WOC - Bagian 4


PENGAKUAN


DEMI melihat punggung lelaki berupa dingin itu yang kian ditelan kabut—dan bingung dengan kata-katanya barusan—Jung Yuan tidak menyadari pada kehadiran seseorang yang kini telah berada di dekatnya. Saat telapak tangan orang itu menyentuh pundak Jung Yuan dari belakang, pikirannya otomatis kembali pada kenyataan. Lelaki cantik itu mendongak, memastikan siapa yang dimaksud Jun Hui sebagai pacarnya.
“Yuan, kenapa kamu ada di sini?” itu Xiao Guan.
Jung Yuan memandang lelaki bertubuh tinggi di depannya, matanya memicing. “Seharusnya aku yang tanya, kenapa kamu bisa tahu aku ada di sini?”
“Aku mendapat pesan dari Zhongguo bahwa kamu belum pulang hingga selarut ini.”
“Lalu?”
Xiao Guan mendesah. “Kamu ini maniak atau apa? Kenapa berani sekali pergi sendirian sampai sesore ini? Tahukah kamu kalau sudah lewat jam enam, bakal jarang ada bus yang bisa mengantarmu pulang ke rumah? Kalau sampai menginap di jalanan bagaimana? Kalau ada apa-apa bagaimana? Dan kalau paru-parumu kambuh lagi, siapa yang akan menolong?”
Lantas saja Jung Yuan kaget pada semburan tiba-tiba Xiao Guan. Kenapa dia jadi marah begitu?
“Bukannya kamu yang tadi siang menolak permintaanku mengantar ke toko buku? Yang melanggar janjimu sendiri?” Jung Yuan membalas semburan Xiao Guan.
“Kamu ini, setidaknya carilah orang lain untuk menema-nimu pergi.” Xiao Guan tidak mau kalah.
“Cari orang lain?” Jung Yuan memicingkan matanya kembali.
 “Ya, aku kan sudah bilang, kamu bisa minta tebengan pada Shin Qing atau Taiheng. Atau orang lain yang kira-kira bisa dipercaya. Susah sekali tadi aku mencarimu. Untung saja penjaga toko buku itu berbaik hati menunjukkan arah ke mana perginya dirimu. Aku tahu aku ini memang kelihatan tidak serius dan suka bergurau, tapi aku tidak acuh. Bahkan sebenarnya aku ini adalah orang yang sangat perhatian. Setidaknya hargailah perasaan orang lain yang mencemas-kanmu. Ayahmu dan Zhongguo juga sangat khawatir di rumah.”
Jung Yuan mengeluh dalam hati. Sebenarnya Jung Yuan masih sanggup memperpanjang urusan ini dengan melon-tarkan kalimat lain. Tapi kalau sudah bawa-bawa nama ayah dan Zhongguo, Jung Yuan terpaksa harus tunduk dan menyerah. Xiao Guan benar. Ia harusnya memikirkan perasaan orang lain.
“Ayo, naik ke motor.”
Jung Yuan pasrah, menerima sebuah helm yang disodor-kan oleh Xiao Guan. Ia naik ke atas motor dengan patuh. Rasa kesalnya pada semburan tiba-tiba Xiao Guan lekas tenggelam karena perasaan bersalah dan penasaran yang masih menyelubung di hati Jung Yuan. Ia menuruti kalimat Xiao Guan yang menyuruh Jung Yuan untuk melingkarkan tangannya pada pinggang lelaki itu. Supaya tidak jatuh katanya.
Dan si lelaki bertubuh tinggi nyengir lebar melihat itu. Puas.
Mereka berkendara dalam diam. Sesampainya di rumah, Jung Yuan melepas helm dan memberikannya pada Xiao Guan, lantas mengucapkan terima kasih pada lelaki itu. Ia masuk ke dalam rumah sementara Xiao Guan menguntit di belakangnya, niatnya mau memberitahu Tuan Han terlebih dahulu tentang bagaimana ia bisa menemukan Jung Yuan di pinggir jalan. Lagipula tak sopan kalau ia langsung pulang begitu saja.
