WINDS OF CONQUEST (update chp. 6 & 7)



PROLOG


JUNG YUAN berlari kencang. Sangat kencang hingga ia tidak bisa merasakan lagi udara dingin yang menusuk di seke-lilingnya. Ia bahkan lupa dengan kondisi paru-parunya. Ia sedang tidak peduli pada apapun. Yang saat ini ia pedulikan hanyalah menjauh dari makhluk menyeramkan itu. Makhluk besar berbulu hitam dan bertaring kuat mengilat.
Jung Yuan menoleh ke belakang. Makhluk itu masih mengejarnya. Bukan lari. Di mata Jung Yuan, makhluk itu hanya berjalan normal, seolah mengejek Jung Yuan yang berlari ketakutan. Seolah mengejek Jung Yuan bahwa berlari secepat apapun tidak akan menyelamatkannya dari makhluk itu. Jung Yuan hanya manusia. Sementara pemburunya adalah monster ganas.
Namun Jung Yuan tetap tak menggubris ejekan itu. Meskipun kecil, masih ada sedikit harapan yang tertinggal di hatinya. Ia berlari layaknya orang kesetanan. Menembus apapun yang ada di hadapan. Sesekali terjatuh karena tersandung tonjolan akar pohon besar. Mukanya pucat sedikit berdarah karena tertampar oleh ranting-ranting pohon.
Jung Yuan mendengar suara raungan keras dan dalam ketika ia menyadari ada sungai berbatu menghadang di depannya. Aliran airnya sangat deras. Membuat siapapun yang nekat menyebrangi sungai itu tanpa pengaman akan hanyut seketika. Bahkan bagi perenang handal sekalipun. Jung Yuan bingung. Peluang satu-satunya hanyalah menyeberangi sungai itu. Dia harus berani kalau ingin selamat dari ganasnya cengkeraman sang monster. Satu kesempatan untuk menyelamatkan nyawanya. Namun, Jung Yuan ragu-ragu. Melewati sungai berarti ia harus hanyut dan mungkin tenggelam kehilangan nyawa. Atau mundur dan mati tersobek-sobek dalam cengkeraman sang monster.
Raungan yang memekakan telinga terdengar lagi di belakangnya. Dan seketika itu juga, seolah mengamini takdir hidup Jung Yuan, paru-parunya yang sedari tadi diam kini mulai bereaksi. Ia terduduk lemas di atas tanah. Posisinya tersimpuh, dua tangan mencengkeram kuat di dada. Rasanya sesak sekali. Padahal ia sedang berada di dalam hutan, udara bersih sangat berlimpah di sana. Namun, ia tahu, inilah akhirnya. Jung Yuan harusnya sudah menduga bahwa ia tidak bisa lepas dari takdir kematian. Cepat atau lambat pasti nyawanya akan melayang. Tenggelam atau tercabik.
Dia tidak mungkin lolos.
Sang monster kini telah berada tiga meter di hadapannya. Jung Yuan memandangi mata hitam gelap menyala itu. Mata yang seolah menyimpan dendam pada dirinya selama ratusan tahun. Mata yang penuh kemarahan sekaligus rasa sedih yang luar biasa. Perasaan Jung Yuan jadi ikut sedih seperti tatapan makhluk menyeramkan itu. Bayangan sang ayah, mendiang ibu, adik, kakek, dan neneknya berkelebat. Saat itu juga ia seolah ingin meneriakkan kata maaf terakhir pada mereka. Atas segala kerepotan yang selama ini telah ia timbulkan.
Penglihatan Jung Yuan mengabur, air mata sudah buncah ingin keluar dari pelupuk mata. Kepalanya juga mulai pening dan sakit. Sepersekian detik setelah itu, tubuhnya ambruk ke atas tanah. Ia tahu, ini adalah akhirnya.
Monster itu makin mendekat ke arah Jung Yuan. Salah satu kaki sang monster yang amat besar mencengkeram kuat pundak kanan Jung Yuan. Kuku-kukunya yang tajam dan panjang membuat kulit Jung Yuan sobek dan mengeluarkan darah. Kalau saja penglihatan Jung Yuan tidak mengabur, ia mungkin akan sangat ketakukan melihat rupa makhluk itu. Menggeram tepat berada di depan wajahnya. Taring kuat mengilat seolah baru diasah, mata hitam pekat menyalak penuh dendam, dan tubuh super besar penuh bulu lebat. Siapa pula yang tidak akan merinding menyaksikan itu? Ah, namun dari kejauhan pun Jung Yuan sudah tahu bagaimana mengerikannya rupa makhluk itu. Agaknya ia amat bersyukur karena matanya berair, tidak perlu bertatap-tatapan secara langsung sedekat ini.
Namun, entah bagaimana tiba-tiba Jung Yuan merasakan cengkeraman makhluk itu enyah dari pundaknya. Di tengah kesadarannya yang tinggal secuil, samar-samar ia mendengar suara keretakan keras sekali. Seperti dua batang kayu besar yang ditumbuk. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Tiap keretakan selalu diiringi dengan suara raungan yang amat menyakitkan.
Perlahan, mata Jung Yuan mulai menutup, tapi secara bersamaan ia juga merasakan ada seseorang yang menggun-cang-guncang tubuhnya lembut.
“...Yuan...” ada yang memanggilnya. “Jung Yuan...”



NOSTALGIA


“...Yuan...” ada yang memanggilnya. “Jung Yuan...”
Perlahan, Jung Yuan membuka kedua matanya. Berat sekali.
“Jung Yuan-gege, bangun,” si pemanggil lembut mengguncang kedua bahunya.
Ketika matanya telah sempurna terbuka, ia sadar bahwa kini ia tengah berada di dalam mobil ayahnya. Tengkuknya terasa pegal karena tertidur dalam posisi terduduk selama perjalanan.
“Yuan-gege, bangun. Kita sudah sampai,” oh itu Zhongguo, adiknya.
Mobil itu akhirnya sampai di depan rumah kayu bercat putih. Tiga orang di dalamnya keluar. Satu pria setengah umur dan dua remaja lelaki. Ketika kaki si remaja berambut hitam setengkuk menapak di atas tanah, ia menghirup dalam-dalam udara di sana. Ah, segar sekali. Ini adalah kali pertamanya setelah serasa seratus tahun ia bisa merasakan suasana pegunungan kembali. Ia sudah mendambakan ini sejak lama. Apalagi letak rumah itu yang berada di tepi hutan, jauh dari keramaian. Jung Yuan senang sekali. Ia akan tinggal di sini mulai sekarang.
“Yuan, pakai jaketmu, udaranya dingin di sini.” Jung Yuan menoleh ke arah ayahnya, lantas mengambil jaket tebal yang berada di jok mobil belakang.
“Dan Zhongguo,” mata si ayah mengarah pada remaja satunya lagi. “Bantu ayah mengangkati tas-tas ini! Hampir gelap.”
Si remaja yang bernama Zhongguo mencebikkan bibir enggan.
Mendengar ekspresi kesal sang adik, Jung Yuan tersenyum. “Sini, biar gege bantu.”
Bukannya senang atas tawaran itu, Zhongguo malah cepat-cepat mengambil dua tas besar yang ada di bagasi. “Tidah usah. Biar aku saja yang membawa dua tas besar ini ke dalam rumah.”
“Eh, tapi itu kan berat.” Jung Yuan mendekati Zhongguo, namun si remaja yang lebih muda itu mengelak dan segera berlari ke dalam rumah menyusul ayahnya.
Jung Yuan berdecak kesal. Adiknya itu terlalu berlebihan. Membantu sedikitpun tidak boleh. Katanya takut kelelahan lah. Takut nanti penyakitnya kambuh lah. Takut inilah. Takut itulah. Padahal hanya tas sebesar itu? Toh saat ini dirinya merasa sangat sehat. Apalagi setelah pindah ke daerah asri begini. Makin bugar rasanya.
Jung Yuan mengambil sisa dua tas ransel ukuran sedang miliknya dan Zhongguo, kemudian melangkahkan kaki ke dalam rumah. Cukup besar dan rapi. Ini adalah rumah peninggalan kakek dan neneknya dari pihak ayah. Sang nenek sudah meninggal lama, sementara sang kakek baru meninggal tiga bulan yang lalu. Beliau mewariskan rumah ini beserta perkebunan jeruk miliknya ke ayah Jung Yuan.
Jung Yuan menaiki tangga ke lantai atas. Kamarnya bersebelahan dengan kamar Zhongguo di lantai dua, semen-tara kamar ayahnya berada di bawah. Jung Yuan lantas ber-benah sedikit, memasukkan pakaian ke dalam lemari barunya. Ia sangat menyukai pemandangan dari jendela kamarnya. Dari situ ia bisa melihat perkebunan jeruk yang tertata asri, semua tinggi pohonnya terlihat sama. Terpangkas sangat rapi. Namun, meskipun dekat dengan perkebunan jeruk, rumah tersebut seakan-akan berada di ujung dunia. Tidak ada rumah lain di sebelahnya.
Satu bulan lalu, ketika Jung Yuan mendengar permintaan sang ayah untuk pindah ke sini, ia langsung mengiyakan. Sudah lama sekali ia kangen berat dengan suasana perkebunan milik kakek. Ia ingat, dulu ketika kecil, Jung Yuan dan adiknya suka sekali bermain di bawah pepohonan jeruk yang sedang ranum-ranumnya berbuah. Kadang berlarian main petak umpet, kadang membantu para petani yang tengah memetik jeruk matang ke dalam keranjang. Tapi itu hanya setahun sekali mereka bisa berkunjung ke rumah sang kakek. Jaraknya yang jauh membuat sang kakek tidak menuntut kunjungan yang terlalu sering. Apalagi keadaan ibu Jung Yuan yang waktu itu masih hidup dan menderita sinus akut. Bila dingin sedikit, pasti langsung kambuh penyakitnya. Makanya setelah menikahi ibu Jung Yuan, sang ayah mengalah untuk tinggal di tempat kelahiran ibunya, ibukota.
Dan sama seperti ibunya, Jung Yuan juga tidak sesehat Zhongguo maupun ayahnya. Ia memiliki tubuh yang lemah dan masalah pernapasan semenjak kecil. Dan kalau sampai paru-parunya kambuh, maka Jung Yuan terpaksa harus memakai nasal cannula. Alat bantu pernapasan berupa selang yang terhubung ke tabung oksigen kecil. Padahal Jung Yuan amat sangat membenci ketika ia harus bergantung pada alat tersebut. Sebab itu sangat merepotkan, kemana-mana ia harus ribut menyeret tabung gas oksigennya itu.

KEESOKAN harinya, Jung Yuan dan Zhongguo berangkat ke sekolah baru mereka. Menaiki truk merah kusam pening-galan sang kakek. Agak nyentrik sebenarnya, padahal di rumah ada satu mobil lagi yang penampilannya jauh lebih bagus. Namun karena selera Zhongguo yang nyeleneh, makanya ia lebih memilih truk antik itu. Katanya biar asik kalau nanti ia bisa jalan-jalan dan duduk bersama teman-teman barunya di bak belakang yang terbuka.
Untungnya, saat ini Jung Yuan dan Zhongguo masuk di awal semester, sehingga kehadiran mereka tidak begitu mencolok. Jung Yuan dan Zhongguo pergi ke bagian administrasi untuk mengurus kelengkapan kepindahan.
“Sayang sekali, kelas kita tidak ada yang sama!” sesal Zhongguo setelah mendapat jadwal baru. “Aku jadi khawatir, Yuan-gege.”
Jung Yuan mengacak rambut adiknya, “Memangnya kamu pikir gege tidak bisa menjaga diri sendiri? Jangan berlebihan.”
“Tapi...”
“Sshhh, tidak ada tapi-tapian,” Jung Yuan menggamit lengan Zhongguo untuk pergi dari depan ruang administrasi itu. “Sekarang, kita pergi ke loker baru kita.”
Namun, baru dua langkah kaki, terdengar seseorang memanggil-manggil nama Zhongguo dari kejauhan. Mereka berdua lantas berbalik arah dan mendapati seorang lelaki bertubuh tinggi besar sedang berlarian di sepanjang lorong. Ia nyengir ketika sampai di hadapan kedua saudara tersebut.
“Zhongguo, masih ingat aku kan?” tanya si lelaki sok akrab.
Zhongguo mengingat-ingat lagi, “Oh... si itu ya?”
Si lelaki mengangguk-angguk riang, “Yep, ingat kan?”
“Enggak.”
Si lelaki langsung menampakkan muka sebal, Jung Yuan tersenyum menahan tawa.
“Bercanda. Bagaimana kabarmu, Guan?”
Bukannya menjawab, mata Xiao Guan malah tertuju pada sosok cantik yang sedari tadi tengah berdiri di samping Zhongguo. Cuci mata ceritanya.
“Oi! Tuli ya?!” Sekarang gantian Zhongguo yang sebal.
“Maaf maaf.” Mata Xiao Guan melirik lagi ke arah Jung Yuan. “Zhongguo, yang di sebelahmu... siapa?”
“Bukan urusanmu. Pergi sana!!”
Xiao Guan mencelos, dan tanpa sungkan langsung memperkenalkan dirinya sendiri pada Jung Yuan, tersenyum. “Xiao Guan. Teman Zhongguo sewaktu dia tinggal di sini selama seminggu.”
“Jung Yuan. Kakak tersayangnya Zhongguo,” Jung Yuan mengeluarkan satu tangannya untuk menerima uluran tangan Xiao Guan.
Zhongguo yang melihat perkenalan mereka berdua hanya bisa menghela napas. Meskipun perilakunya menunjukkan seolah ia tidak terima, namun sesungguhnya ia sangat lega karena setidaknya saat ini Jung Yuan telah mendapat satu kenalan baru di sekolah. Sehingga kalau ada apa-apa dan kebetulan Zhongguo tidak ada di sisinya, Jung Yuan bisa meminta tolong pada Xiao Guan yang sama-sama senior. Toh, ia sudah mengenal Xiao Guan. Si idiot yang liburan tahun lalu menjadi temannya di sini selama seminggu. Saat itu gegenya tidak ikut ke sini karena ada masalah pada paru-parunya, makanya Xiao Guan hanya mengenali Zhongguo. Tidak dengan Jung Yuan.
Xiao Guan mengangguk-angguk paham. Zhongguo yang menyadari tangan Xiao Guan masih awet di genggaman Jung Yuan, menepisnya.
“Cari kesempatan saja!”
Lagi, Xiao Guan nyengir. “Habisnya, cantik sih. Boleh aku jadikan pacar tidak?” kali ini Zhongguo benar-benar menempeleng kepala Xiao Guan. Sementara Jung Yuan hanya tertawa kecil melihat perilaku keduanya.
Dan saat itu juga bagai ada angin misterius yang lewat, Jung Yuan merasa seperti ada sepasang mata yang menatap tajam ke arahnya, membuat bulu kuduknya merinding. Ia menoleh ke belakang, mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tapi tidak ada. Jung Yuan tidak menemukan siapapun yang sedang menatap ke arahnya. Hanya ada suara riuh siswa-siswi yang mengobrol di sepanjang lorong.
Lalu suara bel nyaring terdengar. Anak-anak yang tadinya bercanda ria di sepanjang lorong, mulai ribut bubar menuju ke kelasnya masing-masing. Begitupun dengan Jung Yuan, Zhongguo, dan Xiao Guan. Mereka berpisah karena mendapat kelas yang berbeda-beda.
Ketika kaki Jung Yuan melangkah memasuki kelas pertamanya hari itu, ternyata ia sudah terlambat lima menit. Ia tadi sempat kesusahan mencari kelas Sejarah karena belum terbiasa dengan bangunan gedung sekolah ini. Guru Sheng mempersilahkannya masuk dan langsung menyuruhnya duduk di bangku yang masih kosong di baris paling belakang. Namun, belum sempat ia mengucapkan terima kasih atas kebaikan Guru Sheng, tiba-tiba ada satu anak yang menyeletuk keras.
“Kenalan dulu dong! Kamu anak baru di sini, bukan?”
Jung Yuan kaget dengan celetukan bernada menggoda itu, matanya mengarah pada Guru Sheng untuk minta tolong. Namun, guru Sejarahnya yang masih terlihat muda itu hanya mengangguk, menyuruhnya untuk mengiyakan celetukan permintaan anak tadi.
“Uhm... Perkenalkan, nama saya Jung Yuan. Han Jung Yuan.” Jung Yuan kikuk memperkenalkan dirinya. “Senang bertemu dengan kalian.”
“Ngomong-ngomong, sudah punya pacar belum?” Si anak tadi menyeletuk lagi.
Namun, untungnya kali ini Guru Sheng melempar tatapan mematikan pada anak itu dan berkata, “Taiheng, berhenti menggodai orang lain!”
Jung Yuan sangat menghargai itu. Ia lantas mengangkat kaki menuju meja paling belakang. Selama berjalan menuju meja barunya, Jung Yuan sangat risih pada tatapan anak-anak sekelas. Seolah Jung Yuan adalah mangsa empuk bagi mereka. Namun, yang membuat Jung Yuan paling merasa risih adalah, tatapan familiar yang sebelum ini ia rasakan di koridor sekolah.
Ketika pantatnya telah terduduk di atas kursi, Jung Yuan mencari-cari tatapan mata itu. Dan ia amat kaget karena ternyata orang di bangku sebelahnyalah yang menatap Jung Yuan lamat-lamat. Agak ngeri sebenarnya. Sebab, sungguh, orang itu menatap Jung Yuan seperti telah mengenal dirinya sejak lama.
Tiga puluh menit barangkali.
Lama, Jung Yuan menunggu agar tatapan mata itu berpaling ke arah lain. Namun, makin lama bukannya doanya terkabul, tatapan mata orang itu malah makin lekat tertuju padanya.
Jung Yuan penasaran ingin mengintip rupa orang yang ada di sebelahnya. Namun, sepertinya itu adalah keputusan yang salah besar. Niat awal Jung Yuan hanya ingin memandang sekilas. Tetapi ketika matanya bertemu dengan mata orang tersebut, hatinya seolah-olah terkunci. Bahkan memalingkan muka pun rasanya sungguh berat dan tak sanggup. Kini giliran Jung Yuan yang mengamati sosok di depannya. Sungguh, seumur-umur Jung Yuan tidak pernah melihat wajah setampan itu. Kulit pucat, bibir merah, dan terakhir matanya. Mata yang amat aneh, batin Jung Yuan. Bukan aneh dalam artian buruk. Namun sebaliknya, mata itu sungguh bening mengundang. Warna irisnya sangat jarang bagi sebagian besar warna mata penduduk kota ini. Sekilas, Jung Yuan terkikik dalam hati kalau mungkin lelaki di depannya ini memakai lensa kontak seperti kebanyakan wanita. Tetapi ide itu buru-buru menguap dari kepalanya. Karena Jung Yuan yakin betul, bahwa itu adalah warna asli matanya. Ia bisa membedakan mana orang yang memakai kontak lens dan mana yang tidak.
Cukup lama mata mereka berdua terkunci satu sama lain, hingga tak terasa bel pelajaran pertama telah berbunyi. Jung Yuan cepat-cepat memasukkan bukunya ke dalam tas, lantas dengan agak terburu-buru mengangkat kaki dari tempat itu. Ia tidak mau lagi dipandangi terus-terusan oleh si pemilik mata emas. Risih sekali. Dan untungnya hari itu adalah hari pertama semester ini, jadi Jung Yuan tidak perlu merasa bersalah karena Guru Sheng belum begitu serius memberi pelajaran kali ini.

