WOC - Bagian 2


RUPA ASING


JUNG YUAN merasakan ada sebuah tangan yang menyentuh kulit pipinya. Matanya memang masih terlelap, namun indranya cukup peka terhadap sentuhan dalam tidurnya itu.
“Yuan...”
Suara itu lembut mendayu memanggil namanya, seperti nyanyian. Membuat Jung Yuan penasaran siapakah gerangan yang tengah malam begini berusaha membangunkannya dari tidur?
Perlahan, Jung Yuan membuka kedua matanya. Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat sosok lelaki cantik yang tengah membungkuk di atasnya. Tersenyum indah. Matanya yang biru bening menatap penuh kasih. Begitu indah. Wajahnya benderang, seolah tertimpa cahaya rembulan.
“Mama...”
Jung Yuan terkejut pada suaranya sendiri. Entah kenapa ia tiba-tiba mengeluarkan kata itu. Padahal lelaki ini bukan ibunya. Beliau sudah meninggal lama, dua tahun yang lalu. Dan ibunya adalah seorang omega wanita, bukan omega pria. Wajah keduanya pun jelas sangat berbeda. Lelaki ini bukan ibunya.
Tetapi sungguh, kehadirannya seolah menyengat hati Jung Yuan pada rasa rindu yang amat berat. Rasa rindu pada sosok seorang ibu.
Sang lelaki tersenyum, kehangatannya menyeruak pada dada Jung Yuan. Membuat ia amat ingin memeluk si lelaki.
“Maafkan Mama, sayang...”
Suaranya mendayu lagi. Lantas dengan lembut, bibir pucatnya mengecup ringan puncak kepala Jung Yuan. Dan Jung Yuan hanya terdiam. Ia sama sekali tak keberatan dengan aksi lelaki ini. Justru ia sangat rela. Meskipun sosoknya asing, namun hati Jung Yuan terasa amat dekat dengannya. Terlalu familiar pada sosok indah ini.
Ketika kepala sang lelaki terangkat kembali, Jung Yuan agak terkejut melihat air mata yang tiba-tiba jatuh di pipi sang lelaki. Wajahnya berubah sendu, seolah mengungkap-kan rasa penyesalan yang amat luar biasa.
“Maafkan Mama, sayang...”
Suara itu mengecil, namun masih terdengar seperti sebuah alunan senandung. Lantas entah bagaimana, tubuh sang lelaki seolah tersedot pada cahaya benderang di belakangnya. Tangannya berusaha meraih Jung Yuan, tetapi tidak bisa. Makin lama, wajah sendunya makin jauh dan mengabur, terseret angin. Kemudian hilang sepenuhnya.
Pletak!
Suara kaca beradu dengan benda keras membuat Jung Yuan terbangun kaget. Ia terkesiap. Matanya berkedip-kedip ringan menyesuaikan lingkungan.
Oh, jadi tadi itu hanya mimpi, batin Jung Yuan.
Ia kira itu adalah benar. Sebab rasa-rasanya mimpi itu terasa amat nyata dan lama. Sampai ia sendiri menyangka bahwa mimpi tersebut adalah nyata, sementara kenyataan yang sekarang adalah mimpi. Jung Yuan bahkan belum sempat menanyakan siapa gerangan lelaki dalam mimpinya itu. Ia penasaran pada sosoknya yang terlampau seperti seorang ibu bagi Jung Yuan.
Pletak!
Suara itu lagi. Jung Yuan cepat-cepat menyingkap selimut tebal yang membungkus tubuh langsingnya, kemudian berjalan agak sempoyongan ke jendela besar di kamarnya. Ia menyingkap tirai dan membuka jendelanya lebar-lebar. Hari ini cerah. Tidak ada sesaput awan pun terlihat. Matahari sudah menyala terang, menyilaukan kedua mata. Burung-burung juga telah mesra berkejaran.
Di bawah sana, di dekat pepohonan jeruk, Xiao Guan tengah berdiri dengan satu tangan yang siap melempar kerikil kecil ke jendela kaca kamar Jung Yuan. Namun buru-buru mengurungkan niatnya ketika kepala Jung Yuan sudah menongol keluar. Nyengir.
