RICHES


RICHES


CATATAN POLISI

KORBAN:
Yoon Jeonghan.
Mantan ketua OSIS SMA Pledis. Dikenal sebagai pribadi yang cantik, pandai, dan sangat ramah pada semua orang, baik pada adik tingkat maupun sebayanya. Korban dinyatakan hilang selama dua minggu sebelum akhirnya ditemukan secara tak sengaja di dekat perbatasan ibukota.

TERDUGA:
Choi Seungcheol.
Kapten tim basket. Si berandal sekolah yang dikagumi oleh banyak siswa. Teman sepermainan Jeonghan sedari kecil dan memegang jabatan sebagai wakil ketua OSIS.

Wen Junhui.
Wakil kapten grup dance terkenal SMA Pledis. Anggota OSIS yang kerjaannya suka menggodai anggota lain. Merupakan siswa asal China pengikut program pertukaran pelajar yang ditampung oleh keluarga Jeonghan.

Jeon Wonwoo.
Seorang asing yang suka menghabiskan sebagian besar waktunya di pojok perpustakaan. Tenggelam pada buku-buku yang ia baca dan tak pernah merasa perlu untuk memperhatikan sekitar. Atau, mungkinkah sebenarnya ia diam-diam selalu memperhatikan sekitar?

Kim Mingyu.
Adik tingkat yang juga merupakan salah satu anggota OSIS. Terkenal akan humor nyinyirnya yang biasa ia tujukan pada Jeonghan semenjak kepindahannya ke SMA Pledis. Bisa dikatakan sebagai saingan Jeonghan.

Hong Jisoo.
Sepupu Jeonghan dari pihak ibu. Si bocah kalem yang entah bagaimana bisa ikut terseret ke dalam kasus ini, walaupun tak banyak omong.

Lee Jihoon.

Sahabat baik Jisoo yang diam-diam menaruh hati pada Seungcheol. Sebagian besar waktunya ia habiskan di ruangan musik demi mengasah bakat menggubah lagu yang dimilikinya.

PROLOG


“PERISTIWA yang baru-baru ini terjadi di sekolah kita merupakan hal yang amat sangat disayangkan. Kami, SMA Pledis, sebelumnya telah berjuang sekuat tenaga demi mencegah kejadian semacam ini. Dan saya tahu, bahwa beberapa dari kalian mungkin ada yang sangat dekat dengan Jeonghan. Untuk itu, bagi kalian yang merasa kehilangan dan membutuhkan seseorang untuk berbicara, maka kami dengan senang hati menerima kehadiran kalian di kantor. Tak perlu merasa malu apalagi ragu untuk mengeluarkan segala unek-unek yang ada di pikiran kalian.” Kepala Sekolah berpidato di depan lautan siswa-siswi SMA Pledis. Di sisi beliau, terpajang sebuah potret sosok Yoon Jeonghan, mantan ketua OSIS mereka. Pun bebungaan dan lilin juga tak lupa terserak di sekeliling potret itu.
Biasanya, ketika Pak Kepala Sekolah mengadakan pertemuan di auditorium untuk menyampaikan satu-dua pengumuman, para siswa akan bercakap-cakap sendiri tak mau mendengarkan. Namun, tidak untuk hari ini. Udara di sana terasa begitu menyesakkan dan sangat muram, hanya bisikan lirih yang tertahan di kerongkongan. Tak berani mengeluarkan kata. Mereka tak menyangka kalau berita yang tadi malam baru tayang di televisi, kini telah diumumkan oleh Pak Kepala Sekolah.
Termasuk empat anak itu.
Choi Seungcheol tengah duduk di barisan paling depan, tepat di muka potret Jeonghan. Rasa bersalah tak henti-hentinya terus menohok hati, menyesal atas kejadian yang telah menimpa sahabat baiknya itu.
Wen Junhui tengah bersandar pada lengan kursi dengan wajah kosong. Tetapi dengan hati dan mata yang mengungkapkan seribu kesusahan. Tak seorang pun tahu kalau sebenarnya ia begitu frustasi menyesali musibah ini, sampai-sampai kepalan tangan yang ia sembunyikan di saku membuat buku-buku jarinya memutih serupa ingin keluar dari tempatnya.
Jeon Wonwoo tengah duduk di barisan paling akhir, tersembunyi di balik gelap pojok ruangan itu. Tak ada yang bisa melihat ekspresi wajahnya yang pilu. Sementara cincin yang sedari tadi ia remas kuat-kuat di saku, kini terasa begitu panas membakar. Layaknya suasana hati Wonwoo yang berkecamuk tak keruan.
Kim Mingyu tengah mengunci matanya pada sosok yang berada tepat di depannya, pada sosok Seungcheol yang pandangannya tak pernah lepas dari potret Jeonghan. Matanya nyalang penuh kebencian. Gigi-giginya sedikit beradu, lalu mendesah karena amarah yang terus menggerayang.
“Saya tak mau kalian terus-terusan tenggelam dalam kepiluan dan membicarakan insiden ini tanpa akhir. Maka dari itu, kegiatan belajar mengajar akan tetap berlangsung seperti biasanya. Dan kalau saya sampai melihat ada satu-dua siswa yang tetap membandel membicarakan soal ini, kami tak segan-segan akan memberikan sangsi berupa skorsing.” Lanjut Kepala Sekolah sebelum membubarkan anak-anak untuk kembali ke kelas masing-masing. Mereka bangkit dengan hati tak menentu dan keluar melewati pintu auditorium serupa gerombolan domba.

Seminggu itu, tak seorang pun ada yang berani membicarakan kematian Yoon Jeonghan di sekolah.

BAGIAN SATU


“WHOA, apa yang polisi itu lakukan di sini?” Seorang siswa berseru terkejut ketika ia tak sengaja melihat sesosok polisi tengah berbincang pada Kepala Sekolah. Mereka tengah berjalan bersisihan di koridor setelah bel masuk berbunyi. Si siswa itu lantas cepat-cepat mencari toilet terdekat dan bersembunyi di sana agar tak ketahuan oleh Pak Kepala Sekolah.
Detektif Kim Chungha dikirim ke SMA Pledis untuk mengumpulkan informasi mengenai siswa yang tewas terbunuh. Ia benar-benar tak menyangka kalau suasana sekolah ini bakal sebegitu muramnya hanya karena sepeninggal seorang murid. Ia mengambil napas dalam-dalam dan berusaha menenangkan hatinya ketika sang Kepala Sekolah berhenti di depan salah satu ruang kelas.
“Dia tipe anak yang bisa sangat mengintimidasi ketika marah, jadi jangan heran kalau nanti perilakunya agak cuek,” ujar Pak Kepsek memberitahu.
“Tak apa, wajar kalau ia bakal berperilaku seperti itu setelah tahu bahwa orang yang disayanginya tewas terbunuh,” Detektif Chungha tersenyum.
Ketika Pak Kepsek membuka pintu ruangan kelas, serentak semua kepala di sana tertoleh dari buku masing-masing. Begitu pula dengan Guru Park, guru yang tengah mengajar di kelas itu. Dengan perasaan terkejut dan gugup, ia langsung berdiri karena kehadiran dua sosok itu.
“Detektif Kim di sini ada keperluan pada salah satu siswa Anda,” Pak Kepsek memberitahu. “Tidak lama, hanya sebentar.”
“Oh, tentu saja, silahkan panggil anaknya, Pak.” Sang guru menjawab sopan. Dan entah kenapa, semua siswa di sana merasa tak nyaman dengan kehadiran detektif itu, padahal mereka tahu betul siapakah sosok yang akan dipanggil olehnya.
“Choi Seungcheol, tolong kemari sebentar.” Pak Kepsek memanggil seorang siswa yang duduk di samping jendela. Tanpa banyak kata, Seungcheol lekas bangkit dari tempat duduknya dan keluar ke arah pintu kelas. Detektif Chungha memerhatikan wajah Seungcheol yang air mukanya tak menampakkan emosi apapun selain kesedihan.
“Saya akan menanyakan hal ini selembut mungkin, jadi kamu tidak akan terlalu sedih karena teringat kembali akan sahabatmu itu, oke?” Detektif Chungha memulai setelah dirinya dan Seungcheol duduk di salah satu sudut sekolah yang sepi tak ada orang. Seungcheol hanya menganggukkan kepala ringan dan menunggu sang detektif untuk berlanjut.
“Jadi, bisa kamu ceritakan pada saya tentang hubungan kalian berdua? Tentang Yoon Jeonghan?”

***

“Ah! Seungcheol, tolong!”
Mendengar rintihan itu, Seungcheol seketika berlari menuruni tangga. Tak pernah sekalipun dalam hidup ia berlari secepat itu. Ia khawatir pada keadaan Jeonghan. Tapi sayang, ketika dirinya telah berada di anak tangga yang kesekian, ia ternyata dibohongi. Di bawah, Jeonghan tengah kesusahan membawa sebuah boks besar. Tidak ada yang serius.
“Tolong aku!” Jeonghan mengerang lagi, bersusah payah dan hampir menjatuhkan boks yang ada di genggamannya. Namun sebelum menyentuh lantai, Seungcheol telah berhasil menangkap boks itu duluan.
“Kukira kamu benar-benar terluka. Lain kali jangan bercanda seperti itu ah. Bikin orang khawatir saja.” Cerca Seungcheol menampakkan muka sebal. Sementara yang merasa dicerca hanya nyengir tak berdosa.
“Sori, tapi beneran deh, punggungku serasa mau copot dari tempatnya. Siapa yang menyangka kalau boks itu ternyata bisa seberat ini?” jawab Jeonghan sambil mengerling jahil. Ia merenggangkan punggungnya yang terasa mau patah menjadi dua. Dan Seungcheol hanya menggelengkan kepalanya ringan melihat kelakuan si lelaki cantik itu.
Keduanya lantas berjalan menuju ruang rapat.
“Pulang sekolah nanti, kamu ada rencana apa?” tanya Seungcheol selagi mereka masih berjalan bersisihan kembali ke lantai atas.
“Oh, aku mau bantuin Seungkwan memasang dekorasi buat acara Prom nanti. Dia terlihat sangat senang soal dekorasi hasil idenya itu, makanya aku nggak tega kalau harus meninggalkan dia sibuk sendirian. Memangnya kenapa?” tanya Jeonghan sebelum mengalihkan kepalanya pada Seungcheol.
“Pasti bakal lama sekali kalau hanya kalian berdua yang melakukan itu. Nanti kusuruh teman setimku untuk bantuin kalian deh.”
Jeonghan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
“Nggak usah. Ada klub Drama yang ikut bantuin kok, jangan khawatir.” Jeonghan menjawab sungguh-sungguh, bibirnya tertarik ke atas menampakkan senyum yang sangat manis.
Sekarang gantian Seungcheol yang menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Jujur, ia benar-benar ingin membantu mereka.
“Nggak. Aku bakal tetap menyuruh mereka untuk membantu kalian.” Ujarnya teguh.
“Dan ngomong-omong, acara Prom nanti, kamu mau pergi dengan siapa?” lanjutnya penasaran. Dalam hati, ia sebenarnya takut akan jawaban yang mungkin bakal membuat hatinya runtuh.
Jeonghan mengedikkan bahunya. “Belum tahu, tapi aku berencana untuk mengajak seseorang sih.” Muka si lelaki cantik memerah, malu akan perkataannya barusan.
Mendengar itu, Seungcheol seketika membelalakkan matanya tidak percaya.
“Hah? Yang benar saja? Seorang Yoon Jeonghan akan mengajak cowok ke Prom? Bukan dia yang diajak? Nggak salah dengar nih?” seru Seungcheol berlebihan, sok-sokan menampakkan muka tak percaya pada apa yang barusan ia dengar.
“Ugh, jangan berlebihan deh, aku serius. Duarius malah. Aku mungkin nggak akan bisa mengajaknya dengan tata cara yang benar, tapi sumpah, aku bakal berusaha sekuat tenaga agar dia mau mengangguk iya.” Jawab Jeonghan semangat.
“Oke oke, tapi memangnya siapa sih orang yang telah beruntung merebut hatimu itu?” Tanya Seungcheol dengan nada menggoda.
“Hei!” Keduanya terkaget pada seruan Kim Mingyu yang kepalanya tiba-tiba menongol keluar dari ruangan tempat mereka melakukan rapat. “Lemot banget sih jadi orang! Cepatlah kalau berjalan, jangan macam siput!”
“Aku sama sekali nggak peduli dengan urusan kalian ya. Tapi di sini kita punya urusan lain yang jauh lebih penting untuk didiskusikan, jadi cepatlah masuk dan mulai rapatnya.” Lanjut Mingyu angkuh.
Jeonghan memberengut, lantas mendorong tubuh si lelaki tinggi besar itu agar masuk ke dalam ruangan. Ketika sampai di dalam ruang rapat, bukannya langsung memulai rapat hari itu, keduanya malah berdebat makin hebat, membuat Seungcheol mendesah berat karena kelakuan kekanak-kanakan mereka.

***

“Jadi... kalian berdua memang benar sahabat baik?” tanya Detektif Chungha selagi menuliskan informasi yang didapatnya dari Seungcheol. Ia lantas menatap wajah siswa itu penuh simpati. “Ini pasti sangat berat bagimu.”
“Kita sudah saling kenal semenjak kecil. Ddia... dulu sering kena bully karena rupa wajahnya yang berbeda dari kebanyakan anak seumuran kami. Hingga suatu hari aku merasa muak dengan perlakuan mereka terhadap Jeonghan dan memutuskan untuk berkelahi demi membela dirinya. Dan semenjak saat itu, kami jadi tak pernah terpisahkan.” Seungcheol menarik napasnya dalam-dalam, mengingat hari bersejarah itu. Sampai saat ini pun ia sebenarnya tak pernah menyangka kalau dirinya bisa sedekat ini dengan Jeonghan.
“Menurut penuturan Kepala Sekolah, kamu mendaftar jadi anggota OSIS ketika tahu bahwa Jeonghan juga ikut mendaftar. Apa ada alasan kuat yang membuatmu ikut berpartisipasi meskipun kamu telah menjadi anggota tim basket?” Detektif Chungha menatap lamat-lamat wajah Seungcheol yang seketika menampakkan perubahan air muka.
“Aku hanya...” ia berhenti sejenak, ragu. “...ingin lebih dekat dengannya.”