Dan Jung Yuan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tuan Han yang berada di ruang tamu, langsung bangkit dari sofa ketika dilihatnya sosok Jung Yuan memasuki rumah. Di sana, lelaki cantik itu diceramahi habis-habisan oleh sang ayah. Tapi jangan salah. Ayahnya itu tidak marah apalagi membentak Jung Yuan. Tidak pernah sekalipun lelaki berumur empat puluh tahun tersebut memarahi Zhongguo apalagi dirinya. Ceramah adalah satu hal yang ia tunjukkan pada mereka kalau ia sedang cemas bukan kepalang.
Dan Jung Yuan yang menjadi tersangka atas rasa cemas itu, hanya bisa diam dan tertunduk. Kadangkala mengangguk ringan kalau ayahnya meminta dia untuk tidak mengulangi hal itu lagi.
Dan sisa malam itu mereka gunakan untuk makan malam bersama. Xiao Guan yang tadinya mau pulang segera setelah menceritakan semuanya pada Tuan Han, tidak jadi. Ia ditahan dan dipaksa untuk ikut makan malam bersama mereka.
Meskipun masih ada sekelumit rasa bersalah, namun Jung Yuan bisa bernapas lega setelah itu. Suasana segera mencair karena Xiao Guan dan Zhongguo pintar saling melontarkan lelucon yang mampu membuat Jung Yuan tertawa kembali. Sementara Tuan Han menimbrung dengan mengingat-ingat masa mudanya dulu ketika ia masih suka memancing di sungai tepi hutan bersama ayah Xiao Guan. Yah, sekarang pun masih suka, namun kuotanya berkurang. Malu sama umur katanya. Apalagi saat ini sudah menjadi ayah dari dua orang anak yang telah beranjak remaja. Ditambah pula dengan urusan kebun jeruk yang tidak bisa ia tinggalkan. Jadi, hanya sesekali Tuan Han pergi memancing.

ζ

DUA bulan berikutnya berlalu tanpa insiden. Atau seti-daknya sampai hari itu.
Saat ini Jung Yuan tengah memerhatikan satu per satu teman sekelasnya lari mengitari lapangan untuk mengambil nilai olahraga, sementara ia duduk nyaman di salah satu deretan bangku penonton. Gurunya sudah tahu bahwa Jung Yuan punya paru-paru yang buruk, jadi ia mengizinkan lelaki cantik itu untuk duduk saja di sana, tetapi wajib tetap mengenakan kaos olahraga sekolah.
Jung Yuan mendengus iri pada mereka. Andai saja tubuhnya sesehat anak-anak itu, ia pasti bahagia sekali. Bisa berlarian ke sana kemari tanpa perlu khawatir kalau paru-parunya akan kambuh. Atau menaiki sepeda pulang-pergi sekolah. Mengayuhnya ceria sepanjang jalan yang dikelilingi pohon pinus super tinggi. Pasti menyenangkan.
Dia ingat. Dulu, beberapa bulan paska kematian ibunya, ketika ia masih junior di SMA, Jung Yuan pernah kolaps hebat. Ia berteriak di tengah malam untuk membangunkan ayah dan adiknya, dan mereka lantas masuk ke kamar dalam keadaan tergesa-gesa, menemukan Jung Yuan yang terbaring kesakitan di atas tempat tidur. Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali langsung membawa Jung Yuan ke dalam mobil. Ayahnya menancap gas jauh lebih cepat dari biasanya, sementara Jung Yuan menyandarkan kepalanya di atas pangkuan Zhongguo di jok belakang, melewati kota, menembus jalan raya, hingga sampai di rumah sakit. Dan pada saat itu, rasa sakit yang sangat luar biasa membuat Jung Yuan begitu berharap bahwa ia lebih baik mati saja. Ia terus-terusan berucap di dalam hati, bahwa kalau dirinya mati, pasti rasa sakit itu juga bakalan ikut mati. Lantas ia bisa menyusul sang ibu. Ke dalam gelap.
Tetapi ia masih di sini, masih hidup. Duduk dan menga-mati anak-anak lain yang melakukan aktivitas normalnya. Masih bisa berjalan dan bernapas. Merasakan udara pegu-nungan yang entah kenapa selalu mampu memberikan rasa nyaman dan ketentraman dalam dada. Seperti kerinduan pada kampung halaman.
