. Tak perlu ditahan. Menangislah kalau kau merindukan Mama, menangislah kalau kau merasa ingin menyerah dari beban yang sebentar lagi datang. Karena menangis dapat menjadi obat bagi sesak di dada. Karena Mama akan selalu ada di sini, di hati Jung Yuan....”
Seembusan angin menyentuh pipi Jung Yuan, merasuk ke dalam hati, menyeruakkan kehangatan. Menjamin segala kedamaian. Lalu, wajah lelaki indah itu tiba-tiba menoleh pada Jung Yuan, perlahan, menampakkan senyum paling menenangkan yang pernah ada. Mereka bertatapan. Terjaga dalam kerinduan.
“Mama merindukanmu...”

“...Yuan...”
“Yuan, sayang?” Tuan Han berusaha memanggil-manggil nama anaknya yang menangis dalam tidur. Matanya bergantian mengamati wajah sendu Jung Yuan dan tangan yang mulai gemetaran. Jelas sekali ia khawatir.
“Sayang? Sayang? Yuan, ada apa?” ia duduk di sisi Jung Yuan, menyentuh lembut kulit pipinya. “Apa yang sakit?”
Sentuhan itu berhasil membangunkan Jung Yuan, tapi tak ada jawaban.
“Mana yang sakit, sayang?” Tuan Han sebenarnya panik, namun berusaha untuk tidak menampakkan.
Dua tangan Jung Yuan bergerak meremas dada. Ia terlihat kesakitan, kesusahan bernapas, dan tersengal-sengal. Ia membuka mulut, berniat untuk mengatakan sesuatu, namun hanya sengalan yang keluar. Bibirnya terasa dingin dan bergetar. Samar-samar, ia melihat tangan ayahnya menjangkau sesuatu di sisi tempat tidur. Lalu ada sensasi sejuk yang tiba-tiba menyeruak di bawah hidung Jung Yuan, ia menduga bahwa itu adalah selang oksigen.
Bukannya membaik, rasa sakit pada dada Jung Yuan justru makin memburuk. Ia menenggelamkan kukunya makin dalam. Ia tersedu, dan ia baru sadar kalau dirinya tengah menangis.
Tuan Han membenarkan posisi selang itu ke belakang telinga Jung Yuan. “Sayang, dengar, detak jantungmu sangat tinggi dan kadar oksigenmu tiba-tiba merendah,” ia berhenti sebentar, melembutkan suaranya. “Sekarang, tenangkan dirimu dan tarik napas dalam-dalam.”
Jung Yuan tidak begitu mengerti apa yang sedang terjadi, tapi ia tahu kalau ia harus menuruti kalimat ayahnya. Ia berusaha untuk tenang, kemudian mengambil napas dalam-dalam lewat hidung. Ia melakukan itu beberapa kali lagi hingga akhirnya merasa normal kembali.
“Masih sakit?” tanya Tuan Han beberapa menit kemudian.
Jung Yuan hanya menggelengkan kepalanya lemah, lalu memeluk tubuh sang ayah erat-erat. “Maaf.”
“Hmm, untuk?” Tuan Han menyambut pelukan itu, membenarkan posisi sang anak di atas pangkuannya. Satu tangan ia gunakan untuk mengelus lembut puncak kepala Jung Yuan. “Jangan meminta maaf, ini bukan salahmu.”
“Kalau rasa sakitnya datang lagi, langsung bilang, oke? Atau... apa perlu kita ke rumah sakit?”
Jung Yuan menggelengkan kepalanya lagi, menggu-mamkan kata “tidak perlu” dalam rengkuhan ayahnya. Mereka bertahan dalam posisi itu untuk beberapa lama hingga Tuan Han bangkit dan turun ke dapur mengambil sarapan dan obat untuk Jung Yuan.
Sekeluarnya sang ayah dari kamar, Jung Yuan mendadak ingin menangis lagi, tersengguk hingga tak ada air mata yang tersisa. Ada kerinduan yang hinggap di hatinya. Ia ingin menceritakan segalanya pada sang ayah, tetapi ia merasa tak mampu untuk menyampaikan mimpi itu kepadanya. Ia sungguh bingung. Jung Yuan telah menghabiskan seluruh hidupnya bersama mereka. Tentu ayahnya akan sangat kecewa jika ia tiba-tiba meragukan perihal posisinya dalam keluarga ini. Terlebih lagi, mereka tak pernah memerlakukan Jung Yuan secara semena-mena. Mereka menyayangi Jung Yuan, sepenuh hati.
Apa yang harus aku lakukan? Jung Yuan mengira-ngira dalam hati. Apakah ia harus mendorong Wei Feng dan Xiao Guan untuk mengungkapkan segalanya? Tapi, bagaimana kalau mereka menolak untuk menjelaskan, walau sudah bersikeras dipaksa? Sebenarnya apa yang mereka sembu-nyikan? Siapa sosok kelam yang tadi malam mendatanginya? Dan siapa pula sosok indah yang dua kali ini telah berkunjung ke dalam mimpinya? Ataukah... sosok lelaki anggun itu sesungguhnya orangtua Jung Yuan yang asli?
Barangkali.
Bagi Jung Yuan, pertanyaan terakhirlah yang paling ingin ia ketahui. Sosok indah itu telah mengganggu hatinya, menyeruakkan rasa rindu yang tak terelakkan. Ia ingin menemuinya, melepas kerinduan secara nyata. Namun ia tak tahu bagaimana caranya. Jung Yuan ingin merengkuh sosok itu.
Ia rindu.