“Turun, Putri Tidur. Temani aku menyemprot kebun jeruk milik ayahmu!” Xiao Guan setengah berteriak pada Jung Yuan.
Mata Jung Yuan melirik ke sebelah Xiao Guan. Di sana, ada sebuah tengki kecil yang biasa digunakan ayahnya untuk menyemproti pepohonan jeruk agar terhindar dari hama.
“Oke, tunggu sebentar!” Jung Yuan menjawab cepat, lantas membalikkan tubuhnya ke kamar mandi sekadar untuk mencuci muka dan gosok gigi.
Hari ini hari sabtu, ia sedang tidak ada niatan untuk mandi. Lagipula, ada Xiao Guan yang telah menunggunya di luar sana. Tidak sopan kalau ia harus membuat satu temannya itu menunggu lama.
Sambil menggosok gigi, pikiran Jung Yuan melayang pada beberapa kejanggalan yang menimpanya akhir-akhir ini. Diawali dengan tatapan si mata emas. Selama seminggu, Wei Feng tak pernah absen memperhatikan gerak-gerik Jung Yuan. Matanya selalu lekat tak terlewat walau barang sedetik. Lalu kilasan-kilasan asing yang tiba-tiba muncul di kepala. Belum lagi dengan tatapan mata super dingin yang ia terima dari si misterius pengendara mobil Bugatti seminggu yang lalu. Dan terakhir adalah mimpi aneh yang barusan ia alami. Jung Yuan jadi merasa heran sendiri pada peristiwa-peristiwa itu. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah merasakan apapun. Tidak untuk soal-soal yang aneh begini.
Ketika Jung Yuan turun ke dapur, ia tidak mendapati sosok Zhongguo dan ayahnya di sana. Melainkan hanya secarik kertas dengan tinta hitam yang tergeletak di atas meja makan. Lengkap dengan roti lapis, susu, dan botol kecil berisi obat untuk Jung Yuan. Mereka tengah pergi ke kota sebelah mengantarkan pesanan jeruk.
Hati Jung Yuan agak merajuk mengetahui perilaku sang ayah yang telah repot-repot membuatkannya sarapan. Padahal Jung Yuan bisa membuatnya sendiri. Dan tanpa disuruh pun ia selalu rajin mengonsumsi obatnya tanpa terlewat barang sehari. Tapi ayahnya memang begitu. Selalu cerewet dan berlebihan. Apalagi setelah kematian sang ibu, beliau bahkan membatasi gerak-gerik Jung Yuan bila ada teman yang ingin mengajaknya pergi keluar. Namun meskipun merajuk, toh Jung Yuan tetap menyayangi sisi ayahnya yang satu ini. Ia amat bersyukur punya ayah dan adik yang terlampau baik kepadanya.
Jung Yuan lantas keluar rumah dan menghampiri Xiao Guan. Di sana, ia tengah duduk di bawah salah satu pohon jeruk yang cukup teduh. Wajahnya tertekuk terlihat bosan setengah mati. Bibirnya mengerucut ketika melihat keda-tangan si lelaki cantik. Namun Jung Yuan malah menyambutnya dengan tertawa kecil.
“Lama sekali, Tuan Putri,” ucap Xiao Guan.
“Jangan berlebihan! Ini baru sepuluh menit, Guan,” Jung Yuan berdesis. “Dan jangan panggil aku Tuan Putri.” 
Xiao Guan bangkit dari atas tanah dan menepuk-nepuk pantatnya yang kotor penuh dedaunan kering. Ia mengamati wajah lelaki cantik itu lamat-lamat. “Kamu terlihat pucat, tidak apa-apa kan?”
“Eh, iya kah?” Jung Yuan mengangkat satu alisnya. Kedua tangan menepuk lembut kedua pipi. “Ah, mungkin gara-gara tadi malam tidur terlalu larut. Dan jangan lupa pada kelakuan seseorang yang telah membuatku terbangun kaget tadi. Bisa tidak sih pakai cara yang normal?” Jung Yuan melirik kejam ke arah si lelaki jahil yang ada di depannya.