ζ

SETELAH insiden ‘tatapan mata’ itu, Jung Yuan sangat bersyukur sebab di kelas berikutnya ia tidak sekelas dengan si mata emas. Malahan ia satu kelas dengan Xiao Guan. Yang tentu saja dibalas dengan reaksi super senang dari si pemilik tubuh tinggi. Jung Yuan agaknya terkejut dengan Xiao Guan. Meski perilakunya terlihat sangat kekanakkan dengan cengiran yang tak pernah lepas dari wajahnya, Xiao Guan ini ternyata jenius dalam Matematika. Padahal Guru Lee baru saja memberi sedikit awalan pelajaran Matematika ketika Jung Yuan secara tidak sengaja melihat buku Xiao Guan yang sudah mulai penuh dengan jawaban dari soal yang ada di buku pegangan. Meski guru Matematikanya sendiri belum menyuruh, tetapi rajin sekali dia mengisi soal-soal itu.
Dan di sinilah Jung Yuan sekarang. Di salah satu meja kantin bersama lima orang lainnya. Selain Zhongguo dan Xiao Guan, Jung Yuan hanya mengenali satu di antara tiga orang asing yang ikut bergabung di meja itu. Tentu saja Jung Yuan sangat mengenali wajahnya, sebab dialah yang tadi pagi menggoda Jung Yuan di kelas Sejarah. Taiheng. Dan ternyata lelaki itu adalah teman baik dari Xiao Guan. Makanya ketika secara tak sengaja Taiheng melihat Jung Yuan yang berjalan bersisihan dengan Xiao Guan, ia langsung ikut nimbrung dengan gayanya yang sok keren dan akrab.
Sementara yang dua lagi sepertinya merupakan teman baru Zhongguo.
“Gege, ini MingHao,” Zhongguo menunjuk pada seorang lelaki berwajah manis. Ia sopan menampakkan senyum perkenalan. “Dan si gendut ini namanya Shin Qing.”
“Hei! Aku nggak gendut ya!” si lelaki satunya yang dibilang gendut merajuk.
“Terus apa kalau bukan gendut?”
“Semok.” Dan seluruh penghuni meja itu tertawa mendengar pengakuan terlalu-percaya-diri dari Shin Qing.
Namun, tawa Jung Yuan berhenti ketika ia merasakan tatapan itu lagi. Si mata emas. Ia mengedarkan pandang ke sekeliling dan matanya terkunci pada sekelompok lelaki di pojok kantin. Ada empat orang di sana.
Hatinya langsung terkagum melihat mereka. Terlalu sempurna. Keempat sosok itu serupa porselain berukir yang dipahat oleh pematung paling terkemuka di dunia. Tidak. Jung Yuan tidak berlebihan. Gambarannya sangat tepat. Satu lelaki berambut cepak dengan rahang keras tengah melemparkan lelucon pada dua orang yang terlihat seperti sepasang kekasih di depannya. Jung Yuan memandangi sosok berambut coklat panjang yang bergelayut manja di rengkuhan lelaki berambut cepak lainnya. Cantik. Sungguh, pada awalnya Jung Yuan mengira bahwa ia adalah perempuan. Namun bukan. Saking cantiknya Jung Yuan bahkan berani bertaruh bahwa banyak perempuan yang amat iri padanya.
Lalu mata Jung Yuan beralih ke sosok berambut hitam legam dan bermata emas. Tidak seperti ketiga kawannya yang santai bercanda, lelaki itu malah sibuk mematung meman-dangi Jung Yuan. Sesaat, Jung Yuan berpikir apakah ia punya salah pada lelaki itu? Apakah ia pernah secara tidak sengaja menyinggungnya entah di mana? Jung Yuan memang tipe orang yang pelupa, perlu waktu yang cukup lama untuknya mengenali wajah dan nama orang. Jadi ia risih sendiri ketika dipandangi seperti itu.
Lalu citra-citra bermunculan. Ingatannya seolah berlari ke masa yang jauh sebelum ini. Satu citra kecil muncul dan berlalu dengan cepat—seorang lelaki yang amat mirip dengan si pemilik mata emas membelai lembut wajah Jung Yuan dan mengucapkan sesuatu—tapi Jung Yuan tidak tahu apa yang ia katakan karena citra itu lenyap secepat kemunculannya. Kemudian nampak citra lain lagi yang terasa lama dan seakan nyata. Sosok yang amat mirip dengan si mata emas mengejarnya riang di pinggir danau di tengah hutan. Jung Yuan bisa merasakan dedaunan kering di bawah kaki telanjangnya saat sosok itu berhasil menangkap Jung Yuan, gejolak geli ia rasakan saat tangan kokoh itu menggelitiki bagian perut Jung Yuan. Ia merasa bahagia sekali. Bahkan rasa rindu mulai menyengat kuat di hati. Serupa nostalgia. Lalu suara tawanya terbawa angin. Dan citra itu hilang.
“Namanya Quan Wei Feng.”
Huh?
Jung Yuan terkejut dengan suara baru yang tiba-tiba muncul di dekatnya, bingung. “Namanya Quan Wei Feng. Dari tadi kamu memandanginya tanpa berkedip sekalipun. Kukira kamu ingin berkenalan dengannya.”
Lelaki asing yang berbicara pada Jung Yuan itu menyeret kursi kosong dari meja sebelah dan menempatkan pantatnya di samping Shin Qing. Wajahnya campuran Asia Timur dan Kaukasian. Tampan sekali. Sejenak, Jung Yuan merasa bahwa lelaki campuran ini sama seperti sekelompok patung porselain di pojok kantin sana.
“Dan kalau kamu bertanya-tanya mengapa aku mirip dengan mereka,” telunjuknya mengarah pada gerombolan si mata emas, seolah tahu apa yang ada di pikiran Jung Yuan, “itu karena aku adalah adiknya Wei Feng.”
Jung Yuan kikuk sendiri dibuatnya. Ia malu karena tertangkap basah memandang lama orang yang bernama Wei Feng itu. Tapi sungguh, Jung Yuan tidak ada maksud apa-apa ketika matanya tertaut pada si mata emas. Malah seharusnya ia yang heran, kenapa dari tadi pagi Wei Feng dengan beraninya menatap Jung Yuan seolah ia punya hutang lima ratus triliun?
“Eh, tapi wajah kalian tidak mirip?” Itu yang Jung Yuan keluarkan setelah membandingkan keduanya. Postur dan aura memang mirip, namun wajah sama sekali berbeda.
“Saudara tiri.” Ia menjawab singkat. Jung Yuan hanya mengeluarkan kata oh kecil dari mulutnya.
“Heh, Xiao Tian! Mau apa kau di sini?” Suara Shin Qing melengking ketika menyadari ada makhluk lain yang telah duduk di sampingnya. “Pergi sana jauh-jauh! Ini bukan tempatmu!”
“Woah, sepertinya enak nih?” Bukannya pergi, Xiao Tian malah mengambil sepotong daging dari kotak makan milik Shin Qing. Terang saja kemarahan si Shin Qing makin menjadi-jadi.
“Terkutuk kau makhluk nista!”
“Tenang sayang, tenang...” dipanggil sayang, untuk sedetik Jung Yuan sempat melihat sekelumit warna merah muda di pipi Shin Qing. Ia ingin tertawa, namun sopan menahan.
“Dan biarkan aku memperkenalkan diri untuk dua orang yang kulihat baru di sini. Namaku Xiao Tian. Quan Xiao Tian.” Matanya mengarah ke Jung Yuan lantas Zhongguo. Tersenyum.
“Kita sehati, ternyata kau senang ya menggodai Shin Qing?” Zhongguo melirik sebentar ke arah Shin Qing, yang dibalas dengan tatapan judes menyalak. “Oh ya, ngomong-ngomong namaku Zhongguo. Dan orang yang duduk di seberangmu itu Jung Yuan, kakakku.”
Jung Yuan tersenyum, tidak mengeluarkan kata-kata lain. Sejujurnya ia sangat ingin mengajukan berbagai macam pertanyaan pada Xiao Tian. Hatinya sudah terlampau ber-gejolak dengan rasa penasaran yang amat mendesak. Kenapa Wei Feng terus-terusan menatapnya? Dan kenapa pula ada kilasan yang tiba-tiba muncul di kepalanya? Namun Jung Yuan menahan semua pertanyaan itu di dada. Apalagi ketika ia secara jelas merasakan selubung tidak suka yang muncul dalam diri Xiao Guan semenjak kehadiran Xiao Tian. Jung Yuan bisa merasakan tubuh lelaki tinggi besar itu menegang dengan rahang yang mengeras. Cengiran yang sepagi ini ia tumpahkan bahkan hilang tak berbekas. Seperti seekor singa yang wilayahnya terancam akan direbut? Mungkin. Bahkan Jung Yuan sendiri merasa takut pada reaksi tiba-tiba Xiao Guan itu.
Ah, nanti saja tanyanya, batin Jung Yuan.

ζ

ZHONGGUO dan Jung Yuan sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Hujan lebat membungkus kota kecil itu. Gumpalan awan hitam seakan tidak bosan tidak mau beranjak dari sana. Satu-dua tetes air mengenai kaca jendela truk pick up Chevrolet keluaran tahun 1964 yang mereka kendarai. Udara terasa lembab dan dingin. Sepanjang perjalanan, mereka berdua membicarakan kelakuan Shin Qing di kantin tadi. Zhongguo beranggapan bahwa meskipun si gendut itu terus-terusan merajuk ketika digodai oleh Xiao Tian, ia yakin bahwa sebenarnya Shin Qing menaruh hati padanya. Dan Jung Yuan sepakat. Siapa pula yang tidak terpikat oleh ketampanan seorang Xiao Tian?
Namun, ketika sampai di daerah yang sepi perumahan, perbincangan mereka terhenti. Jung Yuan merasa ada seseorang yang mengikuti truk mereka. Dari kaca spion, ia mengamati jalanan di belakang yang mulai berkabut. Di kejauhan, Jung Yuan samar-samar melihat sepasang lampu sorot mobil yang menerobos lebatnya hujan. Ia tidak tahu jenis dan warna apa mobil itu, sebab yang ia lihat hanyalah terang sorot lampunya belaka. Terlalu berkabut kalau boleh dibilang.
Lima menit kemudian Jung Yuan merasa risih dengan kehadiran mobil itu. Padahal Zhongguo menyetir dengan kecepatan yang amat lambat, seharusnya mobil tersebut bisa menyalip mereka dengan mudahnya. Tapi tidak. Mobil itu justru mengekor terus berada di belakang truk keduanya. Jung Yuan jadi merinding sendiri.
“Zhongguo-er,” Jung Yuan memanggil nama adiknya lirih.
“Hmm?”
“Sepertinya dari tadi ada yang mengikuti kita.”
Sejenak, Zhongguo menoleh ke arah Jung Yuan yang wajahnya benar-benar terlihat khawatir. Satu alis terangkat. Lalu, matanya mengarah pada spion.
“Ah, jangan menakut-nakuti, gege,” Zhongguo beru-saha santai dan mengeluarkan tawa kecil. “Ini kan hujan, tidak mungkin kalau lebat-lebat begini si pengendara mobil ceroboh melaju dengan cepat. Bisa bahaya nanti.”
Jung Yuan berpikir lagi, lalu mengangguk. “Ya, mungkin kamu benar. Aku yang terlalu paranoid.”
Tetapi, sisa penasaran masih belum menguap ketika truk yang mereka kendarai merapat di depan rumah. Sebelum masuk, Jung Yuan memutuskan untuk menunggu kedatangan si mobil penguntit itu dulu dari beranda rumah. Lima detik. Dan mobil itu tiba-tiba melaju sangat cepat melewati jalanan depan rumahnya. Secepat kilat. Sekedipan mata.
Sungguh, pada sepersekian detik ketika mobil itu melaju melewati depan rumahnya, Jung Yuan bersumpah bahwa ia sempat melihat sapasang mata menatap dingin ke arahnya. Tanpa senyum, tanpa ekspresi. Mata itu begitu tajam dan mengintimidasi.
“Woah! Lajunya cepat sekali!” Jung Yuan melencing kaget ketika adiknya berteriak tepat di belakang telinga. Ternyata dari tadi Zhongguo juga menunggu kedatangan si mobil penguntit.
“Dan itu Bugatti, Zhongguo. Bugatti.” Jung Yuan menyeloroh.
“Yah... tapi aku jauh lebih menyayangi seonggok mobil merah tua itu.” Tertawa.



