Into The Water - DUA


VERNON

“Kau harus membunuh Jean.”
Butuh waktu tiga detik bagiku untuk mencerna kata-kata Martin, pemimpin geng 'Joker', kaum jumper bawah tanah yang telah kuikuti selama lima tahun terakhir.
Aku marah. “The fuck you just saying?!”
Tapi Martin―seperti biasanya―tetap memasang wajah datar. “Dia itu tidak bersalah, tidak tahu apa-apa!” lanjutku geram.
Jadi ini, kenapa dia memanggilku ke ruangannya?
“Bukankah kau berencana akan menemui anak itu Senin depan?”
Aku terdiam. Seketika. “Bagai―“
“...mana aku tahu?” Lelaki bengis itu mendecih, tertawa mengejek. “Aku ini seorang pemimpin Vernon, semua informasi pasti kuketahui.”
“Tapi kau tak punya hak untuk menyuruhku membunuh Jean!”
Tertawa lagi, mengambil wine yang ada di atas meja di hadapannya.
“Atau... kau mau aku menyuruh orang lain untuk membunuh keka―ups, maksudku mantan kekasihmu itu?”
Kepalan tanganku terasa begitu kuat di samping paha. Andai saja aku bisa meninju wajah menyebalkan itu.
“Tahukah kau Vernon,” dia bangkit dari duduknya di atas sofa, memutari meja berkaca gelap, lantas berdiri di hadapanku. Gelas wine masih berada di genggamannya. “Jean itu amat berbahaya kalau kita biarkan hidup. Bagaimana kalau dia sampai bekerja sama dengan pemerintah untuk memburu kita, hm?”
Meminum wine kembali. “Ah, aku tahu. Jangan-jangan kau masih belum bisa move on darinya? Dan cemburu pada lelaki bernama Markus itu? Kasihan sekali...” Martin menepuk pundakku dengan sunggingan senyum.
“Tidak. Aku tak akan pernah melakukan perintah bodoh itu. Not even in a million years.”
Martin pura-pura mendesah. “Dasar bocah Amerika bebal.”
Aku tahu peraturan dari geng bawah tanah ini. Sangat tahu. Bahwa kami―para anggota―tidak boleh terlalu lekat dalam berhubungan dengan manusia biasa.
Semua berawal dari satu dekade lalu ketika salah satu anggota geng kami berhubungan terlampau dekat. Sang kekasih yang merupakan manusia biasa, entah karena pasal apa, mendadak berkhianat dan melaporkan markas lama kami di pinggiran kota. Alhasil banyak dari anggota geng 'Joker' yang terbunuh di tempat. Para Prodigy tahu bagaimana cara menemukan kaum jumper walau kami dapat meloncat ke suatu tempat lain dengan mudah. Mereka memiliki alat tertentu demi melacak 'lubang' atau bekas teleportasi kaum jumper untuk kemudian membantai kami satu per satu.
Martin membalik badan, menghadap pada tirai ruang pribadi terluas di bangunan ini―gedung bekas tak terpakai yang kami ubah menjadi markas semenjak kejadian satu dekade lalu.
Kompleksi lelaki itu benar-benar sempurna dengan tubuh tinggi tegap berkharisma. Sementara satu tangannya tertelusup dalam saku celana.
“Satu kali lagi, Vernon,” dia berusaha membuktikan kesetiaanku pada geng ini, “setelah itu kau bebas melakukan semaumu.”
Hening sejenak.
“Bunuh Jean atau kulucuti pakaiannya dengan tanganku sendiri.”
Daguku jatuh tak percaya. Jantungku bergemuruh murka. Yang benar saja! Apa-apaan dia bilang begitu?!
Memerkosa Jean? Hell! Aku tak akan membiarkan lelaki bengis itu menyentuh kekasihku secuilpun. Ah, kalau bukan karena terpaksa pun aku dulu tak akan pernah mau gabung dalam geng bejat ini.
