Sealed With A Kiss [END]


TERKUNCI OLEH MANISMU



Welcome to my room!
It isn’t usually as messy as today.
It's worse!


Kalimat itu ditulis dengan spidol hitam, berukuran besar, penuh amarah, dan tertempel di pintu kamar Jeonghan.

Selama dua puluh menit terakhir, kadangkala Wonwoo bakal mengetuk pintu itu, berulangkali memanggil nama kekasihnya, dan memohon pada Jeonghan untuk membuka pintu.

Tapi sunyi.

Ini sulit. Kalau sudah marah begini, Jeonghan itu mirip sekali seperti beruang yang tengah hibernasi. Menolak untuk keluar menolak untuk menjawab. Dan Wonwoo juga menduga, kekasihnya itu pastilah sedang menangis di dalam.

Hubungan mereka telah berlangsung hampir enam tahun hingga kini. Keduanya berpacaran sejak tahun kedua masa SMA. Tak pernah sekalipun putus. Bagi Wonwoo, Jeonghan itu merupakan hal paling istimewa yang terjadi dalam hidupnya. Namun kini, Wonwoo tak tahu lagi harus bagaimana. Jeonghan telah mengunci dirinya di dalam kamar sepanjang hari. Menolak kunjungan Wonwoo. Menolak pesan dan panggilan dari kekasihnya sendiri.

Wonwoo menyesal. Kalau saja dia tahu bakal berakhir seperti ini, harusnya dia bilang ke Jeonghan soal rencana kepindahannya ke Jepang jauh-jauh hari. Bukannya malah mendadak baru memberitahukannya semalam.

Pikiran Wonwoo melayang ke masa lalu, ke masa ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya.

Keduanya merupakan kelas sebelas waktu itu. Wonwoo adalah anak baru yang pindah ke sekolah Jeonghan. Dia bilang, itu adalah cinta pada pandang pertama.

Wonwoo berjalan menuju gedung baru sekolahnya.

Sama seperti sekolah-sekolah lain, ada begitu banyak kerumunan yang nongkrong di luar gedung. Terbagi menjadi beberapa geng: bocah-bocah playboy merangkul cewek-cewek anggota cheerleader, grup drumband, bocah cupu yang wajahnya tenggelam dalam buku, dan lain-lain. Hingga ekor mata Wonwoo tak sengaja menangkap sosok seorang makhluk indah tengah mengambil gambar. Dia itu benar-benar cantik. Rambut pirang pendek, kulit pucat, tulang pipi tinggi, dan mata hazelnut yang aduhai sekali. Semua orang kelihatannya mengenal dia sebab mereka selalu menyapa dan tak keberatan difoto.

Dan entah bagaimana pula, si lelaki cantik ternyata juga menangkap keberadaan sosok Wonwoo yang tengah asyik memperhatikannya. Dia tersenyum, melambaikan tangan. Merasa bukan dirinya yang disapa, Wonwoo lekas membalik tubuh untuk melihat apakah ada orang lain di belakangnya. Tak ada. Dia kembali membalik badan. Si lelaki cantik terus berjalan menuju arah Wonwoo. Senyum indah masih tertanam di wajah manisnya.

Jujur, tak sekalipun dalam hidup, Wonwoo pernah berkesempatan melihat makhluk seindah dia. Apalagi sampai melambai dan tersenyum ke arahnya!

Ah! Wonwoo merasa canggung seketika. Wajahnya mendadak merah sekali.

Sementara terus merapatkan jarak, si lelaki cantik mengangkat kamera dan mulai mengambil gambar Wonwoo. Tapi Wonwoo justru menghalangi wajahnya dengan lengan, menolak untuk dipotret. Si lelaki cantik menurunkan kameranya dan menggembungkan pipi. Manyun.

“Jangan malu dong,” katanya.

“Nggak, cuma berusaha melindungi kameramu. Wajahku bisa membuat lensa kameranya pecah.”

Si lelaki cantik tertawa. “Kalau kamu memasang wajah begitu ya pasti pecah nanti, dasar konyol! Senyum.”

Wonwoo tersenyum, sedikit. Dia merasa gugup sampai-sampai bisa merasakan tengkuknya memanas dan kepalanya ingin meledak.

“Senyum macam apa itu? Kamu menakutiku,” kata si lelaki cantik lagi, bercanda. “Senyum itu harusnya memperlihatkan gigi.”

Wonwoo biasanya tidak memperbolehkan orang lain until memotretnya—tak ada alasan khusus, hanya tidak suka saja—jadi ketika si lelaki cantik mengangkat kameranya kembali untuk mengambil gambar, Wonwoo mundur. Begitu terus. Tiap kali si lelaki cantik akan memotret, Wonwoo pasti menghindar.