RUPA ASING


JUNG YUAN merasakan ada sebuah tangan yang menyentuh kulit pipinya. Matanya memang masih terlelap, namun indranya cukup peka terhadap sentuhan dalam tidurnya itu.
“Yuan...”
Suara itu lembut mendayu memanggil namanya, seperti nyanyian. Membuat Jung Yuan penasaran siapakah gerangan yang tengah malam begini berusaha membangunkannya dari tidur?
Perlahan, Jung Yuan membuka kedua matanya. Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat sosok lelaki cantik yang tengah membungkuk di atasnya. Tersenyum indah. Matanya yang biru bening menatap penuh kasih. Begitu indah. Wajahnya benderang, seolah tertimpa cahaya rembulan.
“Mama...”
Jung Yuan terkejut pada suaranya sendiri. Entah kenapa ia tiba-tiba mengeluarkan kata itu. Padahal lelaki ini bukan ibunya. Beliau sudah meninggal lama, dua tahun yang lalu. Dan ibunya adalah seorang omega wanita, bukan omega pria. Wajah keduanya pun jelas sangat berbeda. Lelaki ini bukan ibunya.
Tetapi sungguh, kehadirannya seolah menyengat hati Jung Yuan pada rasa rindu yang amat berat. Rasa rindu pada sosok seorang ibu.
Sang lelaki tersenyum, kehangatannya menyeruak pada dada Jung Yuan. Membuat ia amat ingin memeluk si lelaki.
“Maafkan Mama, sayang...”
Suaranya mendayu lagi. Lantas dengan lembut, bibir pucatnya mengecup ringan puncak kepala Jung Yuan. Dan Jung Yuan hanya terdiam. Ia sama sekali tak keberatan dengan aksi lelaki ini. Justru ia sangat rela. Meskipun sosoknya asing, namun hati Jung Yuan terasa amat dekat dengannya. Terlalu familiar pada sosok indah ini.
Ketika kepala sang lelaki terangkat kembali, Jung Yuan agak terkejut melihat air mata yang tiba-tiba jatuh di pipi sang lelaki. Wajahnya berubah sendu, seolah mengungkap-kan rasa penyesalan yang amat luar biasa.
“Maafkan Mama, sayang...”
Suara itu mengecil, namun masih terdengar seperti sebuah alunan senandung. Lantas entah bagaimana, tubuh sang lelaki seolah tersedot pada cahaya benderang di belakangnya. Tangannya berusaha meraih Jung Yuan, tetapi tidak bisa. Makin lama, wajah sendunya makin jauh dan mengabur, terseret angin. Kemudian hilang sepenuhnya.
Pletak!
Suara kaca beradu dengan benda keras membuat Jung Yuan terbangun kaget. Ia terkesiap. Matanya berkedip-kedip ringan menyesuaikan lingkungan.
Oh, jadi tadi itu hanya mimpi, batin Jung Yuan.
Ia kira itu adalah benar. Sebab rasa-rasanya mimpi itu terasa amat nyata dan lama. Sampai ia sendiri menyangka bahwa mimpi tersebut adalah nyata, sementara kenyataan yang sekarang adalah mimpi. Jung Yuan bahkan belum sempat menanyakan siapa gerangan lelaki dalam mimpinya itu. Ia penasaran pada sosoknya yang terlampau seperti seorang ibu bagi Jung Yuan.
Pletak!
Suara itu lagi. Jung Yuan cepat-cepat menyingkap selimut tebal yang membungkus tubuh langsingnya, kemudian berjalan agak sempoyongan ke jendela besar di kamarnya. Ia menyingkap tirai dan membuka jendelanya lebar-lebar. Hari ini cerah. Tidak ada sesaput awan pun terlihat. Matahari sudah menyala terang, menyilaukan kedua mata. Burung-burung juga telah mesra berkejaran.
Di bawah sana, di dekat pepohonan jeruk, Xiao Guan tengah berdiri dengan satu tangan yang siap melempar kerikil kecil ke jendela kaca kamar Jung Yuan. Namun buru-buru mengurungkan niatnya ketika kepala Jung Yuan sudah menongol keluar. Nyengir.
“Turun, Putri Tidur. Temani aku menyemprot kebun jeruk milik ayahmu!” Xiao Guan setengah berteriak pada Jung Yuan.
Mata Jung Yuan melirik ke sebelah Xiao Guan. Di sana, ada sebuah tengki kecil yang biasa digunakan ayahnya untuk menyemproti pepohonan jeruk agar terhindar dari hama.
“Oke, tunggu sebentar!” Jung Yuan menjawab cepat, lantas membalikkan tubuhnya ke kamar mandi sekadar untuk mencuci muka dan gosok gigi.
Hari ini hari sabtu, ia sedang tidak ada niatan untuk mandi. Lagipula, ada Xiao Guan yang telah menunggunya di luar sana. Tidak sopan kalau ia harus membuat satu temannya itu menunggu lama.
Sambil menggosok gigi, pikiran Jung Yuan melayang pada beberapa kejanggalan yang menimpanya akhir-akhir ini. Diawali dengan tatapan si mata emas. Selama seminggu, Wei Feng tak pernah absen memperhatikan gerak-gerik Jung Yuan. Matanya selalu lekat tak terlewat walau barang sedetik. Lalu kilasan-kilasan asing yang tiba-tiba muncul di kepala. Belum lagi dengan tatapan mata super dingin yang ia terima dari si misterius pengendara mobil Bugatti seminggu yang lalu. Dan terakhir adalah mimpi aneh yang barusan ia alami. Jung Yuan jadi merasa heran sendiri pada peristiwa-peristiwa itu. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah merasakan apapun. Tidak untuk soal-soal yang aneh begini.
Ketika Jung Yuan turun ke dapur, ia tidak mendapati sosok Zhongguo dan ayahnya di sana. Melainkan hanya secarik kertas dengan tinta hitam yang tergeletak di atas meja makan. Lengkap dengan roti lapis, susu, dan botol kecil berisi obat untuk Jung Yuan. Mereka tengah pergi ke kota sebelah mengantarkan pesanan jeruk.
Hati Jung Yuan agak merajuk mengetahui perilaku sang ayah yang telah repot-repot membuatkannya sarapan. Padahal Jung Yuan bisa membuatnya sendiri. Dan tanpa disuruh pun ia selalu rajin mengonsumsi obatnya tanpa terlewat barang sehari. Tapi ayahnya memang begitu. Selalu cerewet dan berlebihan. Apalagi setelah kematian sang ibu, beliau bahkan membatasi gerak-gerik Jung Yuan bila ada teman yang ingin mengajaknya pergi keluar. Namun meskipun merajuk, toh Jung Yuan tetap menyayangi sisi ayahnya yang satu ini. Ia amat bersyukur punya ayah dan adik yang terlampau baik kepadanya.
Jung Yuan lantas keluar rumah dan menghampiri Xiao Guan. Di sana, ia tengah duduk di bawah salah satu pohon jeruk yang cukup teduh. Wajahnya tertekuk terlihat bosan setengah mati. Bibirnya mengerucut ketika melihat keda-tangan si lelaki cantik. Namun Jung Yuan malah menyambutnya dengan tertawa kecil.
“Lama sekali, Tuan Putri,” ucap Xiao Guan.
“Jangan berlebihan! Ini baru sepuluh menit, Guan,” Jung Yuan berdesis. “Dan jangan panggil aku Tuan Putri.” 
Xiao Guan bangkit dari atas tanah dan menepuk-nepuk pantatnya yang kotor penuh dedaunan kering. Ia mengamati wajah lelaki cantik itu lamat-lamat. “Kamu terlihat pucat, tidak apa-apa kan?”
“Eh, iya kah?” Jung Yuan mengangkat satu alisnya. Kedua tangan menepuk lembut kedua pipi. “Ah, mungkin gara-gara tadi malam tidur terlalu larut. Dan jangan lupa pada kelakuan seseorang yang telah membuatku terbangun kaget tadi. Bisa tidak sih pakai cara yang normal?” Jung Yuan melirik kejam ke arah si lelaki jahil yang ada di depannya.
Yang dituduh hanya garuk-garuk kepala sambil nyengir tak berdosa. “Kan biar luar biasa dan terkenang indah dalam hati.” Mengerling.
Jung Yuan melengos. Keduanya mulai menyemproti pepohonan jeruk sambil sesekali bercanda. Terkadang Jung Yuan juga ikut membantu, namun lebih banyak Xiao Guan yang melakukannya. Dan kalau kalian heran mengapa pagi-pagi begini Xiao Guan sudah ada sini sementara rajin menyemproti pepohonan jeruk, itu karena ayah Jung Yuan sendiri yang menyuruhnya. Malam setelah hari pertama masuk sekolah, Zhongguo bercerita banyak soal Xiao Guan. Ternyata selama ini, sebelum kepindahan Tuan Han dan kedua anaknya, Xiao Guan memang selalu menyempatkan diri untuk membantu kakek Jung Yuan di kebun ini. Keluarga besarnya dan keluarga besar Jung Yuan, sudah turun temurun menjalin hubungan yang sangat akrab. Zhongguo bilang, rumah Xiao Guan juga tidak terlalu jauh dari kediaman mereka. Sekitar lima belas menit kurang lebihnya.
“Hei, nanti malam keluargaku bakal mengadakan acara makan-makan besar. Mau datang?” Xiao Guan menawari. Tangan dan matanya masih sibuk mengurusi tengki kecil yang ia gunakan untuk menyemprot pepohonan jeruk.
Jung Yuan menimbang-nimbang. Ia ingin datang, tetapi ragu. Meskipun Zhongguo mengklaim bahwa keluarga besarnya telah dekat dan saling mengenal, namun Jung Yuan adalah sosok baru di sini. Lagipula, ia bukanlah tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain. Introvert, mereka bilang. Jung Yuan membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun keburu dipotong oleh Xiao Guan duluan.
“Jangan khawatir. Dijamin, mereka semua orangnya ramah-ramah.”
“Tapi...”
Xiao Guan membalikkan badannya ke arah Jung Yuan, lantas berkata, “Ajak Zhongguo dan ayahmu kalau kamu masih ragu.”
Dan malamnya Jung Yuan benar-benar datang bersama ayah juga adiknya.
Dari luar, rumah Xiao Guan kelihatan biasa-biasa saja. Sepi, seolah sedang tidak ada perayaan di sana. Namun, ketika Jung Yuan mengikuti ayahnya ke halaman belakang rumah itu, Xiao Guan benar-benar tidak berbohong ketika tadi pagi ia mengatakan keluarga besar. Benar-benar keluarga besar. Ramai sekali. Beberapa pasang remaja dan dewasa seusia Jung Yuan dan ayahnya, tengah bersenandung riang mengelilingi api unggun besar. Ada yang menari, ada pula yang mengiringi dengan gitar. Anak-anak kecil ceria berlarian. Satu-dua ada yang tak sengaja menabrak Jung Yuan. Dan bukannya meminta maaf, mereka malah terkikik sambil menyeret-nyeret tangan Jung Yuan ke kumpulan orang dewasa itu.
Oh, ini pasti kelakukan Xiao Guan yang menyuruh mereka menarik-narik lenganku, batin Jung Yuan.
Awalnya Jung Yuan kikuk. Namun, siapa pula yang bisa menolak ajakan anak-anak lucu begini? Ia akhirnya menyerah dan menuruti keinginan mereka untuk ikut berkumpul.
Sementara sang ayah tengah menyapa hangat kerabat lamanya, Zhongguo malah sibuk sendiri mendekati seorang lelaki manis di seberang perapian sana. Sesekali kelihatan kikuk, namun pipinya lekas memerah ketika si lelaki manis balas sedikit menggodanya.
Jung Yuan merasa keterpencilan merasuki tubuhnya. Bukannya ia tidak terbiasa dengan keterpencilan, justru sangat terbiasa. Tetapi keramaian keluarga ini membuat dirinya merasa berbeda dan memunculkan rasa sepi yang begitu khas.
Ia berdiri di antara anak-anak kecil yang mengajaknya bermain bersama seekor anjing yang mengenakan mantel Superman di punggung dan huruf “S” besar di dada. Anjing itu tampak lucu dalam balutan kostum tersebut. Tanpa sadar beberapa lama kemudian Jung Yuan telah ikut tertawa bersama mereka. Dan tawa itu membuat anak-anak tersebut makin percaya diri mengajak Jung Yuan untuk menari di dekat perapian. Bergabung dengan orang yang lebih tua lainnya. Ia bahkan tak menggubris ketika ada seseorang yang tiba-tiba menarik lengannya dan mengajak Jung Yuan menari ceria. Lambat laun ia menikmati daratan kehangatan itu.
Sementara dari jarak beberapa meter, Xiao Guan dan Quan Sheng tengah berdiri di dekat pohon pinus besar sambil memperhatikan si lelaki cantik menari riang.
“Dia masih sama.”
Xiao Guan mengangguk, “Ya. Dan aku berani bertaruh bahwa dia makin kelihatan cantik.”
“Sangat amat cantik,” Quan Sheng membetulkan.
Xiao Guan memandang sinis ke arah sepupunya itu, satu alisnya tertaut ke atas. “Jangan jatuh cinta padanya ya.”
“Tidak akan. Aku sudah punya Chen.”
“Haha. Kupegang janjimu.”
Xiao Guan lantas berjalan ke tengah keramaian menuju tempat Jung Yuan berada, mengusir Jun Mian dan merebut tempatnya agar bisa menari bersama Jung Yuan.
“Besok Li Huan-gege mengajak kami ke pantai. Mau ikut?” tanya Xiao Guan di tengah-tengah dansa.
“Aku tidak yakin ayah bakal mengizinkan.”
“Tenang, aku sudah meminta izin pada ayahmu.”
Jung Yuan mengernyitkan dahinya. “Oh, ya? Kapan?”
“Barusan, sewaktu kamu asik menari bersama Jun Mian dan mencuekiku,” wajah Xiao Guan pura-pura mengguratkan rasa cemburu pada sepupunya yang bernama Jun Mian itu.
Jung Yuan lembut tertawa. “Oke, nanti aku bilang pada ayah dulu. Ajak Zhongguo tidak apa-apa kan?”
Xiao Guan tersenyum. “Tentu.” 