***

“Perhatian! Rapat Dewan OSIS secara resmi dimulai!” tegas Jeonghan, tangannya mulai bergerak di atas papan putih, menulis sejumlah huruf-huruf besar tema pertemuan hari itu. “Dan sekarang silahkan kalian ungkapkan ide yang beberapa hari lalu sudah aku suruh. Awas kalau tidak ada satu ide pun. Aku yakin kalian pasti punya beberapa ide cemerlang untuk acara Prom nanti.”
“Sori Jeonghan, tapi aku lupa gara-gara terlalu sibuk latihan basket!” ujar Seungcheol jujur, terlalu blak-blakan. Membuat Jun yang berada di dekatnya langsung mencerca keji.
“Choi Seungcheol mah begitu orangnya, selalu lupa. Tapi jangan karena dirimu adalah teman baik Jeonghan, bukan berarti kamu bisa lari dari hukuman, Pak Wakil Ketua OSIS yang terhormat.” Cerca Jun menekankan lima kata terakhir.
“Lain kali jangan begitu, Cheol. Ini sudah menjadi tanggung jawabmu.” Tegur Jeonghan mantap, lantas matanya beralih pada sosok di samping Seungcheol. “Dan Junhui, tidak seharusnya kamu berkata seperti itu pada kakak kelasmu, oke? Sopanlah sedikit.”
Keduanya langsung terdiam karena teguran itu.
“Jeonghan-hyung1, Aku dan Junhui punya ide!” seru Xu Minghao berniat mengusulkan sesuatu. “Bahwa kami, si siswa pertukaran pelajar akan memakai baju khas tradisional Cina selama sehari. Bagaimana?”
Jeonghan tersenyum.
“Wah, ide bagus tuh. Kebetulan aku juga punya beberapa kenalan yang mungkin bakal dengan senang hati ikut menyemarakkan ide kalian itu.” Junghan merespon senang sambil menuliskan usulan tersebut di atas papan tulis. Setelah selesai, ia membalikkan tubuhnya lagi ke arah Minghao dan Jun. “Kalian bersedia mencari kostum dan menyiapkan semuanya sendirian kan? Tanpa bantuan anggota OSIS lain?” lanjutnya.
“Tentu, tapi dengan satu syarat. Kamu juga harus ikut berpartisipasi dan bersedia memakai cheongsam khusus untukku, gimana? Oh, dan mungkin juga sekalian berpose?” Goda Jun sambil mengerlingkan matanya nakal. Mendengar itu, Mingyu memutar bola matanya sementara Seungcheol kini benar-benar mendorong tubuh Jun hingga terjatuh di atas lantai.
“Bisa tidak sih nggak usah blak-blak seperti itu? Dasar otak mesum! Hey Jeonghan, kapan sih kamu mau menendang pantatnya kembali ke Cina?” seru Seungcheol jengkel.
“Jangan jahat begitu, Cheollie. Junhui itu baik lho kalau dia lagi diam.” Jawab Jeonghan santai, tak merasa risih akan godaan Jun barusan. Sudah biasa.
Lelaki cantik itu lantas menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Ke arah anggota OSIS lain.
“Ada yang punya ide lain?” tanyanya dengan punggung yang bersandar pada sebuah meja.
“Kurasa aku setuju pada ide Jun barusan, Jeonghan!” usul Mingyu dari pojok ruangan. “Kamu memang perlu memakai pakaian apalah yang tadi dia bilang.”
“Oi! Cheongsam Mingyu, cheongsam!” Jun membenarkan, tetapi tidak digubris oleh Mingyu. Pikirannya malah melayang membayangkan Jeonghan dalam balutan entah-apa-namanya-pakaian itu.
“Itu lagi?” ujar si lelaki cantik sebal. “Sebagai informasi, aku nggak akan mengenakan pakaian itu. Paham? Bisa tidak sih kalian berperilaku layaknya orang dewasa dan bukan malah seperti bocah SD? Ayolah, kita benar-benar harus serius membicarakan ini. Prom sudah di depan mata.” Tegas Jeonghan sambil menyisir rambutnya frustasi.
Dia tak tahu, kalau sebenarnya aksi kecilnya tersebut telah membuat semua nyawa yang ada di ruangan itu sampai megap-megap ingin pingsan.

***

“Terima kasih atas kerja samanya, Seungcheol. Kalau nanti saya punya pertanyaan lain, saya akan datang menemuimu lagi, oke?” Detektif Chungha sopan mengakhiri interview pagi itu. Ia mengecek catatannya kembali sebelum bangkit dan pergi meninggalkan Seungcheol.

Yang Detektif Chungha tidak tahu setelah kepergiannya adalah, sebenarnya siswa lelaki tersebut langsung terduduk lemas di atas tanah dan kembali menangisi kepergian Jeonghan.

BAGIAN DUA


MATA Detektif Chungha sedang tertanam pada buku catatan kecil yang ada di genggamannya ketika ia mendengar seruan itu.
“Chungha, kau sudah memulai interview-nya?!” Ia menolehkan kepalanya pada sosok yang tengah berlarian menuju ke arah tempatnya berada. Itu Choi Yoojung, partner-nya dalam kasus ini. Lagi-lagi dia terlambat datang.
“Yeah, tapi baru satu, Choi Seungcheol, sahabat dekat si korban.”
“Bagus. Jadi, siapa berikutnya?” tanya Yoojung setelah napasnya kembali normal. Chungha lantas mengeluarkan buku tahunan SMA Pledis dari tas yang tergeletak di sisinya. Ia membuka buku tahunan itu dan berhenti di sebuah halaman yang penuh dengan coretan.
“Wen Junhui. Dia siswa Cina yang mengikuti program pertukaran pelajar dan ditampung oleh keluarga Jeonghan. Kepala Sekolah tadi memberiku jadwal kelas anak itu.” Ujar Chungha memberitahu. “Dan sepertinya saat ini dia tengah mengikuti pelajaran bahasa Inggris.” Lanjutnya pada Yoojung.
Namun, bukannya mendapat sebuah jawaban, sang partner malah menahan napas tak percaya dan menggamit kasar buku tahunan yang ada di genggaman Chungha.
“Jadi, ini korban kita? Woah, dia cantik sekali!” serunya terkagum pada potret Yoon Jeonghan yang tertempel di sana. Chungha tak menggugat pernyataan itu, dia pun ikut mengamini kecantikan seorang Yoon Jeonghan. Di foto tersebut, si korban benar-benar terlihat bercahaya dengan senyum yang tertanam manis. Sosoknya begitu segar dan ceria hingga membuat si dua detektif tak percaya akan apa yang mereka lihat di tempat penampungan jenazah beberapa hari lalu.
“Ayo kita temui si anak yang bernama Wen Junhui ini dan mengorek informasi darinya.” Chungha menempatkan buku tahunan itu kembali ke dalam tasnya.
Kedua detektif tersebut lantas angkat kaki dan berjalan menuju sebuah ruang kelas di mana salah satu terduga tengah berada. Namun, ketika Chungha hampir menyentuh knop pintu, mereka sangat terkaget ketika pintu itu tiba-tiba terbuka sendiri.
Seorang siswa muncul dan merangsek keluar. Gerakannya gesit secepat kilat, hampir membuat tubuh Yoojung terjatuh ke atas lantai. Ia berlari menjauh.
“Hei!” seru Yoojung pada siswa itu.
“Kurasa dia tadi menangis,” ujar Chungha dengan dahi berkerut bingung.
“Oh, kalian pasti si dua detektif yang Pak Kepsek tadi bicarakan! Kalian mau berbicara dengan siapa?” tanya seorang guru yang kebetulan keluar kelas berniat untuk mengejar anak yang mungkin menangis tadi. Yoojung dan Chungha merasa kalau ada sesuatu yang salah dengan guru ini, tetapi keduanya memutuskan untuk diam tak menghiraukan.
“Kami perlu bicara dengan Wen Junhui. Tidak lama, hanya sebentar.” Ujar Detektif Chungha sopan. Sang guru segera memanggil sosok yang dimaksud oleh keduanya.
Mendengar namanya dipanggil, satu alis Jun terangkat ke atas. Ia bangkit dan melangkahkan kakinya keluar.
“Dua detektif ini ingin berbicara padamu. Berperilaku sopanlah pada mereka,” kata sang guru pada Jun sebelum ia kembali ke dalam kelas dan melanjutkan mengajar.
Jun mengekor di belakang si dua detektif menuju sebuah ruang kelas kosong di mana penyelidikan itu akan dilangsungkan. Tangannya terkepal kuat.
“Oke, kalau kau tak keberatan, saya akan langsung memulai sesi tanya jawabnya. Siap?” Detektif Chungha memulai, dan Jun membalasnya dengan anggukan setuju. “Jadi, bagaimana hidupmu selama tinggal di tengah keluarga Yoon? Apa hubungan kalian berdua baik-baik saja?”
Jun menghembuskan napasnya dalam-dalam.

***

“Oi, cepat keluar! Lama sekali sih mandinya?!” Jun berseru keras sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan kuat.
“Berisik! Aku harus memastikan dulu biar badanku benar-benar bersih tahu! Sori ya Jun, tapi aku nggak mau dikatain bau sama orang-orang!” Jawab Jeonghan tak kalah serunya dari balik pintu. Menyueki Jun yang hanya bisa pasrah di sisi lain sambil menunggu si lelaki cantik entah sampai kapan.
Ketika pintu kamar mandi akhirnya terbuka, Jeonghan sudah terlihat rapi mengenakan kaos abu dan celana jins, siap untuk berangkat sekolah. Poni hitamnya tertata rapi di sisi wajah. Dan wow, jangan lupakan pula dengan wangi tubuhnya. Benar-benar harum!
“Minggir sana.” Jun menggamit pergelangan tangan Jeonghan, lantas mendorongnya menjauh dari depan pintu sehingga dia bisa masuk dan mandi.
“Hei! Biasa saja kenapa? Nggak perlu mengusir-usir begitu.” Jeonghan menyentak, mengelus-elus pergelangan tangan yang barusan dicengkeram oleh Jun.
“Kalian ini. Sudah besar tapi kok masih kayak anak kecil. Ribut terus kerjaannya.” Ayah Jeonghan yang kebetulan lewat di depan dua remaja itu tertawa kecil.
“Tapi Yah, bukan aku yang salah. Tapi dia yang memulai duluan!” Jeonghan merajuk sebal, menunjuk pada sesosok lelaki yang kini telah masuk ke dalam kamar mandi. Hilang.
Sungguh, meskipun keduanya suka bertengkar seperti itu, namun mereka akan baikan lagi secepat kedipan mata. Pertengkaran-pertengkaran kecil seperti itu bukanlah hal yang serius bagi mereka, hanya bagian rutin yang tak bisa lepas dari kehidupan keduanya. Serupa saudara kandung.
“Mau kemana, Han? Kelasmu ke arah sana kan?” tanya Jun heran ketika melihat Jeonghan yang berjalan ke arah sebaliknya.
“Aku mau menemui seseorang. Kamu pergilah dulu, jam istirahat nanti kita bertemu lagi.” Jawab Jeonghan sambil menampakkan senyum manis, lantas hilang dan pergi dari hadapan Jun.
Sungguh, lelaki itu sejujurnya sangat ingin mengikuti ke mana arah Jeonghan pergi.

***

“Kami ini sudah seperti saudara kandung yang tak bisa dipisahkan. Mau pagi, siang, sore, ataupun malam, kami tak pernah lepas dari yang namanya pertengkaran. Tapi tentu, itu hanya candaan belaka, tak ada yang serius. Malah sejujurnya, tidak seru kalau kami tidak ribut barang sehari. Bisa dibilang, pertengkaran kami itu adalah bukti bahwa kami pernah tumbuh dan hidup bersama. Dan sekarang, setelah kepergian Jeonghan, suasana rumah sungguh serasa berbeda tanpa kehadirannya....” Lirih Jun pilu.
Detektif Chungha dan Yoojung diam untuk sesaat.
“Kalian berdua hidup di bawah satu atap yang sama. Jadi, apa kau dan Jeonghan memiliki hubungan intim satu sama lain? Maksudku, hubungan seksual?” Detektif Yoojung bertanya blak-blakan, membuat Jun terkejut bukan kepalang hingga anak itu menegakkan kepalanya ke arah si penanya. Air mukanya mendadak berubah sangat drastis. Dia murka. Matanya nyalang penuh amarah.
“Maaf?”