Si lelaki cantik akhirnya menyerah.

“Kamu ini benar-benar nggak menyukai benda ini, huh?” mendesah, menampakkan wajah cemberut.

“Sori.”

“Well,” dia mengeluarkan tangan, “namaku Yoon Jeonghan. Kamu anak baru?”

Wonwoo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, nervous. “Yeah, aku Wonwoo, anak baru. Jeon Wonwoo.”

“Kamu lucu...” kata si lelaki cantik selepas menangkap gelagat gugup pada diri Wonwoo. “Ngomong-omong, kamu nggak mau salaman sama aku nih?”

Wonwoo segera menyadari bahwa lelaki cantik di depannya masih mengulurkan tangan mengajak bersalaman. Dia tertawa canggung, kemudian menerima uluran tangan itu. Jantungnya dag-dig-dug tidak keruan.

Jujur, Wonwoo itu tipe orang yang susah diajak berkenalan dengan orang lain. Tapi ketika Jeonghan datang... boom! Dia benar-benar sangat berbeda. Dan semenjak pertemuan pertama itu, tanpa keduanya sadari, Wonwoo dan Jeonghan telah menjadi sobat karib.

Wonwoo menyukai Jeonghan. Awalnya, lelaki dingin itu merasa tidak sehat karena terus-terusan memikirkan Jeonghan. Tapi yah, begitu. Jeonghan selalu muncul dalam kepalanya tanpa disuruh. Di mimpi, ketika makan, dalam bayangan. Dimana saja. Begitupula dengan Jeonghan. Wonwoo itu lucu, kiyowo katanya. Jeonghan menyukai senyum lepasnya, apalagi tiap kali lelaki berwajah dingin itu mengerutkan hidung. Ah, pokoknya Jeonghan menyukai segala tentang Wonwoo!

Setahun kemudian, mereka resmi berpacaran.

Bahkan selepas keduanya lulus dari SMA dan masuk universitas, mereka masih saja rekat. Dan sudah menjadi kebiasaan bagi Wonwoo untuk menginap di rumah keluarga Yoon semenjak mereka berpacaran.

Wonwoo masih ingat, malam itu, keduanya mengenakan piyama serasi bermotif polkadot. Ini merupakan ide spontan Jeonghan yang datang ketika sehari sebelumnya mereka berjalan-jalan di daerah pertokoan busana.

“Woo, beli ya, beli? Plis... motifnya lucu, pasti juga cocok deh dipakai kamu. Ya ya?” pintanya selepas keluar dari toko sepatu dan tak sengaja melihat sepasang piyama yang dipasang di lemari kaca toko sebelahnya.

Wonwoo mengedikkan bahu sok acuh. “Aku bisa tidur telanjang kok kalau kamu mau.” Yang tentu saja, langsung mendapat pukulan candaan dari Jeonghan.

“Mesum!”

Jadi, setelah mereka kekenyangan sehabis makan malam dan menggelepar di atas karpet ruang tengah, sementara hujan badai menggeriak di luar, Jeonghan memutuskan untuk menonton film horor bersama. Wonwoo memasang wajah ‘yakin nih?’ akan pilihan kekasihnya itu, tapi Jeonghan langsung menyolot, “Yee, ini tuh rekomendasi film dari Jun, dia bilang filmnya bagus kok!”

Wonwoo mengangguk, ya sudah, begitu wajahnya berkata.

Selama film itu berlangsung, Jeonghan terus-terusan merapat pada Wonwoo dan menyendarkan kepalanya di dada sang kekasih. Sesekali Wonwoo bakal usil mengecupi dan menggigiti leher serta telinga Jeonghan. Kedua tangan melingkar di pinggang langsing sang kekasih.

Dan lucunya, tiap kali ada aktor di film yang menjerit ketakutan, Jeonghan juga bakal ikut-ikutan menjerit. Membuat Wonwoo tertawa geli sendiri.

Di menit ke-empat puluh barangkali. Selarik kilat tiba-tiba menyambar. Guntur menggelegar menggetarkan seluruh rumah.

Jeonghan melompat kaget. Wonwoo mengeratkan pelukan. Listrik mati. Dan keduanya spontan berteriak bersama seperti orang gila.

“Ya Tuhan!” kesal Jeonghan. “Awas saja Jun nanti. Bakal kupenggal kepalanya besok! Kasihan sekali jantungku ini.”