ζ

PAGINYA, Zhongguo dan Jung Yuan mengendarai truk ke kediaman Xiao Guan. Tadi sebelum berangkat, ayahnya sempat ribut dulu. Berkali-kali mengingatkan Jung Yuan agar di pantai tidak terlalu kecapaian, jangan berlarian, dan kenakan pula jaket dan sweater tebal. Tentu saja yang diterima hanya sweater, sementara jaketnya ia tolak. Sebab, dia kan mau ke pantai bukan naik gunung bersalju? Bahkan sang ayah juga memaksanya untuk membawa nasal cannula. Awalnya Jung Yuan menolak, karena Jung Yuan yakin ia tidak akan memerlukannya hari ini. Dan toh itu hanya perjalanan ringan ke pantai, bukan berkemah selama berhari-hari. Namun, ayahnya mengancam akan membatalkan rencana Jung Yuan ikut ke pantai kalau ia menolak untuk membawanya.
“Kalau saja kamu perginya dengan orang lain, dan bukan dengan keluarga Wu, ayah tidak akan segan-segan melarangmu keluar hari ini,” begitu kata beliau serius. Yang lantas membuat Jung Yuan langsung menurut tanpa protes lagi.
Ketika kedua bersaudara itu sampai di kediaman Xiao Guan, sudah ada sebuah mobil Volvo yang terparkir di sana. Ada tujuh orang dari keluarga Wu yang ikut ke pantai. Jung Yuan samar-samar mengenali sosok mereka yang tadi malam Xiao Guan kenalkan. Quan Sheng, Jun Mian, Jin, Buo Xian, Shi Zhang, dan Li Huan. Yang terakhir itu awalnya Jung Yuan kira bahwa Li Huan seumuran dengan dirinya dan Xiao Guan, namun kiraan itu lekas hilang ketika Xiao Guan berkata, “Jangan tertipu oleh wajahnya. Li Huan-gege itu sudah 27 tahun.” Tak pelak mulut Jung Yuan langsung menganga lebar karena tak percaya. Sebab saudara Xiao Guan yang satu itu masih kelihatan sangat muda dengan wajah yang sangat manis.
Ketika segalanya telah siap, Xiao Guan tiba-tiba berjalan ke arah truk Jung Yuan dan duduk di kursi penumpang. Membuat Jung Yuan makin merapat ke tengah kursi sambil mencengkeram erat tas ransel denimnya.
“Yuan-er, kamu bisa duduk di pangkuanku kalau merasa kesempitan,” goda Xiao Guan dengan satu kerlingan nakal matanya.
“Jangan harap.” Jung Yuan berdesis. “Lagipula, kenapa kamu ada di sini?”
“Mobil Shi Zhang-gege sudah penuh, jadi yah, satu-satunya yang tersisa hanya di sini.”
Zhongguo yang dari tadi diam hanya tertawa, kemudian berkata, “Xiao Guan, kenapa tidak kamu saja yang menyetir? Aku juga ingin duduk di bak belakang.”
Dan sebelum Jung Yuan protes, sebelum ia mampu bersuara, Zhongguo sudah keluar dari truk sementara Xiao Guan mengiyakan dengan cepat. Mereka berpindah posisi layaknya tidak ada orang lain yang keberatan.
“IPodku ada di sana,” kata Zhongguo pada Xiao Guan dari bak belakang mobil, “Bisa kamu nyalakan keras-keras, Guan?”
“Oke.” Si pemilik tubuh tinggi lantas mulai menyekrol semua daftar putar yang ada dalam iPod milik Zhongguo, kemudian menyetel salah satunya. Sebuah nada agresif keluar dari speaker, terdengar seksual.
Dan tanpa ba-bi-bu, Xiao Guan dan Zhongguo langsung menyanyi mengikuti dentuman lagu itu. Sangat semangat sampai-sampai tidak menyadari pipi Jung Yuan yang memerah akibat lirik yang terlalu sensual.
“Aku suka lagu ini,” kata Xiao Guan.
“Begitu juga denganku,” Jung Yuan menggerutu sarkastik.
Ia membiarkan Xiao Guan tertawa atas gerutuannya sebelum Jung Yuan mengalihkan kepalanya menatap ke luar jendela. Sudah satu jam mereka berkendara. Di kotanya tadi, cuaca agak mendung. Namun di hilir sini, langitnya nampak terbuka lebar sementara matahari terang menyilaukan.
Di belakang, Zhongguo kelihatan riang-riang saja. Terkadang sambil berteriak-teriak kencang menyenan-dungkan lagu yang terputar, kedua tangan ia julurkan ke atas layaknya tengah berada di sebuah konser besar.
“I’M JUST THE SUCKER FOR PAIN!” teriak Zhongguo percaya diri. Membuat seorang lelaki tua yang kebetulan lewat menaiki sepeda terkaget dan hampir terperosok ke semak-semak rimbun, menghadirkan tawa pada dua orang yang ada di kursi penumpang.
“Ke mana perginya adikku yang polos dan pemalu itu?” desah Jung Yuan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sang adik.
Xiao Guan terkikik. “Biarkan saja, dia itu sedang senang karena tengah kasmaran.”
Mendengar itu, lantas saja tubuh Jung Yuan segera ber-balik menghadap ke arah Xiao Guan, penasaran. “Bohong!”
“Kalau tidak percaya, lihat saja nanti di pantai.”
Jung Yuan membalas oh pelan sambil mengingat-ingat kembali kejadian semalam, sewaktu Zhongguo sibuk menimbrung lelaki manis yang Jung Yuan lupa namanya. Agaknya mereka sudah saling mengenal sebelum kepin-dahannya ke sini.
Dan benar kata Xiao Guan. Sesampainya di pantai, Zhongguo dan si lelaki manis adalah dua orang pertama yang kabur duluan. Mereka tanpa malu apalagi ragu menghilang dari penglihatan mata secepat kilat melesat.
“Sangat indah,” suara lirih bernada kekaguman itu keluar dari mulut Jung Yuan.
Xiao Guan mengangguk, memandangi sosok si lelaki cantik yang seolah ikut bersinar di bibir pantai. Hanya mereka berdua di situ, yang lain sudah memencar bersama pasangannya masing-masing. Mencari pojok yang cukup sepi untuk memadu kasih.
“Kamu serupa musim panas,” ucap Xiao Guan pada Jung Yuan. Kata itu keluar begitu saja dari mulut Xiao Guan, tanpa ia duga atau rencanakan sebelumnya.
Terang saja, mata indah Jung Yuan langsung beralih pada Xiao Guan. “Memangnya musim panas itu seperti apa?”
“Hangat. Indah, berseri, dan menyejukkan hati.”
Jung Yuan tertawa kecil. “Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak.”
“Tapi itu benar. Aku tidak berbohong.”
Dan Jung Yuan memprotes lagi. Lagi. Dan lagi. Namun, karena makin lama protesan itu makin keras ditampik oleh Xiao Guan, Jung Yuan akhirnya menyerah. Membiarkan si pemilik tubuh tinggi melayangkan seribu kata pujian berima pada dirinya.
“Hei,” kata Xiao Guan beberapa lama kemudian. “Boleh aku mengambil gambar dirimu?”
Si lelaki cantik cepat-cepat menggelengkan kepalanya. “Tidak boleh.”
“Janji. Aku nggak akan menunjukkannya pada siapa-siapa.” Ucap Xiao Guan diiringi dengan suara jepretan dari kamera ponselnya. Mata Jung Yuan langsung membulat me-nyadari itu.
“Hei, itu curang namanya!” seru Jung Yuan jengkel. “Kemarikan ponselmu!”
Bukannya menuruti kata-kata Jung Yuan, Xiao Guan justru lari dan menghindar dari amukan si lelaki cantik. Ia menggodai Jung Yuan di sepanjang bibir pantai.
Dan meskipun mukanya kelihatan jengkel, tetapi sejujurnya hati Jung Yuan merasa amat senang hari ini. Sudah lama ia tidak liburan. Ayahnya hampir selalu melarang Jung Yuan kalau ada satu-dua temannya yang mengajak keluar. Apalagi ke pantai. Jarang-jarang ia bisa melihat indahnya lautan di kala secerah ini.
Namun, ketika Jung Yuan hampir berhasil meraih ponsel dari tangan Xiao Guan, lelaki jahil yang ada di depannya ini tiba-tiba berhenti mendadak. Tubuhnya menegang, rahangnya mengeras, dan matanya menatap tajam ke depan. Sejenak, Jung Yuan jadi teringat hari pertamanya di sekolah ketika Xiao Guan bereaksi sama persis seperti ini. Ia lantas mengikuti tatapan mata Xiao Guan lurus ke depan.
Entah kebetulan atau takdir yang mempertemukan, hati Jung Yuan seketika merasakan rasa rindu berat itu lagi. Di sana, di dekat bebatuan besar, mata Jung Yuan bertemu muka dengan si pemilik mata emas. Wei Feng tidak hanya sendiri. Ada lima orang yang berdiri di dekatnya. Sosok mereka terlihat seperti model majalah terkenal yang sedang melakukan pemotretan alam di pantai. Empat lelaki telah ia kenali sebagai Ming Huan, Shin Zhang, Min Qing, dan Xiao Tian. Tetapi lelaki yang satunya...
Sebentar. Bukankah dia itu...
Mata lelaki yang namanya tidak ia kenali tersebut serasa amat familiar bagi Jung Yuan. Tajam, dalam, dingin, dan mengintimidasi. Ia mengingat-ingat lagi. Pikirannya melayang pada masa seminggu yang lalu ketika ada mobil Bugatti hitam yang menguntitnya di kala hujan. Ya, tidak salah lagi. Dia itu orang yang sama.
Matanya dalam memandang mata Jung Yuan.
Tidak seharusnya kau kembali ke sini.
Jung Yuan tersentak. Ada sebuah suara yang tiba-tiba memasuki kepalanya. Dalam dan berat. Lantas sepersekian detik setelah suara itu berhasil membuatnya kaget, lutut Jung Yuan mendadak jatuh ke atas pasir. Napasnya tiba-tiba tersengal, menyembur pendek-pendek. Dadanya juga terlihat naik-turun dalam kecepatan yang cukup tinggi. Dari kejauhan, di tengah sengalan itu, ia menangkap sosok Li Huan, Shi Zhang, dan Jun Mian datang terburu-buru dengan wajah khawatir.
“Jung Yuan!” Xiao Guan berseru panik. “Kau tidak apa-apa?”
Ia hanya menggeleng lemah, tidak mampu menge-luarkan kata-kata. Sedetik kemudian, Li Huan dan Shi Zhang telah menoweri tubuh Jung Yuan. Sementara Jun Mian terlihat berdiri dengan tatapan penuh amarah tertuju pada enam lelaki yang tengah berdiri di dekat bebatuan besar. Reaksinya sama seperti Xiao Guan tadi, menegang dengan mata berkilat tajam. Dan Jung Yuan menyadari bahwa sikap mereka itu kelewat aneh. Seolah, mereka itu adalah dua kubu singa yang tak akur sebab masalah yang telah lalu.
“Xiao Guan, bawa Jung Yuan kembali ke mobil. Cepat!” Perintah Li Huan pada Xiao Guan. “Biar kami yang mengatasi sisanya.”
Jung Yuan tidak tahu apa yang dimaksud Li Huan dengan “mengatasi sisanya”. Saat ini ia tak bisa menanyakan apa-apa pada mereka. Jung Yuan biarkan tubuh mungilnya diangkat oleh Xiao Guan. Dari rengkuhannya yang hangat, ia bisa merasakan panik luar biasa menyelubungi si pemilik tubuh kekar ini. Makin lama Jung Yuan merasakan napasnya makin terasa sesak, kedua tangan ia taruh di atas dada sambil mencengkeramnya kuat-kuat.
Dan anehnya lagi, ketika sampai di parkiran mobil, Jung Yuan samar-samar bisa melihat tiga sosok lelaki telah berada di dekat mobil Volvo milik Shi Zhang. Itu Jin, si lelaki manis, dan adiknya, Zhongguo. Wajah mereka terlihat cemas bukan kepalang. Apalagi Zhongguo yang sudah siap dengan sebuah tabung oksigen di tangan. Seolah, ketiga lelaki itu telah mendapat telepati dari Xiao Guan untuk segera datang dan menyiapkan segalanya.
Xiao Guan lekas menaruh tubuh Jung Yuan di jok belakang dengan hati-hati, lantas membiarkan Zhongguo menangani sisanya. Melihat sang kakak yang semakin erat mencengkeram bagian dadanya, Zhongguo dengan cepat memakaikan selang bening yang dari tadi ia pegang pada Jung Yuan. Selang itu terbelah di bawah dagu, terselip di belakang telinga, dan berakhir di lubang hidung Jung Yuan. Setelah itu ia memutar nob untuk mengalirkan oksigen dari tabung tersebut.
Beberapa menit kemudian ketika napas Jung Yuan terlihat mulai teratur, Zhongguo bertanya, “Lebih baik?”
Yang ditanya tersenyum lemah. “Mhm.”
Setelah benar-benar merasa yakin bahwa napas kakaknya telah kembali normal, Zhongguo meninggalkan Jung Yuan dan Xiao Guan berdua. Ia kembali ke truk buntut tuanya bersama Jin dan si lelaki manis.
Untuk beberapa saat, Xiao Guan dan Jung Yuan hanya terdiam, pikiran mereka melayang entah kemana.
“Yuan—”
“Guan—”
Keduanya tak sengaja membuka suara secara bersamaan. Entah kenapa udara di sana tiba-tiba berubah menjadi canggung sekali.
“Duluan,” kata Jung Yuan kemudian.
“Baiklah,” Xiao Guan menghela napas berat, wajahnya menyiratkan rasa cemas dan penyesalan. “Maafkan aku. Gara-gara tadi kuajak berlari, paru-parumu jadi kambuh. Sungguh, maafkan aku, Jung Yuan.”
“Hei, itu bukan salahmu,” Jung Yuan tersenyum. “Aku malah amat senang bisa berlarian seperti tadi.”
“Tapi...”
“Lagipula, rasanya sudah lama sekali aku tidak men-jejakkan kaki di atas pasir pantai—” Ia menarik napas, berat dan dalam “—Seharusnya aku yang berterima kasih padamu.”
Itu memang benar. Jung Yuan berpikir, bahwa kambuhnya si paru-paru bukanlah disebabkan karena tadi ia berlari-larian. Melainkan karena suara itu. Suara amat berat dan dalam yang entah bagaimana bisa masuk ke dalam kepala Jung Yuan, kemudian membuat tubuhnya tiba-tiba lemas.
“Tidak. Ini salahku. Kumohon, akan kulakukan apa saja untuk menebus kesalahanku tadi.” Ucap Xiao Guan dengan wajah memelas.
Jung Yuan menghela napas. Anak ini benar-benar merasa bersalah karenanya. “Baiklah. Aku hanya minta dua hal.”
Xiao Guan menegakkan kepalanya, siap-siap mendengarkan permintaan Jung Yuan.
“Pertama, jangan beritahu ayahku soal kejadian ini.”
Mendengar itu, pundak Xiao Guan lekas turun kembali. Ia gelisah. Bingung. Padahal, janjinya pada ayah Jung Yuan adalah harus melaporkan apa pun yang terjadi pada anaknya kalau ia mau membawa Jung Yuan pergi.
“Aku serius Xiao Guan,” Jung Yuan memotong kebimbangan si lelaki bertubuh tinggi.
“Baiklah,” jawabnya agak terpaksa. “Lalu, permintaan yang kedua?”
Mata Jung Yuan mengarah pada saku celana Xiao Guan. “Hapus gambar-gambar yang tadi kamu ambil di bibir pantai.”
Si pemilik tubuh tinggi berpura-pura menampakkan wajah kecewa berat. “Yah... padahal ini kan harta karun paling berharga buatku.”
Namun, meskipun begitu, Xiao Guan tetap menghapus foto-foto itu di depan mata Jung Yuan. Yang lantas membuat hati si lelaki cantik menjadi puas.
“Hei, aku mau tanya sesuatu,” ucap Jung Yuan kemudian. Ia benar-benar sudah tak tahan lagi ingin bertanya soal perilaku aneh Xiao Guan dan saudara-saudaranya tadi.
“Hmm?”
“Kenapa tadi—”
“Sudah baikan, Jung Yuan?” Suara Li Huan tiba-tiba memotong pertanyaan yang begitu Jung Yuan ingin lontarkan.
Dengan sopan ia mengangguk, lantas tersenyum. “Ya, terima kasih.”
“Kalau begitu, kita pulang sekarang,” sosok Shi Zhang menyembul dari balik tubuh Li Huan.
“Tapi kan, ini baru sebentar?” tanya Jung Yuan heran. Ia menyesal. Karena dirinya, perjalanan mereka jadi harus terhenti secepat ini.
“Kau tahu sendiri, kami tidak bisa membiarkan kea-daanmu makin memburuk,” kali ini Jun Mian yang bersuara.
Jung Yuan membuka mulutnya untuk memprotes lagi, namun keburu dipotong oleh Shi Zhang. “Atau kamu mau kejadian ini kami laporkan pada ayahmu?” ancamnya.
Lantas saja Jung Yuan hanya bisa diam menuruti kata-kata mereka. Pulangnya, ia dan Xiao Guan bertukar tempat. Ia dan Xiao Guan duduk di jok belakang mobil Volvo milik Shi Zhang, sementara Zhongguo, Jin, si lelaki manis, dan Jun Mian mengendarai si truk Chevrolet tua.
Dan semenjak hari itu, hati Jung Yuan sungguh selalu merasa gelisah. Ia tidak tahu kalau kejadian janggal demi kejadian janggal akan saling menyusul di hari-hari berikutnya. Seluruh kehidupannya mendadak akan berubah seratus delapan puluh derajat.
Perang besar siap meletus di tanah yang ia tinggali kini. Dan ini bukan gurauan.



DUA PERTEMUAN

HARI itu, kata-kata asing tersebut terus terngiang di kepala Jung Yuan. Tanpa henti, tanpa jeda. Bahkan setelah ia berusaha mengenyahkannya jauh-jauh.
Tidak seharusnya kau kembali ke sini.
Suara itu berbicara seolah kehadirannya di sini adalah sebuah kesalahan. Tapi ia benar-benar tidak tahu apa kesalahannya pada si pemilik suara itu. Ia sama sekali tidak punya petunjuk akan hal aneh tersebut. Dan yang membuat Jung Yuan heran lagi adalah, seharusnya ucapan itu mampu membuatnya merasa tersinggung. Namun tidak. Entah mengapa kata-kata itu justru malah diamini oleh dirinya. Seolah ada rasa bersalah amat dalam yang hinggap dari masa lalu dan bersemayam di hatinya.
Bukan karena ia tak punya kenangan apapun. Ia ingat banyak hal sewaktu kecil dulu. Jung Yuan ingat, ketika hujan turun, ia pasti hampir selalu mengendap-endap keluar rumah untuk bermain air. Ayah dan Ibunya yang kehilangan Jung Yuan kecil akan panik dan ribut mencari-cari dirinya. Ia ingat betapa Ibunya akan memeluk tubuh Jung Yuan erat-erat sambil berkomat-kamit pada Jung Yuan agar jangan pernah ia mengulangi hal itu lagi. Lalu, ia juga ingat pada teman sepermainannya dulu yang mati-matian melarang Jung Yuan untuk tidak pindah ke kota kecil ini. Saat itu Jung Yuan tidak menyadari keanehan yang dia lakukan. Namun sekarang Jung Yuan menyadari, seolah teman sepermainannya itu tahu bahwa di sini ada sesuatu yang janggal.
Jung Yuan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Berhenti!
Sudah cukup baginya memikirkan hal-hal aneh semacam itu. Bukannya ia bermaksud untuk lari dari kenyataan, namun hari ini ia punya kesibukan lain daripada sekadar memikirkan suara asing tersebut.
Saat ini ia tengah berjalan seorang diri di koridor seko-lah menuju kelas pertamanya. Kondisi tubuh Jung Yuan sekarang sudah membaik. Ia bersyukur, sebab kemarin tidak ada satu orang pun yang mengadukan kambuhnya si paru-paru pada sang ayah.
“Pagi, manis,” Taiheng, si lelaki penggoda tiba-tiba berseru dan membuyarkan lamunannya.
Kepala Jung Yuan mendongak menoleh.
“Kenapa kamu bengong di sini, Yuan?” Taiheng tertawa riang. Dia pasti barusan berlari-lari kecil untuk menjangkau Jung Yuan yang jarang-jarang berjalan sendirian tanpa si dua pengawal.
“Eh, tidak.” Jung Yuan menyelipkan beberapa helai rambut hitamnya ke belakang telinga.
“Kau sudah mengerjakan tugasmu, Yuan?” Taiheng basa-basi bertanya. Lantas wajahnya seperti sedang membayangkan sebuah bencana besar jika Jung Yuan menjawab tidak.
Asal kalian tahu, menurut pengakuan dari teman-teman barunya di kelas, meskipun Guru Sheng masih kelihatan muda dengan wajah yang penuh kasih, namun untuk urusan kedisiplinan ia bisa berubah menjadi iblis dalam sekejap. Katanya, dulu beliau pernah menggebrak meja sangat keras gara-gara satu kelas hanya ada beberapa anak yang mengerjakan tugas. Makanya semenjak saat itu, tidak ada anak lagi yang berani bermalas-malasan ria. Takut terkena hukum, mereka bilang.
Jung Yuan tertawa. “Tentu saja.”
“Oh, syukurlah.” Taiheng ikut menghembuskan napas lega. “Kamu pasti sudah mendengar kalau Guru Sheng itu serupa malaikat pencabut nyawa, bukan? Haha. Aku bahkan dulu pernah dikeluarkannya dari kelas sekali. Iya kalau cuma disuruh keluar, aku malah disuruh berdiri sambil satu kaki terangkat pula. Kan malu.”
Jung Yuan hanya tersenyum mendengar pengakuannya. Mereka berdua sudah tiba di anak tangga kesekian ketika bel berdering dengan nyaring dan seseorang tak sengaja mena-brak Jung Yuan amat keras. Seluruh buku yang ada di tangannya dan si penabrak jatuh terserak di atas lantai.
“Heh, lihat-lihat kalau jalan!” Taiheng berseru ketus.
“Maaf maaf, aku sedang terburu-buru.” Ucap si lelaki sambil melirik jam tangannya gugup.
“Ya tahu, semua orang di sini juga sedang terburu-buru. Tidak hanya kamu seorang!”
Jung Yuan menepuk pundak Taiheng untuk memberi tanda bahwa ia baik-baik saja dan menyuruhnya untuk tenang. Si lelaki yang menabrak kemudian membereskan buku mereka, lantas meminta maaf sekali lagi dan langsung kabur ke kelas yang ditujunya.
Ketika semua buku telah berada di tangan Jung Yuan kembali, Taiheng menggerutu. “Anak itu sepertinya menaruh mata di pantat.”
Jung Yuan menatap Taiheng sejenak, lantas tertawa pada gerutuannya. Mereka berdua mempercepat langkah seperti anak-anak lain, kemudian masuk ke kelas Sejarah. Beberapa menit setelah Guru Sheng masuk ke dalam kelas dan menyapa anak-anak, ia langsung menagih tugas yang sebelumnya ia berikan.
Anak-anak sibuk mengambil buku tugasnya untuk dikumpulkan. Begitu juga dengan Jung Yuan. Namun, seketika ia tertegun. Jung Yuan mencari-cari bukunya yang semalam ia selipkan di buku pegangan Sejarah. Tidak ada. Lantas tangannya ribut mengaduk-aduk ke dalam tas. Tidak ada. Di mana buku Sejarahnya?
Jung Yuan mengingat-ingat lagi. Tadi malam setelah mengerjakan tugas, ia memang menyelipkan buku itu di sela-sela buku pegangan Sejarahnya. Lantas tadi pagi...
“Yang tidak mengumpulkan tugas, silahkan keluar dari kelas saya.” Titah Guru Sheng dengan suara yang amat tegas.
Karena takut nanti dimarahi, Jung Yuan sukarela mengangkat pantatnya dari atas kursi. Ia berjalan ke depan kelas bermaksud untuk keluar. Terang saja, semua mata yang berada di kelas itu menatapnya tak percaya. Mereka pikir, anak macam Jung Yuan mana mungkin berani tidak mengerjakan tugas? Apalagi setelah mendengar kejamnya Guru Sheng di kala marah.
“Kenapa kamu tidak mengerjakan tugas?” tanya Guru Sheng galak.
“Saya mengerjakan, sungguh.”
“Lantas?”
“Buku saya sepertinya terjatuh tadi di jalan.” Jung Yuan takut-takut memberi alasan.
“Itu sama saja namanya, ceroboh.” Guru Sheng mendesah. “Karena ini masih awal semester, saya kasih kamu bonus tidak usah mengangkat kaki di depan kelas. Melainkan menulis kata penyesalan dua lembar kertas penuh di perpustakaan.”
Jung Yuan mengangguk pasrah. “Baik, Guru.”
Namun, belum sampai kaki Jung Yuan melewati ambang pintu kelas, ternyata ada sosok lain yang mengikuti langkahnya keluar kelas. Jung Yuan menolehkan kepalanya untuk mengetahui siapa gerangan anak itu. Sungguh, kabar buruk bagi Jung Yuan, sebab anak itu ternyata adalah si lelaki bermata emas. Dan sama seperti dirinya, Guru Sheng tanpa ampun juga mengusir Wei Feng dari dalam kelas.
Napas anak-anak seketika tertahan melihat patung porselain itu berjalan keluar. Mata mereka terkagum melihat sosok si mata emas yang begitu memukau layaknya seorang model yang berjalan di atas karpet merah.
Ketika dirinya telah berada di luar kelas, Jung Yuan bisa merasakan tatapan Wei Feng dari belakang. Mereka berdua berjalan dalam diam. Tidak ada yang bersuara, pun Jung Yuan tidak berani menolehkan kepalanya ke belakang. Wei Feng itu aneh. Bahkan ketika keduanya sampai di perpustakaan, si mata emas malah lebih memilih tempat duduk persis di seberang Jung Yuan. Padahal tempat duduk lain masih banyak yang kosong. Membuat Jung Yuan jadi canggung setengah mati karena posisi mereka yang berhadap-hadapan. Hati Jung Yuan menggerutu, kenapa pula dia harus duduk di situ? Tidak adakah tempat lain?
Lama, mereka diam dalam pikiran masing-masing. Si mata emas ini dengan santainya tetap lekat menatap sosok Jung Yuan yang tengah menulis kata penyesalan di atas kertas. Ia hanya duduk di sana dengan tangan yang terlipat di atas meja.
“Hei,” Jung Yuan hampir meloncat dari bangkunya ketika suara si mata emas tiba-tiba terdengar. “Kemarin, apa kamu tidak apa-apa?”
“Eh?” hanya itu yang bisa Jung Yuan keluarkan dari mulutnya.
“Kemarin, di pantai kulihat paru-parumu kambuh. Apa kamu baik-baik saja?”
“Huh?” Jung Yuan bingung. Bagaimana dia bisa tahu kalau dirinya memiliki paru-paru yang buruk. “Bagaimana kamu tahu?”
Mendengar pertanyaan itu, Wei Feng seolah tersadar kalau tak seharusnya ia berkata seperti itu. Pikirannya cepat-cepat mencari sebuah alasan yang masuk akal untuk diberikan pada Jung Yuan. “Kulihat kemarin kamu jatuh dan napasmu tersengal-sengal tak keruan, jadi, kupikir ada masalah pada paru-parumu.” Elaknya.
Jung Yuan mengangguk dan berkata oh pelan. Orang ini pasti punya penglihatan yang tajam hingga bisa melihat dari jarak sejauh itu. “Ya, aku baik-baik saja,” jawabnya kemudian.
Dan mereka terdiam lagi.
Dalam hati, Jung Yuan ingin bertanya pada si lelaki yang ada di depannya ini. Kenapa ia bisa punya mata emas? Kenapa selubung auranya bisa begitu berbeda? Dan kenapa pula kelompoknya seolah punya masalah pada Xiao Guan dan saudara-saudaranya? Jung Yuan menimang-nimang.
“Boleh aku bertanya sesuatu?” akhirnya ia membe-ranikan diri.
Si lelaki bermata emas mengangguk, “Ya, silahkan.”
“Kenapa warna matamu bisa emas begitu?”
Wei Feng tertawa. Dan Jung Yuan seketika merasa bahwa pertanyaannya barusan kedengaran bodoh sekali. “Haha. Mutasi mungkin.”
Diberi jawaban seperti itu, Jung Yuan menampakkan muka sebal.
“Kau ini lucu kalau memperlihatkan wajah seperti itu,” si mata emas tersenyum. “Baiklah, kuberi jawaban yang jujur. Kakekku orang luar, dia punya mata yang sama persis denganku. Jadi bisa dibilang, mata ini adalah hasil keturunan.”
Jung Yuan mengangguk-angguk malu.
“Ada pertanyaan lain?”
Jung Yuan menimang-nimang lagi. “Uhm... kenapa kalian terlihat seperti bermusuhan dengan Xiao Guan dan saudara-saudaranya? Maksudku, kau dan teman-temanmu itu.”
Wei Feng mendesah, lagaknya seperti berat untuk berkata. “Andai saja aku bisa memberitahumu.”
Sialnya, sebelum Jung Yuan mampu bertanya apa maksud dari Wei Feng berkata seperti itu, bel tanda akhir pelajaran pertama nyaring berbunyi. Gawat baginya kalau sampai ia tak menyerahkan kertas hukuman itu sesegera mungkin pada Guru Sheng.
Ketika Jung Yuan bangkit bermaksud untuk keluar dari perpustakaan, lengan kanannya mendadak ditahan oleh satu tangan kokoh milik Wei Feng. Jung Yuan memandang si lelaki bermata emas dalam kebingungan.
Mata Wei Feng dalam menatap mata Jung Yuan. Seolah ia ingin mengumbar segala kegelisahan dan kerinduan yang tertanam di dalamnya. Dan Jung Yuan yakin, bahwa jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga merasakan kerinduan itu. Lantas, sepersekian detik setelah sengatan rindu menyerang, tiba-tiba ada suatu dorongan amat besar yang menginginkan dirinya untuk berada dalam rengkuhan lelaki ini.
Sungguh, ia tidak paham pada perasaan aneh tersebut. Yang jelas, saat ini hati Jung Yuan dipenuhi dengan rasa rindu berat terhadapnya.
Tubuh Jung Yuan bergetar, jantungnya berdegup cukup kencang. Hati Jung Yuan jadi ribut sendiri. Sebab, makin lama, si pemilik mata emas makin mendekatkan wajahnya ke wajah Jung Yuan. Sepuluh senti. Lima senti.
Dan... Jung Yuan tersentak.

