Into The Water - SATU


JEAN

Aku berhenti berusaha.
Berhenti berpikir. Berhenti mencintai orang lain. Melayang menembus hari-hari dalam kabut kelabu. Sadar tapi entah. Bergerak tapi tak peduli.
Maka ketika Mark datang, mengejar-ngejar angan kosong, itu bukanlah salahku. Aku tidak berusaha membalas perasaannya. Aku bahkan tak tahu apa yang kulakukan. Hanya... terjadi, begitu saja. Mata terpejam, mata terpejam, mata terpejam.
Mata terbuka.
Aku menggeliat. Ada jeritan. Mungkin adikku, mungkin juga Mom. Aku tak tahu.
Sesuatu mendadak menggelenyar dalam perutku.
Ah, Vernon.
Dan, untuk sesaat mengingat nama itu, aku lupa akan segalanya. Lupa akan masa lalu. Lupa akan kekosongan. Lupa akan kebosanan.
Deg. Deg. Deg.
Crash. Crash. Crash.
Jantungku terus berdebar. Seperti gemuruh guntur di luar. Oh, jeritan Lucy tadi pasti gara-gara guntur.
Aku menggeliat lagi. Merapatkan selimut, mengubah posisi tubuh menjadi miring, lalu meletakkan satu tangan di antara bantal dan sisi kepala sebagai tumpuan. Sejenak, perutku terasa menegang dan merenggang seperti kepalan tangan yang kau remas-remaskan.
Sementara di ranjang sebelah, Levinson, adik tertuaku rupanya tak terganggu akan adanya gemuruh guntur di tengah malam berhujan lebat ini.
Dalam cahaya remang-remang dari sini, aku bisa melihat wajah tidurnya yang agak polah. Usianya baru tujuh belas, terpaut lima tahun dariku. Dia tampan, memiliki garis wajah yang tegas dan gagah.
Aku terus menatapnya dalam diam. Sepuluh menit barangkali. Dari sudut manapun kau melihat wajah Levinson, kau pasti tak akan menyangka bahwa anak ini adalah adik kandungku. Di wajahnya benar-benar hampir tidak ada jejak keturunan Asia seperti aku dan saudara-saudaranya yang lain. Padahal Hana, ibuku, merupakan seorang imigran Cina yang datang ke Ceko. Dia wanita yang cantik, amat cantik malah. Bahkan ketika adik terkecilku, Lucy atau Luka bermain-main dengan rambut hitam sebahunya, memutar-mutar, dan memelintirnya menjadi simpul besar awut-awutan di atas kepala, dia masih kelihatan cantik. Cukup dengan itu saja, Mom sudah tampak seperti benar-benar didandani.
Sayangnya, Mom itu tipe orang yang terlalu baik. Memang, aku sangat bersyukur Mom tidak meninggalkan kami setelah pria itu kabur tunggang langgang. Bersyukur karena dia tidak berakhir stres seperti kebanyakan wanita lain setelah ditinggal sang suami. Apalagi sampai mengakhiri hidup anak-anaknya dengan menenggelamkan, menginjak batang tenggorokan, atau memukuli kami sampai mati.
Richard―untuk tidak memanggilnya Dad―dulunya merupakan seorang penjual bunga. Kami tinggal di rumah Grace, wanita tua yang mengasuh Mom sejak usia 13. Rumah ini―bangunan dua lantai, dua kamar, bercat gading, dan bernomor tiga belas―adalah rumah yang begitu kami rawat baik-baik. Aku suka posisinya. Terletak tepat di tepi kanal dan berseberangan dengan perpustakaan tua kota (aku biasa menghabiskan waktu bersama Grace ketika kecil dulu, sewaktu ia masih hidup). Dari kamarku yang terletak di lantai atas ini, aku bisa melihat kanal dengan jelas. Dan dari ruang tengah di bawah, sebuah pohon besar-yang sepertinya sudah berusia ratusan tahun-terlihat berdiri tangguh tegak. Sementara dari sini pula, menara jam perpustakaan tua mengintip dari celah dedaunan birch dan mapel. Mom biasanya akan memasak semua makanan dengan tangannya sendiri, aku yang mengurusi si kembar Lucy dan Luka, sementara Levinson dan Jed akan membantu Richard menata bebungaan di ruang khusus samping rumah.