“Sadis sekali jadi orang. Mau dipenjara, heh?” Wonwoo menyentil jidat Jeonghan main-main. Si lelaki cantik ngambek, menyikut perut sang kekasih agak keras.

“Ouch,” Wonwoo pura-pura kesakitan, mengelus bagian perut yang disikut tadi. “Penyiksaan dalam rumah tangga ini namanya. Sialan, kayaknya aku pendarahan hebat!”

Si lelaki cantik memutar bola mata malas dalam kegelapan, bilang, “Sukurin!”, lantas menyerang kekasihnya di atas karpet dan pura-pura mencekik leher Wonwoo. Menindih perut sang pacar dengan pantatnya.

“Berhenti! Berhenti! Kayaknya aku tegang nih!”

Menghiraukan. Jeonghan justru terus menyerang Wonwoo. Hingga entah bagaimana, keduanya berakhir dengan saling menggelitiki satu sama lain. Lantas, di tengah perang saling gelitik, ide jenius mendadak muncul di kepala Wonwoo. “Hey, tidur di sini saja, mau?”

Jeonghan berhenti menggelitiki perut Wonwoo, berpikir sejenak, kemudian mengangguk-angguk lucu. “Ide bagus! Ayo pelukan macam Teletubbies!”

Wonwoo terkekeh, mencubit hidung mungil Jeonghan, kemudian bangkit berdiri. “Kalau begitu, tunggu sebentar. Kuambil selimut dulu di kamarmu.”

Wonwoo beranjak naik ke kamar Jeonghan di lantai dua mengambil selimut. Sengaja betul dia hanya mengambil satu, biar bisa membaginya langsung dengan sang kekasih, hihi.

Seribu sayang, ketika dia turun kembali ke depan televisi, Jeonghan ternyata sudah tidur pulas!

Tapi tak apa. Wonwoo kan penyabar. Lamat dia memandang wajah tidur manis Jeonghan. Dan jauh di lubuk hati paling dalam, Wonwoo sungguh memuja wajah kekasihnya itu yang serupa tokoh dalam manga atau anime—terlalu sempurna terlalu nyata.

Wonwoo membaringkan diri di atas karpet di sisi Jeonghan, merapatkan kepala sang kekasih agar berada di rengkuhannya, dan membenarkan selimut. Mereka tidur dalam keadaan berpelukan.

Paginya, Jeonghan bangun lebih awal. Dia mendapati dirinya hangat dalam rengkuhan sang kekasih. Lantas usil mengecupi bibir Wonwoo.

“Hai,” sapanya serak ketika sang kekasih akhirnya membuka mata. “Kamu ternyata ganteng ya kalau dilihat dari jarak sedekat ini.”

Wonwoo terkekeh pelan. “Memang. Dan kamu beruntung sekali bisa mendapatkan lelaki seganteng ini, wahai calon istriku.”

“Yeah,” bisik Jeonghan, terdengar begitu nakal dan erotik di telinga Wonwoo. “Dan aku bakal memberimu bayi-bayi lucu sebanyak yang kubisa.”

Lantas keduanya tertawa. Terbahak-bahak.

Kadangkala Wonwoo berpikir, apa yang akan terjadi dalam hidupnya bila ia tidak pernah bertemu dengan Jeonghan? Bagaimana keadaannya sekarang?

Tiap kali dia memikirkan wajah cantik itu, mata yang sebening kristal itu, senyum semanis madu hutan itu—Wonwoo yakin betul tidak ada seorang pun yang bakal bisa menggantikan seorang Yoon Jeonghan. Percik terang yang mengubah seluruh hidupnya.

Wonwoo amat sangat mencintai Jeonghan, amat sangat menginginkannya. Mereka bahkan berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain. Bersama hingga tua nanti.

Selamanya.

Hari-hari berlalu tanpa terlilit masalah berat. Bertengkar hanya sekadarnya. Hingga datanglah kabar buruk itu: Wonwoo dipaksa ayahnya untuk melanjutkan studi di Jepang—perintah solid yang sama sekali tidak bisa ia tolak.

Meski dengan berat hati akhirnya ia menerima, namun Wonwoo benar-benar tak punya nyali untuk mengatakan ini pada Jeonghan. Dia terlampau takut, tersiksa oleh perasaan gamang dan bimbang. Pikiran perihal meninggalkan Jeonghan sungguh telah membuatnya serupa orang gila!

Ujungnya, tadi malam dia tidak bisa menahan rasa gamang itu lagi. Wonwoo mengajak Jeonghan ke tengah kota untuk makan malam di restoran retro langganan mereka, Ivory. Diikuti oleh alunan musik blues yang menggema syahdu.