Lama, pikiran Jung Yuan terus mengudara sampai entah ke mana lagi, sampai ia tak menyadari kalau ternyata ada seseorang yang telah duduk di sebelahnya. Tidak dekat. Ada jarak satu atau dua orang di antara mereka. Dan kau tahu siapa dia?
Itu Wei Feng, si mata emas. Lelaki yang mirip model majalah terkenal. Yang ketampanannya suka membuat napas anak-anak sekolah tertahan. Yang kemisteriusannya mem-buat Jung Yuan suka bingung sendiri.
“Hei,” sapanya pada Jung Yuan.
“Hai,” Jawab si lelaki cantik lirih, sedikit tersenyum.
“Kenapa kamu hanya duduk di sini?” Tanya lelaki itu.
Jung Yuan menaikkan satu alisnya. “Kukira kamu sudah tahu bahwa aku punya paru-paru yang buruk?”
Si mata emas menoleh pada Jung Yuan, canggung. “Oh ya, aku lupa.”
Dan ketika Jung Yuan kembali menatap ke tengah lapangan, ia baru sadar kalau ternyata mata anak-anak tengah tertuju padanya. Ke arah mereka. Ini pasti gara-gara kehadi-ran Wei Feng di sampingnya. Sekarang, kalau ia pikir-pikir lagi, kenapa lelaki ini bisa ada di sini?
“Bolos?” tebak Jung Yuan.
Wei Feng mengangkat kedua bahunya. “Tergantung pandanganmu. Guru Lee tidak berangkat hari ini. Beliau meninggalkan tugas pada kami. Dan karena aku sudah selesai dan merasa bosan, jadi yah, kuputuskan untuk ke sini.”
Jung Yuan mengeluarkan oh pelan.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Ucapnya tanpa memeduli-kan pandangan anak-anak yang mungkin sangat cemburu padanya.
Wei Feng tertawa. “Apa sudah menjadi kebiasaanmu kalau mau bertanya harus minta izin dulu?”
“T-tentu saja tidak. Aku hanya...” Jung Yuan tidak mampu melanjutkan kata-katanya, malu. Lantas air muka Wei Feng mendadak jadi serius. “Tapi maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang dua minggu lalu kamu lontarkan. Belum waktunya.”
“Tapi aku benar-benar butuh penjelasan.” Desak Jung Yuan.
Wei Feng hanya menggeleng, wajahnya tetap menunjuk-kan keseriusan.
Ini aneh. Dan lucu. Kenapa sekarang orang-orang jadi suka menyimpan misteri? Apa sedang tren? Wabah macam apa ini? Jung Yuan memang menyukai cerita-cerita misteri, tapi ia tidak suka kalau ada orang yang menyimpan suatu misteri padanya.
“Lalu, untuk apa kamu ke sini?” Tanyanya kesal.
Karena tak menduga pertanyaan bernada kesal—dan terdengar agak ketus―dari Jung Yuan, Wei Feng hampir menjawab “Aku rindu padamu”. Tapi ia buru-buru menarik napas dalam dan berkata, “Tidak apa-apa. Hanya ingin nongkrong di sini.”
“Oh, yah...” Jawaban yang sangat tidak memuaskan, tambah Jung Yuan dalam hati.
Jung Yuan mencoba beberapa kali lagi untuk membujuk Wei Feng agar mau bercerita. Namun, sekeras apapun ia berusaha, Wei Feng tetap enggan untuk membuka suara. Apalagi ditambah dengan tekanan tatapan cemburu yang makin membara dari mata anak-anak, Jung Yuan memutuskan untuk berhenti. Ia sedang tidak ingin menambah musuh di sekolah. Dan jadilah mereka berdua hanya duduk di situ dalam diam. Hingga tiba waktu jam olahraga berakhir.
Yang Jung Yuan tidak tahu adalah, sebagian besar tatapan cemburu itu sebenarnya ditujukan pada Wei Feng, bukan dirinya. Mereka iri pada si lelaki berwajah dingin yang telah begitu beruntung karena bisa berbincang pada si pemilik senyum indah.