ζ

YANG keduanya tidak tahu adalah, dari jarak beberapa meter, di sudut lain perpustakaan itu, seseorang tengah mengamati mereka. Ia berdiri dengan sorot mata tajam dan nyalang. Tangannya mengepal kuat sementara tubuhnya menegang penuh amarah. Ia murka.

ζ

“KENAPA?”
Jung Yuan hampir tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
“Bukankah kemarin kamu berjanji akan mengantarku ke toko buku? Lagipula hari ini Zhongguo ada ekskul bola, jadi ia tidak bisa mengantarku. Kamu marah?”
Xiao Guan hanya menggeleng, tersenyum getir. “Maaf, tapi aku benar-benar ada urusan mendadak hari ini. Kamu bisa minta tolong pada Taiheng atau yang lainnya. Aku pergi dulu.”
Dan begitulah. Jung Yuan hanya bisa memandangi punggung Xiao Guan yang makin lama makin menjauh menuju parkiran.
Hari ini Xiao Guan aneh, ia tidak tertawa sama sekali. Bahkan ketika Jung Yuan menampakkan wajah paling memelas sekalipun, ia tidak bergeming. Dari tadi pagi, si lelaki bertubuh tinggi itu hanya diam tak mengeluarkan lelucon seperti biasanya. Sejenak, Jung Yuan berpikir bahwa Xiao Guan mungkin tengah menghindarinya. Tapi untuk apa? Bukankah kemarin mereka baik-baik saja? Apakah Jung Yuan secara tidak sengaja telah membuatnya marah? Atau menyinggungnya? Padahal tadi malam Xiao Guan sendiri yang mengiriminya pesan, berjanji bahwa hari ini ia akan mengantarkan Jung Yuan ke toko buku. Sebagai balas rasa bersalah yang belum hilang katanya.
Jung Yuan menghela napas dalam. Ia ingin minta tumpangan pada Shin Qing, namun lekas-lekas mengenyahkan pikiran itu. Jung Yuan baru seminggu mengenalnya. Rasanya tidak sopan kalau tiba-tiba ia minta tumpangan pada lelaki berpipi tembam itu. Nanti apa yang akan dikatakan Shin Qing? Lalu, pikirannya melayang pada Taiheng. Tidak akan! Terpikir anak itu saja sudah membuat Jung Yuan langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bukannya bermaksud kasar atau bagaimana, hanya saja Taiheng itu suka kelewatan bila menggoda.
Dan terakhir adiknya. Zhongguo sih bisa saja meni-nggalkan ekskul bola saat ini, mengutarakan seribu alasan pada guru ekskulnya agar ia bisa mengantarkan Jung Yuan ke toko buku. Tapi tidak. Jung Yuan tidak setega itu mengganggu aktivitas adiknya untuk hal sesepele ini.
Hmm, lagipula rasanya sudah lama Jung Yuan tidak pergi tanpa dibuntuti orang lain. Kalau pergi sendiri kan ia bisa sepuas hati mengelilingi toko buku, tanpa perlu merasa bersalah bila ada orang lain yang sedang menunggunya. Toh itu hanya perjalanan ke kota sebelah yang jaraknya hanya tiga puluh menit.
Ini hebat, Jung Yuan tersenyum bangga pada pemikiran itu.
Ia lantas berjalan menuju halte depan sekolah. Ketika sampai dan Jung Yuan bermaksud untuk mengirim pesan pada Zhongguo, ia melihat Xiao Guan keluar melewati gerbang menaiki motor ninjanya. Begitu elegan dan memukau. Ini lucu. Jung Yuan baru sadar kalau Xiao Guan ternyata bisa semodis dan setampan itu. Apalagi dengan perawakan yang super atletis, pasti banyak orang yang diam-diam menaruh hati pada dia. Bukannya Jung Yuan tidak pernah mengakui sebelumnya, hanya saja kepribadian Xiao Guan yang ceroboh dan suka nyengir seringkali menutupi semua sisi ketampanannya.
Si pemilik tubuh tinggi langsung mengebut segera setelah keluar dari gerbang sekolah. Sepertinya ia tidak menyadari kebe-radaan Jung Yuan di dekat sana. Tapi Jung Yuan tidak marah. Justru ia malah bersyukur pada Xiao Guan yang tidak melihatnya di halte. Siapa tahu saja Xiao Guan bakal berubah pikiran lantas memutuskan untuk mengantarnya ke toko buku? Sayang, Jung Yuan sedang senang atas idenya bepergian sendiri ke kota sebelah. Tanpa perlu pengawalan dari Xiao Guan apalagi Zhongguo.
Sepuluh menit kemudian sebuah bis berwarna abu-abu bergradasi biru datang. Ia naik dan memilih tempat duduk paling belakang. Selama perjalanan, kepala Jung Yuan tak henti-hentinya melongok keluar jendela. Mengingat-ingat jalanan yang dulu seringkali ia lewati ketika berkunjung ke rumah kakek. Yah, sekarang rumah itu sudah menjadi tempat tinggalnya sih.
Di sela-sela bayangannya mengenang masa lalu, kadang-kala Jung Yuan mengecek ponsenya beberapa kali. Zhongguo belum membalas pesan yang tadi ia kirimkan. Mungkin dia sedang sibuk menggiring bola di tengah lapangan sementara ponselnya ia taruh entah di mana. Dan itu adalah kabar baik bagi Jung Yuan. Andai saja Zhongguo langsung melihat pesan itu, berani jamin ia pasti akan segera menemui Jung Yuan dan menyeret tubuhnya dari halte. Lantas memaksanya masuk ke dalam mobil Chevrolet tua sebelum memarahi Jung Yuan terhadap ide-gila-pergi-sendirinya tersebut.
Sesampainya di toko buku, Jung Yuan lekas mengedarkan tubuhnya mengelilingi toko itu. Ia berkeliling dari satu rak ke rak yang lainnya. Hatinya senang bukan kepalang. Apalagi toko buku ini cukup luas mengingat letaknya yang bukan di kota besar. Ia mengambil dua buku pelajaran dan dua novel bergenre misteri. Ah, setelah sekian lama menunggu, dua novel itu akhirnya diluncurkan juga. Pengarang kesukaannya ini makin lama makin tebal saja kalau membuat novel, membuat kantong Jung Yuan jadi cepat jebol. Tapi tak apa. Namanya suka, mau bagaimana lagi? Benar, bukan?
Cukup lama Jung Yuan berkeliling di dalam toko buku itu. Kadang menimang-nimang untuk membeli satu atau dua buku lagi sebelum pulang. Tapi pikiran itu lekas hilang ketika matanya tak sengaja menangkap seorang sosok yang cukup familiar. Sosok yang kemarin ada di pantai bersama Wei Feng dan empat orang lainnya. Dari sela-sela buku yang tertata renggang di rak, Jung Yuan hanya bisa melihat setengah wajah lelaki itu. Tapi dirinya yakin. Benar-benar yakin kalau dia adalah orang yang sama yang mengendarai mobil Bugatti dan menatapnya tajam di pantai kemarin. Lelaki itu tengah menundukkan kepalanya pada buku yang sedang ia pegang.
Seketika pikiran Jung Yuan jadi ribut sendiri ingin menghampiri lelaki itu. Ia ingin menanyakan perilaku anehnya terhadap Jung Yuan. Tetapi separuh hatinya ciut macam pecundang. Jung Yuan takut kalau lelaki itu malah akan marah padanya. Ia juga takut kalau lelaki itu akan menghindar darinya.
Ah, tidak-tidak! Kau harus berani Yuan! Picunya dalam hati.
Jung Yuan memantapkan hatinya, melangkah untuk mendekati pria itu. Semakin dekat jarak mereka, semakin keras pula rasa gugup yang Jung Yuan hasilkan. Ia mengeluarkan tangannya untuk menjangkau pundak lelaki itu. Satu detik. Dua detik. Sang lelaki berbalik badan untuk mengetahui siapakah orang yang telah menyentuh pundaknya.
Sungguh, wajah itu begitu dingin. Matanya tajam, rahangnya keras, tanpa senyum. Auranya sungguh mendo-minasi. Jung Yuan merasa ciut seketika. Ia menelan ludahnya dalam-dalam.
“M-maaf, boleh kita berbicara sebentar?” Jung Yuan terbata mengeluarkan suara.
Lelaki itu hanya diam, wajahnya tidak berubah sedi-kitpun. Serupa batu. Lantas setelah lama ia menatap tajam pada Jung Yuan, lelaki itu berbalik badan. Ia sudah siap untuk mengangkat kaki dari sana ketika pergelangan tangannya tiba-tiba ditahan oleh Jung Yuan.
“Kumohon, aku hanya ingin bertanya beberapa hal padamu?” pintanya.
“Tidak.” Hanya itu yang ia katakan. Suaranya dalam dan kuat. Begitu misterius.
Si lelaki lantas melepaskan cengkeraman Jung Yuan dari pergelangan tangannya, kemudian segera pergi dari tempat itu. Jung Yuan yang tidak mau kehilangan jejak lelaki tersebut, tergesa mengejar. Ia menaruh empat buku yang ada di genggaman pada sembarang tempat. Ketika keluar dari toko buku, Jung Yuan tidak menyadari kalau ternyata langit sudah mulai menggelap. Ia tadi terlalu asik memilah-milih buku di dalam toko. Sebenarnya saat itu masih jam lima, namun karena mendung, langit di sana serasa sudah jam enam sore. Tidak ada gurat jingga apalagi biru. Ditambah lagi dengan lalu-lalang orang yang sangat sedikit, menjadikan suasana di sana seperti kota mati.
Jung Yuan berjalan cepat menyusuri trotoar, sementara si lelaki dingin tak sedikitpun menolehkan kepala ke belakang. Jalannya cepat sekali. Jung Yuan sampai tersandung-sandung sendiri berusaha mendekatkan jarak keduanya. Ketika sampai di sebuah perempatan kecil yang cukup sepi, lelaki itu langsung menyebrang tanpa tengok kanan-kiri. Jung Yuan yang ketinggalan enam meter di belakangnya, awalnya ragu untuk menyebrang, sebab saat itu lampu masih menyala hijau diperuntukkan untuk kendaraan. Tapi Jung Yuan tidak peduli. Ia sudah kepalang penasaran pada orang itu. Ia ingin mengetahui segalanya. Tentang kejanggalan-kejanggalan yang seminggu terakhir menimpa dirinya.
Lantas dengan mantap, Jung Yuan menapakkan kakinya di atas aspal bergaris putih selang-seling. Tapi sial. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba sebuah truk pengangkut barang melaju cukup kencang di jalanan sepi itu. Sorot lampunya begitu terang, menyilaukan kedua mata. Dan entah bagai-mana pula, ketika Jung Yuan berniat untuk lari dari tengah penyebrangan jalan itu, kakinya tiba-tiba saja menjadi lemas. Kemudian jatuh terduduk di atas aspal. Ia mencoba sekuat tenaga untuk bangkit kembali, namun tidak bisa. Serasa lumpuh. Kakinya mati rasa. Jung Yuan panik. Jantungnya berdegup sangat kencang. Tidak ada yang bisa ia mintai tolong. Jalanan itu sungguh sepi. Cukup gelap dan berkabut.
Jung Yuan hanya terdiam di situ. Menunggu truk yang melaju di depannya siap membuat tubuh Jung Yuan remuk tak berbekas. Kedua tangan ia silangkan di depan mata untuk menghindari sorot lampu yang kian membutakan. Sekaligus penghalang bagi dirinya agar tidak sempat melihat truk itu menghamtam tubuhnya secara langsung.
Namun, ketika harapan hidup Jung Yuan hampir punah seluruhnya, ia mendengar langkah kaki terburu mendekat. Lantas seseorang tiba-tiba merengkuh tubuh Jung Yuan. Ia serasa melayang dalam pelukan orang itu. Hanya beberapa detik, kaki Jung Yuan kini telah berdiri tegap kembali di atas trotoar. Ia mendongak untuk melihat siapakah orang yang telah menyelamatkan nyawanya tadi. Jung Yuan hampir terhuyung ke belakang ketika mengetahui siapa orang itu. Kaget. Wajah mereka sungguh dekat sekali. Melihat si lelaki cantik yang hampir terjatuh ke belakang, orang itu sekali lagi melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jung Yuan agar tidak terjatuh.
“M-maaf.” Jung Yuan tergagap.
Si rupa dingin memandang Jung Yuan tajam, tanpa eks-presi. “Lain kali hati-hati. Ada banyak makhluk yang mengi-nginkanmu.”
Jung Yuan mendongak sekali lagi.
“Eh? Maksudmu?” ia bingung terhadap kata-kata yang barusan lelaki itu keluarkan. Makhluk? Menginginkannya?
“Apa kau terluka?” tanya si rupa dingin, tidak menggu-bris kebingungan yang tergurat di wajah Jung Yuan.
“Tidak. Aku baik-baik saja,” jawab Jung Yuan cepat.
Ia memandang wajah lelaki itu. Kali ini lebih dalam dan intents. Sungguh, mata itu seolah kosong dan bosan. Seperti muak dengan kehidupan di dunia ini.
Tidak seharusnya kau kembali ke sini.
Jung Yuan tersentak. Suara itu lagi. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sepi. Tidak ada siapa-siapa. Ah, bodoh sekali aku, gerutu Jung Yuan dalam hati. Tentu saja tidak ada siapa-siapa. Suara itu muncul sendiri dari kepalanya, bukan dari mulut seseorang.
“Itu aku.”
Huh? Sebentar. “Maksudmu, suara yang muncul tadi itu adalah suaramu?” Jung Yuan makin bingung dibuatnya. “Tapi, bagaimana bisa?”
“Berhati-hatilah.” Si lelaki lagi-lagi tidak menggubris pertanyaan Jung Yuan. “Mulai sekarang akan ada banyak makhluk yang mengincarmu. Terutama mereka yang berada di sisi gelap dan menyimpan dendam ratusan tahun padamu.”
“Dendam?”
“Lambat laun kau akan tahu segalanya. Ini bukan tugasku untuk menjelaskan semuanya padamu. Dan,” si lelaki menolehkan kepalanya ke arah lain, memandang jauh ke ujung jalan. “...kekasihmu sebentar lagi akan datang. Aku harus pergi.”
Lelaki itu lantas mengangkat kaki dari hadapan si lelaki cantik. Jung Yuan diam. Butuh beberapa detik baginya untuk mencerna kata-kata si rupa dingin.
“Hei, siapa namamu?!” seru Jung Yuan setelah menyadari bahwa si lelaki telah menjauh beberapa meter dari hadapannya.
Si rupa dingin berhenti sejenak. “Jun Hui,” jawabnya tanpa menoleh ke belakang. “Quan Jun Hui.”