***

“Hei, lagi apa sih?” Jun berseru pada si lelaki cantik yang kepalanya tengah tertunduk, sementara dahi ia tempelkan di atas meja kantin. Karena tak dijawab, Jun lantas memegang kepala Jeonghan dan mengangkatnya hati-hati. Ia memberengut ketika melihat mata si lelaki cantik yang agak memerah.
“Kenapa?” tanya Jun lagi. Bukannya menjawab, si lelaki cantik malah menguap menampakkan muka imut.
“Aku capek.” Jawab Jeonghan singkat, lantas tangannya membentuk kepalan mungil lucu untuk mengucek kedua matanya yang agak memerah. Perilakunya itu membuat sosoknya makin kelihatan imut.
“Capek? Perasaan ini masih pagi―”
Jun tiba-tiba terhenti. Ekspresinya berubah drastis.
“Ada apa? Kok berhenti?” tanya Jeonghan heran.
“Siapa?” seru Jun ketus, matanya terkunci pada leher Jeonghan. Mendengar nada suaranya yang tiba-tiba berubah dingin, si lelaki cantik terkejut tak paham. Namun sedetik kemudian ia tersadar akan apa yang dimaksud oleh Jun. Ia cepat-cepat meletakkan tangannya di leher, berusaha menutupi bekas merah keunguan yang tertinggal di sana.
“Jun―”
“Jawab, siapa yang melakukan ini? Seungcheol? Brengsek! Penisnya memang selalu tegang kalau dia berada di dekatmu!” lagi-lagi Jun berseru marah. “Hah! Seharusnya aku nggak terkejut mengetahui hal ini. Tapi lucunya, kok aku terkejut ya?”
Hening. Jeonghan hanya diam melihat kemarahan si lelaki itu.
It’s ok kalau kamu nggak mau memberitahuku. Tapi jangan salahkan aku kalau sikap serampanganmu ini bakal menjadi pengantar kematianmu nanti.”

***

“Hei, kami tak bermaksud untuk membuatmu marah. Hanya saja, kami memang perlu me―” Chungha berusaha untuk meluruskan kesalahpahaman tadi, tetapi terhenti ketika Jun tiba-tiba bangkit dan menoweri sosok kedua detektif itu.
“Aku pergi. Tak sudi menjawab pertanyaan sialan kalian itu!” Dengan hati berkobar penuh amarah, Jun melangkahkan kakinya dari sana. Keluar dari hadapan mereka.
“Aku benar-benar tak percaya kau berani-beraninya bertanya seperti itu!” seru Chungha frustasi pada Yoojung.
Sang partner hanya mengedikkan bahunya tak peduli.   
“Kita tahu kalau Jeonghan adalah sosok yang sangat terkenal di sekolah ini. Tak akan mengejutkan kalau ada satu-dua anak yang mungkin pernah berhubungan seksual dengannya. Maksudku, ayolah, dia itu cantik sekali. Jadi ya, mau tak mau kita harus mengajukan pertanyaan macam itu pada mereka, Chungha.” Terang Yoojung panjang lebar.
Mendengar penjelasan sang partner, Chungha hanya bisa mengangguk pasrah, mengamini pernyataan Yoojung.
“Kau benar. Lagipula mereka hidup dalam satu rumah, jadi mudah bagi keduanya untuk melakukan hubungan semacam itu.” Chungha menuliskan informasi yang baru saja dilontarkan oleh Yoojung. “Menurutmu, apa reaksinya tadi mengisyaratkan bahwa dia sebenarnya memang pernah berhubungan seksual dengan Jeonghan?”

Sang partner mengangguk ringan. “Kukira begitu. Kalaupun tidak, kenapa reaksinya bisa sampai berlebihan begitu coba?”

BAGIAN TIGA


“OKE, sekarang kita lanjut ke terduga berikutnya. Tapi kumohon agar kau nanti bisa jaga mulut dan tidak asal ceplas-ceplos. Aku nggak mau Mingyu juga ikutan kabur seperti Jun tadi.” Chungha mengingatkan sang partner ketika mereka telah sampai di depan ruang kelas tempat terduga berikutnya.
“Baiklah, janji, aku bakal diam saja.” Jawab Yoojung sungguh-sungguh.
Mingyu keluar dari kelas dan muncul di hadapan keduanya.
“Langsung mulai saja interviewnya, aku nggak mau membuang waktu.” Belum apa-apa Mingyu sudah berlagak angkuh, suaranya ketus. Kedua tangan ia masukkan ke dalam saku, menampakkan sikap yang sangat tidak sopan.
Melihat kelakuan Mingyu yang sebegitu angkuhnya, Chungha dan Yoojung saling bertatap muka untuk sesaat. Tetapi meskipun begitu, keduanya tetap melanjutkan tugas mereka, menggiring Mingyu ke perpustakaan untuk memulai interview.
“Jadi, Kim Mingyu, menurut penuturan teman-teman kelasmu, hubungan kalian berdua tidak begitu baik, benar? Bisa kau jelaskan pada kami?” Detektif Chungha memulai.
Mingyu menyeringai.

***

“Aku benar-benar nggak nyangka kalau kamu bakal bersedia membantuku mengisi jadwal OSIS untuk tahun ini!” ujar Jeonghan tak percaya pada Mingyu ketika lelaki bertubuh tinggi besar itu muncul di ambang pintu.
Bukannya merespon, Mingyu malah menutup pintu yang ada di belakangnya. Membuat si lelaki cantik jadi bingung sendiri.
“Kenapa dikunci?” begitu tanyanya.
Mingyu mengedikkan bahunya cuek. “Biar nggak ada orang yang mengganggu kita.” Si lelaki bertubuh tinggi lantas duduk di atas meja dan menyilangkan kedua kakinya penuh keangkuhan.
Sementara Jeonghan hanya merespon dengan anggukan kecil, sama sekali tidak menyadari apa maksud Mingyu yang sesungguhnya. Ia menyerahkan salah satu binder kalender pada lelaki itu.
“Kamu isi binder ini untuk jadwal kegiatan bulan depan sementara aku mengisi binder yang satunya lagi untuk bulan ini, oke?” suruh Jeonghan dengan menampakkan senyum lembut.
Mingyu menatap binder yang kini telah berada di genggamannya, mendecih ketus.
“Kau pikir niatku kesini benar-benar lurus untuk membantumu?” cercanya dingin. “Aku tahu Yoon Jeonghan itu bodoh, tapi aku nggak pernah menyangka kalau kamu bisa sebodoh ini.”
Mendengar cercaan itu, Jeonghan lantas memandangnya sebal.
“Dengar ya, kalau kamu nggak mau membantuku, silahkan angkat kaki dari sini. Aku bisa kok melakukan semuanya tanpa bantu―”
Terlambat. Kata-katanya terpotong ketika sepasang bibir tiba-tiba melumat bibir ceri miliknya. Ciuman itu memang hanya sekilas, tapi lebih dari cukup untuk membuat Jeonghan sadar apa maksud sebenarnya dari kedatangan Mingyu ke sini.
“Yang benar saja!” Jeonghan berseru keras setelah ciuman itu berakhir.
Bukannya menjauh, Mingyu justru mendekatkan dirinya lagi dan berusaha untuk mencium Jeonghan kembali. Namun sebelum si lelaki bertubuh tinggi itu sempat melaksanakan aksinya lagi, Jeonghan menampar pipinya keras-keras. Ia langsung berbalik badan dan membenahi barang-barang miliknya berniat untuk pergi dari sana.
“Kuanggap kejadian ini tidak pernah terjadi di antara kita, oke? Aku pergi, bye!” Jeonghan berkata singkat, satu kakinya telah terangkat menuju ke pintu keluar.
Mingyu mengepalkan tangannya murka, lantas tanpa pikir panjang, ia mendekat ke arah si lelaki cantik dan mencengkeram pergelangan tangannya kuat-kuat.
“Lepasin! Mingyu, aku serius!” Jeonghan berseru untuk yang kedua kalinya, meronta dari cengkeraman Mingyu.
“Ayolah, sebentar saja, hanya beberapa menit. Lagipula, bukankah kemarin kamu bersedia melakukan itu? Apa yang membuatmu hari ini tiba-tiba tidak mau melakukannya lagi?”
Jeonghan mendadak tertunduk, menggelengkan kepalanya ringan.
“Tidak ada. Aku hanya...” ia berhenti sebentar, suaranya begitu lirih, “sedang tidak mood.”
“Kamu menamparku sekeras tadi hanya karena sedang tidak mood? Hanya karena itu? Hah!” Si lelaki bertubuh kokoh itu berdecih untuk kesekian kalinya, menampakkan ekspresi tidak percaya tapi murka.
Melihat reaksi Mingyu yang begitu, Jeonghan hanya bisa menggigit bibir bagian bawahnya takut-takut.
“Jun tahu kalau kemarin aku menemui seseorang.” Akunya kemudian.
“Apa dia tahu kalau orang itu adalah aku?”
“Tidak, tapi cepat atau lambat dia akan tahu. Jun tipe orang yang keras kepala. Dia pasti bakal mengawasiku terus-terusan sampai tahu siapa orang yang aku temui.”

***

“Bukankah sudah sangat jelas? Aku hot, dia juga hot. Aku memperalat orang, dia membantu orang. Kurasa takdirlah yang memang mempertemukan kami? Agar kami bisa saling menjatuhkan satu sama lain.” Mingyu menjawab dengan seringaian khas yang tak pernah lepas dari sudut bibirnya.
Ya, dia sama sekali tak berbohong. Kenyataannya memang begitu, takdirlah yang mempertemukan keduanya. Dulu, ketika pertama kali ia pindah ke sini, Jeonghanlah orang yang pertama kali ditemuinya. Dan semenjak pertemuan pertama itu, Mingyu tahu bahwa Jeonghan adalah ancaman besar. Ancaman baginya untuk mencapai puncak ketenaran. Dan ia juga tahu bahwa Jeonghan adalah sosok yang bakal susah untuk ditumbangkan.
“Apa kalian berdua punya hubungan khusus? Beberapa anak mengatakan bahwa mereka pernah melihat kalian berdua pulang sekolah bersama?” Lanjut Detektif Chungha.
Dan kedua mata Mingyu seketika menggelap.

***

“Mingyu, n-nanti kau bakal meninggalkan bekas.” Jeonghan merengek selagi Mingyu tetap mencumbu lehernya dengan beringas.
Mereka tengah berada di kediaman Mingyu setelah si lelaki bertubuh tinggi itu membujuk Jeonghan mati-matian agar mau datang. Rumah besarnya sepi, tak ada orang lain sebab kedua orangtuanya sedang sibuk bekerja.
Tubuh Jeonghan hampir telanjang sempurna, hanya sepotong boxer dan kemeja tak berkancing yang membalut tubuh mungil mulusnya. Ia berada di pangkuan Mingyu yang baru bertelanjang dada. Si lelaki berdada bidang itu tengah bersusah payah menurunkan resleting celana jinsnya ketika Jeonghan tiba-tiba menyuruhnya untuk berhenti.
“Stop, aku nggak bisa melakukan ini. Benar-benar nggak bisa, maaf.” Jeonghan turun dari pangkuan Mingyu. Hatinya dipenuhi dengan rasa bersalah, tapi dia sungguh tak mampu melanjutkan ini lagi.
“Jeonghan, sudah kubilang nggak akan ada yang tahu mengenai kita. Kembalilah.” Mingyu mengerang frustasi melihat Jeonghan yang kini telah mengenakan pakaiannya kembali.
“Aku benar-benar nggak bisa. Jun nanti bakal―”
“Diam! Jangan bawa-bawa nama Jun lagi!” Mingyu membentak ketus, membuat si lelaki cantik melencing kaget. Takut akan kemarahannya.
“Mingyu―”
“Kau ini selalu saja menyebut nama si anak sialan itu! Kenapa sih perhatian sekali sama si Jun keparat itu, hah?!” serunya kembali, mengumpat. “Diamlah dan jangan sebut nama orang lain kalau kau sedang bersamaku!”
Dan bulatlah tekad Jeonghan untuk pergi dari situ. Ia benar-benar sudah tak tahan.
“Aku pergi.” Lirihnya, lantas langsung angkat kaki dan keluar dari sana.
Meninggalkan Mingyu yang hanya bisa memandang sosok Jeonghan hilang di balik pintu. Kali ini dia sama sekali tak berusaha menahannya seperti yang dilakukannya di sekolah tadi.

***

“Tidak, kami tidak memiliki hubungan khusus.” Aku Mingyu pada kedua sosok di depannya.
Detektif Yoojung mengangkat satu alisnya curiga, sementara partnernya hanya menganggukkan kepala ringan.
“Aku nggak mau melewatkan makan siang, jadi aku pergi sekarang.”
Hanya begitu. Tepat setelah bel istirahat berbunyi, si lelaki bertubuh tinggi besar itu langsung menghilang dari hadapan keduanya. Meninggalkan kecurigaan besar pada Detektif Yoojung.
“Ada yang salah dengan anak itu.” kata Detektif Yoojung tiba-tiba, dan dibalas dengan anggukan setuju oleh sang partner.
“Ya, aku setuju. Tapi kita diskusikan soal itu nanti di kantor. Sekarang kita panggil dulu terduga yang terakhir dan―”
“Yang kalian maksud dengan terduga terakhir itu saya bukan?” sebuah suara tiba-tiba muncul, mengejutkan Detektif Chungha dan Yoojung yang awalnya mau bangkit.
Mereka mendongakkan kepala untuk mengetahui siapa pemilik suara itu.
“Siapa namamu?” tanya Detektif Chungha pada sosok asing itu.
“Jeon Wonwoo.”
“Jeon Wonwoo? Ah ya, kaukah itu?” seru Detektif Chungha sambil menampakkan senyum, namun sama sekali tidak dibalas oleh Wonwoo.
“Kalau begitu langsung saja kita mulai.” Detektif Chungha memulai, tetap menampakkan senyumnya. “Menurut yang kami tahu, kau ini bukanlah teman dekat Jeonghan dan bukan pula salah satu anggota OSIS SMA Pledis. Jadi, bagaimana kau bisa mengenal Jeonghan?”

“Apa hubunganmu dengan korban yang tengah kami tangani?” lanjutnya lagi, kali ini ia benar-benar menyadari kalau wajah anak itu sangatlah dingin.