Tapi tentu saja, setelah demokrasi mengambil alih Ceko, semuanya berubah. Sejak saat itu, negara tak lagi jadi penyantun, negara memaksa kami untuk berkompetisi, saling sikut untuk bertahan dan berebut hidup yang lebih baik. Dan dengan memiliki empat anak serta penghasilan pas-pasan, hidup keluarga kami pun mendadak jadi limpung (terkejut, boleh kau bilang). Maka pangkalnya, suatu esok ketika si kembar dan Jed masih tertidur pulas, aku dan Levinson tak sengaja mendengar suara isak tangis dari lantai bawah. Kami memergoki Mom tengah menangis di kursi meja makan. Ketika kami mendekat ingin bertanya apa yang telah terjadi, Mom dengan suara serak dan mata sembab bilang, "Ayah kalian sudah pergi...."
Pecundang itu pergi hanya dengan meninggalkan sepucuk surat yang tak pernah sudi kubaca dan segepok hutang yang menjadikanku harus mengulur waktu kuliah hingga empat tahun.
"Susah tidur?"
Agak terkejut oleh suara itu, Levinson membuka suaranya dengan mata yang masih tertutup.
"Yeah," desahku.
Levinson membuka matanya sedikit, mengubah posisi tubuh menjadi miring sehingga kami berhadap-hadapan. "Vernon lagi, pasti kan?"
"Lima puluh persen benar," sangkalku, delapan puluh persen isi kepalaku hampir tiap hari adalah tentang Vernon.
"Ingat Jean, dia itu seorang jumper. Jangan berharap kesetiaan dari orang sepertinya." Selintas petir berkilau di luar jendela, membuat Lucy atau Luka menjerit lagi di lantai bawah. "Aku bingung. Kau ini benci sekali pada Dad, tapi kenapa Vernon tidak? Sama seperti Dad, empat tahun lalu dia kan juga meninggalkanmu."
Jumper. Ada rasa nyeri mendadak yang tiba-tiba menikam jantungku ketika kata itu terucap. Serupa mantra kutukan yang dapat membuatmu mati perlahan. Mereka merupakan kaum langka yang mampu berteleportasi dari satu tempat ke tempat lain.
Bukan masalah bila mereka hanya memiliki kemampuan berteleportasi belaka. Sayangnya, selama ini, mayoritas jumper selalu menimbulkan kekacauan di kalangan manusia biasa. Tak segan-segan, mereka bahkan mampu menggoyahkan ekonomi negara ini. Sebut saja perampokan bank besar-besaran, pembocoran data rahasia pemerintah, hingga pembunuhan keji tanpa meninggalkan jejak secuil pun. Kaum itu bergerak bebas di sekitar kami dengan tentakel-tentakelnya yang tak nampak, menyapu, mencekik siapapun yang tak disukai. Mereka mampu datang saat ini, di tempat ini, begitu saja. Tanpa peringatan, tanpa ba-bi-bu, dan boom! Selamat, seorang jumper telah berada di belakangmu siap menjadi pengantar maut!
Aku sudah sering melihat orang-orang yang terbunuh oleh jumper di televisi. Mereka bahkan tanpa perasaan bisa mencongkel mata, menancapkan pisau di tenggorokan, atau yang lebih parah sampai membakar hidup-hidup tubuh si korban untuk kemudian menggasak seluruh harta kekayaan.
Pemerintah telah menetapkan siaga tiga ditujukan pada kaum jumper semenjak sembilan tahun silam. Dan barangkali tiga atau empat tahun lalu, seorang pria ditemukan tewas di pelataran gedung kantor berlantai tiga puluh. Dia sengaja didorong dan terhempas begitu saja dari lantai teratas gedung itu. Lantas beberapa hari kemudian, pemerintah memutuskan untuk menayangkan detail kematian pria itu di televisi demi mengingatkan kami akan betapa bahayanya kaum jumper. Matanya terbelalak, kepala remuk, leher terpelintir dalam posisi yang tidak lazim, dan genangan darah bisa kau lihat memenuhi sekitar tubuh pria malang itu.