Yang dituduh hanya garuk-garuk kepala sambil nyengir tak berdosa. “Kan biar luar biasa dan terkenang indah dalam hati.” Mengerling.
Jung Yuan melengos. Keduanya mulai menyemproti pepohonan jeruk sambil sesekali bercanda. Terkadang Jung Yuan juga ikut membantu, namun lebih banyak Xiao Guan yang melakukannya. Dan kalau kalian heran mengapa pagi-pagi begini Xiao Guan sudah ada sini sementara rajin menyemproti pepohonan jeruk, itu karena ayah Jung Yuan sendiri yang menyuruhnya. Malam setelah hari pertama masuk sekolah, Zhongguo bercerita banyak soal Xiao Guan. Ternyata selama ini, sebelum kepindahan Tuan Han dan kedua anaknya, Xiao Guan memang selalu menyempatkan diri untuk membantu kakek Jung Yuan di kebun ini. Keluarga besarnya dan keluarga besar Jung Yuan, sudah turun temurun menjalin hubungan yang sangat akrab. Zhongguo bilang, rumah Xiao Guan juga tidak terlalu jauh dari kediaman mereka. Sekitar lima belas menit kurang lebihnya.
“Hei, nanti malam keluargaku bakal mengadakan acara makan-makan besar. Mau datang?” Xiao Guan menawari. Tangan dan matanya masih sibuk mengurusi tengki kecil yang ia gunakan untuk menyemprot pepohonan jeruk.
Jung Yuan menimbang-nimbang. Ia ingin datang, tetapi ragu. Meskipun Zhongguo mengklaim bahwa keluarga besarnya telah dekat dan saling mengenal, namun Jung Yuan adalah sosok baru di sini. Lagipula, ia bukanlah tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain. Introvert, mereka bilang. Jung Yuan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun keburu dipotong oleh Xiao Guan duluan.
“Jangan khawatir. Dijamin, mereka semua orangnya ramah-ramah.”
“Tapi...”
Xiao Guan membalikkan badannya ke arah Jung Yuan, lantas berkata, “Ajak Zhongguo dan ayahmu kalau kamu masih ragu.”
Dan malamnya Jung Yuan benar-benar datang bersama ayah juga adiknya.
Dari luar, rumah Xiao Guan kelihatan biasa-biasa saja. Sepi, seolah sedang tidak ada perayaan di sana. Namun, ketika Jung Yuan mengikuti ayahnya ke halaman belakang rumah itu, Xiao Guan benar-benar tidak berbohong ketika tadi pagi ia mengatakan keluarga besar. Benar-benar keluarga besar. Ramai sekali. Beberapa pasang remaja dan dewasa seusia Jung Yuan dan ayahnya, tengah bersenandung riang mengelilingi api unggun besar. Ada yang menari, ada pula yang mengiringi dengan gitar. Anak-anak kecil ceria berlarian. Satu-dua ada yang tak sengaja menabrak Jung Yuan. Dan bukannya meminta maaf, mereka malah terkikik sambil menyeret-nyeret tangan Jung Yuan ke kumpulan orang dewasa itu.
Oh, ini pasti kelakukan Xiao Guan yang menyuruh mereka menarik-narik lenganku, batin Jung Yuan.
Awalnya Jung Yuan kikuk. Namun, siapa pula yang bisa menolak ajakan anak-anak lucu begini? Ia akhirnya menyerah dan menuruti keinginan mereka untuk ikut berkumpul.
Sementara sang ayah tengah menyapa hangat kerabat lamanya, Zhongguo malah sibuk sendiri mendekati seorang lelaki manis di seberang perapian sana. Sesekali kelihatan kikuk, namun pipinya lekas memerah ketika si lelaki manis balas sedikit menggodanya.
Jung Yuan merasa keterpencilan merasuki tubuhnya. Bukannya ia tidak terbiasa dengan keterpencilan, justru sangat terbiasa. Tetapi keramaian keluarga ini membuat dirinya merasa berbeda dan memunculkan rasa sepi yang begitu khas.
