WOC - Bagian 3


DUA PERTEMUAN

HARI itu, kata-kata asing tersebut terus terngiang di kepala Jung Yuan. Tanpa henti, tanpa jeda. Bahkan setelah ia berusaha mengenyahkannya jauh-jauh.
Tidak seharusnya kau kembali ke sini.
Suara itu berbicara seolah kehadirannya di sini adalah sebuah kesalahan. Tapi ia benar-benar tidak tahu apa kesalahannya pada si pemilik suara itu. Ia sama sekali tidak punya petunjuk akan hal aneh tersebut. Dan yang membuat Jung Yuan heran lagi adalah, seharusnya ucapan itu mampu membuatnya merasa tersinggung. Namun tidak. Entah mengapa kata-kata itu justru malah diamini oleh dirinya. Seolah ada rasa bersalah amat dalam yang hinggap dari masa lalu dan bersemayam di hatinya.
Bukan karena ia tak punya kenangan apapun. Ia ingat banyak hal sewaktu kecil dulu. Jung Yuan ingat, ketika hujan turun, ia pasti hampir selalu mengendap-endap keluar rumah untuk bermain air. Ayah dan Ibunya yang kehilangan Jung Yuan kecil akan panik dan ribut mencari-cari dirinya. Ia ingat betapa Ibunya akan memeluk tubuh Jung Yuan erat-erat sambil berkomat-kamit pada Jung Yuan agar jangan pernah ia mengulangi hal itu lagi. Lalu, ia juga ingat pada teman sepermainannya dulu yang mati-matian melarang Jung Yuan untuk tidak pindah ke kota kecil ini. Saat itu Jung Yuan tidak menyadari keanehan yang dia lakukan. Namun sekarang Jung Yuan menyadari, seolah teman sepermainannya itu tahu bahwa di sini ada sesuatu yang janggal.
Jung Yuan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Berhenti!
Sudah cukup baginya memikirkan hal-hal aneh semacam itu. Bukannya ia bermaksud untuk lari dari kenyataan, namun hari ini ia punya kesibukan lain daripada sekadar memikirkan suara asing tersebut.
Saat ini ia tengah berjalan seorang diri di koridor seko-lah menuju kelas pertamanya. Kondisi tubuh Jung Yuan sekarang sudah membaik. Ia bersyukur, sebab kemarin tidak ada satu orang pun yang mengadukan kambuhnya si paru-paru pada sang ayah.
“Pagi, manis,” Taiheng, si lelaki penggoda tiba-tiba berseru dan membuyarkan lamunannya.
Kepala Jung Yuan mendongak menoleh.
“Kenapa kamu bengong di sini, Yuan?” Taiheng tertawa riang. Dia pasti barusan berlari-lari kecil untuk menjangkau Jung Yuan yang jarang-jarang berjalan sendirian tanpa si dua pengawal.
“Eh, tidak.” Jung Yuan menyelipkan beberapa helai rambut hitamnya ke belakang telinga.
“Kau sudah mengerjakan tugasmu, Yuan?” Taiheng basa-basi bertanya. Lantas wajahnya seperti sedang membayangkan sebuah bencana besar jika Jung Yuan menjawab tidak.
Asal kalian tahu, menurut pengakuan dari teman-teman barunya di kelas, meskipun Guru Sheng masih kelihatan muda dengan wajah yang penuh kasih, namun untuk urusan kedisiplinan ia bisa berubah menjadi iblis dalam sekejap. Katanya, dulu beliau pernah menggebrak meja sangat keras gara-gara satu kelas hanya ada beberapa anak yang mengerjakan tugas. Makanya semenjak saat itu, tidak ada anak lagi yang berani bermalas-malasan ria. Takut terkena hukum, mereka bilang.
Jung Yuan tertawa. “Tentu saja.”
“Oh, syukurlah.” Taiheng ikut menghembuskan napas lega. “Kamu pasti sudah mendengar kalau Guru Sheng itu serupa malaikat pencabut nyawa, bukan? Haha. Aku bahkan dulu pernah dikeluarkannya dari kelas sekali. Iya kalau cuma disuruh keluar, aku malah disuruh berdiri sambil satu kaki terangkat pula. Kan malu.”