ζ

SAAT Jung Yuan tiba di rumah, ia melihat motor Xiao Guan terparkir tegak di halaman depan. Ia dan Zhongguo pulang satu jam lebih lambat karena tadi adiknya mengurus sesuatu dulu di kantor guru. Jung Yuan masuk, niatnya mau langsung berbaring di atas kasur di kamarnya, namun karena mencium bau harum, Jung Yuan malah berbelok manuver ke dapur. Ia mendapati Xiao Guan yang tengah asyik di dekat konter, memasak. Ketika melihat tubuh tinggi besarnya yang terbalut sebuah apron berwarna merah muda, Jung Yuan langsung tertawa. Begitupula Zhongguo.
Xiao Guan menoleh ke belakang.
“Jahat sekali kalian tertawa seperti itu, padahal aku sudah repot-repot masak begini malah diledek.” Xiao Guan berdecih. “Oke, jangan makan masakanku kalau begitu.”
Jung Yuan dan Zhongguo kompak menghentikan tawa.
“Aku tidak tahu kalau kamu bisa memasak.” Ucap Jung Yuan setengah mengejek. Tapi bercanda.
“Ha ha. Kayaknya kamu memang tidak patut deh makan masakanku.”
Jung Yuan tertawa lagi. “Oke oke. Jangan marah, aku kan hanya bercanda.”
Dan sepuluh menit kemudian, Xiao Guan menyiapkan segalanya di atas meja makan. Menunya tidak terlalu mewah, hanya nasi, sayur, dan ayam goreng. Tapi kelihatan sangat menggugah.
“Woah, ini enak sekali!” Puji Jung Yuan sungguh-sungguh di tengah kunyahan. Adiknya mengangguk setuju.
“Ternyata kamu ini calon menantu idaman ya?” Zhongguo menggoda.
Xiao Guan menatap mata Zhongguo sebentar, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pipinya tampak merona merah.
“Kalau begitu nanti bilang pada ayahmu ya kalau aku akan melamar Jung Yuan.” Katanya kemudian sambil nyengir. Dan Jung Yuan langsung merespon itu dengan lemparan sendok ke arahnya.
“Ehem,” Zhongguo berdehem, memotong protesan Jung Yuan karena tak tega melihat kakaknya terpojok. “Ngo-mong-omong soal ayah, di mana dia sekarang?”
“Biasa, ada pesanan jeruk ke kota sebelah.” Jawab Xiao Guan masih nyengir lebar. “Dan sebenarnya aku disuruh ayahmu untuk menyemproti kebun jeruk.”
“Terus, kenapa kamu malah ada di sini?” tanya Jung Yuan menyelidik.
“Aku lapar, jadi yah, memutuskan untuk masak dulu.” Jawabnya sambil menyuapkan sepotong daging ke mulut. “Lagipula, yang disuruh bukan aku saja. Kalian berdua juga harus membantu. Biar cepat selesai.”
“Dan jangan lupa, berterima kasihlah padaku atas masakan enak ini.” Lanjutnya bangga.
“Ya ya ya ya,” kata Jung Yuan sambil mengangguk-angguk dan tersenyum sinis. “Terima kasih Xiao Guan yang tampan dan pintar memasak.”
“Makanan ini sungguh enak sekali.” Tambah Zhongguo ikut-ikutan nyengir.
Setelah menyelesaikan makan siang dan mencuci semua peralatan yang barusan mereka gunakan, ketiganya lantas beranjak ke kebun dan mulai menyemproti pepohonan jeruk. Zhongguo seorang diri di sayap barat, sementara Jung Yuan terperangkap berdua dengan Xiao Guan di sayap timur.
Cuaca semakin sejuk ketika ketiganya sibuk menyem-proti pepohonan.
“Ini tidak adil. Harusnya Zhongguo yang aku bantu, bukannya kamu. Tubuhmu kan tinggi besar begitu, pasti punya tenaga yang jauh lebih besar.” Gerutu Jung Yuan ketika tiba gilirannya menyemprot.
“Tenang, Zhongguo tidak keberatan kalau dia ditinggal sendirian.” Jawab Xiao Guan enteng.
“Kata siapa?”
“Kataku barusan. Hehe.”