PENGAKUAN


DEMI melihat punggung lelaki berupa dingin itu yang kian ditelan kabut—dan bingung dengan kata-katanya barusan—Jung Yuan tidak menyadari pada kehadiran seseorang yang kini telah berada di dekatnya. Saat telapak tangan orang itu menyentuh pundak Jung Yuan dari belakang, pikirannya otomatis kembali pada kenyataan. Lelaki cantik itu mendongak, memastikan siapa yang dimaksud Jun Hui sebagai pacarnya.
“Yuan, kenapa kamu ada di sini?” itu Xiao Guan.
Jung Yuan memandang lelaki bertubuh tinggi di depannya, matanya memicing. “Seharusnya aku yang tanya, kenapa kamu bisa tahu aku ada di sini?”
“Aku mendapat pesan dari Zhongguo bahwa kamu belum pulang hingga selarut ini.”
“Lalu?”
Xiao Guan mendesah. “Kamu ini maniak atau apa? Kenapa berani sekali pergi sendirian sampai sesore ini? Tahukah kamu kalau sudah lewat jam enam, bakal jarang ada bus yang bisa mengantarmu pulang ke rumah? Kalau sampai menginap di jalanan bagaimana? Kalau ada apa-apa bagaimana? Dan kalau paru-parumu kambuh lagi, siapa yang akan menolong?”
Lantas saja Jung Yuan kaget pada semburan tiba-tiba Xiao Guan. Kenapa dia jadi marah begitu?
“Bukannya kamu yang tadi siang menolak permintaanku mengantar ke toko buku? Yang melanggar janjimu sendiri?” Jung Yuan membalas semburan Xiao Guan.
“Kamu ini, setidaknya carilah orang lain untuk menema-nimu pergi.” Xiao Guan tidak mau kalah.
“Cari orang lain?” Jung Yuan memicingkan matanya kembali.
 “Ya, aku kan sudah bilang, kamu bisa minta tebengan pada Shin Qing atau Taiheng. Atau orang lain yang kira-kira bisa dipercaya. Susah sekali tadi aku mencarimu. Untung saja penjaga toko buku itu berbaik hati menunjukkan arah ke mana perginya dirimu. Aku tahu aku ini memang kelihatan tidak serius dan suka bergurau, tapi aku tidak acuh. Bahkan sebenarnya aku ini adalah orang yang sangat perhatian. Setidaknya hargailah perasaan orang lain yang mencemas-kanmu. Ayahmu dan Zhongguo juga sangat khawatir di rumah.”
Jung Yuan mengeluh dalam hati. Sebenarnya Jung Yuan masih sanggup memperpanjang urusan ini dengan melon-tarkan kalimat lain. Tapi kalau sudah bawa-bawa nama ayah dan Zhongguo, Jung Yuan terpaksa harus tunduk dan menyerah. Xiao Guan benar. Ia harusnya memikirkan perasaan orang lain.
“Ayo, naik ke motor.”
Jung Yuan pasrah, menerima sebuah helm yang disodor-kan oleh Xiao Guan. Ia naik ke atas motor dengan patuh. Rasa kesalnya pada semburan tiba-tiba Xiao Guan lekas tenggelam karena perasaan bersalah dan penasaran yang masih menyelubung di hati Jung Yuan. Ia menuruti kalimat Xiao Guan yang menyuruh Jung Yuan untuk melingkarkan tangannya pada pinggang lelaki itu. Supaya tidak jatuh katanya.
Dan si lelaki bertubuh tinggi nyengir lebar melihat itu. Puas.
Mereka berkendara dalam diam. Sesampainya di rumah, Jung Yuan melepas helm dan memberikannya pada Xiao Guan, lantas mengucapkan terima kasih pada lelaki itu. Ia masuk ke dalam rumah sementara Xiao Guan menguntit di belakangnya, niatnya mau memberitahu Tuan Han terlebih dahulu tentang bagaimana ia bisa menemukan Jung Yuan di pinggir jalan. Lagipula tak sopan kalau ia langsung pulang begitu saja.
Dan Jung Yuan tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tuan Han yang berada di ruang tamu, langsung bangkit dari sofa ketika dilihatnya sosok Jung Yuan memasuki rumah. Di sana, lelaki cantik itu diceramahi habis-habisan oleh sang ayah. Tapi jangan salah. Ayahnya itu tidak marah apalagi membentak Jung Yuan. Tidak pernah sekalipun lelaki berumur empat puluh tahun tersebut memarahi Zhongguo apalagi dirinya. Ceramah adalah satu hal yang ia tunjukkan pada mereka kalau ia sedang cemas bukan kepalang.
Dan Jung Yuan yang menjadi tersangka atas rasa cemas itu, hanya bisa diam dan tertunduk. Kadangkala mengangguk ringan kalau ayahnya meminta dia untuk tidak mengulangi hal itu lagi.
Dan sisa malam itu mereka gunakan untuk makan malam bersama. Xiao Guan yang tadinya mau pulang segera setelah menceritakan semuanya pada Tuan Han, tidak jadi. Ia ditahan dan dipaksa untuk ikut makan malam bersama mereka.
Meskipun masih ada sekelumit rasa bersalah, namun Jung Yuan bisa bernapas lega setelah itu. Suasana segera mencair karena Xiao Guan dan Zhongguo pintar saling melontarkan lelucon yang mampu membuat Jung Yuan tertawa kembali. Sementara Tuan Han menimbrung dengan mengingat-ingat masa mudanya dulu ketika ia masih suka memancing di sungai tepi hutan bersama ayah Xiao Guan. Yah, sekarang pun masih suka, namun kuotanya berkurang. Malu sama umur katanya. Apalagi saat ini sudah menjadi ayah dari dua orang anak yang telah beranjak remaja. Ditambah pula dengan urusan kebun jeruk yang tidak bisa ia tinggalkan. Jadi, hanya sesekali Tuan Han pergi memancing.

ζ

DUA bulan berikutnya berlalu tanpa insiden. Atau seti-daknya sampai hari itu.
Saat ini Jung Yuan tengah memerhatikan satu per satu teman sekelasnya lari mengitari lapangan untuk mengambil nilai olahraga, sementara ia duduk nyaman di salah satu deretan bangku penonton. Gurunya sudah tahu bahwa Jung Yuan punya paru-paru yang buruk, jadi ia mengizinkan lelaki cantik itu untuk duduk saja di sana, tetapi wajib tetap mengenakan kaos olahraga sekolah.
Jung Yuan mendengus iri pada mereka. Andai saja tubuhnya sesehat anak-anak itu, ia pasti bahagia sekali. Bisa berlarian ke sana kemari tanpa perlu khawatir kalau paru-parunya akan kambuh. Atau menaiki sepeda pulang-pergi sekolah. Mengayuhnya ceria sepanjang jalan yang dikelilingi pohon pinus super tinggi. Pasti menyenangkan.
Dia ingat. Dulu, beberapa bulan paska kematian ibunya, ketika ia masih junior di SMA, Jung Yuan pernah kolaps hebat. Ia berteriak di tengah malam untuk membangunkan ayah dan adiknya, dan mereka lantas masuk ke kamar dalam keadaan tergesa-gesa, menemukan Jung Yuan yang terbaring kesakitan di atas tempat tidur. Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali langsung membawa Jung Yuan ke dalam mobil. Ayahnya menancap gas jauh lebih cepat dari biasanya, sementara Jung Yuan menyandarkan kepalanya di atas pangkuan Zhongguo di jok belakang, melewati kota, menembus jalan raya, hingga sampai di rumah sakit. Dan pada saat itu, rasa sakit yang sangat luar biasa membuat Jung Yuan begitu berharap bahwa ia lebih baik mati saja. Ia terus-terusan berucap di dalam hati, bahwa kalau dirinya mati, pasti rasa sakit itu juga bakalan ikut mati. Lantas ia bisa menyusul sang ibu. Ke dalam gelap.
Tetapi ia masih di sini, masih hidup. Duduk dan menga-mati anak-anak lain yang melakukan aktivitas normalnya. Masih bisa berjalan dan bernapas. Merasakan udara pegu-nungan yang entah kenapa selalu mampu memberikan rasa nyaman dan ketentraman dalam dada. Seperti kerinduan pada kampung halaman.
Lama, pikiran Jung Yuan terus mengudara sampai entah ke mana lagi, sampai ia tak menyadari kalau ternyata ada seseorang yang telah duduk di sebelahnya. Tidak dekat. Ada jarak satu atau dua orang di antara mereka. Dan kau tahu siapa dia?
Itu Wei Feng, si mata emas. Lelaki yang mirip model majalah terkenal. Yang ketampanannya suka membuat napas anak-anak sekolah tertahan. Yang kemisteriusannya mem-buat Jung Yuan suka bingung sendiri.
“Hei,” sapanya pada Jung Yuan.
“Hai,” Jawab si lelaki cantik lirih, sedikit tersenyum.
“Kenapa kamu hanya duduk di sini?” Tanya lelaki itu.
Jung Yuan menaikkan satu alisnya. “Kukira kamu sudah tahu bahwa aku punya paru-paru yang buruk?”
Si mata emas menoleh pada Jung Yuan, canggung. “Oh ya, aku lupa.”
Dan ketika Jung Yuan kembali menatap ke tengah lapangan, ia baru sadar kalau ternyata mata anak-anak tengah tertuju padanya. Ke arah mereka. Ini pasti gara-gara kehadi-ran Wei Feng di sampingnya. Sekarang, kalau ia pikir-pikir lagi, kenapa lelaki ini bisa ada di sini?
“Bolos?” tebak Jung Yuan.
Wei Feng mengangkat kedua bahunya. “Tergantung pandanganmu. Guru Lee tidak berangkat hari ini. Beliau meninggalkan tugas pada kami. Dan karena aku sudah selesai dan merasa bosan, jadi yah, kuputuskan untuk ke sini.”
Jung Yuan mengeluarkan oh pelan.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Ucapnya tanpa memeduli-kan pandangan anak-anak yang mungkin sangat cemburu padanya.
Wei Feng tertawa. “Apa sudah menjadi kebiasaanmu kalau mau bertanya harus minta izin dulu?”
“T-tentu saja tidak. Aku hanya...” Jung Yuan tidak mampu melanjutkan kata-katanya, malu. Lantas air muka Wei Feng mendadak jadi serius. “Tapi maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang dua minggu lalu kamu lontarkan. Belum waktunya.”
“Tapi aku benar-benar butuh penjelasan.” Desak Jung Yuan.
Wei Feng hanya menggeleng, wajahnya tetap menunjuk-kan keseriusan.
Ini aneh. Dan lucu. Kenapa sekarang orang-orang jadi suka menyimpan misteri? Apa sedang tren? Wabah macam apa ini? Jung Yuan memang menyukai cerita-cerita misteri, tapi ia tidak suka kalau ada orang yang menyimpan suatu misteri padanya.
“Lalu, untuk apa kamu ke sini?” Tanyanya kesal.
Karena tak menduga pertanyaan bernada kesal—dan terdengar agak ketus―dari Jung Yuan, Wei Feng hampir menjawab “Aku rindu padamu”. Tapi ia buru-buru menarik napas dalam dan berkata, “Tidak apa-apa. Hanya ingin nongkrong di sini.”
“Oh, yah...” Jawaban yang sangat tidak memuaskan, tambah Jung Yuan dalam hati.
Jung Yuan mencoba beberapa kali lagi untuk membujuk Wei Feng agar mau bercerita. Namun, sekeras apapun ia berusaha, Wei Feng tetap enggan untuk membuka suara. Apalagi ditambah dengan tekanan tatapan cemburu yang makin membara dari mata anak-anak, Jung Yuan memutuskan untuk berhenti. Ia sedang tidak ingin menambah musuh di sekolah. Dan jadilah mereka berdua hanya duduk di situ dalam diam. Hingga tiba waktu jam olahraga berakhir.
Yang Jung Yuan tidak tahu adalah, sebagian besar tatapan cemburu itu sebenarnya ditujukan pada Wei Feng, bukan dirinya. Mereka iri pada si lelaki berwajah dingin yang telah begitu beruntung karena bisa berbincang pada si pemilik senyum indah.