Aku baru akan menyerangnya dari belakang ketika Martin tiba-tiba sudah berpindah tempat ke sudut lain ruang ini. Tak mau kalah, aku ikut menggunakan jurus menghilang. Dia ke sudut sana, aku mengikuti ke sudut sana. Begitu pula sebaliknya. Seribu sial bagiku, dia terlampau cepat dalam merespon gerakan tiba-tibaku. Bisa menebak kapan aku datang dan kapan aku akan menyerang. Bahkan wine yang berada di tangan Martin tak secuil pun tumpah ke lantai.
“Menyerahlah, Vernon. Kau tak akan mampu menyaingiku.” Martin tersenyum menang.
“Kau tidak boleh melakukan―”
Belum habis kalimatku, Martin mendadak telah berada tepat di hadapan, tangan kanannya mengarah ke wajahku. Serangan pertama.
Aku menggeser kaki, menghindar. Pukulan itu lewat sepersekian mili di samping kepalaku, mengenai udara kosong. Dengan cepat, tangan kananku menghantam ke depan, ke arah perut. Lelaki itu cekatan menghindar. Tangan kananku menyusul, memukul lagi. Tapi juga ditangkis.
Atas, bawah, kiri, kanan, tangkas sekali tanganku menyerangnya. Tapi ternyata dia jauh lebih lincah daripadaku.
Konsentrasi. Konsentrasi. Konsentrasi.
Aku terus merapal. Pukulan ke-sebelas. Pukulan ke-tiga belas. Ke-empat belas.
DUG!
Aku berhasil mengenai perutnya. Martin terhuyung ke belakang.
Dia menyeringai. “Bagus juga. Jarang sekali ada yang bisa mengenaiku seperti itu.”
Aku tidak menjawab. Terus fokus. Dan...
Blop!
Kami berpindah tempat.
Sengaja betul aku menariknya untuk melompat ke sini, ke bangunan tua tertumbuhi semak dan belukar liar di sudut lain Praha. Bangunan miring retak yang telah seringkali kujadikan latihan bela diri pribadi. Sebab aku tahu benar, nanti-nanti Martin pasti akan main curang dengan memanggil pion-pion super setianya.
“Woah, kau ini sama liciknya denganku, huh?”
Orang itu merangsek maju, kali ini dia juga menggunakan teknik bertinju, menyerangku.
Giliran dia yang mencecarku dengan tinju terkepal. Atas. Bawah. Kiri. Kanan. Aku menangkisnya. Berkelit. Melompat. Menghilang.
DUG!
Sialan. Dia mengenai wajahku. Kepalan tangannya berhasil membuat sudut bibirku berdarah.
Aku mengepalkan telapak tangan. Fuck!
“Tadi itu belum apa-apa Tuan Vernon Scharff. Butuh seribu tahun bagimu untuk bisa mengalahkanku!
Dia melangkah maju.
Astaga. Sial benar aku kali ini. Dua tinju beruntun tiba-tiba sudah menghantam perutku keras sekali. Bahkan tadi aku sama sekali tak sempat melihatnya bergerak menerjang ke arahku.
Aku sedikit mengatur napas, menyeimbangkan diri, lalu mulai menyerang kembali.
DUG!
Sialan. Dia benar-benar serupa iblis. Sama sekali tak kentara gerakan menyerangnya. Aku terhuyung dua langkah.
“Masih mau bertahan?” Martin menyeringai. “Jangan-jangan saat kau sedang berkelahi denganku ini, pacarmu itu tengah bercumbu dengan Markus, eh?”
Aku meludah. Rasa asin dalam mulutku membuat amarah makin berlipat-lipat.
Aku menggeram. Ini harus segera diakhiri. Aku tahu Jean itu tipe orang yang amat setia. Aku tahu itu, sebab selama ini, diam-diam aku selalu mengawasinya dari jauh. Persetan kalau dia mau bercumbu dengan Markus. Persetan kalau dia akan menikahi orang lain. Yang penting bagiku saat ini adalah, aku tak mau nanti Jean dijadikan budak seks oleh lelaki bejat ini.
Aku merangsek maju, giliranku menyerang. Tinjuku melesat.
Aku terus menyerang. Lelaki itu yang menghindar, menangkis, dan kadangkala sedikit membalas dengan tinju.