Jung Yuan memutar bola matanya. “Baiklah, kalau begitu aku mau pindah ke tempat Zhongguo saja.” Ia menurunkan tengki dan mulai beranjak untuk pergi.
“Jangan!” sergah Xiao Guan, menyambar tangannya. “Tidak, jangan ke mana-mana. Serius, tadi waktu mencuci piring Zhongguo sendiri yang bilang padaku kalau dia tidak keberatan aku bersamamu. Lagipula...”
“Lagipula apa?” tanya Jung Yuan penasaran.
“Begini,” kata Xiao Guan kikuk. “Mungkin kamu sudah tahu, tapi rasa-rasanya kamu selalu menganggapku tidak serius karena yah, aku ini payah kalau soal begituan.” Ia tertawa.
Dan Jung Yuan menunggu, memandang Xiao Guan lamat-lamat.
Dipandang begitu, bukannya langsung mengutarakan apa yang ada di hatinya, Xiao Guan malah makin kikuk. Ia menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. “Ehm... Uhm... Anu,” Xiao Guan mendesah. “Haduh, payah benar aku ini.”
“Kamu mau bicara apa sih?” desak Jung Yuan.
Si lelaki bergigi Leopard lantas menarik napas dalam-dalam. “Aku mencintaimu.” Katanya tiba-tiba, tapi mantap. “Aku mencintaimu, Jung Yuan. Aku tahu kamu mungkin menganggapku aneh karena kamu belum genap mengenalku selama tiga bulan. Tapi percayalah, bahwa aku sebenarnya telah mengenalmu jauh lebih lama daripada itu.”

ζ

LAMA Jung Yuan memandangi wajah Xiao Guan, tak mampu mengeluarkan kata. Ia tidak tahu harus bilang apa.
“Guan,” ujarnya ragu, canggung. “Aku tidak bisa. Maksudku, yah, kita baru kenal tiga bulan dan...” Jung Yuan mendesah.
“Kamu menyukai Wei Feng.” Katanya tiba-tiba. Serius.
Lantas saja si lelaki cantik terkejut dengan semburan itu. Wajahnya terperangah. “Hah? Maksudmu?”
“Kalau begitu jelaskan mengapa kamu berciuman dengannya di perpustakaan.”
Kali ini Jung Yuan benar-benar bingung bukan kepalang. Ia mau membuka suara namun dipotong oleh Xiao Guan duluan. “Wei Feng menciummu.” Katanya lagi. “Aku melihat kalian berdua berciuman di perpustakaan.”
Jung Yuan tidak habis pikir dengan apa yang ada di benak Xiao Guan hingga tiba-tiba ia berkata seperti itu.
Mendadak mata Xiao Guan nyalang menatap mata Jung Yuan. Ia tiba-tiba meraih dagu Jung Yuan, memegangnya erat-erat hingga ia tidak bisa memalingkan wajah dari tatapan mata Xiao Guan. Jung Yuan tidak tahu apa maksud dari lelaki ini. Lelaki berperawakan besar dengan mata bergurat tajam.
Tubuh Jung Yuan bergetar, jantungnya berdegup cukup kencang.
Ia mencoba untuk menenangkan dirinya, tapi rasa gugup ternyata lebih dominan menyelubungi pikiran. Ia bertanya-tanya, apa yang menyebabkan lelaki di depannya ini terlihat begitu marah? Perilakunya mendadak berubah, seperti bukan Xiao Guan.
“Gu—” Jung Yuan hendak protes, tapi terlambat.
Xiao Guan melumat bibir Jung Yuan dalam-dalam. Ciumannya terasa marah dan kasar. Sekuat tenaga Jung Yuan dorong dadanya, tapi sia-sia. Ia bisa merasakan embusan napas Xiao Guan yang panas di dalam mulutnya.
Dan sungguh, untuk sesaat, Jung Yuan sempat melihat iris mata Xiao Guan berubah warna menjadi hijau bening. Persis seperti mata suku Uighur di perbatasan Cina yang pernah ia lihat di internet. Matanya membelalak menyadari itu.