Jung Yuan hanya tersenyum mendengar pengakuannya. Mereka berdua sudah tiba di anak tangga kesekian ketika bel berdering dengan nyaring dan seseorang tak sengaja mena-brak Jung Yuan amat keras. Seluruh buku yang ada di tangannya dan si penabrak jatuh terserak di atas lantai.
“Heh, lihat-lihat kalau jalan!” Taiheng berseru ketus.
“Maaf maaf, aku sedang terburu-buru.” Ucap si lelaki sambil melirik jam tangannya gugup.
“Ya tahu, semua orang di sini juga sedang terburu-buru. Tidak hanya kamu seorang!”
Jung Yuan menepuk pundak Taiheng untuk memberi tanda bahwa ia baik-baik saja dan menyuruhnya untuk tenang. Si lelaki yang menabrak kemudian membereskan buku mereka, lantas meminta maaf sekali lagi dan langsung kabur ke kelas yang ditujunya.
Ketika semua buku telah berada di tangan Jung Yuan kembali, Taiheng menggerutu. “Anak itu sepertinya menaruh mata di pantat.”
Jung Yuan menatap Taiheng sejenak, lantas tertawa pada gerutuannya. Mereka berdua mempercepat langkah seperti anak-anak lain, kemudian masuk ke kelas Sejarah. Beberapa menit setelah Guru Sheng masuk ke dalam kelas dan menyapa anak-anak, ia langsung menagih tugas yang sebelumnya ia berikan.
Anak-anak sibuk mengambil buku tugasnya untuk dikumpulkan. Begitu juga dengan Jung Yuan. Namun, seketika ia tertegun. Jung Yuan mencari-cari bukunya yang semalam ia selipkan di buku pegangan Sejarah. Tidak ada. Lantas tangannya ribut mengaduk-aduk ke dalam tas. Tidak ada. Di mana buku Sejarahnya?
Jung Yuan mengingat-ingat lagi. Tadi malam setelah mengerjakan tugas, ia memang menyelipkan buku itu di sela-sela buku pegangan Sejarahnya. Lantas tadi pagi...
“Yang tidak mengumpulkan tugas, silahkan keluar dari kelas saya.” Titah Guru Sheng dengan suara yang amat tegas.
Karena takut nanti dimarahi, Jung Yuan sukarela mengangkat pantatnya dari atas kursi. Ia berjalan ke depan kelas bermaksud untuk keluar. Terang saja, semua mata yang berada di kelas itu menatapnya tak percaya. Mereka pikir, anak macam Jung Yuan mana mungkin berani tidak mengerjakan tugas? Apalagi setelah mendengar kejamnya Guru Sheng di kala marah.
“Kenapa kamu tidak mengerjakan tugas?” tanya Guru Sheng galak.
“Saya mengerjakan, sungguh.”
“Lantas?”
“Buku saya sepertinya terjatuh tadi di jalan.” Jung Yuan takut-takut memberi alasan.
“Itu sama saja namanya, ceroboh.” Guru Sheng mendesah. “Karena ini masih awal semester, saya kasih kamu bonus tidak usah mengangkat kaki di depan kelas. Melainkan menulis kata penyesalan dua lembar kertas penuh di perpustakaan.”
Jung Yuan mengangguk pasrah. “Baik, Guru.”
Namun, belum sampai kaki Jung Yuan melewati ambang pintu kelas, ternyata ada sosok lain yang mengikuti langkahnya keluar kelas. Jung Yuan menolehkan kepalanya untuk mengetahui siapa gerangan anak itu. Sungguh, kabar buruk bagi Jung Yuan, sebab anak itu ternyata adalah si lelaki bermata emas. Dan sama seperti dirinya, Guru Sheng tanpa ampun juga mengusir Wei Feng dari dalam kelas.
Napas anak-anak seketika tertahan melihat patung porselain itu berjalan keluar. Mata mereka terkagum melihat sosok si mata emas yang begitu memukau layaknya seorang model yang berjalan di atas karpet merah.