Ia berdiri di antara anak-anak kecil yang mengajaknya bermain bersama seekor anjing yang mengenakan mantel Superman di punggung dan huruf “S” besar di dada. Anjing itu tampak lucu dalam balutan kostum tersebut. Tanpa sadar beberapa lama kemudian Jung Yuan telah ikut tertawa bersama mereka. Dan tawa itu membuat anak-anak tersebut makin percaya diri mengajak Jung Yuan untuk menari di dekat perapian. Bergabung dengan orang yang lebih tua lainnya. Ia bahkan tak menggubris ketika ada seseorang yang tiba-tiba menarik lengannya dan mengajak Jung Yuan menari ceria. Lambat laun ia menikmati daratan kehangatan itu.
Sementara dari jarak beberapa meter, Xiao Guan dan Quan Sheng tengah berdiri di dekat pohon pinus besar sambil memperhatikan si lelaki cantik menari riang.
“Dia masih sama.”
Xiao Guan mengangguk, “Ya. Dan aku berani bertaruh bahwa dia makin kelihatan cantik.”
“Sangat amat cantik,” Quan Sheng membetulkan.
Xiao Guan memandang sinis ke arah sepupunya itu, satu alisnya tertaut ke atas. “Jangan jatuh cinta padanya ya.”
“Tidak akan. Aku sudah punya Chen.”
“Haha. Kupegang janjimu.”
Xiao Guan lantas berjalan ke tengah keramaian menuju tempat Jung Yuan berada, mengusir Jun Mian dan merebut tempatnya agar bisa menari bersama Jung Yuan.
“Besok Li Huan-gege mengajak kami ke pantai. Mau ikut?” tanya Xiao Guan di tengah-tengah dansa.
“Aku tidak yakin ayah bakal mengizinkan.”
“Tenang, aku sudah meminta izin pada ayahmu.”
Jung Yuan mengernyitkan dahinya. “Oh, ya? Kapan?”
“Barusan, sewaktu kamu asik menari bersama Jun Mian dan mencuekiku,” wajah Xiao Guan pura-pura mengguratkan rasa cemburu pada sepupunya yang bernama Jun Mian itu.
Jung Yuan lembut tertawa. “Oke, nanti aku bilang pada ayah dulu. Ajak Zhongguo tidak apa-apa kan?”
Xiao Guan tersenyum. “Tentu.” 

ζ

PAGINYA, Zhongguo dan Jung Yuan mengendarai truk ke kediaman Xiao Guan. Tadi sebelum berangkat, ayahnya sempat ribut dulu. Berkali-kali mengingatkan Jung Yuan agar di pantai tidak terlalu kecapaian, jangan berlarian, dan kenakan pula jaket dan sweater tebal. Tentu saja yang diterima hanya sweater, sementara jaketnya ia tolak. Sebab, dia kan mau ke pantai bukan naik gunung bersalju? Bahkan sang ayah juga memaksanya untuk membawa nasal cannula. Awalnya Jung Yuan menolak, karena Jung Yuan yakin ia tidak akan memerlukannya hari ini. Dan toh itu hanya perjalanan ringan ke pantai, bukan berkemah selama berhari-hari. Namun, ayahnya mengancam akan membatalkan rencana Jung Yuan ikut ke pantai kalau ia menolak untuk membawanya.
“Kalau saja kamu perginya dengan orang lain, dan bukan dengan keluarga Wu, ayah tidak akan segan-segan melarangmu keluar hari ini,” begitu kata beliau serius. Yang lantas membuat Jung Yuan langsung menurut tanpa protes lagi.
Ketika kedua bersaudara itu sampai di kediaman Xiao Guan, sudah ada sebuah mobil Volvo yang terparkir di sana. Ada tujuh orang dari keluarga Wu yang ikut ke pantai. Jung Yuan samar-samar mengenali sosok mereka yang tadi malam Xiao Guan kenalkan. Quan Sheng, Jun Mian, Jin, Buo Xian, Shi Zhang, dan Li Huan. Yang terakhir itu awalnya Jung Yuan kira bahwa Li Huan seumuran dengan dirinya dan Xiao Guan, namun kiraan itu lekas hilang ketika Xiao Guan berkata, “Jangan tertipu oleh wajahnya. Li Huan-gege itu sudah 27 tahun.” Tak pelak mulut Jung Yuan langsung menganga lebar karena tak percaya. Sebab saudara Xiao Guan yang satu itu masih kelihatan sangat muda dengan wajah yang sangat manis.