Oke, ini aneh. Tapi sekarang ia perlu menyingkirkan ciuman lelaki ini dulu dari bibirnya. Jung Yuan berusaha mendorong tubuh Xiao Guan lagi jauh-jauh, kali ini berhasil. Ia tarik lengannya ke belakang, lantas mengayunkannya ke depan, dan... PLAK!
Jung Yuan menampar keras-keras pipi Xiao Guan. Saking kerasnya, tangan Jung Yuan sampai berkedut dan memerah sendiri.
“Kamu ini apa-apaan?!” Seru Jung Yuan marah. Ini adalah pertama kalinya dia berciuman. Dan sekalinya ia melakukan itu, rasanya sungguh sangat mengecewakan.
Xiao Guan diam.
“Dan asal kamu tahu, aku tidak pernah dicium oleh Wei Feng!”
“Maksudmu?” Xiao Guan bertanya bingung.
“Awalnya aku juga mengira bahwa dia akan menciumku. Tapi tidak. Dia hanya menyelipkan rambutku ke belakang telinga, lalu pergi begitu saja.” Terang Jung Yuan.
“Tapi jelas-jelas aku melihatnya menciummu.” Sergah-nya tak mau salah. “Dan bahkan tadi pagi kamu asik berbin-cang dengannya di bangku lapangan.”
Si lelaki cantik langsung tersadar bahwa Xiao Guan tadi pagi juga mendapat kelas yang sama di jam olahraga. Dan sama seperti anak-anak lain, ia pasti telah melihat dirinya dan Wei Feng duduk bersebelahan di bangku penonton.
“Itulah mengapa kamu harus menyelidiki sesuatu terle-bih dahulu sebelum menghakimi seseorang!” Jung Yuan berdecak kesal. “Kutegaskan. Di bangku tadi kami tidak sedang berbincang-bincang ria seperti katamu. Justru sebaliknya. Dan kini kamu malah membuat perasaanku jadi bertambah buruk.”
Si lelaki bertubuh tinggi kini tidak bisa berkata-kata. Wajahnya syok dan menampakkan penyesalan. Lagipula, kenapa sih dia begitu membenci Wei Feng dan kawan-kawannya? Batin Jung Yuan.
“Sudah selesai?” tanya Jung Yuan masih jengkel.
Lantas saja wajah Xiao Guan langsung menampakkan rasa bersalah. Ia menyesal.
“Hei,” katanya sambil menelan ludah. “A-aku minta maaf...”
“Semudah itu?” Jung Yuan menjawab sengit.
“Aku tahu tadi itu amat sangat salah. Tapi percayalah, aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah. Sungguh maafkan aku.” Si lelaki bertubuh tinggi memohon. Wajahnya kelihatan memelas sekali. “Atau kamu mau memukulku lagi? Sampai puas, aku tidak keberatan. Kumohon...”
Demi melihat lutut Xiao Guan yang menurun hendak bersujud, mata Jung Yuan langsung membulat. Ia marah, tapi ia tidak setega itu sampai menyuruh temannya sendiri untuk bersujud segala.
“Hei hei, bangunlah,” suruhnya panik. “Jangan berle-bihan begitu.”
Mendengar suruhan Jung Yuan, kepala Xiao Guan langsung mendongak. Matanya berbinar, lalu nyengir. Dasar idiot, batin si lelaki cantik. Ia bahkan hampir tertawa melihat perubahan muka yang sangat drastis dari si lelaki bertubuh tinggi. Ia sebenarnya sangat murka pada Xiao Guan, tapi cengiran jenaka itu malah sukses menghapus jejak kemarahan yang ada di wajah Jung Yuan. Gila!
“Jadi, kamu memaafkanku?” ucapnya semangat, masih berlutut.
Jung Yuan mendesah, memijat-mijat ringan bagian keningnya. “Ada syaratnya.”
Xiao Guan langsung mengangguk, mencoba menarik tangan Jung Yuan.
“Jangan sentuh aku!” Ia tidak bermaksud untuk berseru seketus itu. Tapi yang keluar ternyata di luar perkiraan.
Mendengar seruan Jung Yuan yang amat ketus, Xiao Guan langsung terperanjat dan mundur selangkah. Wajahnya kembali muram.
“Maaf...” lirih Jung Yuan. Eh, kenapa sekarang jadi dia yang merasa bersalah?