Ketika dirinya telah berada di luar kelas, Jung Yuan bisa merasakan tatapan Wei Feng dari belakang. Mereka berdua berjalan dalam diam. Tidak ada yang bersuara, pun Jung Yuan tidak berani menolehkan kepalanya ke belakang. Wei Feng itu aneh. Bahkan ketika keduanya sampai di perpustakaan, si mata emas malah lebih memilih tempat duduk persis di seberang Jung Yuan. Padahal tempat duduk lain masih banyak yang kosong. Membuat Jung Yuan jadi canggung setengah mati karena posisi mereka yang berhadap-hadapan. Hati Jung Yuan menggerutu, kenapa pula dia harus duduk di situ? Tidak adakah tempat lain?
Lama, mereka diam dalam pikiran masing-masing. Si mata emas ini dengan santainya tetap lekat menatap sosok Jung Yuan yang tengah menulis kata penyesalan di atas kertas. Ia hanya duduk di sana dengan tangan yang terlipat di atas meja.
“Hei,” Jung Yuan hampir meloncat dari bangkunya ketika suara si mata emas tiba-tiba terdengar. “Kemarin, apa kamu tidak apa-apa?”
“Eh?” hanya itu yang bisa Jung Yuan keluarkan dari mulutnya.
“Kemarin, di pantai kulihat paru-parumu kambuh. Apa kamu baik-baik saja?”
“Huh?” Jung Yuan bingung. Bagaimana dia bisa tahu kalau dirinya memiliki paru-paru yang buruk. “Bagaimana kamu tahu?”
Mendengar pertanyaan itu, Wei Feng seolah tersadar kalau tak seharusnya ia berkata seperti itu. Pikirannya cepat-cepat mencari sebuah alasan yang masuk akal untuk diberikan pada Jung Yuan. “Kulihat kemarin kamu jatuh dan napasmu tersengal-sengal tak keruan, jadi, kupikir ada masalah pada paru-parumu.” Elaknya.
Jung Yuan mengangguk dan berkata oh pelan. Orang ini pasti punya penglihatan yang tajam hingga bisa melihat dari jarak sejauh itu. “Ya, aku baik-baik saja,” jawabnya kemudian.
Dan mereka terdiam lagi.
Dalam hati, Jung Yuan ingin bertanya pada si lelaki yang ada di depannya ini. Kenapa ia bisa punya mata emas? Kenapa selubung auranya bisa begitu berbeda? Dan kenapa pula kelompoknya seolah punya masalah pada Xiao Guan dan saudara-saudaranya? Jung Yuan menimang-nimang.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” akhirnya ia membe-ranikan diri.
Si lelaki bermata emas mengangguk, “Ya, silahkan.”
“Kenapa warna matamu bisa emas begitu?”
Wei Feng tertawa. Dan Jung Yuan seketika merasa bahwa pertanyaannya barusan kedengaran bodoh sekali. “Haha. Mutasi mungkin.”
Diberi jawaban seperti itu, Jung Yuan menampakkan muka sebal.
“Kau ini lucu kalau memperlihatkan wajah seperti itu,” si mata emas tersenyum. “Baiklah, kuberi jawaban yang jujur. Kakekku orang luar, dia punya mata yang sama persis denganku. Jadi bisa dibilang, mata ini adalah hasil keturunan.”
Jung Yuan mengangguk-angguk malu.
“Ada pertanyaan lain?”
Jung Yuan menimang-nimang lagi. “Uhm... kenapa kalian terlihat seperti bermusuhan dengan Xiao Guan dan saudara-saudaranya? Maksudku, kau dan teman-temanmu itu.”
Wei Feng mendesah, lagaknya seperti berat untuk berkata. “Andai saja aku bisa memberitahumu.”
Sialnya, sebelum Jung Yuan mampu bertanya apa maksud dari Wei Feng berkata seperti itu, bel tanda akhir pelajaran pertama nyaring berbunyi. Gawat baginya kalau sampai ia tak menyerahkan kertas hukuman itu sesegera mungkin pada Guru Sheng.