ζ

SAAT Jung Yuan tiba di rumah, ia melihat motor Xiao Guan terparkir tegak di halaman depan. Ia dan Zhongguo pulang satu jam lebih lambat karena tadi adiknya mengurus sesuatu dulu di kantor guru. Jung Yuan masuk, niatnya mau langsung berbaring di atas kasur di kamarnya, namun karena mencium bau harum, Jung Yuan malah berbelok manuver ke dapur. Ia mendapati Xiao Guan yang tengah asyik di dekat konter, memasak. Ketika melihat tubuh tinggi besarnya yang terbalut sebuah apron berwarna merah muda, Jung Yuan langsung tertawa. Begitupula Zhongguo.
Xiao Guan menoleh ke belakang.
“Jahat sekali kalian tertawa seperti itu, padahal aku sudah repot-repot masak begini malah diledek.” Xiao Guan berdecih. “Oke, jangan makan masakanku kalau begitu.”
Jung Yuan dan Zhongguo kompak menghentikan tawa.
“Aku tidak tahu kalau kamu bisa memasak.” Ucap Jung Yuan setengah mengejek. Tapi bercanda.
“Ha ha. Kayaknya kamu memang tidak patut deh makan masakanku.”
Jung Yuan tertawa lagi. “Oke oke. Jangan marah, aku kan hanya bercanda.”
Dan sepuluh menit kemudian, Xiao Guan menyiapkan segalanya di atas meja makan. Menunya tidak terlalu mewah, hanya nasi, sayur, dan ayam goreng. Tapi kelihatan sangat menggugah.
“Woah, ini enak sekali!” Puji Jung Yuan sungguh-sungguh di tengah kunyahan. Adiknya mengangguk setuju.
“Ternyata kamu ini calon menantu idaman ya?” Zhongguo menggoda.
Xiao Guan menatap mata Zhongguo sebentar, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain. Pipinya tampak merona merah.
“Kalau begitu nanti bilang pada ayahmu ya kalau aku akan melamar Jung Yuan.” Katanya kemudian sambil nyengir. Dan Jung Yuan langsung merespon itu dengan lemparan sendok ke arahnya.
“Ehem,” Zhongguo berdehem, memotong protesan Jung Yuan karena tak tega melihat kakaknya terpojok. “Ngo-mong-omong soal ayah, di mana dia sekarang?”
“Biasa, ada pesanan jeruk ke kota sebelah.” Jawab Xiao Guan masih nyengir lebar. “Dan sebenarnya aku disuruh ayahmu untuk menyemproti kebun jeruk.”
“Terus, kenapa kamu malah ada di sini?” tanya Jung Yuan menyelidik.
“Aku lapar, jadi yah, memutuskan untuk masak dulu.” Jawabnya sambil menyuapkan sepotong daging ke mulut. “Lagipula, yang disuruh bukan aku saja. Kalian berdua juga harus membantu. Biar cepat selesai.”
“Dan jangan lupa, berterima kasihlah padaku atas masakan enak ini.” Lanjutnya bangga.
“Ya ya ya ya,” kata Jung Yuan sambil mengangguk-angguk dan tersenyum sinis. “Terima kasih Xiao Guan yang tampan dan pintar memasak.”
“Makanan ini sungguh enak sekali.” Tambah Zhongguo ikut-ikutan nyengir.
Setelah menyelesaikan makan siang dan mencuci semua peralatan yang barusan mereka gunakan, ketiganya lantas beranjak ke kebun dan mulai menyemproti pepohonan jeruk. Zhongguo seorang diri di sayap barat, sementara Jung Yuan terperangkap berdua dengan Xiao Guan di sayap timur.
Cuaca semakin sejuk ketika ketiganya sibuk menyem-proti pepohonan.
“Ini tidak adil. Harusnya Zhongguo yang aku bantu, bukannya kamu. Tubuhmu kan tinggi besar begitu, pasti punya tenaga yang jauh lebih besar.” Gerutu Jung Yuan ketika tiba gilirannya menyemprot.
“Tenang, Zhongguo tidak keberatan kalau dia ditinggal sendirian.” Jawab Xiao Guan enteng.
“Kata siapa?”
“Kataku barusan. Hehe.”
Jung Yuan memutar bola matanya. “Baiklah, kalau begitu aku mau pindah ke tempat Zhongguo saja.” Ia menurunkan tengki dan mulai beranjak untuk pergi.
“Jangan!” sergah Xiao Guan, menyambar tangannya. “Tidak, jangan ke mana-mana. Serius, tadi waktu mencuci piring Zhongguo sendiri yang bilang padaku kalau dia tidak keberatan aku bersamamu. Lagipula...”
“Lagipula apa?” tanya Jung Yuan penasaran.
“Begini,” kata Xiao Guan kikuk. “Mungkin kamu sudah tahu, tapi rasa-rasanya kamu selalu menganggapku tidak serius karena yah, aku ini payah kalau soal begituan.” Ia tertawa.
Dan Jung Yuan menunggu, memandang Xiao Guan lamat-lamat.
Dipandang begitu, bukannya langsung mengutarakan apa yang ada di hatinya, Xiao Guan malah makin kikuk. Ia menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. “Ehm... Uhm... Anu,” Xiao Guan mendesah. “Haduh, payah benar aku ini.”
“Kamu mau bicara apa sih?” desak Jung Yuan.
Si lelaki bergigi Leopard lantas menarik napas dalam-dalam. “Aku mencintaimu.” Katanya tiba-tiba, tapi mantap. “Aku mencintaimu, Jung Yuan. Aku tahu kamu mungkin menganggapku aneh karena kamu belum genap mengenalku selama tiga bulan. Tapi percayalah, bahwa aku sebenarnya telah mengenalmu jauh lebih lama daripada itu.”

ζ

LAMA Jung Yuan memandangi wajah Xiao Guan, tak mampu mengeluarkan kata. Ia tidak tahu harus bilang apa.
“Guan,” ujarnya ragu, canggung. “Aku tidak bisa. Maksudku, yah, kita baru kenal tiga bulan dan...” Jung Yuan mendesah.
“Kamu menyukai Wei Feng.” Katanya tiba-tiba. Serius.
Lantas saja si lelaki cantik terkejut dengan semburan itu. Wajahnya terperangah. “Hah? Maksudmu?”
“Kalau begitu jelaskan mengapa kamu berciuman dengannya di perpustakaan.”
Kali ini Jung Yuan benar-benar bingung bukan kepalang. Ia mau membuka suara namun dipotong oleh Xiao Guan duluan. “Wei Feng menciummu.” Katanya lagi. “Aku melihat kalian berdua berciuman di perpustakaan.”
Jung Yuan tidak habis pikir dengan apa yang ada di benak Xiao Guan hingga tiba-tiba ia berkata seperti itu.
Mendadak mata Xiao Guan nyalang menatap mata Jung Yuan. Ia tiba-tiba meraih dagu Jung Yuan, memegangnya erat-erat hingga ia tidak bisa memalingkan wajah dari tatapan mata Xiao Guan. Jung Yuan tidak tahu apa maksud dari lelaki ini. Lelaki berperawakan besar dengan mata bergurat tajam.
Tubuh Jung Yuan bergetar, jantungnya berdegup cukup kencang.
Ia mencoba untuk menenangkan dirinya, tapi rasa gugup ternyata lebih dominan menyelubungi pikiran. Ia bertanya-tanya, apa yang menyebabkan lelaki di depannya ini terlihat begitu marah? Perilakunya mendadak berubah, seperti bukan Xiao Guan.
“Gu—” Jung Yuan hendak protes, tapi terlambat.
Xiao Guan melumat bibir Jung Yuan dalam-dalam. Ciumannya terasa marah dan kasar. Sekuat tenaga Jung Yuan dorong dadanya, tapi sia-sia. Ia bisa merasakan embusan napas Xiao Guan yang panas di dalam mulutnya.
Dan sungguh, untuk sesaat, Jung Yuan sempat melihat iris mata Xiao Guan berubah warna menjadi hijau bening. Persis seperti mata suku Uighur di perbatasan Cina yang pernah ia lihat di internet. Matanya membelalak menyadari itu.
Oke, ini aneh. Tapi sekarang ia perlu menyingkirkan ciuman lelaki ini dulu dari bibirnya. Jung Yuan berusaha mendorong tubuh Xiao Guan lagi jauh-jauh, kali ini berhasil. Ia tarik lengannya ke belakang, lantas mengayunkannya ke depan, dan... PLAK!
Jung Yuan menampar keras-keras pipi Xiao Guan. Saking kerasnya, tangan Jung Yuan sampai berkedut dan memerah sendiri.
“Kamu ini apa-apaan?!” Seru Jung Yuan marah. Ini adalah pertama kalinya dia berciuman. Dan sekalinya ia melakukan itu, rasanya sungguh sangat mengecewakan.
Xiao Guan diam.
“Dan asal kamu tahu, aku tidak pernah dicium oleh Wei Feng!”
“Maksudmu?” Xiao Guan bertanya bingung.
“Awalnya aku juga mengira bahwa dia akan menciumku. Tapi tidak. Dia hanya menyelipkan rambutku ke belakang telinga, lalu pergi begitu saja.” Terang Jung Yuan.
“Tapi jelas-jelas aku melihatnya menciummu.” Sergah-nya tak mau salah. “Dan bahkan tadi pagi kamu asik berbin-cang dengannya di bangku lapangan.”
Si lelaki cantik langsung tersadar bahwa Xiao Guan tadi pagi juga mendapat kelas yang sama di jam olahraga. Dan sama seperti anak-anak lain, ia pasti telah melihat dirinya dan Wei Feng duduk bersebelahan di bangku penonton.
“Itulah mengapa kamu harus menyelidiki sesuatu terle-bih dahulu sebelum menghakimi seseorang!” Jung Yuan berdecak kesal. “Kutegaskan. Di bangku tadi kami tidak sedang berbincang-bincang ria seperti katamu. Justru sebaliknya. Dan kini kamu malah membuat perasaanku jadi bertambah buruk.”
Si lelaki bertubuh tinggi kini tidak bisa berkata-kata. Wajahnya syok dan menampakkan penyesalan. Lagipula, kenapa sih dia begitu membenci Wei Feng dan kawan-kawannya? Batin Jung Yuan.
“Sudah selesai?” tanya Jung Yuan masih jengkel.
Lantas saja wajah Xiao Guan langsung menampakkan rasa bersalah. Ia menyesal.
“Hei,” katanya sambil menelan ludah. “A-aku minta maaf...”
“Semudah itu?” Jung Yuan menjawab sengit.
“Aku tahu tadi itu amat sangat salah. Tapi percayalah, aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah. Sungguh maafkan aku.” Si lelaki bertubuh tinggi memohon. Wajahnya kelihatan memelas sekali. “Atau kamu mau memukulku lagi? Sampai puas, aku tidak keberatan. Kumohon...”
Demi melihat lutut Xiao Guan yang menurun hendak bersujud, mata Jung Yuan langsung membulat. Ia marah, tapi ia tidak setega itu sampai menyuruh temannya sendiri untuk bersujud segala.
“Hei hei, bangunlah,” suruhnya panik. “Jangan berle-bihan begitu.”
Mendengar suruhan Jung Yuan, kepala Xiao Guan langsung mendongak. Matanya berbinar, lalu nyengir. Dasar idiot, batin si lelaki cantik. Ia bahkan hampir tertawa melihat perubahan muka yang sangat drastis dari si lelaki bertubuh tinggi. Ia sebenarnya sangat murka pada Xiao Guan, tapi cengiran jenaka itu malah sukses menghapus jejak kemarahan yang ada di wajah Jung Yuan. Gila!
“Jadi, kamu memaafkanku?” ucapnya semangat, masih berlutut.
Jung Yuan mendesah, memijat-mijat ringan bagian keningnya. “Ada syaratnya.”
Xiao Guan langsung mengangguk, mencoba menarik tangan Jung Yuan.
“Jangan sentuh aku!” Ia tidak bermaksud untuk berseru seketus itu. Tapi yang keluar ternyata di luar perkiraan.
Mendengar seruan Jung Yuan yang amat ketus, Xiao Guan langsung terperanjat dan mundur selangkah. Wajahnya kembali muram.
“Maaf...” lirih Jung Yuan. Eh, kenapa sekarang jadi dia yang merasa bersalah?
Untuk beberapa saat, udara di sana mendadak berubah jadi sangat canggung. Keduanya sama-sama bingung harus berkata apa. Masing-masing merasa bersalah karena kelakuan kekanak-kanakkan mereka.
“Jadi, apa syaratnya?” Tanya Xiao Guan kemudian memecah kecanggungan. Ia kini telah berdiri kembali.
Jung Yuan mendongak. “Kamu harus jawab semua pertanyaanku dengan jujur.”
Dan sungguh, Xiao Guan sangat tahu apa yang akan ditanyakan oleh Jung Yuan. Hatinya berubah jadi tidak nyaman.
Melihat gelagat si lelaki bertubuh tinggi yang tidak nyaman, Jung Yuan berkata, “Kamu tidak harus menjawabnya. Tapi setelah ini, jangan harap kita bisa berteman seperti sebelumnya lagi.”
Sial! Umpat Xiao Guan dalam hati. Ini bencana namanya. Ia merutuki sikap bodohnya tadi. Entah mengapa, hari ini Xiao Guan merasa seperti bukan dirinya. Ini pasti karena rasa cemburu yang sudah kepalang membakar, makanya si buas yang bersembunyi di dalam hati keluar dan mengambil alih nafsu brengseknya. Ia sungguh amat sangat menyesal telah membiarkan si buas mengambil alih nafsu bejatnya. Seharusnya ia bisa menahan. Ah, sekarang Jung Yuan pasti benar-benar sangat membenci dirinya.
“Baiklah...” jawabnya kemudian setengah terpaksa.
Jung Yuan mengembuskan napas pelan, hendak memulai. “Pertama, mengapa kamu membenci Wei Feng? Maksudku, tidak hanya dia saja, tetapi juga kawan-kawannya.”
“Aku tidak membencinya.” Xiao Guan mengelak.
“Jangan berbohong Guan, aku bisa merasakannya.” Jung Yuan menatap Xiao Guan seperti seorang pencuri yang tertangkap basah tengah melakukan aksinya, tidak bisa menghindar.
“Siapa yang berbohong?” Xiao Guan berkata mantap―tapi justru separuh suaranya terdengar cemas.
“Kalau begitu aku pergi!” ancam Jung Yuan sengit.
Mata Xiao Guan langsung membelalak. Ia menghadang Jung Yuan dengan tubuhnya, berusaha untuk tidak bersentuh kontak dengannya.
“Baiklah baiklah, akan kujawab.” Katanya menyerah. “Itu karena aku tidak suka dia dekat denganmu.”
Jung Yuan mengernyit. Yang benar saja?
“Mungkin kamu tidak akan memercayaiku, tapi dia itu tidak sebaik seperti yang terlihat. Aku takut dia akan meninggalkan dirimu, menyakitimu, dan tidak bisa melindu-ngimu,” lagi, tambah Xiao Guan dalam hati.
“Memangnya atas dasar apa kamu menuduhnya seperti itu?” Jung Yuan benar-benar tidak paham dengan apa yang dikatakan Xiao Guan barusan. “Lagipula, kami kan tidak dekat.”
“Belum. Mungkin nanti.” Katanya kalut. “Kumohon jangan dekat-dekat dengannya. Aku tahu ini terdengar aneh, tapi sebenarnya ia juga berusaha sangat keras untuk menjaga jarak denganmu.”
“Tapi untuk apa?” tanya Jung Yuan makin bingung.
Yang ditanya hanya menggeleng pelan. “Maaf, tapi hanya sampai di situ. Aku tidak bisa melanjutkannya. Kuminta dengan sangat agar kamu mau mengerti, untuk kebaikanmu sendiri.”
“Sekarang, ganti ke pertanyaan lain.” Lanjutnya cepat tanpa menunggu respon Jung Yuan yang ia tahu pasti akan berbentuk protesan.
Si lelaki cantik menurunkan kedua bahunya, menurut. “Baiklah. Lanjut ke pertanyaan kedua.” Jung Yuan menatap lamat-lamat mata Xiao Guan. “Jawab jujur, aku tadi sempat melihat matamu berubah warna menjadi hijau. Kamu ini apa?”
Xiao Guan langsung mengeluh dalam hati. Kenapa pula urusan ini harus ia hadapi sendirian? Ingin sekali rasanya ia memanggil Li Huan dan menyerahkan segalanya padanya. Sekarang ia benar-benar mengutuk si buas yang berani-beraninya keluar tanpa bisa ia kendalikan.
“Tentu saja aku ini manusia. Kamu pikir aku ini siapa? Dewa Langit?” Xiao Guan membalas disertai tawa canggung, pura-pura tidak mengerti.
“Kamu jangan pura-pura tidak mengerti, Guan,” si lelaki cantik tidak mudah percaya.
“Memang benar bukan kalau aku ini manusia?”
“Gila ya? Sudah jelas-jelas kalau tadi aku melihat matamu berubah warna jadi hijau!” Jung Yuan akhirnya berseru.
“Sekarang pikir lagi siapa yang gila di antara kita, kamu atau aku? Mana mungkin warna mataku yang aslinya gelap bisa berubah menjadi hijau? Benar? Jadi, aku tidak gila, bukan?” Xiao Guan nyengir.
“Kata siapa tidak bisa?” Jung Yuan mendengus jengkel. “Ada kasus di dunia ini. Jarang memang, tapi ada. Dan untuk kasusmu ini berbeda, bukan seperti orang-orang itu.”
Xiao Guan mengeluh pelan, Jung Yuan ini pendebat yang baik.
“Dan tidak hanya soal matamu saja yang aneh. Gelagatmu, saudara-saudaramu, Wei Feng, juga kawan-kawannya. Bahkan salah satu teman Wei Feng yang bernama Jun Hui memberitahuku tentang makhluk, dendam ratusan tahun, atau apapun itulah. Yang jelas ini bukan masalah biasa, iya bukan? Dan semenjak kedatanganku di sini aku juga sudah mengalami hal-hal janggal di luar nalar. Pasti ada yang kalian sembunyikan, bukan?”
Xiao Guan makin merasa tak nyaman dibuatnya, canggung. “Itu cuma perasaanmu saja mungkin.”
Jung Yuan mengembuskan napas sebal. Xiao Guan ini benar-benar menjengkelkan. Kenapa sih susah sekali? Tinggal jawab, jelaskan, kan semuanya jadi beres?
“Gelagatmu itu justru sedang menjawab sebaliknya, Guan. Pasti kalian memang sedang menyembunyikan sesuatu.” Jung Yuan bersikukuh.
“Yuan―”
“Xiao Guan! Jung Yuan-gege!” keberuntungan untuk si lelaki bertubuh tinggi, seruan Zhongguo menyelamatkan dirinya dari kekukuhan Jung Yuan.
Mereka serempak menoleh.
“Maaf menganggu percakapan super penting kalian,” Zhongguo menatap Jung Yuan dan Xiao Guan yang sepertinya memang tengah membicarakan sesuatu yang amat serius. “Tadi Li Huan-gege mengirimiku pesan kalau kamu disuruh pulang sekarang, Guan. Penting katanya. Ponselmu kemana sih?”
Yang ditanya langsung menepuk-nepuk seluruh sakunya, dan tersadar bahwa semuanya kosong. “Oh, pasti ketinggalan di dalam rumah.”
Xiao Guan lantas melirik ke arah Jung Yuan, merasa bersalah. “Maaf Yuan, tapi sepertinya aku harus pergi. Kita lanjutkan nanti, oke?”
Sebenarnya Jung Yuan agak keberatan dengan itu, tapi ia memutuskan untuk menyerah dan menanggapinya dengan anggukan setuju. Tidak ada gunanya berdebat dengan Xiao Guan, dia hanya akan mengelak semua ucapannya.
“Aku membencimu, Guan,” ucap Jung Yuan kemudian.
“Aku juga mencintaimu Jung Yuan,” jawabnya riang sebelum kabur dari amukan si lelaki cantik.
“Dasar idiot!” teriak Jung Yuan pada Xiao Guan yang telah melesat ke dalam rumah.
“Tidak perlu diragukan lagi.” Timpal Zhongguo yang masih berada di dekatnya, tertawa.