Untuk beberapa saat, udara di sana mendadak berubah jadi sangat canggung. Keduanya sama-sama bingung harus berkata apa. Masing-masing merasa bersalah karena kelakuan kekanak-kanakkan mereka.
“Jadi, apa syaratnya?” Tanya Xiao Guan kemudian memecah kecanggungan. Ia kini telah berdiri kembali.
Jung Yuan mendongak. “Kamu harus jawab semua pertanyaanku dengan jujur.”
Dan sungguh, Xiao Guan sangat tahu apa yang akan ditanyakan oleh Jung Yuan. Hatinya berubah jadi tidak nyaman.
Melihat gelagat si lelaki bertubuh tinggi yang tidak nyaman, Jung Yuan berkata, “Kamu tidak harus menjawabnya. Tapi setelah ini, jangan harap kita bisa berteman seperti sebelumnya lagi.”
Sial! Umpat Xiao Guan dalam hati. Ini bencana namanya. Ia merutuki sikap bodohnya tadi. Entah mengapa, hari ini Xiao Guan merasa seperti bukan dirinya. Ini pasti karena rasa cemburu yang sudah kepalang membakar, makanya si buas yang bersembunyi di dalam hati keluar dan mengambil alih nafsu brengseknya. Ia sungguh amat sangat menyesal telah membiarkan si buas mengambil alih nafsu bejatnya. Seharusnya ia bisa menahan. Ah, sekarang Jung Yuan pasti benar-benar sangat membenci dirinya.
“Baiklah...” jawabnya kemudian setengah terpaksa.
Jung Yuan mengembuskan napas pelan, hendak memulai. “Pertama, mengapa kamu membenci Wei Feng? Maksudku, tidak hanya dia saja, tetapi juga kawan-kawannya.”
“Aku tidak membencinya.” Xiao Guan mengelak.
“Jangan berbohong Guan, aku bisa merasakannya.” Jung Yuan menatap Xiao Guan seperti seorang pencuri yang tertangkap basah tengah melakukan aksinya, tidak bisa menghindar.
“Siapa yang berbohong?” Xiao Guan berkata mantap―tapi justru separuh suaranya terdengar cemas.
“Kalau begitu aku pergi!” ancam Jung Yuan sengit.
Mata Xiao Guan langsung membelalak. Ia menghadang Jung Yuan dengan tubuhnya, berusaha untuk tidak bersentuh kontak dengannya.
“Baiklah baiklah, akan kujawab.” Katanya menyerah. “Itu karena aku tidak suka dia dekat denganmu.”
Jung Yuan mengernyit. Yang benar saja?
“Mungkin kamu tidak akan memercayaiku, tapi dia itu tidak sebaik seperti yang terlihat. Aku takut dia akan meninggalkan dirimu, menyakitimu, dan tidak bisa melindu-ngimu,” lagi, tambah Xiao Guan dalam hati.
“Memangnya atas dasar apa kamu menuduhnya seperti itu?” Jung Yuan benar-benar tidak paham dengan apa yang dikatakan Xiao Guan barusan. “Lagipula, kami kan tidak dekat.”
“Belum. Mungkin nanti.” Katanya kalut. “Kumohon jangan dekat-dekat dengannya. Aku tahu ini terdengar aneh, tapi sebenarnya ia juga berusaha sangat keras untuk menjaga jarak denganmu.”
“Tapi untuk apa?” tanya Jung Yuan makin bingung.
Yang ditanya hanya menggeleng pelan. “Maaf, tapi hanya sampai di situ. Aku tidak bisa melanjutkannya. Kuminta dengan sangat agar kamu mau mengerti, untuk kebaikanmu sendiri.”
“Sekarang, ganti ke pertanyaan lain.” Lanjutnya cepat tanpa menunggu respon Jung Yuan yang ia tahu pasti akan berbentuk protesan.
Si lelaki cantik menurunkan kedua bahunya, menurut. “Baiklah. Lanjut ke pertanyaan kedua.” Jung Yuan menatap lamat-lamat mata Xiao Guan. “Jawab jujur, aku tadi sempat melihat matamu berubah warna menjadi hijau. Kamu ini apa?”