Ketika Jung Yuan bangkit bermaksud untuk keluar dari perpustakaan, lengan kanannya mendadak ditahan oleh satu tangan kokoh milik Wei Feng. Jung Yuan memandang si lelaki bermata emas dalam kebingungan.
Mata Wei Feng dalam menatap mata Jung Yuan. Seolah ia ingin mengumbar segala kegelisahan dan kerinduan yang tertanam di dalamnya. Dan Jung Yuan yakin, bahwa jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga merasakan kerinduan itu. Lantas, sepersekian detik setelah sengatan rindu menyerang, tiba-tiba ada suatu dorongan amat besar yang menginginkan dirinya untuk berada dalam rengkuhan lelaki ini.
Sungguh, ia tidak paham pada perasaan aneh tersebut. Yang jelas, saat ini hati Jung Yuan dipenuhi dengan rasa rindu berat terhadapnya.
Tubuh Jung Yuan bergetar, jantungnya berdegup cukup kencang. Hati Jung Yuan jadi ribut sendiri. Sebab, makin lama, si pemilik mata emas makin mendekatkan wajahnya ke wajah Jung Yuan. Sepuluh senti. Lima senti.
Dan... Jung Yuan tersentak.

ζ

YANG keduanya tidak tahu adalah, dari jarak beberapa meter, di sudut lain perpustakaan itu, seseorang tengah mengamati mereka. Ia berdiri dengan sorot mata tajam dan nyalang. Tangannya mengepal kuat sementara tubuhnya menegang penuh amarah. Ia murka.

ζ

“KENAPA?”
Jung Yuan hampir tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
“Bukankah kemarin kamu berjanji akan mengantarku ke toko buku? Lagipula hari ini Zhongguo ada ekskul bola, jadi ia tidak bisa mengantarku. Kamu marah?”
Xiao Guan hanya menggeleng, tersenyum getir. “Maaf, tapi aku benar-benar ada urusan mendadak hari ini. Kamu bisa minta tolong pada Taiheng atau yang lainnya. Aku pergi dulu.”
Dan begitulah. Jung Yuan hanya bisa memandangi punggung Xiao Guan yang makin lama makin menjauh menuju parkiran.
Hari ini Xiao Guan aneh, ia tidak tertawa sama sekali. Bahkan ketika Jung Yuan menampakkan wajah paling memelas sekalipun, ia tidak bergeming. Dari tadi pagi, si lelaki bertubuh tinggi itu hanya diam tak mengeluarkan lelucon seperti biasanya. Sejenak, Jung Yuan berpikir bahwa Xiao Guan mungkin tengah menghindarinya. Tapi untuk apa? Bukankah kemarin mereka baik-baik saja? Apakah Jung Yuan secara tidak sengaja telah membuatnya marah? Atau menyinggungnya? Padahal tadi malam Xiao Guan sendiri yang mengiriminya pesan, berjanji bahwa hari ini ia akan mengantarkan Jung Yuan ke toko buku. Sebagai balas rasa bersalah yang belum hilang katanya.
Jung Yuan menghela napas dalam. Ia ingin minta tumpangan pada Shin Qing, namun lekas-lekas mengenyahkan pikiran itu. Jung Yuan baru seminggu mengenalnya. Rasanya tidak sopan kalau tiba-tiba ia minta tumpangan pada lelaki berpipi tembam itu. Nanti apa yang akan dikatakan Shin Qing? Lalu, pikirannya melayang pada Taiheng. Tidak akan! Terpikir anak itu saja sudah membuat Jung Yuan langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bukannya bermaksud kasar atau bagaimana, hanya saja Taiheng itu suka kelewatan bila menggoda.
Dan terakhir adiknya. Zhongguo sih bisa saja meni-nggalkan ekskul bola saat ini, mengutarakan seribu alasan pada guru ekskulnya agar ia bisa mengantarkan Jung Yuan ke toko buku. Tapi tidak. Jung Yuan tidak setega itu mengganggu aktivitas adiknya untuk hal sesepele ini.