Ketika segalanya telah siap, Xiao Guan tiba-tiba berjalan ke arah truk Jung Yuan dan duduk di kursi penumpang. Membuat Jung Yuan makin merapat ke tengah kursi sambil mencengkeram erat tas ransel denimnya.
“Yuan-er, kamu bisa duduk di pangkuanku kalau merasa kesempitan,” goda Xiao Guan dengan satu kerlingan nakal matanya.
“Jangan harap.” Jung Yuan berdesis. “Lagipula, kenapa kamu ada di sini?”
“Mobil Shi Zhang-gege sudah penuh, jadi yah, satu-satunya yang tersisa hanya di sini.”
Zhongguo yang dari tadi diam hanya tertawa, kemudian berkata, “Xiao Guan, kenapa tidak kamu saja yang menyetir? Aku juga ingin duduk di bak belakang.”
Dan sebelum Jung Yuan protes, sebelum ia mampu bersuara, Zhongguo sudah keluar dari truk sementara Xiao Guan mengiyakan dengan cepat. Mereka berpindah posisi layaknya tidak ada orang lain yang keberatan.
“IPodku ada di sana,” kata Zhongguo pada Xiao Guan dari bak belakang mobil, “Bisa kamu nyalakan keras-keras, Guan?”
“Oke.” Si pemilik tubuh tinggi lantas mulai menyekrol semua daftar putar yang ada dalam iPod milik Zhongguo, kemudian menyetel salah satunya. Sebuah nada agresif keluar dari speaker, terdengar seksual.
Dan tanpa ba-bi-bu, Xiao Guan dan Zhongguo langsung menyanyi mengikuti dentuman lagu itu. Sangat semangat sampai-sampai tidak menyadari pipi Jung Yuan yang memerah akibat lirik yang terlalu sensual.
“Aku suka lagu ini,” kata Xiao Guan.
“Begitu juga denganku,” Jung Yuan menggerutu sarkastik.
Ia membiarkan Xiao Guan tertawa atas gerutuannya sebelum Jung Yuan mengalihkan kepalanya menatap ke luar jendela. Sudah satu jam mereka berkendara. Di kotanya tadi, cuaca agak mendung. Namun di hilir sini, langitnya nampak terbuka lebar sementara matahari terang menyilaukan.
Di belakang, Zhongguo kelihatan riang-riang saja. Terkadang sambil berteriak-teriak kencang menyenan-dungkan lagu yang terputar, kedua tangan ia julurkan ke atas layaknya tengah berada di sebuah konser besar.
“I’M JUST THE SUCKER FOR PAIN!” teriak Zhongguo percaya diri. Membuat seorang lelaki tua yang kebetulan lewat menaiki sepeda terkaget dan hampir terperosok ke semak-semak rimbun, menghadirkan tawa pada dua orang yang ada di kursi penumpang.
“Ke mana perginya adikku yang polos dan pemalu itu?” desah Jung Yuan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sang adik.
Xiao Guan terkikik. “Biarkan saja, dia itu sedang senang karena tengah kasmaran.”
Mendengar itu, lantas saja tubuh Jung Yuan segera ber-balik menghadap ke arah Xiao Guan, penasaran. “Bohong!”
“Kalau tidak percaya, lihat saja nanti di pantai.”
Jung Yuan membalas oh pelan sambil mengingat-ingat kembali kejadian semalam, sewaktu Zhongguo sibuk menimbrung lelaki manis yang Jung Yuan lupa namanya. Agaknya mereka sudah saling mengenal sebelum kepin-dahannya ke sini.
Dan benar kata Xiao Guan. Sesampainya di pantai, Zhongguo dan si lelaki manis adalah dua orang pertama yang kabur duluan. Mereka tanpa malu apalagi ragu menghilang dari penglihatan mata secepat kilat melesat.
“Sangat indah,” suara lirih bernada kekaguman itu keluar dari mulut Jung Yuan.