Xiao Guan langsung mengeluh dalam hati. Kenapa pula urusan ini harus ia hadapi sendirian? Ingin sekali rasanya ia memanggil Li Huan dan menyerahkan segalanya padanya. Sekarang ia benar-benar mengutuk si buas yang berani-beraninya keluar tanpa bisa ia kendalikan.
“Tentu saja aku ini manusia. Kamu pikir aku ini siapa? Dewa Langit?” Xiao Guan membalas disertai tawa canggung, pura-pura tidak mengerti.
“Kamu jangan pura-pura tidak mengerti, Guan,” si lelaki cantik tidak mudah percaya.
“Memang benar bukan kalau aku ini manusia?”
“Gila ya? Sudah jelas-jelas kalau tadi aku melihat matamu berubah warna jadi hijau!” Jung Yuan akhirnya berseru.
“Sekarang pikir lagi siapa yang gila di antara kita, kamu atau aku? Mana mungkin warna mataku yang aslinya gelap bisa berubah menjadi hijau? Benar? Jadi, aku tidak gila, bukan?” Xiao Guan nyengir.
“Kata siapa tidak bisa?” Jung Yuan mendengus jengkel. “Ada kasus di dunia ini. Jarang memang, tapi ada. Dan untuk kasusmu ini berbeda, bukan seperti orang-orang itu.”
Xiao Guan mengeluh pelan, Jung Yuan ini pendebat yang baik.
“Dan tidak hanya soal matamu saja yang aneh. Gelagatmu, saudara-saudaramu, Wei Feng, juga kawan-kawannya. Bahkan salah satu teman Wei Feng yang bernama Jun Hui memberitahuku tentang makhluk, dendam ratusan tahun, atau apapun itulah. Yang jelas ini bukan masalah biasa, iya bukan? Dan semenjak kedatanganku di sini aku juga sudah mengalami hal-hal janggal di luar nalar. Pasti ada yang kalian sembunyikan, bukan?”
Xiao Guan makin merasa tak nyaman dibuatnya, canggung. “Itu cuma perasaanmu saja mungkin.”
Jung Yuan mengembuskan napas sebal. Xiao Guan ini benar-benar menjengkelkan. Kenapa sih susah sekali? Tinggal jawab, jelaskan, kan semuanya jadi beres?
“Gelagatmu itu justru sedang menjawab sebaliknya, Guan. Pasti kalian memang sedang menyembunyikan sesuatu.” Jung Yuan bersikukuh.
“Yuan―”
“Xiao Guan! Jung Yuan-gege!” keberuntungan untuk si lelaki bertubuh tinggi, seruan Zhongguo menyelamatkan dirinya dari kekukuhan Jung Yuan.
Mereka serempak menoleh.
“Maaf menganggu percakapan super penting kalian,” Zhongguo menatap Jung Yuan dan Xiao Guan yang sepertinya memang tengah membicarakan sesuatu yang amat serius. “Tadi Li Huan-gege mengirimiku pesan kalau kamu disuruh pulang sekarang, Guan. Penting katanya. Ponselmu kemana sih?”
Yang ditanya langsung menepuk-nepuk seluruh sakunya, dan tersadar bahwa semuanya kosong. “Oh, pasti ketinggalan di dalam rumah.”
Xiao Guan lantas melirik ke arah Jung Yuan, merasa bersalah. “Maaf Yuan, tapi sepertinya aku harus pergi. Kita lanjutkan nanti, oke?”
Sebenarnya Jung Yuan agak keberatan dengan itu, tapi ia memutuskan untuk menyerah dan menanggapinya dengan anggukan setuju. Tidak ada gunanya berdebat dengan Xiao Guan, dia hanya akan mengelak semua ucapannya.
“Aku membencimu, Guan,” ucap Jung Yuan kemudian.
“Aku juga mencintaimu Jung Yuan,” jawabnya riang sebelum kabur dari amukan si lelaki cantik.
“Dasar idiot!” teriak Jung Yuan pada Xiao Guan yang telah melesat ke dalam rumah.
“Tidak perlu diragukan lagi.” Timpal Zhongguo yang masih berada di dekatnya, tertawa.