Seorang performer berdiri di sudut panggung, menyanyikan lagu Your Beautiful-nya James Blunt. Wonwoo memanggil salah seorang pelayan dan memesan sebotol champagne.

Si pelayan kembali, membawa dua gelas wine di atas nampan sedang dan ember perak kecil berisi es untuk mendinginkan liquor. Selepas si pelayan menuangkan minuman ke dalam gelas, Wonwoo mengucapkan terima kasih. Dan inilah saat di mana Jeonghan akhirnya menyadari ada sesuatu yang aneh pada pertemuan mendadak mereka malam itu.

“Aku akan pindah ke Jepang seminggu lagi,” kata Wonwoo tiba-tiba, memecah keheningan yang sepuluh menit terakhir tertahan. “Beliau, ayahku...”

Shoot!

Sangat sulit bagi Jeonghan ketika ia mendadak mendengar hal itu keluar dari mulut kekasihnya.

“Kenapa?” parau Jeonghan bergetar. “Kenapa baru sekarang?”

“Maafkan aku... harusnya—“

“Bagaimana dengan hubungan kita?”

Wonwoo mendongak hampir terlalu cepat. Agak terkejut menyaksikan air mata yang telah luruh deras di wajah manis Jeonghan.

“Hei,” ia berusaha untuk menenangkan sang kekasih, “kita masih bisa berhubungan dengan cara lain, dan selama kita—“

Tapi Jeonghan bangkit tiba-tiba. Lelaki cantik itu tak merasa perlu untuk mendengar Wonwoo sampai habis bicara. Dia justru langsung keluar dari kafe, memanggil sembarang taksi bahkan sebelum Wonwoo mampu menyengkeram pergelangan tangannya.

Wonwoo mengejar Jeonghan ke rumahnya dengan mobil. Huja turun lebat. Mendadak, ia merasa serupa orang yang tengah berkendara dalam kegelapan. Ah, tidak. Lebih seperti orang yang berkendara dalam terang tetapi dengan mata yang sengaja terbutakan. Terlalu bodoh karena tidak memberitahu Jeonghan semenjak jauh-jauh hari.

Wonwoo sampai. Namun ibu Jeonghan yang justru menyembul dari balik pintu. Beliau bilang, “Kembalilah lagi besok, nak. Dia sepertinya membutuhkan waktu sendiri dulu. Apalagi ini sudah larut, sebaiknya kau pulang dan istirahat.” Tersenyum lembut.

Maka Wonwoo mengangguk pelan mengiyakan kalimat ibu Jeonghan, berterima kasih, lantas mengucapkan selamat malam untuk kemudian kembali lagi pada keesokan harinya.

Dan di sinilah Wonwoo sekarang. Berdiri di depan pintu kamar Jeonghan. Tertempel sepotong kertas bertuliskan peringatan konyol.

Butuh waktu lama bagi lelaki berwajah dingin itu sebelum akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka pintu setelah menerima kunci cadangan dari nyonya Yoon di lantai bawah. Sebab kalau dia terus-terusan hanya mengetuk, sampai kiamat tiba pun, Jeonghan pasti tak akan mau membukanya.

Pintu terbuka. Kamar itu terlihat agak gelap dan pengap. Wonwoo lekas mendudukkan diri di sisi sang kekasih, menenggelamkan pantatnya ke dalam ranjang empuk. Beberapa boneka hadiah dari Wonwoo terserak di lantai—kelinci, rubah, beruang dengan bentuk love di dada, dan jerapah. Tirai berat menutupi jendela besar kamar itu.

Jeonghan duduk di atas ranjang. Kepala tenggelam dalam lutut yang tertekuk sambil menangis.

“Hannie, ayo keluar?”

Sunyi.

“Kamu itu kelihatan jelek sekali kalau sedang menangis begini,” canda Wonwoo, “dan... bau.”

Jeonghan seketika mengangkat kepalanya dan melotot lucu pada sang kekasih.

“Orang gila!” desisnya. Wonwoo tertawa. Paling tidak, candaan tadi berhasil membuatnya mau membuka suara.

“Sayang, aku tahu kamu pasti terluka. Aku tahu kamu pasti ingin mencekikku. Dan aku tahu kamu pasti sedang tidak ingin melihat wajah gantengku ini.” Mendesah, mengusak kepala Jeonghan pelan. “Tapi aku nggak bakal menyerah sampai kamu mau keluar dari kamar ini. Sekarang keluar, oke?”

“Nggak mau.”

“Ke pantai, mau?”

“Pergi saja sana sendiri.”