Xiao Guan mengangguk, memandangi sosok si lelaki cantik yang seolah ikut bersinar di bibir pantai. Hanya mereka berdua di situ, yang lain sudah memencar bersama pasangannya masing-masing. Mencari pojok yang cukup sepi untuk memadu kasih.
“Kamu serupa musim panas,” ucap Xiao Guan pada Jung Yuan. Kata itu keluar begitu saja dari mulut Xiao Guan, tanpa ia duga atau rencanakan sebelumnya.
Terang saja, mata indah Jung Yuan langsung beralih pada Xiao Guan. “Memangnya musim panas itu seperti apa?”
“Hangat. Indah, berseri, dan menyejukkan hati.”
Jung Yuan tertawa kecil. “Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak.”
“Tapi itu benar. Aku tidak berbohong.”
Dan Jung Yuan memprotes lagi. Lagi. Dan lagi. Namun, karena makin lama protesan itu makin keras ditampik oleh Xiao Guan, Jung Yuan akhirnya menyerah. Membiarkan si pemilik tubuh tinggi melayangkan seribu kata pujian berima pada dirinya.
“Hei,” kata Xiao Guan beberapa lama kemudian. “Boleh aku mengambil gambar dirimu?”
Si lelaki cantik cepat-cepat menggelengkan kepalanya. “Tidak boleh.”
“Janji. Aku nggak akan menunjukkannya pada siapa-siapa.” Ucap Xiao Guan diiringi dengan suara jepretan dari kamera ponselnya. Mata Jung Yuan langsung membulat me-nyadari itu.
“Hei, itu curang namanya!” seru Jung Yuan jengkel. “Kemarikan ponselmu!”
Bukannya menuruti kata-kata Jung Yuan, Xiao Guan justru lari dan menghindar dari amukan si lelaki cantik. Ia menggodai Jung Yuan di sepanjang bibir pantai.
Dan meskipun mukanya kelihatan jengkel, tetapi sejujurnya hati Jung Yuan merasa amat senang hari ini. Sudah lama ia tidak liburan. Ayahnya hampir selalu melarang Jung Yuan kalau ada satu-dua temannya yang mengajak keluar. Apalagi ke pantai. Jarang-jarang ia bisa melihat indahnya lautan di kala secerah ini.
Namun, ketika Jung Yuan hampir berhasil meraih ponsel dari tangan Xiao Guan, lelaki jahil yang ada di depannya ini tiba-tiba berhenti mendadak. Tubuhnya menegang, rahangnya mengeras, dan matanya menatap tajam ke depan. Sejenak, Jung Yuan jadi teringat hari pertamanya di sekolah ketika Xiao Guan bereaksi sama persis seperti ini. Ia lantas mengikuti tatapan mata Xiao Guan lurus ke depan.
Entah kebetulan atau takdir yang mempertemukan, hati Jung Yuan seketika merasakan rasa rindu berat itu lagi. Di sana, di dekat bebatuan besar, mata Jung Yuan bertemu muka dengan si pemilik mata emas. Wei Feng tidak hanya sendiri. Ada lima orang yang berdiri di dekatnya. Sosok mereka terlihat seperti model majalah terkenal yang sedang melakukan pemotretan alam di pantai. Empat lelaki telah ia kenali sebagai Ming Huan, Shin Zhang, Min Qing, dan Xiao Tian. Tetapi lelaki yang satunya...
Sebentar. Bukankah dia itu...
Mata lelaki yang namanya tidak ia kenali tersebut serasa amat familiar bagi Jung Yuan. Tajam, dalam, dingin, dan mengintimidasi. Ia mengingat-ingat lagi. Pikirannya melayang pada masa seminggu yang lalu ketika ada mobil Bugatti hitam yang menguntitnya di kala hujan. Ya, tidak salah lagi. Dia itu orang yang sama.
Matanya dalam memandang mata Jung Yuan.
Tidak seharusnya kau kembali ke sini.