BAGIAN EMPAT


JEON Wonwoo tak tahu harus bereaksi bagaimana ketika sosok paling terkenal di SMA Pledis tiba-tiba datang dan mengajaknya ke pesta Prom. Padahal saat itu tidak ada angin tidak ada hujan, hanya terjadi begitu saja. Dan kutegaskan lagi, Wonwoolah yang diajak. Bukan cowok lain yang lebih terkenal, lebih pintar, atau lebih menggoda. Ke pesta Prom!
Yeah, P.R.O.M. Prom.
Event tahunan yang selalu dinanti-nantikan oleh semua siswa. Event tahunan yang wajib dihadiri dengan berpasang-pasangan.
“Kau tak perlu berkata iya kalau kau tak berkenan. Aku hanya...” Jeonghan berhenti sebentar, malu. “Mungkin kita bisa pergi bersama atau sekedar nongkrong, begitu?” Wonwoo yang tak menyangka akan peristiwa tiba-tiba ini hanya bisa memandang sosok di depannya dengan perasaan syok.
Dan, tunggu. Apa pipi anak ini barusan merona? Seorang rendahan seperti Wonwoo mampu membuat Yoon Jeonghan yang terpuja itu merona? Ini keajaiban! Benar-benar keajaiban!
“Apa kau sedang mabuk?” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Wonwoo, terlalu blak-blakan. Membuat bahu si lelaki cantik sedikit melencing, ciut hati karena nada suara Wonwoo yang sangat dingin.
“Huh? T-tentu saja tidak.” Jawabnya terbata.
“Kalau begitu pasti kamu sedang bertaruh dengan temanmu, benar? Nggak mungkin seseorang sepertimu, yang terkenal di seantero sekolah tiba-tiba mengajakku yang bukan siapa-siapa ini. Ke Prom lagi.” Lagi, kata-kata Wonwoo sungguh terlalu blak-blakan, meluncur begitu saja tanpa pikir panjang. Membuat sosok yang ada di hadapannya terlihat seolah ingin menangis.
“Aku benar-benar nggak ada maksud untuk mengganggumu. Maaf kalau aku sudah lancang mengajakmu. Semoga harimu menyenangkan.” Dan begitulah. Jeonghan membungkuk pada Wonwoo, lantas membalikkan badan berniat untuk pergi dari sana. Dia benar-benar ingin menangis. Namun sebelum satu langkah kaki terbuat, pergelangan tangannya sudah dicegat oleh Wonwoo duluan.
Jeonghan terkejut. Bingung.
“Duduklah dan katakan alasanmu kenapa kau tiba-tiba ingin pergi ke Prom bersamaku.” Kali ini Wonwoo berkata dengan sangat hati-hati, khawatir kalau yang keluar justru perkataan ketus seperti tadi.
Jeonghan mengerjap ringan sebelum menuruti kata-katanya.
Barangkali, ini adalah pertanda bahwa Jeonghan menginginkan dirinya sebagai seorang kekasih. Pikir Wonwoo saat itu

***

“Kami cukup dekat satu sama lain. Jangan asal termakan omongan orang lain yang mengatakan bahwa kami tidak dekat. Mereka tidak tahu apa-apa soal kami.” Wonwoo berkata tegas pada Detektif Chungha.
“Oh, begitukah? Kalau begitu, bisa kau ceritakan pada kami tentang hubungan kalian berdua? Apa yang biasanya kalian lakukan ketika sedang bersama?” lanjut sang detektif.
Pikiran Wonwoo melayang.
Dia ingat ketika Jeonghan sesekali datang ke rumahnya sekadar untuk berbincang-bincang. Dia juga ingat ketika Jeonghan meringkuk di atas ranjang di sisinya. Di dalam kamar yang tirai jendelanya tertutup rapat. Sementara alunan musik lembut menyahdu, menciptakan atmosfer yang begitu romantis. Tetapi dia tak ingat sudah berapa ratus kalikah dirinya memandang wajah cantik Jeonghan yang tengah tertidur pulas di sampingnya.
“Kami biasa menghabiskan waktu bersama. Kalau dia sedang membutuhkan seseorang untuk bersandar, aku ada. Kalau pikirannya tengah kosong tak tahu arah, aku juga ada. Aku menguatkan dia, dan dia juga menguatkanku. Kami selalu menguatkan satu sama lain.”

***

“Kamu terlihat sangat tampan!” Puji Jeonghan sungguh-sungguh ketika dilihatnya sang kekasih telah berada di ambang pintu rumah, datang untuk menjemput Jeonghan ke Prom.
Dalam hati, Wonwoo malah merasa sebaliknya. Terlihat sangat menyedihkan. Apalagi bila dibandingkan dengan Jeonghan yang mengenakan setelan putih dari atas sampai bawah, begitu senada dengan kulit pucat lembutnya.
“Kamu ini pasti cuma basa-basi kan? Kamulah yang terlihat sangat mempesona.” Wonwoo merendah. Sementara Jeonghan hanya tersenyum manis mendengar perkataan kekasihnya. Mereka lantas angkat kaki, masuk ke dalam mobil, dan berkendara membelah kota menuju acara Prom di sekolah.
Wonwoo tak henti-hentinya memerhatikan wajah Jeonghan yang begitu senang karena bisa pergi ke Prom bersama dirinya. Dan baginya, itu terasa sangat aneh. Ya, Jeonghan itu aneh. Tak pernah sekalipun dalam hidup Wonwoo pernah membayangkan bahwa dia bisa menjalin hubungan dengan orang yang seluarbiasa Jeonghan. Luar biasa baik dalam maupun luarnya.
“Aku benar-benar senang malam ini! Kuharap semua siswa bakal menyukai ide yang sudah berbulan-bulan kami persiapkan.” Jeonghan berseru penuh semangat.
Keduanya kini telah berjalan bersisihan dengan jemari yang saling tertaut menuju aula tempat di mana Prom dilaksanakan. Dari ambang pintu masuk gedung, Wonwoo dan Jeonghan dapat melihat anak-anak telah mulai berdansa mengikuti alunan lagu. Tubuh mereka saling merangkul satu sama lain. Begitu romantis.
“Aku senang bisa datang ke Prom bersamamu, dan bukan bersama orang lain. Menikmati malam seperti mereka. Aku merasa bahwa kaulah satu-satunya orang yang terbaik buatku.” Suara Jeonghan melembut, sangat lirih di antara alunan musik yang terputar begitu keras, hingga Wonwoo sendiri pun hampir tak bisa mendengarnya secara jelas.
Dan dia juga bisa merasakan cengkeraman tangan Jeonghan yang menguat dalam genggamannya, lagi-lagi membuat Wonwoo merasa aneh.
“Kau tak apa?” tanyanya khawatir.
Jeonghan menghembuskan napasnya dalam-dalam, lantas berkata, “Hmm... Hanya saja sebagai ketua OSIS, aku merasa khawatir kalau anak-anak mungkin bakalan nggak menyukai konsep kami. Padahal aku sangat berharap bahwa acara ini bisa berlangsung begitu sempurna.” Katanya lirih.
Mendengar alasan konyol itu, Wonwoo mendengus sebal. “Tentu saja mereka bakal menyukainya. Ayolah, kau ini kan seorang Yoon Jeonghan. Mereka pasti bakal menyukai apapun yang kau buat.”
“Justru itulah yang membuatku jadi sangat khawatir....”

***

“Sungguh? Anak-anak lain tak pernah menyebutkan namamu walau barang sekali.” Ujar Yoojung tak percaya.
“Ya, mereka memang tidak tahu mengenaiku. Mereka hanya mengenal Jeonghan. Cih! Mereka itu serupa sekumpulan lalat bodoh yang mendekati Jeonghan hanya demi ketenaran belaka.” Wonwoo berdecih jijik.
Detektif Chungha mengangguk-angguk.
“Sebentar lagi bel. Aku harus segera kembali ke kelas.” Wonwoo memandang jam yang ada di pergelangan tangannya. “Tapi pastikan kalian juga menanyakan hubungan antar para terduga, jangan hanya bertanya soal Jeonghan. Dengan begitu, kalian bisa mendapatkan informasi yang jauh lebih banyak.” Wonwoo berhenti sebentar. “Oh, dan jangan lupakan pula pada dua anak yang bernama Hong Jisoo dan Lee Jihoon. Kalian mungkin bakal heran, tapi percayalah, bahwa kedua anak itu bisa jadi merupakan pemicu kematian Jeonghan.”
Mendengar dua nama baru, Detektif Chungha langsung menggerakkan bolpoinnya di atas kertas, menuliskan nama Hong Jisoo dan Lee Jihoon.
“Ada yang lain?” tanya Detektif Chungha.
Wonwoo menatap kedua detektif itu sebentar, lantas mengepalkan tangannya begitu kuat. Hatinya berubah pilu seketika.
“Bisakah... kalian melakukan Rape Kit pada tubuh Jeonghan? Perasaanku bilang kalau kalian bakal menemukan pembunuh keji Jeonghan dengan melakukan itu.”

***

“Menarilah denganku!” Jeonghan berseru pada Wonwoo ketika lagu favoritnya tiba-tiba terputar. Suaranya terdengar samar-samar di antara musik Prom yang berdebum kencang.. Wonwoo tentu saja dengan senang hati mengiyakan, sebab dari tadi mereka hanya duduk diam sementara menyaksikan anak lain berdansa dengan ceria. Dia bangkit dan mengulurkan satu tangannya pada Jeonghan, menampakkan aksi yang begitu romantis.
Ketika keduanya berjalan bersisihan menuju ke tengah auditorium untuk berdansa, Wonwoo dapat merasakan tatapan anak-anak yang tertuju padanya. Wajah mereka terlihat begitu syok menyaksikan Wonwoo dan Jeonghan yang serupa sepasang kekasih. Dan Wonwoo tahu betul, mereka pasti tengah bertanya-tanya bagaimana bisa seorang dingin sepertinya mampu meluluhkan hati seorang Yoon Jeonghan? Padahal cowok-cowok lain yang lebih terkenal pun sebelumnya begitu sulit mendapatkan hati lelaki cantik itu. Tapi Wonwoo tak peduli, saat ini suasana hatinya benar-benar tengah senang. Sangat berbunga hingga ia secara terang-terangan berani melingkarkan tangannya pada pinggang Jeonghan. Merapatkan tubuh keduanya, lantas berdansa mengikuti alunan lagu. Dan Jeonghan juga sama senangnya. Ia tak segan menjatuhkan kepalanya pada dada Wonwoo sementara tetap menyelaraskan gerakan kakinya dengan alunan musik.
“Aku akan mengingat malam ini seumur hidup.” Jeonghan bergumam lirih, suaranya terdengar begitu lembut dalam rengkuhan Wonwoo.
Dan hati Wonwoo seketika berubah jadi tak keruan. Dia benar-benar tak tahu kebaikan apa yang pernah ia lakukan di masa lalu hingga dirinya mampu mendapatkan seorang Yoon Jeonghan. Keberuntungan yang begitu luar biasa.
Namun, ketika lagu favorit Jeonghan berhenti, keberuntungan Wonwoo juga ikut terhenti.
“Bercanda ya, Han?!” itu Mingyu. Berdiri angkuh dengan wajah yang penuh ketidakpercayaan.
“Kamu ini bicara apa sih?” Jeonghan membalas selirih mungkin, berusaha keras untuk tidak kehilangan kendali.
“Kamu memilih pergi ke Prom dengan dia daripada aku?” Si lelaki bertubuh tinggi berdecih. “Gila ya? Atau jangan-jangan kepalamu habis kebentur tembok ya?”
Jeonghan menghela napas berat. Sudut matanya lantas menangkap sosok Jisoo yang tengah berdiri di belakang Mingyu.
“Jisoo?” tanyanya dengan nada suara yang terkejut bukan kepalang. “Kamu pergi dengan Mingyu?”
Bukannya dijawab oleh sang sepupu, pertanyaan itu justru dijawab oleh Mingyu.
“Ya, tentu saja dia pergi ke sini denganku karena kamu telah menolak ajakanku mentah-mentah.” Suara Mingyu masih terdengar sama, murka. “Sekarang jelaskan padaku kenapa bisa-bisanya kau datang ke Prom sama si keparat ini!”
“Kurasa alasannya sudah sangat jelas. Kau ini bedebah sedang aku bukan. Kau memperlakukannya semena-mena sedang aku tidak.” Wonwoo yang menjawab cercaan itu, menyela Jeonghan yang kini wajahnya terlihat begitu terkejut. “Sekarang jelas bukan siapa lelaki yang lebih pantas bersanding dengan Jeonghan?”
Satu-persatu kepala kini mulai tertoleh, termasuk Seungcheol. Ia mendekat.
“Ada apa ini?” selanya. Dan lagi, Jeonghan dibuat terkejut akan sosok Jihoon yang mengekor di belakang tubuh kekar Seungcheol.
Mingyu tak menggubris pertanyaan Seungcheol, sebab ia tengah begitu murka pada si lelaki kutu buku yang telah terlalu berani merebut Jeonghan darinya. “Berani-beraninya kau berkata seperti itu padaku!”
“Seharusnya kau bercermin, sadar diri! Pikirkan semua kesalahanmu kenapa kau sampai tak mampu mendapatkan Jeonghan!” suara Wonwoo makin dalam. Dan caranya mengungkapkan kalimat itu mengisyaratkan bahwa ia benar-benar serius. “Pergilah, tinggalkan Jeonghan! Atau aku tak segan-segan akan melakukan sesuatu yang buruk padamu. Camkan itu!”
“Oh ya?” Nada suara Mingyu mengejek, tertawa. “Memangnya apa yang bisa kau lakukan, hah? Dasar orang aneh!”
“Mingyu―”
“Diam kau pelacur―”
Dan sungguh, langit-langit aula seketika lengang. Napas orang-orang tertahan. Wonwoo melayangkan bogem mentah di wajah Mingyu! Tepat setelah lelaki itu menyebut Jeonghan sebagai pelacur!
Melihat ada kejadian yang tidak beres, satu-dua guru akhirnya mendekat. Mereka merangsek ke kerumunan di tengah-tengah aula, berusaha melerai Mingyu dan Wonwoo. Sementara Seungcheol? Dia hanya bisa berdiri di sana, syok dengan apa yang barusan terjadi. Hatinya begitu kecewa pada Jeonghan. Dia kira lelaki cantik itu telah mengungkapkan segalanya pada Seungcheol. Dia kira mereka berdua telah saling terbuka satu sama lain, tak ada rahasia-rahasiaan. Tapi nyatanya? Jeonghan berkencan dengan Wonwoo pun Seungcheol sama sekali tidak tahu. Bah!
Kerumunan itu bubar. Wonwoo dan Jeonghan memutuskan untuk pergi dari sana dan berkendara membelah kota. Berhenti ketika mereka menemukan tempat parkiran yang cukup sepi di ujung kota, menikmati malam hanya berdua.
“Kau tak apa?” Jeonghan lagi-lagi bertanya pada Wonwoo, khawatir akan keadaannya.
“Yeah.” Sang kekasih hanya menjawab singkat, menjilat darah yang berada di sudut bibir layaknya seorang vampir. Tapi Jeonghan tetap memberengut tanda masih cemas.
Dan Wonwoo yang melihat ekspresi itu hanya bisa mendesah. Dia menaruh kedua tangannya di pipi Jeonghan, berusaha meyakinkan. “Dengar, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir, ini bukan pertama kalinya aku berkelahi, jadi tersenyumlah, cantik.”
Tapi Jeonghan tak tersenyum.
“Jangan pernah berkelahi demi aku. Lukamu itu sama sekali nggak sebanding dengan diriku yang rendahan ini.” Suara si lelaki cantik begitu penuh kesedihan, agak bergetar ingin menangis. Tangannya memainkan cincin yang tertanam di salah satu jarinya. “Aku benar-benar tidak pantas, Woo....”
Sang kekasih memandang wajah Jeonghan lamat-lamat, lantas berkata, “Maaf kalau begitu. Aku tadi benar-benar kehilangan akal. Dia itu brengsek sekali jadi orang.”
Dengan lembut, si lelaki cantik meraih telapak tangan Wonwoo yang masih menempel di wajahnya, lantas mengecupnya ringan. Ia tersenyum.
“Yah, terlepas dari tindakan brutalmu tadi, tapi kamu itu benar-benar keren. Caramu melayangkan bogem mentah pada wajah Mingyu itu benar-benar serupa seorang jagoan. Aku nggak menyangka kalau kamu bisa sebegitu kerennya.” Ia tertawa.
Wonwoo yang melihat tawa manis itu hanya bisa memandang sosok Jeonghan dalam kekaguman. Dan pada detik berikutnya, ia telah mencondongkan tubuh kokohnya pada Jeonghan, mencium bibir ceri si lelaki cantik. Awalnya ciuman itu terasa ringan, namun lama kelamaan suasana hati keduanya berubah. Wonwoo melumat bibir Jeonghan lebih dalam, jari-jemarinya mulai membuka satu per satu kancing baju Jeonghan. Dan begitulah, semuanya terjadi begitu saja.
Wonwoo masih ingat betul kejadian malam itu, pada suara erangan dan desahan. Pada kelembutan kulit Jeonghan yang ia gerayangi di bawah jari-jemarinya. Pada kenikmatan ketika ia terus mendorong ke dalam tubuh mungil Jeonghan.
Dia ingat semuanya.
Setiap sentuhan.
Seluruh desahan.
Dan kata itu.
“Aku cinta padamu.”