DUG!
Bukan Martin yang terhantam. Tapi aku. Keras sekali bogem itu mengenai wajahku. Kali ini mengenai hidung. Tak puas, melebihi kecepatan sebelumnya, Martin mengirim bogem mentah lagi. Tiga kali berturut-turut mengenai mata, dada, dan perutku.
Aku terkapar jatuh.
Tak mau menyerah, aku lekas menghentakkan kakiku, lantas melenting, meloncat, menghilang dari hadapan Martin. Muncul kembali di belakang lelaki itu. Menghilang lagi, lalu muncul dari sudut-sudut yang kuterka amat sulit untuk ditebak. Bagi manusia, jika mereka melihat gerakan super cepatku ini, mereka pasti akan mengira bahwa tadi itu adalah gerakan hantu. Menghilang. Muncul. Lalu menghilang lagi.
Bajuku basah kuyup. Kuyup oleh keringat dan darah segar.
“Woah woah woah! Aku tak menyangka kau punya kemampuan sehebat itu, Vernon.” Martin bertepuk tangan. Tersenyum. “Andai saja kau bukan seorang pembangkang, pasti sudah kujadikan ajudan pribadi sekarang.”
Tak banyak omong, aku langsung menerjangnya lagi dari arah samping kiri.
DUG!
Terlambat. Martin rupanya telah mengetahui arah mana aku akan muncul. Tinjunya menghantam perutku terlebih dulu. Aku terbanting seketika. Punggungku keras sekali mengenai tembok bangunan tua tak terurus ini.
DUG!
Belum sempat aku bangkit, Martin telah melayangkan bogem mentah lagi ke arahku.
Aku sama sekali tak punya kesempatan untuk menangkis apalagi menghindar.
Satu kali. Dua kali. Lantas, entah kapan ia mengambil, Martin tiba-tiba telah menghamburkan foto-foto mencengangkan tepat di dadaku.
Dan untuk kedua kalinya di hari itu, aku ternganga tak terkira. Demi Tuhan, itu adalah foto-foto telanjang Jean!
Aku tak punya kesempatan untuk marah apalagi menyerangnya lagi, karena detik berikutnya yang kutahu adalah, aku harus melindungi Jean kekasihku.
Dan itu semua perlu bantuan dari seorang Markus.

***

Aku mendarat tepat di kamar yang tak asing ini. Kamar yang entah kenapa masih terlihat sama seperti lima tahun lalu. Bercat abu dengan dua ranjang kecil dan satu almari tak terlalu besar.
Satu menit barangkali. Pintu kamar kemudian terbuka.
Dari sudut manapun sosok itu terlihat, aku hapal betul siapa dia.
Jean. Jean...
Dia terkesiap seketika. Hampir menjerit kaget sebelum menutup mulutnya dengan kedua tangan dan mengunci pintu kamar rapat-rapat.
“Vernon!” kejutnya tertahan.
Sungguh, aku amat ingin memeluk lelaki cantik itu lalu menciumnya dalam-dalam. Bercerita mengenai banyak hal, meminta maaf karena telah meninggalkan, untuk kemudian meminangnya dan menjadikan dia milikku selama-lamanya.
Lalu aku merasa malu. Seketika. Apa-apaan aku ini! Meminang Jean? Bah! Mana mungkin dia akan menerimaku setelah bertahun-tahun lamanya kutinggal tanpa kepastian?
Tapi seperti yang kuduga, Jean tetaplah Jean. Dia perlahan berjalan menghampiriku dan menyentuh bagian wajahku yang tidak terluka.
Aku merintih. Tubuhku rasanya sakit semua.
“Apa yang terjadi padamu?” bisiknya lembut. Air mata menggenang di pelupuk mata indahnya. Tangannya terasa bergetar di kulitku.
Maafkan aku, Jean...
Menyadari suasana saat ini, Jean lekas mengusap air mata dan bangkit dari hadapanku. “Tunggu sebentar,” katanya.
Aneh sekali. Setelah sekian lama, aku masih saja merasa sangat nyaman tiap kali mendengar suara itu. Suara selembut madu yang menenangkan.