Jung Yuan tersentak. Ada sebuah suara yang tiba-tiba memasuki kepalanya. Dalam dan berat. Lantas sepersekian detik setelah suara itu berhasil membuatnya kaget, lutut Jung Yuan mendadak jatuh ke atas pasir. Napasnya tiba-tiba tersengal, menyembur pendek-pendek. Dadanya juga terlihat naik-turun dalam kecepatan yang cukup tinggi. Dari kejauhan, di tengah sengalan itu, ia menangkap sosok Li Huan, Shi Zhang, dan Jun Mian datang terburu-buru dengan wajah khawatir.
“Jung Yuan!” Xiao Guan berseru panik. “Kau tidak apa-apa?”
Ia hanya menggeleng lemah, tidak mampu menge-luarkan kata-kata. Sedetik kemudian, Li Huan dan Shi Zhang telah menoweri tubuh Jung Yuan. Sementara Jun Mian terlihat berdiri dengan tatapan penuh amarah tertuju pada enam lelaki yang tengah berdiri di dekat bebatuan besar. Reaksinya sama seperti Xiao Guan tadi, menegang dengan mata berkilat tajam. Dan Jung Yuan menyadari bahwa sikap mereka itu kelewat aneh. Seolah, mereka itu adalah dua kubu singa yang tak akur sebab masalah yang telah lalu.
“Xiao Guan, bawa Jung Yuan kembali ke mobil. Cepat!” Perintah Li Huan pada Xiao Guan. “Biar kami yang mengatasi sisanya.”
Jung Yuan tidak tahu apa yang dimaksud Li Huan dengan “mengatasi sisanya”. Saat ini ia tak bisa menanyakan apa-apa pada mereka. Jung Yuan biarkan tubuh mungilnya diangkat oleh Xiao Guan. Dari rengkuhannya yang hangat, ia bisa merasakan panik luar biasa menyelubungi si pemilik tubuh kekar ini. Makin lama Jung Yuan merasakan napasnya makin terasa sesak, kedua tangan ia taruh di atas dada sambil mencengkeramnya kuat-kuat.
Dan anehnya lagi, ketika sampai di parkiran mobil, Jung Yuan samar-samar bisa melihat tiga sosok lelaki telah berada di dekat mobil Volvo milik Shi Zhang. Itu Jin, si lelaki manis, dan adiknya, Zhongguo. Wajah mereka terlihat cemas bukan kepalang. Apalagi Zhongguo yang sudah siap dengan sebuah tabung oksigen di tangan. Seolah, ketiga lelaki itu telah mendapat telepati dari Xiao Guan untuk segera datang dan menyiapkan segalanya.
Xiao Guan lekas menaruh tubuh Jung Yuan di jok belakang dengan hati-hati, lantas membiarkan Zhongguo menangani sisanya. Melihat sang kakak yang semakin erat mencengkeram bagian dadanya, Zhongguo dengan cepat memakaikan selang bening yang dari tadi ia pegang pada Jung Yuan. Selang itu terbelah di bawah dagu, terselip di belakang telinga, dan berakhir di lubang hidung Jung Yuan. Setelah itu ia memutar nob untuk mengalirkan oksigen dari tabung tersebut.
Beberapa menit kemudian ketika napas Jung Yuan terlihat mulai teratur, Zhongguo bertanya, “Lebih baik?”
Yang ditanya tersenyum lemah. “Mhm.”
Setelah benar-benar merasa yakin bahwa napas kakaknya telah kembali normal, Zhongguo meninggalkan Jung Yuan dan Xiao Guan berdua. Ia kembali ke truk buntut tuanya bersama Jin dan si lelaki manis.
Untuk beberapa saat, Xiao Guan dan Jung Yuan hanya terdiam, pikiran mereka melayang entah kemana.
“Yuan—”
“Guan—”
Keduanya tak sengaja membuka suara secara bersamaan. Entah kenapa udara di sana tiba-tiba berubah menjadi canggung sekali.
“Duluan,” kata Jung Yuan kemudian.
“Baiklah,” Xiao Guan menghela napas berat, wajahnya menyiratkan rasa cemas dan penyesalan. “Maafkan aku. Gara-gara tadi kuajak berlari, paru-parumu jadi kambuh. Sungguh, maafkan aku, Jung Yuan.”