Hmm, lagipula rasanya sudah lama Jung Yuan tidak pergi tanpa dibuntuti orang lain. Kalau pergi sendiri kan ia bisa sepuas hati mengelilingi toko buku, tanpa perlu merasa bersalah bila ada orang lain yang sedang menunggunya. Toh itu hanya perjalanan ke kota sebelah yang jaraknya hanya tiga puluh menit.
Ini hebat, Jung Yuan tersenyum bangga pada pemikiran itu.
Ia lantas berjalan menuju halte depan sekolah. Ketika sampai dan Jung Yuan bermaksud untuk mengirim pesan pada Zhongguo, ia melihat Xiao Guan keluar melewati gerbang menaiki motor ninjanya. Begitu elegan dan memukau. Ini lucu. Jung Yuan baru sadar kalau Xiao Guan ternyata bisa semodis dan setampan itu. Apalagi dengan perawakan yang super atletis, pasti banyak orang yang diam-diam menaruh hati pada dia. Bukannya Jung Yuan tidak pernah mengakui sebelumnya, hanya saja kepribadian Xiao Guan yang ceroboh dan suka nyengir seringkali menutupi semua sisi ketampanannya.
Si pemilik tubuh tinggi langsung mengebut segera setelah keluar dari gerbang sekolah. Sepertinya ia tidak menyadari kebe-radaan Jung Yuan di dekat sana. Tapi Jung Yuan tidak marah. Justru ia malah bersyukur pada Xiao Guan yang tidak melihatnya di halte. Siapa tahu saja Xiao Guan bakal berubah pikiran lantas memutuskan untuk mengantarnya ke toko buku? Sayang, Jung Yuan sedang senang atas idenya bepergian sendiri ke kota sebelah. Tanpa perlu pengawalan dari Xiao Guan apalagi Zhongguo.
Sepuluh menit kemudian sebuah bis berwarna abu-abu bergradasi biru datang. Ia naik dan memilih tempat duduk paling belakang. Selama perjalanan, kepala Jung Yuan tak henti-hentinya melongok keluar jendela. Mengingat-ingat jalanan yang dulu seringkali ia lewati ketika berkunjung ke rumah kakek. Yah, sekarang rumah itu sudah menjadi tempat tinggalnya sih.
Di sela-sela bayangannya mengenang masa lalu, kadang-kala Jung Yuan mengecek ponsenya beberapa kali. Zhongguo belum membalas pesan yang tadi ia kirimkan. Mungkin dia sedang sibuk menggiring bola di tengah lapangan sementara ponselnya ia taruh entah di mana. Dan itu adalah kabar baik bagi Jung Yuan. Andai saja Zhongguo langsung melihat pesan itu, berani jamin ia pasti akan segera menemui Jung Yuan dan menyeret tubuhnya dari halte. Lantas memaksanya masuk ke dalam mobil Chevrolet tua sebelum memarahi Jung Yuan terhadap ide-gila-pergi-sendirinya tersebut.
Sesampainya di toko buku, Jung Yuan lekas mengedarkan tubuhnya mengelilingi toko itu. Ia berkeliling dari satu rak ke rak yang lainnya. Hatinya senang bukan kepalang. Apalagi toko buku ini cukup luas mengingat letaknya yang bukan di kota besar. Ia mengambil dua buku pelajaran dan dua novel bergenre misteri. Ah, setelah sekian lama menunggu, dua novel itu akhirnya diluncurkan juga. Pengarang kesukaannya ini makin lama makin tebal saja kalau membuat novel, membuat kantong Jung Yuan jadi cepat jebol. Tapi tak apa. Namanya suka, mau bagaimana lagi? Benar, bukan?
Cukup lama Jung Yuan berkeliling di dalam toko buku itu. Kadang menimang-nimang untuk membeli satu atau dua buku lagi sebelum pulang. Tapi pikiran itu lekas hilang ketika matanya tak sengaja menangkap seorang sosok yang cukup familiar. Sosok yang kemarin ada di pantai bersama Wei Feng dan empat orang lainnya. Dari sela-sela buku yang tertata renggang di rak, Jung Yuan hanya bisa melihat setengah wajah lelaki itu. Tapi dirinya yakin. Benar-benar yakin kalau dia adalah orang yang sama yang mengendarai mobil Bugatti dan menatapnya tajam di pantai kemarin. Lelaki itu tengah menundukkan kepalanya pada buku yang sedang ia pegang.