***

Setelah pergi dari hadapan si dua detektif, Wonwoo mendapati dirinya tengah bersandar pada dinding di luar kelasnya. Air mata seketika mengalir turun, pilu mengingat sang kekasih yang kini telah tiada. Pergi untuk selamanya.

Sementara di genggaman, cincin peninggalan Jeonghan terasa begitu membakar dalam sentuhan.

BAGIAN LIMA


“JADI, apa yang sudah kita punya sejauh ini?” Detektif Chungha mendongakkan kepala, bertanya perihal catatan hasil penyelidikan hari itu. Sepulang dari SMA Pledis, mereka kini tengah menelusuri kembali file-file berisi kesaksian para terduga di kediaman Chungha.
“Di mataku, Jeonghan itu serupa orang yang suka ‘mengedarkan diri’.” Jawab Yoojung dengan memperagakan tanda kutip pada dua kata terakhir, membuat sang partner langsung memutar bola matanya tak terima. “Maksudku, ayolah, cowok-cowok ini berperilaku seolah Dewi merekalah yang mati, bukan sekadar manusia.”
“Yoojung! Jaga bicaramu! Kau ini berkata seolah Jeonghan itu semacam pelacur yang suka... ah!” Chungha berdecih, merasa frustasi “Ingat ya, kau itu tidak tahu apa-apa tentang dia.”
Dan Yoojung hanya mengedikkan bahunya acuh. Ia memutuskan untuk membacakan catatan hasil penyelidikan yang ada di genggaman.
“Pertama, kita punya Seungcheol, sahabat karib Jeonghan. Mereka dikenal sebagai dua sejoli yang sangat dekat, kemana-mana selalu berdua. Seorang siswa bahkan mengatakan bahwa kemungkinan besar Seungcheol menaruh hati pada Jeonghan tapi cintanya sama sekali tak berbalas. Entah itu karena Jeonghan yang tidak peka atau memang dia yang tak ada niatan untuk memberi Seungcheol kesempatan barang secuil.” Yoojung mulai membacakan catatan hasil penyelidikan.
Chungha menghela napas sebentar, lalu menatap sebuah papan yang telah tertempel foto lima terduga pembunuh Jeonghan di depannya. Matanya tertuju pada foto paling kanan, pada potret Choi Seungcheol.
“Ya, barangkali Seungcheol sangat marah pada ketidakpekaan Jeonghan, makanya ia memutuskan untuk menghabisi nyawa anak itu.” Katanya.
“Masuk akal. Selanjutnya ada Wen Junhui, si siswa asal Cina yang ditampung oleh keluarga Jeonghan. Ia mengatakan bahwa dirinya dan Jeonghan sudah serupa saudara kandung. Mereka sering berdebat tapi juga saling melindungi satu sama lain.”
“Melihat gelagat, cara bicara, dan pengakuannya, aku menduga bahwa Junhui adalah tipe orang yang sangat protektif. Ia tak suka akan fakta bahwa Jeonghan disukai oleh banyak orang. Karena itu, ia jadi cemburu dan berusaha keras untuk mengorek informasi semua tentang Jeonghan.” Chungha kembali memaparkan teorinya.
“Ditambah lagi, Junhui merupakan seorang siswa pengikut program pertukaran pelajar yang dilarang keras meniduri pemilik rumah si penampung. Sebab, kalau ia sampai ketahuan meniduri Jeonghan, maka dia bakal langsung dideportasi ke negara asalnya tanpa ba-bi-bu.” Yoojung mendongak, menatap mata sang partner. “Benar katamu, dia cemburu. Cemburu karena tidak memiliki kesempatan untuk mengencani Jeonghan seperti lelaki lain.”
Chungha mengangguk, lantas memberi catatan kecil di bawah foto Wen Junhui.
“Dan selanjutnya, kita punya Kim Mingyu, musuh bebuyutan Yoon Jeonghan. Mereka itu sama sekali tak akur. Beberapa siswa mengatakan bahwa hubungan keduanya benar-benar serupa permainan kekuasaan belaka. Mungkin saja motif di balik penyerangan Jeonghan adalah karena Mingyu sudah kepalang ingin menjatuhkan lelaki manis itu. Demi mencapai puncak ketenaran.”
“Oh, dan jangan lupa. Dia juga selalu menampakkan seringaian aneh tiap kali bercerita soal hubungan intimnya dengan Jeonghan.” Chungha menambahkan.
“Tapi... kurasa mereka tak pernah tidur bersama karena Jeonghan sepertinya buru-buru memutuskan hubungan keduanya secara sepihak.”
“Mungkin, dan bisa jadi Mingyu merasa tersindir karena itu hingga akhirnya memutuskan untuk menyerang Jeonghan pada malam sebelum ia menghilang.”
“Sangat masuk akal. Lagipula aku tak akan menyalahkan aksi Jeonghan. Toh Mingyu itu memang tipe lelaki keparat yang sangat patut diputuskan.” Yoojung berkomentar sengit sebelum lanjut membaca file yang ada di genggamannya kembali.
“Dan terakhir, kita punya si misterius Jeon Wonwoo. Selama interview dia tidak menunjukkan banyak emosi di wajahnya. Beberapa klu yang disebut Wonwoo justru sangat membantu penyelidikan kita.” Yoojung berhenti sebentar, agak ragu untuk melanjutkan. “Menurutmu, kalau ia merupakan tersangka di balik semua kejahatan ini, apa motif yang mendasari anak itu untuk membunuh Jeonghan?”
“Entahlah, tapi sepertinya memang tidak banyak yang tahu kalau Wonwoo dan Jeonghan sebenarnya punya hubungan dekat satu sama lain. Barangkali mereka berpacaran? Mungkin itu yang menjadikan Wonwoo mau bekerja sama dengan kita untuk menemukan si pembunuh.”
“Hmm, kita tanyakan lagi saja nanti padanya. Aku juga sudah meminta orang di lab untuk melakukan Rape Kit pada tubuh Jeonghan. Jujur, aku punya firasat buruk pada hasil lab itu.” Chungha mendesah, lantas satu tangannya terulur untuk mencoretkan sebuah tanda tanya besar pada foto Wonwoo di papan.

Esok harinya, kedua detektif itu kembali mendatangi SMA Pledis untuk menemui Hong Jisoo dan Lee Jihoon.
“Kau ini sepupunya Jeonghan, benar?” Detektif Chungha memulai, tepat setelah kedatangan seorang siswa yang agaknya pemalu. Jisoo menganggukkan kepalanya ringan, membenarkan.
“Baiklah. Jadi, bisa kau ceritakan pada kami tentang orang-orang yang ada di sekitar Jeonghan?”
“Eh, kukira ini interview tentang Jeonghan?” tanya Jisoo bingung.
“Memang, tapi kami juga perlu mengorek informasi lain tentang teman-teman Jeonghan.”

***

Jisoo tengah berdiri di salah satu sudut kantin sementara menyaksikan Junhui dan Jeonghan berdebat lagi. Entah mendebatkan hal konyol apalagi hari ini.
“Kau ini mau duduk atau tidak sih?” Ia melencing, kaget pada seruan yang tiba-tiba muncul di dekatnya. Itu Jihoon, sahabat karib Jisoo.
Dan sungguh, tepat setelah Jisoo mendudukkan dirinya di atas bangku kantin, ia mendapati Mingyu tengah menatap ke arahnya. Begitu intens, dari jarak beberapa bangku di depannya. Membuat perut bocah itu berdenyar sementara pipi memerah sempurna.
Sayang, denyaran itu hanya berlangsung sebentar. Terima kasih pada Jihoon.
“Kau tahu kan kalau Mingyu itu sedang melihat ke arah Jeonghan yang ada di belakangmu? Bukan kau?” ujar Jihoon cuek selagi tetap mengunyah makan siangnya.
“Kau ini! Tidak bisa ya melihat teman senang sedikit?” Jisoo memutar bola matanya kesal.
“Seharusnya kau yang sadar diri! Kaulah yang memberi dirimu sendiri harapan kosong.” Jihoon berseru ketus sebelum ekor matanya tak sengaja menangkap sosok Seungcheol memasuki kantin.
“Apa kau masih menyukainya?” Kini giliran Jisoo yang menyerang.
“Mungkin.” Ia mengedikkan bahu acuh. “Seungcheol itu selalu fokus pada Jeonghan Jeonghan dan Jeonghan. Tidak memberi kesempatan sedikit pun pada yang lain. Sori ya, tapi sepupumu itu benar-benar menjengkelkan!”
Bukannya merasa canggung, Jisoo justru mengangguk setuju. Ia mengamini omelan Jihoon. “Memang. Aku juga tak habis pikir bagaimana dia bisa melakukan itu, memikat hati banyak orang. Benar-benar tidak adil.”