Bulan menembus celah jendela membiarkan garis-garis cahaya keperakan masuk. Aku bisa melihat beberapa bintang di luar sana.
Aku memandang ranjang sebelah, ranjang yang kuketahui merupakan milik Levinson, adik tertua Jean. Ah, kurasa aku beruntung malam ini tidak bertemu dengan Levinson. Bukan karena anak itu membenciku. Aku tahu betul bahwa Levinson, adik-adiknya, dan Hana pastilah tidak membenciku. Aku tahu mereka itu adalah orang baik. Hanya saja... yang membuatku bersyukur tidak bertemu dengan salah satu anggota keluarga ini adalah karena aku merasa sungkan. Terlalu tak enak hati terhadap apa yang telah kulakukan pada Jean.
Dari atas sini, aku bisa mendengar suara Lucy dan Luka yang merengek meminta perhatian Jean—barangkali mereka minta digendong, langkah-langkah kaki terburu, pertanyaan Hana, lantas deritan anak tangga.
Jean masuk dengan wajah pias. Kecemasan rupanya telah penuh menguasai wajah cantik itu. Tanpa ba-bi-bu, dia lekas berlutut di hadapanku. Lalu mulai membersihkan darah di wajahku dengan handuk yang telah dibasahi air hangat.
“Tahan,” lembut Jean. Gerakannya begitu hati-hati dan meneguhkan. Sesekali aku bakal meringis dan meminta dia untuk berhenti sejenak.
Aku kagum akan betapa pahamnya dia untuk tidak mencecarku dengan banyak pertanyaan. Dia hanya telaten membersihkan lukaku. Begitu saja. Begitu hangat serupa bulan yang menyelimuti malam.
“Maaf,” lirihku parau.
Tapi Jean hanya diam lanjut mengurusku. Napasnya terembus panjang-panjang, antara meringis sendiri melihat luka-lukaku dan menahan betapa berat rindunya padaku.
Jean beringsut mengambil sebuah botol dan kain kasa di laci meja kecil dekat kepala ranjang.
“Maafkan aku...” parauku lagi.
Kali ini Jean berhenti. Menunda untuk membuka entah botol berisi apa yang ada di tangannya.
Dia menunduk. Lama sekali. Wajah cantiknya tertutup oleh rambut. Dan yang kutahu setelahnya adalah, suara sesenggukan mendadak terdengar di balik tirai rambut itu. Aku panik. Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan?!
“Jean... Jean... maafkan aku, kumohon....”
Kutahan rasa sakit luar biasa yang menghantam perut dan dadaku untuk memeluk tubuh bergetarnya.
“Jean...” suaraku makin parau. “Jean...” lalu tanpa kusadari, aku telah ikut menangis bersama Jean.
Kami terus berada dalam posisi itu. Sepuluh menit barangkali, lantas suaranya terdengar lagi, “Kenapa?” sama sepertiku, suaranya terdengar begitu parau.
Dia melepas pelukan, perlahan menghembuskan napas berat dengan tubuh dan bibir yang bergetar. Matanya sembab.
“Kenapa?” ulangnya.
Aku hanya diam. Memandang wajah piasnya penuh kerinduan. Tiga puluh detik. Dua puluh detik. Tanganku perlahan mulai bergerak mengusap tangis di wajah cantik itu. Lembut penuh kasih sayang.
Kemudian, entah apa yang tiba-tiba merangsek ke dalam otak, aku telah mencondongkan tubuh. Aku tak bermaksud untuk bergerak dan tak menyadari tubuhku bergerak―tapi entah bagaimana, kami sudah saling bertatapan, hanya beberapa senti terpisah udara kosong.
Tanganku tertangkup di wajah pias itu, dan detik berikutnya tanpa benar-benar kusadari... aku telah mencium Jean.
Aku mencium Jean.
Perutku bergelenyar hebat. Ciuman yang dalam. Penuh kerinduan sekaligus kesenduan. Seolah, kami terkelilingi oleh badai salju malam. Hanya ada aku dan Jean.
Meringkuk dalam kesepian.



PREVIOUS
NEXT