“Hei, itu bukan salahmu,” Jung Yuan tersenyum. “Aku malah amat senang bisa berlarian seperti tadi.”
“Tapi...”
“Lagipula, rasanya sudah lama sekali aku tidak men-jejakkan kaki di atas pasir pantai—” Ia menarik napas, berat dan dalam “—Seharusnya aku yang berterima kasih padamu.”
Itu memang benar. Jung Yuan berpikir, bahwa kambuhnya si paru-paru bukanlah disebabkan karena tadi ia berlari-larian. Melainkan karena suara itu. Suara amat berat dan dalam yang entah bagaimana bisa masuk ke dalam kepala Jung Yuan, kemudian membuat tubuhnya tiba-tiba lemas.
“Tidak. Ini salahku. Kumohon, akan kulakukan apa saja untuk menebus kesalahanku tadi.” Ucap Xiao Guan dengan wajah memelas.
Jung Yuan menghela napas. Anak ini benar-benar merasa bersalah karenanya. “Baiklah. Aku hanya minta dua hal.”
Xiao Guan menegakkan kepalanya, siap-siap mendengarkan permintaan Jung Yuan.
“Pertama, jangan beritahu ayahku soal kejadian ini.”
Mendengar itu, pundak Xiao Guan lekas turun kembali. Ia gelisah. Bingung. Padahal, janjinya pada ayah Jung Yuan adalah harus melaporkan apa pun yang terjadi pada anaknya kalau ia mau membawa Jung Yuan pergi.
“Aku serius Xiao Guan,” Jung Yuan memotong kebimbangan si lelaki bertubuh tinggi.
“Baiklah,” jawabnya agak terpaksa. “Lalu, permintaan yang kedua?”
Mata Jung Yuan mengarah pada saku celana Xiao Guan. “Hapus gambar-gambar yang tadi kamu ambil di bibir pantai.”
Si pemilik tubuh tinggi berpura-pura menampakkan wajah kecewa berat. “Yah... padahal ini kan harta karun paling berharga buatku.”
Namun, meskipun begitu, Xiao Guan tetap menghapus foto-foto itu di depan mata Jung Yuan. Yang lantas membuat hati si lelaki cantik menjadi puas.
“Hei, aku mau tanya sesuatu,” ucap Jung Yuan kemudian. Ia benar-benar sudah tak tahan lagi ingin bertanya soal perilaku aneh Xiao Guan dan saudara-saudaranya tadi.
“Hmm?”
“Kenapa tadi—”
“Sudah baikan, Jung Yuan?” Suara Li Huan tiba-tiba memotong pertanyaan yang begitu Jung Yuan ingin lontarkan.
Dengan sopan ia mengangguk, lantas tersenyum. “Ya, terima kasih.”
“Kalau begitu, kita pulang sekarang,” sosok Shi Zhang menyembul dari balik tubuh Li Huan.
“Tapi kan, ini baru sebentar?” tanya Jung Yuan heran. Ia menyesal. Karena dirinya, perjalanan mereka jadi harus terhenti secepat ini.
“Kau tahu sendiri, kami tidak bisa membiarkan kea-daanmu makin memburuk,” kali ini Jun Mian yang bersuara.
Jung Yuan membuka mulutnya untuk memprotes lagi, namun keburu dipotong oleh Shi Zhang. “Atau kamu mau kejadian ini kami laporkan pada ayahmu?” ancamnya.
Lantas saja Jung Yuan hanya bisa diam menuruti kata-kata mereka. Pulangnya, ia dan Xiao Guan bertukar tempat. Ia dan Xiao Guan duduk di jok belakang mobil Volvo milik Shi Zhang, sementara Zhongguo, Jin, si lelaki manis, dan Jun Mian mengendarai si truk Chevrolet tua.
Dan semenjak hari itu, hati Jung Yuan sungguh selalu merasa gelisah. Ia tidak tahu kalau kejadian janggal demi kejadian janggal akan saling menyusul di hari-hari berikutnya. Seluruh kehidupannya mendadak akan berubah seratus delapan puluh derajat.
Perang besar siap meletus di tanah yang ia tinggali kini. Dan ini bukan gurauan.