***

“Apa yang ingin kalian ketahui tentang mereka?” tanya Jisoo pada si dua detektif.
“Sikap mereka satu sama lain.”
Jisoo terlihat menimang-nimang sebentar.
“Um... Mereka itu serupa kawanan serigala yang ingin memangsa rusa buruannya. Mereka bakal langsung terbakar api cemburu kalau ada satu anak yang menghabiskan waktu lebih lama bersama Jeonghan daripada anak lainnya. Yang aku tahu, Junhui dan Seungcheol itu punya sikap yang sangat protektif, sementara Mingyu lebih suka memerhatikan Jeonghan dari jauh.”
“Bagaimana dengan Wonwoo?”
“Wonwoo? Aku tak pernah melihatnya berada di dekat Jeonghan.” Aku Jisoo jujur. “Yah, kecuali di acara Prom sih.”
“Hmm... Kalau begitu dia itu pasti tipe orang yang sangat bagus dalam menjaga rahasia. Kau tahu kalau Wonwoo dan Jeonghan sebenarnya sudah berpacaran? Kalau mereka terikat satu sama lain?” Yoojung mencoba memancing.
“Yang benar?” Jisoo kelihatan terkejut bukan kepalang. “Aku tahu kalau mereka pergi ke acara Prom bersama, tapi aku tak pernah menyangka kalau keduanya sungguh-sungguh berpacaran. Karena yah, Wonwoo dan Jeonghan itu benar-benar hampir tidak pernah terlihat berduaan. Apalagi setelah ciuman―” Jisoo segera mengerem kalimatnya, baru sadar kalau ia hampir keceplosan mengungkapkan sesuatu yang terlarang.
“Ciuman apa Jisoo? Kau harus memberitahukan segalanya pada kami.” Chungha buru-buru mendesak, tepat setelah Jisoo mengerem ucapannya.
Untuk sejenak, siswa pemalu itu sempat ragu, namun pada akhirnya menyerah juga. Ia memutuskan untuk mengungkapkan segalanya pada si dua Detektif.
Jisoo mengambil napasnya dalam-dalam kemudian berkata, “Suatu hari aku berkunjung ke rumah Jeonghan, dan di sana aku... Aku tak sengaja melihat Junhui mencium Jeonghan.”
“Lalu?”
“Tapi itu hanya ciuman sepihak. Jeonghan juga terlihat sangat terkejut akan ciuman itu. Ia mendorong tubuh Junhui sangat kuat dan langsung berteriak di depan wajahnya. Ia memarahi Jun soal tentangan yang berlaku bagi siswa pertukaran pelajar. Jeonghan mengingatkan kalau Jun bisa saja dideportasi jika seseorang tak sengaja melihat kejadian tadi. Dan oh, aku baru ingat, Jeonghan juga sempat menyinggung kalau dirinya sudah ada yang memiliki. Aku tahu ini aneh tapi aku tak pernah menyangka kalau Wonwoo dan Jeonghan punya ketertarikan satu sama lain.”
Jisoo berhenti sebentar, menunduk.
“Sewaktu acara Prom, kuakui kalau aku begitu cemburu ketika Mingyu tiba-tiba memutus dansa kami dan pergi untuk melabrak Wonwoo dan Jeonghan. Kukira akhirnya ia sadar bahwa dia sebenarnya punya perasaan padaku. Tapi nyatanya itu salah besar. Mingyu hanya memeralatku untuk mendapatkan Jeonghan, berusaha untuk membuatnya cemburu. Ketika Mingyu dan Wonwoo mulai berkelahi demi Jeonghan, merebutkan dia, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi...” Jisoo mendadak menangis tersedu. “Apakah salah jika aku ingin melukai sepupuku sendiri? Aku ingin dia juga merasakan sakit yang sama. Sakit hati yang aku rasakan...”
Melihat sosok di depannya menangis, Yoojung lekas mendekatkan diri, berusaha menenangkan bocah itu.

Namun, Hong Jisoo tak sadar kalau dirinya baru saja membuat sebuah pengakuan.

BAGIAN ENAM


SEUNGCHEOL benar-benar jengkel.
Sejengkel-jengkelnya pada dunia!
Dia marah pada Wonwoo. Dan dia bersumpah akan meninju wajahnya kuat-kuat kalau nanti ketemu dengannya. Ia tak menyangka bahwa Wonwoo ternyata bisa menjadi ancaman baginya. Sikapnya benar-benar kelewat tenang, seolah Jeonghan memang tak pernah hidup di dunia ini. Begitu murka hingga Seungcheol ingin melabrak Wonwoo dan berteriak sekencang-kencangnya di depan wajah brengsek anak itu.
Seungcheol marah pada Detektif Yoojung dan Chungha, yang telah mengamini permintaan si Jeon Sialan Wonwoo. Bayangkan, mereka melakukan Rape Kit dan menemukan kulit Seungcheol di bawah kuku Jeonghan! Juga sperma yang masih tertinggal dalam tubuhnya!
Seungcheol juga marah. Marah pada dirinya sendiri karena luka bekas cengkeraman Jeonghan di punggungnya masih tertinggal dan belum hilang meski sudah dua minggu berlalu.
Dan sialnya, semua itu menjadikan dirinya sebagai terduga utama!

***

Seungcheol benar-benar tak ada niatan untuk hilang kendali di acara ulang tahun salah satu temannya. Memang sih, dia bermaksud ingin mabuk, tapi hanya sedikit. Tidak sampai separah ini hingga menyebabkan kakinya goyah dan susah untuk berjalan.
Tapi Seungcheol juga tak pernah menyangka bahwa Jeonghan ternyata lebih parah darinya! Lelaki cantik itu bahkan hampir tak bisa mengontrol dirinya sampai-sampai terjatuh di pangkuan Seungcheol!
“Cheol-ie, a-aku capek.” Ujar Jeonghan dengan cegukan khas orang mabuk. Pipinya memerah, tubuhnya berkeringat, dan matanya kelihatan tak fokus.
Jeonghan benar-benar mabuk berat.
“Kalau begitu kita ke atas dan buat dirimu senyaman mungkin.” Seungcheol mulai menuntun Jeonghan ke lantai atas dengan susah payah.
Untunglah, selama perjalanan, keduanya tidak terjerembab dan menemukan kamar kosong di lantai dua. Dengan hati-hati, Seungcheol baringkan tubuh Jeonghan di atas ranjang dan membuat posisi lelaki cantik itu senyaman mungkin. Namun yang membuat Seungcheol terkejut adalah, Jeonghan tiba-tiba berdiri kembali dan mulai menanggalkan pakaiannya satu-persatu.
“Hei, ini bukan rumahmu, Jeonghan. Jangan main lepas pakaian begitu.” Seungcheol berusaha mengingatkan, namun yang diingatkan justru memandangnya bingung tak paham.
“I-ini bukan- hiccup- kamarku?” begitu tanyanya, polos menampakkan wajah imut yang tak bisa Seungcheol tahan.
“Bukan, Han-ie. Pakai kembali pakaianmu―“ Seungcheol benar-benar syok ketika Jeonghan tiba-tiba menurunkan celananya dan menampakkan paha mulus itu. Jeonghan sungguh tak peduli akan peringatan Seungcheol, ia tetap berusaha membuat dirinya senyaman mungkin serupa di rumah sendiri.
“Panas sekali di sini Cheol-ie...” Jeonghan merengek, dan mendadak, pikiran Seungcheol jadi buram.
Segalanya begitu samar ketika Seungcheol berusaha mengingat kembali apa yang detik berikutnya ia lakukan pada Jeonghan. Ia benar-benar terlalu mabuk untuk mengingat segalanya. Tapi ia tahu.
Bahwa ia dan Jeonghan tidur bersama.
Seungcheol bisa merasakan bibirnya menempel pada bibir Jeonghan. Lidahnya mampu merasakan setiap jengkal dalam mulut Jeonghan, dan telinganya mampu mengingat tiap desahan yang mereka keluarkan. Seungcheol ingat bagaimana dirinya mendorong ke dalam tubuh Jeonghan. Ia juga ingat bagaimana mulutnya mendesahkan nama Jeonghan ketika mencapai klimaks.
Segalanya begitu nikmat. Seolah dirinya berada di langit ke tujuh.
Namun ketika giliran Jeonghan tiba, kesadarannya secara kasar dihempaskan kembali ke atas bumi. Jantungnya mendadak berhenti.
Bagaimana bisa Jeonghan menyakitinya seperti itu?
Bukankah Seungcheol teman yang baik?
Bukankah mereka sahabat solid?
Jadi, mengapa Jeonghan malah menyebut nama orang itu ketika dirinya sedang berhubungan dengan Seungcheol?
Kenapa? Kenapa harus...
“Wonwoo.”

***

“Aku tidak memerkosa Jeonghan! Mana mungkin aku melakukan hal itu pada Jeonghan?!” Seungcheol berteriak kencang di hadapan si dua Detektif. Ia sangat ketakutan. Mereka kini tengah berada di ruang interogasi kantor polisi kota setempat.
“Seungcheol, jelas-jelas spermamu kami temukan dalam tubuh Jeonghan. Kulitmu ada di bawah kuku Jeonghan, dan salivamu juga masih menempel di kulit Jeonghan. Bagaimana mungkin semua bukti itu ada pada tubuh Jeonghan kalau bukan kau yang menyerangnya secara langsung?” Ujar Detektif Chungha dengan air muka yang amat serius, berusaha menyudutkan Seungcheol agar anak itu lekas mengaku.
“Pada malam ketika Jeonghan menghilang, orangtuamu bilang bahwa kalian berdua pergi bersama ke salah satu pesta ulang tahun temanmu. Kami mengecek kesaksian itu dan segalanya benar. Hampir semua anak yang juga menghadiri pesta itu, bilang bahwa mereka tidak pernah melihat kalian berdua pergi meninggalkan acara pesta. Lalu pada jam dua malam, salah seorang siswa mengaku bahwa ia tak sengaja melihatmu berjalan sendirian dengan kaos kusut penuh noda darah. Bagaimana kau akan menjelaskan hal itu, hmm?!” Yoojung menyerang, tak peduli akan fakta bahwa Seungcheol kini telah menangis tersedu-sedu.

***

“J-jeonghan, maafkan aku. Aku tak bermaksud untuk―“
“Kau ini apa-apaan?! Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?!” Jeonghan berteriak, meringis memegangi hidungnya yang berdarah hasil tamparan sahabatnya sendiri.
Sungguh, Seungcheol tak bermaksud untuk memukul Jeonghan sekeras itu. Ia bersumpah bahwa tangannya secara tak sadar bergerak sendiri tepat setelah mendengar nama Wonwoo didesahkan oleh Jeonghan.
Sungguh.
“Kemarilah, biar aku bantu menghentikan pendarahannya.” Seungcheol memungut kaosnya yang tergeletak di atas lantai lalu menempelkannya pada hidung Jeonghan. Si lelaki cantik meringis dan Seungcheol merasa bersalah karena itu.
“Tidurlah. Aku yakin kau pasti lelah karena malam ini.” Lanjutnya lirih. Nada suaranya begitu sedih, menyesal akan tindakannya barusan.
Jeonghan, yang kesadarannya memang sedang tidak penuh, langsung menghempaskan tubuh mungilnya di atas ranjang. Matanya lekas terpejam dan tidur dengan posisi yang sedikit miring.
Dalam hati, Seungcheol merasa bahwa Jeonghan tak akan mengingat kejadian malam ini esok harinya. Ia yakin bahwa Jeonghan akan lupa.
Seungcheol memakai kembali kaosnya yang penuh noda darah. Ia ingin menangis, tapi ia tak bisa. Lelaki itu memandangi wajah Jeonghan sekali lagi, lantas angkat kaki dan pergi dari sana.
Namun, yang Seungcheol tidak tahu adalah, pada hari berikutnya, Jeonghan tak akan pernah muncul kembali di sekolah. Selamanya.

***

“Untuk sementara, kita tahan bocah itu dulu dalam sel hingga alibinya benar-benar terbuktikan.” Ujar Chungha pada Yoojung, bersamaan dengan Seungcheol yang digiring oleh dua opsir lain ke sel tahanan.
“Aku lupa kalau kelakuan anak SMA bisa semenakutkan ini.” Yoojung menggeleng-gelengkan kepalanya ringan, tak habis pikir akan kelakuan remaja jaman sekarang.
“Hmm... paling tidak, sekarang kita sudah punya dua keterangan tambahan; di mana keberadaan Jeonghan sebelum menghilang, dan pesta siapakah yang ia tandangi malam itu.” Lanjut Chungha sementara memungut mantel dan kuncinya untuk pergi dari situ.

“Ya, aku juga penasaran akan apa yang bakal Jihoon katakan setelah ini.”

BAGIAN TUJUH


MINGYU tengah berjalan di luar gedung sekolah sambil bersiul-siul ringan ketika dia menyadari sosok Junhui tengah berdiri beberapa meter darinya, menatap sesuatu di kejauhan. Dia mendekat, penasaran akan apa yang lelaki itu sedang perhatikan lamat-lamat.
Well, seharusnya Mingyu terkejut setelah mengetahui apa yang Junhui tengah perhatikan. Seharusnya dia kaget setelah melihat Jihoon yang sedang diinterogasi oleh si dua detektif. Tapi nyatanya, dia sudah tahu.
Dia telah menyangka segalanya.
“Menurutmu, Jihoon dalang di balik kematian Jeonghan?” Mingyu pura-pura bertanya.
Junhui mengedikkan bahunya acuh. “Tahu.”
Mendengar jawaban singkat itu, Mingyu justru menyeringai. Dia tahu kalau Junhui sebenarnya punya rasa pada Jeonghan. Tentu saja! Bohong kalau ada orang yang menyangkal bahwa dirinya tidak terkesima pada seorang Yoon Jeonghan.
“Aku tahu. Sesuatu seperti ini tak seharusnya terjadi pada kita, terutama pada Jeonghan. Dia memiliki masa depan yang cerah. Tapi sayang, seseorang harus merenggut itu semua darinya. Benar-benar tak dapat dipercaya, sungguh. Hanya butuh waktu sedetik, dan boom! Seseorang yang kau sayangi tiba-tiba hilang. Untuk selamanya.”
Selama sedetik, Junhui kira dia sedang berbicara pada alien. Perkataan Mingyu tadi benar-benar membuatnya terkejut bukan kepalang. Bulu kuduknya saja sampai meremang.
“Kau? Seorang Kim Mingyu, bicara begitu? Perhatian pada seseorang? Ini emas namanya!” Ejeknya sinis, tak habis pikir akan apa yang barusan didengar oleh telinga normalnya.
“Serius, aku benar-benar―”
Bullshit! Kerjaanmu selama ini kan cuma selalu mengejek dan merendahkan Jeonghan! Cih!”
“Ya, tapi sekarang aku mengerti. Setelah kematian Jeonghan, aku tahu bagaimana rasanya kehilangan dia.” Mingyu berusaha membela diri tapi Junhui sama sekali tak memercayai omongannya. Dia baru saja akan mengatakan sesuatu ketika sebuah suara tiba-tiba menyela percakapan keduanya.
“Mingyu,” itu suara Hong Jisoo, “kau siap untuk makan siang?”
Keduanya menoleh ke belakang, ke asal suara.
“Ya, ayo. Sampai jumpa, Jun.” Jawab Mingyu, dan tanpa sungkan langsung menggandeng tangan Jisoo untuk pergi dari sana, menikmati makan siang di kafeteria bersama. Meninggalkan Jun yang berdiri penuh dengan tanda tanya.
Sejak kapan seorang Kim Mingyu tertarik pada Hong Jisoo?