Aku tak menyukai mereka, tentu saja. Aku membenci kelakuan semena-mena yang sangat tak manusiawi itu. Kalau mampu bahkan, aku juga ingin mengambil andil menjadi salah satu anggota Prodigy, agen khusus pemerintah yang membasmi kaum bejat itu. Sangat sulit bagiku untuk bisa merasa aman, meskipun aku tak pernah merasa menyakiti hati orang lain.
Tapi... tetap saja. Aku menyukai Vernon. Hanya seorang Vernon. Tanpa embel-embel jumper apalagi pembunuh.
"Vernon itu seorang jumper, Jean, jumper." Lanjut Levinson masih mengingatkan. Yang entah mengapa, selalu saja berhasil membuat hatiku gundah seketika.
Aku menggeram frustasi memandang langit-langit, berharap bisa membalas, jangan ingatkan aku soal itu, Levinson. Namun balasan macam itu nantinya pasti bakal menunjukkan betapa lemahnya aku.
Terdengar suara gaduh dari tangga. Kegaduhan yang muncul ketika si kembar dalam gendongan Mom, juga muncul. Kedua bocah usia enam tahun itu merengek dalam gendongan Mom. Mereka kembar identik yang amat rewel bila dibandingkan dengan anak lain yang seumuran. Aku saja suka kasihan ketika mendapati wajah lelah Mom pada malam-malam setelah Lucy dan Luka tertidur.
Aku lekas bangkit dari atas ranjang dan menghambur ke arah Mom yang berdiri di pintu kamar. Wajah lelahnya mengatakan, "Kurasa mereka ingin tidur bersamamu."
Inilah salah satu hal yang bisa kulakukan sepeninggal Richard: mengurusi si kembar setelah dari pagi hingga sore, Mom bekerja menjadi pramusaji di restoran kecil tengah kota―selain aku sendiri juga bekerja tentunya. Dan dengan membantu Mom sedikit, paling tidak ini juga bisa mengikis sedikit rasa bersalahku akan gunjingan-gunjingan tetangga paska mereka tahu bahwa aku dulu pernah berpacaran dengan seorang jumper. Gunjingan yang tidak hanya mengenaiku, namun berimbas pula membantai seluruh keluargaku. Berdesir seperti gemericik daun yang tersapu angin: pengkhianat. Pengkhianat. Pengkhianat.
Ejekan-ejekan yang mereka tujukan padaku, itu tidak masalah. Namun bila kata pelacur telah terlontar dan itu tertuju pada Mom, aku sungguh-sungguh tidak bisa menerima itu. Memangnya apa salah Mom hingga dia layak mendapat gunjingan seperti itu? Hinaan yang terdengar seperti desisan ular, meliuk-liuk, dan meninggalkan tetes racun di telingaku. Hinaan yang harus diucapkan secara berbisik, bergumam, dan berdehem. Hinaan yang harus diucapkan di balik telapak tangan yang terkatup atau di balik tembok yang tertutup. Hanya dalam mimpilah hinaan itu mampu dijeritkan keras-keras dan gamblang di depan mukaku.
"Tidurlah, Mom. Biar aku yang menjaga mereka." Kantung hitam yang terlihat di bawah mata Mom selalu saja membuat hatiku tertohok-tohok rasa bersalah.
Mom tersenyum lembut sebelum menjawab, "Terima kasih, sayang," dan menciumi puncak kepala si kembar untuk kemudian balik kanan dan kembali tidur.
Seperginya Mom, aku menawarkan si kembar apakah mereka mau tidur bersama Levinson atau tidak, tetapi keduanya serempak menjawab, "Monster! tidak mau!"
Aku terkekeh.