Seketika pikiran Jung Yuan jadi ribut sendiri ingin menghampiri lelaki itu. Ia ingin menanyakan perilaku anehnya terhadap Jung Yuan. Tetapi separuh hatinya ciut macam pecundang. Jung Yuan takut kalau lelaki itu malah akan marah padanya. Ia juga takut kalau lelaki itu akan menghindar darinya.
Ah, tidak-tidak! Kau harus berani Yuan! Picunya dalam hati.
Jung Yuan memantapkan hatinya, melangkah untuk mendekati pria itu. Semakin dekat jarak mereka, semakin keras pula rasa gugup yang Jung Yuan hasilkan. Ia mengeluarkan tangannya untuk menjangkau pundak lelaki itu. Satu detik. Dua detik. Sang lelaki berbalik badan untuk mengetahui siapakah orang yang telah menyentuh pundaknya.
Sungguh, wajah itu begitu dingin. Matanya tajam, rahangnya keras, tanpa senyum. Auranya sungguh mendo-minasi. Jung Yuan merasa ciut seketika. Ia menelan ludahnya dalam-dalam.
“M-maaf, boleh kita berbicara sebentar?” Jung Yuan terbata mengeluarkan suara.
Lelaki itu hanya diam, wajahnya tidak berubah sedi-kitpun. Serupa batu. Lantas setelah lama ia menatap tajam pada Jung Yuan, lelaki itu berbalik badan. Ia sudah siap untuk mengangkat kaki dari sana ketika pergelangan tangannya tiba-tiba ditahan oleh Jung Yuan.
“Kumohon, aku hanya ingin bertanya beberapa hal padamu?” pintanya.
“Tidak.” Hanya itu yang ia katakan. Suaranya dalam dan kuat. Begitu misterius.
Si lelaki lantas melepaskan cengkeraman Jung Yuan dari pergelangan tangannya, kemudian segera pergi dari tempat itu. Jung Yuan yang tidak mau kehilangan jejak lelaki tersebut, tergesa mengejar. Ia menaruh empat buku yang ada di genggaman pada sembarang tempat. Ketika keluar dari toko buku, Jung Yuan tidak menyadari kalau ternyata langit sudah mulai menggelap. Ia tadi terlalu asik memilah-milih buku di dalam toko. Sebenarnya saat itu masih jam lima, namun karena mendung, langit di sana serasa sudah jam enam sore. Tidak ada gurat jingga apalagi biru. Ditambah lagi dengan lalu-lalang orang yang sangat sedikit, menjadikan suasana di sana seperti kota mati.
Jung Yuan berjalan cepat menyusuri trotoar, sementara si lelaki dingin tak sedikitpun menolehkan kepala ke belakang. Jalannya cepat sekali. Jung Yuan sampai tersandung-sandung sendiri berusaha mendekatkan jarak keduanya. Ketika sampai di sebuah perempatan kecil yang cukup sepi, lelaki itu langsung menyebrang tanpa tengok kanan-kiri. Jung Yuan yang ketinggalan enam meter di belakangnya, awalnya ragu untuk menyebrang, sebab saat itu lampu masih menyala hijau diperuntukkan untuk kendaraan. Tapi Jung Yuan tidak peduli. Ia sudah kepalang penasaran pada orang itu. Ia ingin mengetahui segalanya. Tentang kejanggalan-kejanggalan yang seminggu terakhir menimpa dirinya.