***

“Umm... boleh aku menelponmu nanti?” Tanya Jisoo ragu pada Mingyu. Yang ditanya justru acuh, masih membetulkan pakaiannya kembali.
“Yeah, kurasa. Tapi jangan lama-lama. Aku perlu tidur.” Jawabnya, merasa tak perlu memberi Jisoo tatapan balasan, lalu menghilang di balik pintu.
Jisoo mendesah. Dia sebenarnya tahu kalau Mingyu melakukan ini karena terpaksa, agar ia tetap membungkam mulutnya. Well, Jisoo tak begitu memikirkannya sih karena Mingyu akhirnya mau menyentuhnya.
Mau bersetubuh dengannya.
Ia tak mengindahkan peringatan Jihoon. Tak memedulikan kekecewaan sang sahabat karena dirinya telah begitu berani berhubungan dengan Mingyu.
Pandangan Jisoo beralih ke atas meja nakas dekat tempat tidurnya, pada bingkai foto di atas meja itu. Potret Jeonghan dan Jisoo usia sepuluh terpampang di sana.
Jisoo menggigiti bibirnya. Kalut. Dia ingat, foto itu dulu diambil ketika mereka sedang berkemah keluarga. Menyenangkan sekali hari itu. Mereka bahkan berhasil menangkap ikan yang super besar di danau dekat perkemahan. Dan Jisoo juga masih ingat betapa ia dulu tertawa terpingkal-pingkal bersama Jeonghan ketika ikan itu menampar wajah ayahnya dengan ekor lebarnya.
Hatinya sedih, mengingat bahwa dia telah berbuat jahat pada Jeonghan. Pada sepupunya sendiri.

***

“Jihoon, bisa kita bicara sebentar?” Jihoon berhenti ketika mendengar suara Seungcheol. Wajahnya cemas karena hari ini benar-benar bukan hari keberuntungannya. Pertama para detektif itu, dan sekarang lelaki ini.
“Aku tak punya apa-apa untuk dikatakan.” Jihoon berujar, kemudian langsung meneruskan langkahnya kembali. Tapi Seungcheol buru-buru menangkap pergelangan tangannya.
“Kita perlu bicara.” Ujar Seungcheol putus asa. Jihoon mendesah dalam-dalam sebelum memutarbalikkan tubuhnya.
“Bukankah kau ada di penjara?” tanyanya.
“Tadinya. Tapi karena mereka tak punya bukti yang cukup kuat, jadi aku dibebaskan.” Ia menatap wajah Jihoon serius. “Dan itulah hal yang ingin aku bicarakan. Aku tahu bahwa kau mengetahui siapa yang membunuh Jeonghan. Jadi, kumohon, sekarang pergilah ke kantor polisi dan katakan segalanya. Biarkan urusan ini usai sehingga Jeonghan bisa beristirahat dengan damai.”
“Hah?! Yang benar saja! Kau kira aku akan melaporkan seseorang hanya demi si Jeonghan kesayanganmu itu? Jangan mimpi! Kenapa pula aku harus peduli kalau pelacur itu sudah damai atau belum? Dia pantas mendapatkan itu!”
Dan begitulah. Demi mendengar perkataan super brengsek yang keluar dari mulut Jihoon, telapak tangan Seungcheol secara reflek mendarat pada pipinya. Ia tak bermaksud untuk menampar Jihoon begitu keras hingga membuatnya sampai terjatuh ke atas lantai. Justru tadinya ia sangat bermaksud ingin meninjunya sekalian. Brengsek sekali! Bagaimana mungkin ia berkata seperti itu pada Jeonghan?!
“Kau benar-benar keterlaluan, Lee! Aku bahkan tidak menyangka dulu pernah mengajakmu ke Prom bersama! Jijik kalau kuingat-ingat lagi!” Seungcheol berdecih sengit. “Camkan, sebentar lagi kau bakal dipenjara karena telah membantu aksi pembunuhan!”

***

Jihoon ingat. Ia masih ingat segalanya.
Jihoon ingat suara teriakan itu.
Ia ingat betapa takutnya Jeonghan akan diperkosa. Menjerit. Meronta-ronta. Meminta bantuan yang tak akan pernah datang. Ia ingat pada suara Jeonghan yang tersedak oleh darahnya sendiri.
Ia ingat bagaimana Jeonghan memanggil-manggil nama Seungcheol.
Ia ingat betapa Jeonghan ingin menemui Junhui untuk terakhir kalinya.
Ia ingat pada Jeonghan yang menangisi Wonwoo.
Bahkan ia juga ingat ketika Jeonghan tak diduga menyebutkan nama Mingyu.
“Jihoon, ambil mobil sementara aku membersihkan kekacauan ini. Cepat sebelum bau mayat ini menyeruak ke mana-mana.”
Jihoon ingat betapa ia memimpikan teriakan-teriakan memilukan itu.
Ia bersumpah bahwa Jeonghan benar-benar masih menghantuinya, bahkan dalam kematian.

***

“Jeonghan menghilang setelah menghadiri acara pestamu, benar?” Chungha bertanya pada Jihoon yang tengah menunduk memandang meja.
“Ya.”
“Jadi, kau pasti merupakan salah satu orang yang melihat Jeonghan di sana dengan Seungcheol.” Ujar Yoojung, dan ingatan Jihoon seketika tergerak pada malam itu.
Dia ingat melihat Seungcheol dan Jeonghan menaiki tangga menuju kamarnya. Dia benar-benar jijik pada fakta bahwa orang yang dicintainya dan orang yang dibencinya bercinta di atas tempat tidurnya sendiri. Pada hari ulang tahunnya pula! Bukankah itu hadiah yang sangat LUAR BIASA?
Hah!
“Ya, aku melihat mereka.”
“Orang bilang kau punya perasaan pada Seungcheol. Mereka bilang bahwa semenjak pertama kali masuk SMA, kau dan Seungcheol selalu dekat. Tetapi entah kenapa sesuatu terjadi di antara kalian berdua. Keberatan mengatakan alasannya pada kami?”
Jihoon tak mau bertatap kontak pada si dua detektif. Takut kalau-kalau ia secara tak sengaja mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi.
“Seungcheol melupakanku. Hubungan dia dan Jeonghan mengerat pada tahun kedua. Jauh lebih erat daripada sebelumnya.” Jihoon merasakan dadanya sesak. Sesak karena Seungcheol mungkin saja meninggalkannya demi mendapatkan seseorang yang lebih baik.
Ya, seseorang yang jauh lebih baik. Dan seseorang itu bukanlah dirinya. Melainkan Jeonghan.

***

“Cincin apa itu?” Tanya Jihoon pada Seungcheol suatu hari, ketika mereka masih berteman. Seungcheol menunduk memandangi cincin yang tertanam di kelingkingnya, lantas tersenyum.
“Oh ini? Ini cincin perjanjian yang aku buat dengan Jeonghan. Dia juga punya satu yang persis seperti ini, kecuali ukiran yang ada di dalamya. Saat itu hari ulang tahun Jeonghan, jadi aku ingin membuat hari itu sangat spesial. Dan untungnya sampai sekarang, dia tak pernah melepaskan cincin itu.” Seungcheol tersenyum bangga akan kata-katanya barusan. Sementara Jihoon? Tentu saja ia sangat menyesal telah menanyakan hal itu pada Seungcheol. Wajahnya berubah masam.

***

“Aku harus pergi.” Ujar Jihoon pada si dua detektif sementara ia mulai panik.
“Tapi kita belum selesai sesi interviewnya!” Yoojung berujar lantas terkaget karena Jihoon tiba-tiba bangkit dari duduknya.
“Aku tak bisa melakukan ini lagi! Aku benar-benar tak bisa!” Jihoon menangis. Tak pikir panjang lagi, secepat kilat, ia kemudian lari. Menjauh dari si dua detektif.
Ia tak bisa menahannya lagi, ia harus menemukan Jisoo.

***

“Seungcheol bakal berpikir kalau kau yang melakukan itu tahu! Kau memiliki cincin Jeonghan.”
Wonwoo hanya menyeringai kecil dan mengedikkan bahunya acuh.
“Seungcheol sudah tahu siapa saja yang terlibat pada malam itu. Jadi, aku tak bersalah. Tapi di sisi lain, Mingyu....” Wonwoo memandang kosong pada loker yang ada di hadapannya.
“Jisoo tak akan membuka suara sedikitpun, begitupula dengan Jihoon.”
“Tentu saja Jisoo tak akan melakukan itu karena ia telah disogok oleh si psikopat sialan itu.” Wonwoo menoleh dan menatap Jun yang hanya tersenyum sarkastik padanya. “Ngomong-omong, kenapa kau tiba-tiba ada di sini dan mencoba memulai percakapan denganku, huh?”
“Tak ada apa-apa. Aku hanya merasa... ini konyol saja, betapa di antara banyaknya orang di dunia ini, kaulah yang memliki cincin Jeonghan. Cincin yang hilang dari jarinya ketika polisi menemukan tubuh Jeonghan.” Junhui menyandarkan punggungnya pada loker. Memerhatikan wajah dingin Wonwoo yang serupa batu.
“Kenapa kau tak bilang pada polisi mengenai apa yang kau lihat sehari sebelum Jeonghan menghilang?” lanjutnya. Serius. “Kenapa kau tak bilang pada polisi bahwa Mingyu telah memerkosa Jeonghan?”
Mata Wonwoo seketika menggelap ketika ia mengingat kejadian itu.
“Alasan yang sama kenapa kita semua tak mengatakannya.” Hanya itu. Wonwoo lantas memungut barang-barangnya dari loker lalu pergi tanpa menampakkan satu emosipun.
Junhui menggigit bibir bagian bawahnya dan menjambak rambutnya sendiri.
Tentu saja mereka punya alasan yang sama!

Kim Mingyu bukanlah orang yang boleh ditentang oleh siapapun! Dia berkuasa! Dan dia berbahaya!

BAGIAN DELAPAN


“CHUNGHA, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Yoojung pada sang partner yang tengah menelusuri beberapa file di genggaman.
“Para terduga kita benar-benar bekerja sama. Mereka semua menyembunyikan sesuatu. Jihoon tiba-tiba meledak dan kita tidak tahu apa yang menjadikannya seperti itu.” Chungha mendesah berat kemudian menjatuhkan file itu kembali ke atas meja.
“Aku bertanya-tanya siapakah yang sedang mereka lindungi. Tadinya aku yakin bahwa Wonwoo ada di pihak kita. Tapi kini, setelah kita interview kembali, ia justru bungkam. Dia seperti... melindungi seseorang.”
“Bukan. Mereka tidak melindungi seseorang, tapi melindungi diri sendiri.” Chungha mengusap wajahnya frustasi. “Konyol sebenarnya. Padahal orang terkasih mereka telah dibunuh secara brutal, tapi tak ada seorang pun yang mau membuka suara! Hah! Kita benar-benar berjalan dalam lingkaran.”
Hening sesaat. Keduanya tenggelam dalam kursi masing-masing. Namun beberapa detik kemudian, ponsel Yoojung mendadak berdering. Yoojung segera mengangkat dan meletakkannya di dekat telinga. Ketika mendengar apa yang orang di seberang katakan, matanya seketika melebar terkejut, membuat Chungha menatapnya kebingungan.
“Lee Jihoon sekarang ada di kantor polisi! Dia memberikan kita satu nama!”

***

“Jihoon, tenanglah! Kau tak boleh ke kantor polisi!” Jisoo berseru kepada sahabatnya yang saat ini amat sangat ketakutan.
Sepulang sekolah, entah bagaimana Jihoon tiba-tiba sudah muncul di rumahnya dengan keadaan panik yang luar biasa.
“Aku tak bisa melakukan ini lagi! Aku nggak peduli jika Mingyu bakal mengumbar rahasiaku pada semua orang. Apa yang dia lakukan itu sama sekali bukan manusia, Jisoo! Jeonghan itu sepupumu! Kau ini benar-benar tak puya hati! Dan aku capek pada Seungcheol yang terus-menerus menatapku benci! Aku sudah tak tahan lagi....”
Jihoon tak bisa menahannya lagi.
Ia harus pergi ke kantor polisi.
“Bagaimana dengan yang lain?! Jika kau nekat, keluarga Mingyu akan memporak-porandakkan keluarga kita! Hanya dengan jentikkan jari! Keluarga mereka itu sangat kaya raya! Mereka penguasa raksasa di kota ini! Bisa-bisa kita nanti jadi luntang-lantung di jalanan!” Jisoo berseru mendesak tapi keputusan Jihoon sudah bulat rupanya.
Dia sudah selesai dengan semua urusan ini.
“Aku tak peduli lagi. Aku hanya ingin mimpi buruk ini selesai. Lebih baik aku tidur di jalanan daripada hidup dengan perasaan bersalah seumur hidup!” Dan begitulah, Jihoon kemudian meninggalkan rumah Jisoo dengan hati yang tak keruan, menuju ke kantor polisi. Jisoo hanya bisa menatap sahabat baiknya itu pergi, lantas mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu Mingyu. Tetang apa yang akan diperbuat oleh Jihoon.