“Hannie...”

Hening.

“Ayolah...”

Tetap hening.

Mereka duduk dalam diam selama beberapa saat. Wonwoo menghitung retakan di langit-langit, menidurkan punggungnya di atas ranjang. Ada seekor cicak di dinding yang memandang ke arahnya. Dan Wonwoo bersumpah bahwa cicak itu memandang dirinya seolah ia tahu apa yang tengah menjadi gemuruh di hatinya kini. Wonwoo duduk kembali dan menyisir rambutnya dengan jemari. Tangan pucat menghentikan gerakannya.

“Gendong~”

Mendengar suara imut itu, Wonwoo seketika jadi ingin menyerang Jeonghan. Membawanya langsung ke gereja dan menikahinya saat ini juga. Sayang, mereka berdua masih punya jalan yang amat panjang. Jadi Wonwoo hanya menguyal-uyal tubuh Jeonghan sebentar, menciumi wajah dan bibirnya sekilas, lantas menggendongnya ke lantai bawah.

Nyonya Yoon dan Sehun—kakak Jeonghan, tersenyum lebar ketika mereka melihat keduanya turun dengan Jeonghan yang berada di punggung Wonwoo, wajahnya tersembunyi di tengkuk leher sang kekasih. Imut sekali. Mirip koala.

“Semangat!” Sehun berteriak keras. Wonwoo tertawa, merasa amat bersyukur sebab telah didorong oleh calon kakak iparnya sendiri.

Mereka berkendara sekitar dua puluh menit.

Sesampainya di pantai, Wonwoo lekas melucuti seluruh pakaian menyisakan celana pendek. Jeonghan yang ditinggal saja macam begitu, ngambek lagi. Tapi kemudian mengikuti sang kekasih pada akhirnya.

Wonwoo berenang. Sangat dalam hingga ujung jarinya menyentuh bagian dasar pantai. Beberapa helai panjang rumput laut liar tumbuh bergoyang-goyang. Dia terus bertahan di sana sampai paru-parunya terasa akan meledak.

Ketika ia kembali ke permukaan, Jeonghan ternyata sudah cukup jauh berada di bagian pantai lain yang lebih dalam. Sementara jauh di belakangnya, Wonwoo bisa melihat sebuah kapal besar tengah berlayar. Burung bertebangan. Ombak besar terangkat dan menghantam tubuh mungil Jeonghan. Tetapi lelaki cantik itu keras kepala, menolak pindah tempat apalagi berenang mendekati Wonwoo. Masih ngambek dia.

Ombak kedua lebih besar. Bergulung lantas mendorong tubuh langsing Jeonghan ke dalam air. Tanpa pikir dua kali, Wonwoo lekas menyelam ke dalam air. Panik. Dia menyembul ke permukaan mencari Jeonghan. Tak ada. Menyelam kembali lantas memutuskan untuk menunggu. Masih nihil. Sepanjang yang dapat Wonwoo lihat hanyalah buih putih hasil ombak besar tadi.

Tiga puluh detik.

Empat puluh detik.

Dan di sanalah dia, muncul dengan terbatuk-batuk dan gelagapan. Awalnya, Wonwoo berniat untuk langsung berenang ke arah Jeonghan, bertanya apakah ia baik-baik saja dan membawanya ke tepi pantai.

Tapi Wonwoo malah tertawa-tawa. Terbahak.

Rambut pirang Jeonghan telah berganti menjadi rumput laut!

Tumbuhan laut hijau itu tergerai indah di sisi wajah imut Jeonghan dan berakhir di bawah bahu.
“Woah,” teriak Wonwoo masih memegangi perutnya kaku, “kamu kok kelihatan lebih cantik ya dengan rambut hijau seperti itu?!”

Tentu saja, Jeonghan langsung melotot pada Wonwoo. Berharap kalau pelototannya itu mampu mengeluarkan laser dan membunuh Wonwoo di tempat. Tapi ya begitu, mana ada coba dalam kamus Wonwoo Jeonghan bisa menampakkan wajah seram. Yang ada justru sebaliknya, pelototan itu malah kelihatan menggemaskan sekali.

“Jangan ketawa!” seru Jeonghan manyun.

Namun tawa Wonwoo malah makin keras. Berlipat-lipat hingga membuat si lelaki cantik jengkel sendiri. Dia lantas mengambil wig rumput lautnya dari atas kepala, lalu ia lemparkan ke arah sang kekasih. Bibir mencebik.

“Duhai calon istriku,” kata Wonwoo sok puitis masih terkekeh geli. “Kamu ini kok manis sekali sih.”