Lantas dengan mantap, Jung Yuan menapakkan kakinya di atas aspal bergaris putih selang-seling. Tapi sial. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sebuah truk pengangkut barang melaju cukup kencang di jalanan sepi itu. Sorot lampunya begitu terang, menyilaukan kedua mata. Dan entah bagai-mana pula, ketika Jung Yuan berniat untuk lari dari tengah penyebrangan jalan itu, kakinya tiba-tiba saja menjadi lemas. Kemudian jatuh terduduk di atas aspal. Ia mencoba sekuat tenaga untuk bangkit kembali, namun tidak bisa. Serasa lumpuh. Kakinya mati rasa. Jung Yuan panik. Jantungnya berdegup sangat kencang. Tidak ada yang bisa ia mintai tolong. Jalanan itu sungguh sepi. Cukup gelap dan berkabut.
Jung Yuan hanya terdiam di situ. Menunggu truk yang melaju di depannya siap membuat tubuh Jung Yuan remuk tak berbekas. Kedua tangan ia silangkan di depan mata untuk menghindari sorot lampu yang kian membutakan. Sekaligus penghalang bagi dirinya agar tidak sempat melihat truk itu menghamtam tubuhnya secara langsung.
Namun, ketika harapan hidup Jung Yuan hampir punah seluruhnya, ia mendengar langkah kaki terburu mendekat. Lantas seseorang tiba-tiba merengkuh tubuh Jung Yuan. Ia serasa melayang dalam pelukan orang itu. Hanya beberapa detik, kaki Jung Yuan kini telah berdiri tegap kembali di atas trotoar. Ia mendongak untuk melihat siapakah orang yang telah menyelamatkan nyawanya tadi. Jung Yuan hampir terhuyung ke belakang ketika mengetahui siapa orang itu. Kaget. Wajah mereka sungguh dekat sekali. Melihat si lelaki cantik yang hampir terjatuh ke belakang, orang itu sekali lagi melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jung Yuan agar tidak terjatuh.
“M-maaf.” Jung Yuan tergagap.
Si rupa dingin memandang Jung Yuan tajam, tanpa eks-presi. “Lain kali hati-hati. Ada banyak makhluk yang mengi-nginkanmu.”
Jung Yuan mendongak sekali lagi.
“Eh? Maksudmu?” ia bingung terhadap kata-kata yang barusan lelaki itu keluarkan. Makhluk? Menginginkannya?
“Apa kau terluka?” tanya si rupa dingin, tidak menggu-bris kebingungan yang tergurat di wajah Jung Yuan.
“Tidak. Aku baik-baik saja,” jawab Jung Yuan cepat.
Ia memandang wajah lelaki itu. Kali ini lebih dalam dan intents. Sungguh, mata itu seolah kosong dan bosan. Seperti muak dengan kehidupan di dunia ini.
Tidak seharusnya kau kembali ke sini.
Jung Yuan tersentak. Suara itu lagi. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sepi. Tidak ada siapa-siapa. Ah, bodoh sekali aku, gerutu Jung Yuan dalam hati. Tentu saja tidak ada siapa-siapa. Suara itu muncul sendiri dari kepalanya, bukan dari mulut seseorang.
“Itu aku.”
Huh? Sebentar. “Maksudmu, suara yang muncul tadi itu adalah suaramu?” Jung Yuan makin bingung dibuatnya. “Tapi, bagaimana bisa?”
“Berhati-hatilah.” Si lelaki lagi-lagi tidak menggubris pertanyaan Jung Yuan. “Mulai sekarang akan ada banyak makhluk yang mengincarmu. Terutama mereka yang berada di sisi gelap dan menyimpan dendam ratusan tahun padamu.”
“Dendam?”
“Lambat laun kau akan tahu segalanya. Ini bukan tugasku untuk menjelaskan semuanya padamu. Dan,” si lelaki menolehkan kepalanya ke arah lain, memandang jauh ke ujung jalan. “...kekasihmu sebentar lagi akan datang. Aku harus pergi.”
Lelaki itu lantas mengangkat kaki dari hadapan si lelaki cantik. Jung Yuan diam. Butuh beberapa detik baginya untuk mencerna kata-kata si rupa dingin.
“Hei, siapa namamu?!” seru Jung Yuan setelah menyadari bahwa si lelaki telah menjauh beberapa meter dari hadapannya.
Si rupa dingin berhenti sejenak. “Jun Hui,” jawabnya tanpa menoleh ke belakang. “Quan Jun Hui.”