***

“Kim Mingyu memperkosa Jeonghan. Begitukah yang kau katakan pada kami?”
Jihoon mengangguk lemah.
“Itu terjadi sehari sebelum Jeonghan menghilang. Seungcheol, Jisoo, Junhui, dan Wonwoo juga mengetahui hal itu. Kami ingin mengatakannya pada polisi jauh sebelum ini tapi Mingyu mengancam kami. Keluarganya benar-benar sangat berkuasa. Dan Mingyu, dengan jentikkan jarinya, tentu saja dapat dengan mudah menaruh kami di jalanan. Atau yang lebih parah lagi, menghabisi nyawa kami. Makanya, kami hanya bungkam. Ancamannya benar-benar menakuti kami.”
Jihoon merasa beban dunia seolah enyah dari bahunya setelah mengatakan itu.
“Bagaimana kau tahu kalau Jeonghan telah diperkosa?” Yoojung bertanya lembut melihat betapa leganya Jihoon.
“Kami melihat itu terjadi. Awalnya, kami―aku, Seungcheol, Jisoo, dan Junhui―hanya berniat untuk mengecek sesuatu di ruang OSIS. Namun yang tidak terduga adalah, kami mendapati Wonwoo tengah berdiri di ambang pintu ruang OSIS dengan air muka yang bisa dibilang campuran antara terkejut dan marah.” Jihoon berhenti sebentar, menghembuskan napasnya dalam-dalam. “Dan saat itulah kami tahu apa yang sedang terjadi di dalam ruang OSIS.
“Melihat adegan Mingyu yang tengah menyetubuhi Jeonghan dalam keadaan tidak sadar, Wonwoo langsung melabrak dan mengancam akan melaporkan perbuatan Mingyu pada polisi. Sayang, sebelum Wonwoo mampu melakukan itu, Mingyu telah menelepon ayahnya dulu dan menyuruh ia agar memecat ayah Wonwoo pada saat itu juga. Dan ya, semudah itu. Kami benar-benar tidak tahu kalau keluarga Mingyu bisa seberkuasa itu. Ia juga mengancam akan membunuh keluarga kami jika berani membuka suara.
Pada akhirnya, kami hanya diam dan Seungcheol membawa Jeonghan pulang ke rumah dalam keadaan pingsan, mungkin ia telah dibius. Sore harinya Jeonghan terbangun dan sama sekali tak mengingat apa yang telah terjadi padanya dan melanjutkan hari itu seperti biasa.” Jihoon kini agak gemetaran.
“Ia datang ke pestaku seolah tidak ada apapun yang telah terjadi. Tapi... sejujurnya tidak. Tak ada yang baik-baik saja setelah itu.” Jihoon menangis, menenggelamkan wajahnya pada kedua tangan begitu mengingat peristiwa hari itu. Tersengguk. Ia sungguh menyesali apa yang telah ia katakan dan lakukan pada Jeonghan.
“Tak heran bagaimana Wonwoo begitu ingin kita melakukan Rape Kit pada tubuh Jeonghan. Ia mungkin berpikir kalau jejak Mingyu masih tertinggal pada tubuh Jeonghan.” Chungha berkata sedih dan Yoojung menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih telah datang ke sini membawa semua informasi itu, Jihoon. Kami tahu, ini tidaklah mudah―”
“Detektif Kim!” Ucapan Yoojung terpotong oleh seruan seorang opsir yang tiba-tiba merangsek masuk ke ruang interogasi. “Kim Mingyu ada di sini! Dia bilang dia mau membuat pengakuan!” Si dua detektif menatap opsir itu dalam kebingungan, kemudian mengalihkan pandang pada Jihoon―yang entah kenapa―mendadak menangis lebih keras. Tersengguk lagi.
“Aku minta maaf. Aku tak bermaksud! Aku sangat mencintai Seungcheol sampai-sampai nekat melakukan itu! Dan dia memohon padaku untuk melakukannya! Kumohon maafkanlah aku!” Jihoon kembali menenggelamkan wajahnya ke dalam kedua tangan. Menangis sejadi-jadinya.
Yoojung dan Chungha bertanya-tanya kebingungan.
Dia siapa yang dimaksud oleh Jihoon?

***

“Mingyu, kau sudah tahu apa yang Jihoon telah ungkapkan pada kami, benar?”
“Aku tahu.”
“Kau tak terlihat ketakutan sama sekali.” Yoojung berkomentar setelah merasakan perilaku Mingyu yang sangat tenang. Mingyu hanya tersenyum padanya.
“Begitulah.” Ia mengedikkan bahunya acuh. “Dan ngomong-omong, kalian tak memiliki bukti bahwa aku telah memerkosa Jeonghan. Tapi bukan itu yang mau aku bicarakan pada kalian di sini. Aku ke sini untuk membicarakan si pelaku, pembunuh Jeonghan. Aku tahu siapa dia.” Ujar Mingyu pada mereka, dengan nada yang masih sangat tenang. Chungha memandangnya terkejut.
“Sungguh? Kenapa kau tak memberitahu pada kami tentang itu sebelumnya?” Chungha mendesak tapi Mingyu hanya mengedikkan bahunya acuh. Lagi.
Well, menghibur saja rasanya melihat kalian berdua berlarian ke sana kemari demi mengungkap siapa pelaku sebenarnya.”
“Huh?! Kau ini benar-benar keterlaluan, nak! Kami berusaha membantu kalian tapi yang kalian lakukan malah menyimpan semua rahasia itu pada kami!” Yoojung kesal bukan kepalang mendengar pengakuan angkuh itu.
“Siapa? Katakan pada kami!” Desak Chungha sambil menatapnya garang. Mingyu hanya tersenyum sebelum membuka suara.
“Im Yeonwoo.” Ucap Mingyu singkat, tak peduli akan tatapan garang dari Chungha. Ia justru asik mengamati kuku-kukunya. Kalau saja Chungha sedang menggenggam air seember, sungguh, dia akan menyiramkannya langsung pada Mingyu! Menyebalkan sekali anak ini!
“Kepala Sekolah?! Yang benar saja?” Chungha berseru terkejut. Yoojung yang berada di sebelahnya, hanya menatap lamat Mingyu.
“Aku berbohong? Kalau aku berbohong, kenapa pula Jihoon ketakutan sekarang? Kenapa pula Jihoon meminta maaf pada kalian beberapa menit yang lalu? Dialah yang telah membantu Kepala Sekolah kami membunuh Jeonghan! Jihoon memang tak secara langsung membunuh Jeonghan. Dialah yang mencampur minuman Jeonghan dengan obat di pesta ulang tahunnya sehingga Jeonghan bisa mabuk dan pingsan lebih cepat. Dan Jihoon juga tahu bahwa Seungcheol akan meninggalkan Jeonghan di sana karena yah, Seungcheol pasti berpikiran bahwa Jeonghan akan aman di rumah Jihoon. Rencana yang setan sekali, bukan?”
“Jeonghan dibunuh di ruang bawah tanah setelah semua orang telah pulang. Si Kepala Sekolah datang dan mulai melancarkan aksinya. Jihoon tahu bahwa orangtuanya tak akan pulang ke rumah dalam waktu dekat, jadi mereka punya cukup waktu untuk menyingkirkan mayat Jeonghan. Konyol sekali sebenarnya mengetahui bahwa Jihoon bisa terlibat dengan orangtua menjijikkan seperti Im Yeonwoo.” Mingyu berdecih. Jijik.
Chungha memungut radionya dari pinggang, lantas memberikan komando pada seseorang di seberang, “Aku butuh pasukan untuk pergi ke SMA Pledis menahan Im Yeonwoo, ganti.”
“Bagaimana kau tahu semua ini?” tanya Yoojung pada Mingyu setelah menaruh radionya kembali di pinggang.
“Tak ada masalah secuil apapun di SMA Pledis yang tidak aku ketahui.”

***

“Aku tak membunuh siapapun! Kalian semua gila! Aku tak menyentuhnya sama sekali!” Semua orang menyaksikan dengan raut muka penuh keterkejutan ketika Kepsek mereka digelandang dari sekolah itu. Sebelumnya Jihoon juga telah ditahan karena keterlibatan dia dalam kejahatan ini.
“Sangat memalukan. Aku benar-benar tak percaya bahwa Kepala Sekolah bakal mengejar salah satu siswa kita, secantik apapun dia. Benar-benar sakit!” Seorang guru di samping Jisoo menggerutu sendiri, lantas menghilang di balik kerumunan.
“Aku tak percaya bahwa Jihoon menyembunyikan ini dariku. Kukira dia adalah sahabat terbaikku...” Jisoo mendesah pada Seungcheol yang berdiri di sebelahnya.
“Padahal rasa-rasanya baru kemarin kami tertawa dan bercanda. Tapi semuanya berubah begitu saja ketika ia secara diam-diam melakukan ini. Bukankah itu aneh? Kukira aku tahu Jihoon luar dan dalam.” Jisoo mengusap air matanya sementara Seungcheol menepuk pundaknya pelan.

“Ya, dia telah menyakiti banyak orang dengan melakukan ini.” Ujar Seungcheol lembut. Dan ia terkejut ketika tiba-tiba Jisoo memeluknya begitu erat. Tapi ia tak keberatan dan mengijinkan bocah itu untuk menangis di bahunya.


EPILOG


EMPAT tahun kemudian....
“Hei, Wonwoo, kau mendengarkan kami tidak sih?” Junhui menyenggol si wajah batu. Yang disenggol hanya menatapnya datar.
“Dia cuma ingin melamun, biarkan saja.” Timpal Jisoo selagi menyesap smoothie-nya.
Mereka bertiga tengah bersantai di depan sebuah kafe sementara menunggu Seungcheol muncul. Wonwoo tak pernah menyangka bahwa dirinya kini bisa berteman dengan mereka. Namun setelah apa yang terjadi, ini wajar. Mereka tak tahu apa yang terjadi pada Mingyu setelah kejadian empat tahun silam. Tapi mereka tahu pasti bahwa Mingyu lolos dari hukuman penjara. Tidak ada bukti. Para juri dalam pengadilan mengungkapkan bahwa ia tak bersalah―Wonwoo meyakini ini pasti ada campur tangan dari keluarganya yang super kaya raya. Sedang Im Yeonwoo, si mantan Kepala Sekolah SMA Pledis, dipenjara seumur hidup dengan tuduhan pemerkosaan dan pembunuhan berencana. Orangtua bejat itu benar-benar gila karena tetap menyimpan pakaian Jeonghan yang dipenuhi noda darah sebagai pelampiasan kebutuhan seksualnya selama dua minggu setelah kematian Jeonghan. Pintar sekali dia. Saat memerkosa Jeonghan, orangtua bejat itu memakai sarung tangan karet tipis dan kondom sehingga tidak meninggalkan jejak apapun pada tubuh Jeonghan. Sama sekali. Dan itulah alasan mengapa sperma dan kulit Seungcheollah yang masih tertinggal pada tubuh Jeonghan.
Sementara Jihoon? Ia dipenjara selama sepuluh tahun karena telah membantu Im Yeonwoo dalam melancarkan aksi pembunuhan itu.
“Aku mau pesan minuman dulu.” Wonwoo bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan ke arah konter registrasi dan baru akan memesan es kopi ketika seseorang tiba-tiba menubruk punggungnya. Wonwoo merengut, membalikkan tubuhnya dan menemukan seorang remaja lelaki terduduk di lantai sambil mengelus-elus kepalanya. Wonwoo mengira anak ini pasti masih SMA.
“Maaf... Aku tersandung tali sepatuku sendiri.” Ucap si remaja lelaki tanpa mendongak, ia sibuk mengikat tali sepatunya kembali. Entah mengapa Wonwoo merasa bahwa orang ini sangat tidak asing baginya.
Lima detik. Sepuluh detik.
Dan sungguh, saat bocah itu mendongak, menampakkan wajah polosnya, perut Wonwoo seketika seolah dihantam oleh seribu godam mentah. Semua yang ada pada diri lelaki ini benar-benar mirip dengan Jeonghan! Kecuali rambut pirang pendeknya dan tubuh yang kelihatan lebih rapuh.
“Um... apa kau baik-baik saja?” tanya si remaja lelaki bingung melihat reaksi Wonwoo yang hanya diam saja. Ia mengira, sosok di depannya ini sangat marah padanya. Namun tidak. Wonwoo justru menjulurkan satu tangannya untuk membantu dia bangkit. Dengan ragu, si remaja lelaki menerima uluran tangan Wonwoo itu.
“Ah, terima kasih, um...?”
“Jeon Wonwoo.” Si lelaki berwajah dingin memperkenalkan namanya.
“Senang bertemu denganmu, Wonwoo-ssi. Aku Yu Junghwa.” Ia membungkuk sedikit, sama sekali tak menyadari tatapan Wonwoo yang begitu lekat.
Yoon Jeonghan.
Yu Junghwa.
Takdir memang kejam. Batin Wonwoo.
“Junghwa, ayo pergi.” Junghwa dan Wonwoo serentak menoleh ke arah pintu masuk kafe ketika mendengar panggilan itu. Dan kau tahu siapa yang memanggil lelaki mirip Jeonghan ini? Itu Mingyu!
Si brengsek Kim Mingyu!
“Oh, oke. Um, sekali lagi senang bertemu denganmu Wonwoo-ssi. Dan maaf karena telah menabrakmu tadi.” Junghwa membungkuk sedikit. Ia menampakkan senyum manis sebelum balik badan dan melangkah ke arah di mana Mingyu berada.
Hati Wonwoo seketika pecah berkeping-keping. Sakit hati menyaksikan keduanya saling merangkul dan pergi meninggalkan kafe itu.
Ya, takdir memanglah kejam.