RINDU


HARI-HARI selanjutnya terasa menyebalkan bagi Jung Yuan. Ia sebenarnya ingin sekali melabrak Xiao Guan― menanyakan ‘soal-soal aneh’ yang sempat tertunda, tetapi akhir-akhir ini lelaki tinggi tersebut justru menghindar darinya. Seolah, ia tidak ingin mengulangi kejadian ‘salah’ di kebun jeruk tempo hari. Dan entah kebetulan atau memang telah membuat kesepakatan, Wei Feng juga ikut-ikutan menghindar seperti Xiao Guan. Ini konyol. Mereka saling membenci, tapi kompak sekali dalam membuat Jung Yuan berkesal hati.
Dan virus sebal itu ternyata terus menguntit hingga ia bangun tidur pagi ini.
Jung Yuan menyibak tirai jendela dan mendapati langit dalam keadaan mendung. Sejauh mata memandang, awan hitam bergumpal di atas hamparan kebun jeruk dan hutan, sementara udara terasa dingin dan sepi. Kalau saja saat ini suasana hatinya sedang berbeda, dijamin, pemandangan indah awan bergumul itu pastilah bisa menghibur hatinya sedikit. Tapi tidak. Meskipun sedap dipandang, namun hatinya sedang kalut hari ini. Makanya ia cuma menatap nanar langit tanpa sedikitpun mengapresiasi.
Si lelaki cantik ke luar dari kamar dan turun menuju dapur. Ayahnya sudah ada di meja makan, membaca koran sambil minum kopi.
“Pagi,” sapanya. “Bagaimana perasaanmu?”
“Luar biasa,” jawab Jung Yuan bohong, menampakkan senyum.
Ia menyiapkan semangkuk sereal untuk sarapan. Saat ia menyuapkan sendok pertamanya ke dalam mulut, Zhongguo terlihat berjalan menuruni anak tangga sambil menguap lebar sekali. Rambutnya acak-acakan persis seperti sarang burung yang baru kena topan. Ia duduk di sebelah Jung Yuan dan menjawab sapaan sang ayah.
Selama makan, Tuan Han menurunkan koran dari wajahnya dan mengajak kedua anaknya untuk mengobrol. Mereka berbincang mengenai sekolah, ekskul, dan hal-hal umum lain yang biasa ditanyakan oleh para orangtua. Beliau memang selalu begitu, tak pernah sekalipun menyia-nyiakan waktu bersama keluarga. Bila ada masalah sedikit saja, pasti langsung dibicarakan. Dan terlepas dari usianya yang telah menginjak empat puluh tahun, namun wajah Tuan Han itu masih kelihatan muda sekali. Sangat tampan. Bahkan tak jarang, Jung Yuan dan Zhongguo juga pernah memergoki ada satu-dua wanita yang berusaha mendekati ayah mereka, mencoba mengambil hati Tuan Han untuk dijadikan pasangan. Yang lantas membuat si dua bersaudara itu bakal sadis bin rese menggodai sang ayah dengan mengungkapkan kalimat-kalimat yang memojokkan.
“Cie, yang masih berjiwa muda,” godaan jenis pertama.
“Cie, yang masih laris padahal udah tua,” godaan jenis kedua.
“Cie, yang masih tetap setia walaupun banyak yang menggoda,” godaan sekaligus fakta jenis ketiga.
Dan ketiganya akan selalu tertawa di akhir lelucon itu. Terpingkal-pingkal sampai tak bisa menahan air mata yang keluar. Bahkan selama beberapa jam berikutnya. Selalu.
Namun, ada kalanya Jung Yuan merasa begitu asing berada di antara keluarga ini. Secara harfiah, ia memang merupakan bagian dari keluarga Han. Tapi dia selalu tidak yakin bahwa dirinya benar-benar merupakan bagian ‘asli’ dari keluarga ini. Bahkan sesekali, sempat pula terlintas pikiran konyol mengenai sosoknya yang sama sekali tidak mirip dengan sosok sang ayah atau ibu. Padahal adiknya, Zhongguo, bila disandingkan dengan mendiang ibu mereka, wajahnya kelihatan mirip sekali. Begitupula bila disandingkan dengan sang ayah, matanya sungguh kelihatan sama. Sementara Jung Yuan? Hanya satu kata: berbeda. Disamakan dari sisi manapun, sosoknya benar-benar kelihatan sangat berbeda. Tidak terlihat mirip sama sekali. Konyol memang, tapi begitulah kenyataannya. Ia merasa asing.
Tetapi, meski begitu, tak pernah sekalipun Jung Yuan berani menyuarakan pikiran konyol itu pada mereka. Tentu saja tidak. Ayahnya pasti bakal marah sekali kalau ia sampai bertanya mengenai hal semacam itu. Dan pada akhirnya, setiap kali pikiran konyol itu datang dan menyangkut di kepala, Jung Yuan akan lekas membuangnya jauh-jauh. Menetapkan hatinya bahwa itu adalah bagian terbodoh dari otaknya. Lagipula, toh mereka berempat saling menyayangi. Tak pernah sekalipun ayah dan ibunya memarahi apalagi membentak Jung Yuan. Baginya, ini adalah keluarga yang sangat sempurna. Tanpa cela.
“Hari ini sepertinya bakal dingin,” ujar Tuan Han membuyarkan lamunan Jung Yuan. “Jangan lupa untuk bawa jaket kalian ke sekolah nanti.”
Zhongguo dan Jung Yuan mengangguk. Mereka menghabiskan sereal, memasukkan mangkuk ke dalam bak cuci piring, lalu mandi. Sepuluh menit kemudian Jung Yuan sudah berpakaian, celana jins dan sweater hangat krem lengan panjang berleher kura-kura. Tak lupa ia juga mengenakan jaket hijau pekat kesayangannya.
Dalam perjalanan ke sekolah, Zhongguo memberitahu Jung Yuan bahwa hari ini ia ada ekskul bola.
“Pastikan nanti gege menungguku dulu di dekat lapangan, jangan ke mana-mana.”
Mendengar suruhan bernada tegas itu, si lelaki cantik tertawa.
“Rasa-rasanya kamu ini jauh lebih pantas menjadi seorang kakak ketimbang aku.” Begitu jawabnya.
Saat tiba di sekolah, hujan turun rintik-rintik. Jung Yuan dan Zhongguo menyelubungi kepala mereka dengan tudung jaket, lantas menerobos gerimis yang tak sampai membuat mereka basah kuyup.
Di dalam, lorong dipenuhi dengan berbagai kegiatan. Para murid mondar-mandir di dekat loker, mengobrol, tertawa. Sebagian kecil yang melihat si dua bersaudara ramah menyapa. Jung Yuan tidak tahu nama mereka masing-masing tapi ia tetap balas melambai dan tersenyum pada semuanya. Keduanya lantas berbelok dan berjalan menuju tempat loker mereka berada untuk mengambil segala yang dibutuhkan pagi itu.
Saat kembali ke lorong, Jung Yuan melihat Xiao Guan sedang bersandar di dinding, di tengah sekelompok anak―salah duanya ia kenali sebagai Jing Mo dan Su Yang. Mereka tengah mengobrol dan tertawa. Si lelaki cantik berhenti sekitar lima meter dari kelompok berisik itu. Namun, Xiao Guan yang menyadari kehadiran Jung Yuan di dekatnya, langsung menengadah. Kedua mata mereka saling terkunci untuk beberapa saat sebelum Xiao Guan akhirnya menegakkan diri dan berjalan menjauh menghindari Jung Yuan. Meninggalkan sisa kelompoknya dalam kebingungan.
Jung Yuan mengejar Xiao Guan, mengabaikan seruan Zhongguo yang menanyakan mau ke manakah ia. Tetapi langkah si lelaki bertubuh tinggi itu sangatlah cepat hingga hampir membuat dirinya terjatuh karena tertubruk oleh kerumunan anak-anak sekolah. Dan ketika ia akhirnya berhasil menegakkan posisinya kembali, mendongakkan kepala melewati lautan manusia, tubuh Xiao Guan sudah tidak terlihat lagi. Tenggelam, tertelan para murid yang mondar-mandir di sepanjang lorong.
Meninggalkan si lelaki cantik yang lagi-lagi hanya bisa mendesah karena kecewa berat.

ζ

SETENGAH hari berikutnya lewat dengan penuh kebo-sanan. Jung Yuan sulit memusatkan perhatian pada apa yang dikatakan guru. Apalagi sekarang ia tengah berada di kelas bahasanya Guru Tombol Cokelat―Ah, nama sebenarnya sih bukan itu, tapi Guru Yang. Namun karena ia memiliki tahi lalat yang cukup besar di dagu sebelah kanan, makanya anak-anak suka memanggil beliau dengan sebutan itu. Mirip butiran coklat di biskuit katanya. Ia adalah lelaki tua yang sangat membosankan, selalu membicarakan hal-hal yang tidak penting. Dan kalau boleh jujur, suara Guru Yang itu sengau, tidak jelas bila menerangkan sesuatu.
Dan untuk pertama kalinya, Jung Yuan mulai merasa bahwa orang-orang memang tengah berkonfrontasi untuk membuatnya kesal setengah mati. Padahal sesungguhnya ketika pertama kali ia memutuskan untuk pindah, Jung Yuan berharap semoga kepindahannya ini bakal menjadi sesuatu yang sangat berkesan. Tapi toh yang ada malah sebaliknya.
Apakah mungkin, ini semua ada kaitannya dengan rahasia yang disimpan oleh Wei Feng dan Xiao Guan? Pada perasaan asing yang selalu ia rasakan di tengah keluarganya sendiri? Pada rasa rindu berat yang selalu menyeruak tiap kali ia menatap ke dalam mata emas Wei Feng? Pada kejadian-kejadian janggal yang terus ia alami hingga kini? Jung Yuan merasa bahwa memikirkan hal tersebut tidak akan pernah ada ujungnya, selalu buntu di tengah jalan.
Ketika bel jam makan siang berbunyi, Jung Yuan buru-buru berjalan ke kantin. Di sana, di meja tempat ia biasa duduk, si lelaki cantik hanya melihat sosok Zhongguo, Shin Qing, Taiheng, Xiao Tian, dan Minghao. Tidak ada Xiao Guan. Begitu pula ketika ia menyapukan matanya pada meja paling pojok. Di sana hanya ada Min Qing, Jin Hun, dan Ming Rei, si lelaki bermata emas tidak ada.
Jung Yuan mencoba bertanya pada Zhongguo di mana keberadaan si lelaki bertubuh tinggi, namun ia hanya membalas dengan kedikan bahu belaka. Padahal Xiao Guan itu biasanya bakal menguntit ke manapun Jung Yuan pergi, tetapi kini ia benar-benar tak nampak batang hidungnya. Ah, kecuali di kelas Matematika sih. Tapi itupun duduknya jauh di pojok kanan paling belakang, menghindari Jung Yuan yang duduk di pojok kiri paling depan. Sengaja betul ia berpindah tempat duduk agar dirinya tak bertatap kontak langsung dengan Jung Yuan.
Pun dengan Wei Feng. Ketika ia bertanya pada Xiao Tian soal keberadaan Wei Feng, ia juga hanya mendapat balasan kedikan bahu tidak tahu. Ini benar-benar sempurna. Mereka berdua benar-benar berkonfrontasi untuk membuat Jung Yuan jengkel!
Si lelaki cantik mendesah. Ia gelisah memikirkan dua lelaki yang telah membuatnya linglung setengah mati. Ia berharap, semoga keduanya akan segera muncul dan membeberkan semua rahasia mereka. Dan jujur, di lubuk hatinya yang paling dalam, Jung Yuan juga sebenarnya mati-matian ingin mengenyahkan rasa penasaran itu jauh-jauh. Membuangnya ke tengah laut. Tapi itu tidak mungkin. Terlalu mustahil.
Seusai pelajaran terakhir, Jung Yuan menepati janjinya untuk tak pergi ke mana-mana. Ia patuh menunggu Zhongguo di deretan bangku penonton lapangan sambil membaca artikel online dari ponselnya―senang karena tak ada orang yang berani mengganggu.
Dua jam kemudian kakak-beradik itu pulang dari sekolah. Berkendara seperti biasa. Dan menghabiskan sisa hari itu seperti biasa. Makan siang, mandi, lantas menger-jakan PR.
Malamnya, meskipun hari itu adalah hari Jum’at, Jung Yuan masuk ke kamar lebih awal. Sementara ayahnya yang melihat kemuraman di wajah sang anak, berusaha merayunya agar jangan naik dulu ke lantai atas sehingga mereka bisa nonton film bersama di ruang keluarga. Tetapi si lelaki cantik menolak, berkata bahwa ia merasa lelah dan ingin pergi ke tempat tidur untuk membaca buku.
Tuan Han jelas khawatir. Tidak biasanya Jung Yuan berlaku seperti itu, menolak ajakannya untuk menonton film bersama keluarga. Apalagi ini adalah film karya sutradara kesayangannya. Ini aneh.
Sementara di sisi lain, Jung Yuan agaknya merasa bersalah karena telah menjadi sumber kekhawatiran bagi ayahnya. Tetapi saat ini ia benar-benar sedang tidak ingin melakukan apa-apa kecuali menyendiri di kamar.
Ketika ayahnya datang sekitar jam sebelas, Jung Yuan sedang duduk di ambang jendela sambil membaca buku.
“Yuan, jangan duduk di situ. Berhentilah membaca, ini sudah malam.” Katanya.
“Nanggung Yah, sebentar lagi.”
“Ayah kira kamu benar-benar sedang kelelahan, tapi jam segini malah belum tidur. Ayah tahu kamu itu sudah besar dan tidak perlu diomeli lagi macam anak kecil, tapi kamu juga tahu bagaimana kondisi tubuhmu sendiri.” Ia berhenti sebentar, mengamati Jung Yuan lamat-lamat. “Apa kamu baik-baik saja, sayang?”
Ini sulit. Kadangkala Jung Yuan bingung sendiri bagai-mana harus menghadapi sisi ayahnya yang satu ini. Tapi ia harus meyakinkan beliau bahwa saat ini ia benar-benar dalam keadaan yang sangat baik.
Jung Yuan mengangguk.
“Kamu sedang tidak ada masalah kan?”
Jung Yuan mengangguk lagi.
“Apa ada yang menganggumu di sekolah?”
Jung Yuan menggeleng.
“Kamu yakin?”
“Yah, sungguh, aku tidak apa-apa. Tidak ada yang mengangguku di sekolah. Dan tidak ada pula satu masalah pun yang sedang mengganggu pikiranku.” Jawab Jung Yuan meyakinkan.
Ayahnya mendesah pelan, lantas berkata, “Baiklah kalau kamu merasa baik-baik saja. Tapi menurut Ayah, kamu harus bangkit dari situ dan tidur sekarang juga.”
Namun, Jung Yuan tetap duduk di ambang jendela selama waktu yang entah berapa lama. Hingga akhirnya, ia hampir tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Saat itu jam satu.
Jung Yuan baru saja akan pergi ke tempat tidur ketika tiba-tiba ia melihat sebuah bayangan yang muncul dari pepohonan jeruk.
Meskipun di luar nyaris gelap, Jung Yuan sangat yakin bahwa itu adalah sosok seorang manusia. Sosok tersebut berdiri membelakangi dirinya, memandang lurus pada hamparan pepohonan jeruk. Selubung auranya begitu pekat dan menakutkan. Selintas, Jung Yuan merasakan aura mirip Wei Feng yang melekat pada sosok itu. Tapi bukan, ini sangatlah berbeda. Selubung auranya jauh lebih hitam dan mengisyaratkan kegelapan. Jung Yuan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kaget. Lantas turun dari ambang jendela dan menutup tirainya rapat-rapat.
Ia merasakan detak jantungnya berdegup sangat kencang. Tubuhnya bergetar. Ia takut, tapi insting perta-manya adalah ingin mengetahui siapakah sosok yang sedang berdiri di tengah malam buta begini. Maka, dengan hati yang tak karuan, Jung Yuan memberanikan diri untuk menyibak sedikit tirai jendela dan mendekatkan matanya di sela-sela sibakan itu.
Tetapi, anehnya, hanya pekat yang Jung Yuan lihat. Sosok itu telah hilang dari dekat pepohonan jeruk. Dan sedetik kemudian, secercah cahaya berkelebat. Hanya sedetik, namun cukup membuat Jung Yuan tersadar dan luar biasa terkejut. Sosok itu ternyata sudah pindah ke sisi rumahnya. Berdiri tepat di bawah jendela kamar Jung Yuan.
Sosok itu mendongak ke atas. Sungguh, matanya hitam pekat tanpa warna! Tanpa putih, biru, hijau, ataupun emas!
Dan mata itu seakan menyeringai jahat pada Jung Yuan.

ζ

JUNG YUAN mundur selangkah, dua langkah, lantas tiga langkah. Saking terkejutnya pada pemandangan mengerikan itu, ia hampir saja terjatuh karena tersandung oleh sudut tempat tidur. Ia menurunkan telapak tangannya dari mulut, lalu menelan ludah dalam-dalam. Pikirannya benar-benar kacau. Tadi itu nyatakah? Atau sekadar halusinasi? Jung Yuan tidak bisa membedakan apakah itu hanya khayalan yang muncul di tengah rasa kantuknya atau bukan. Tapi hatinya cukup yakin bahwa sosok itu nyata. Mata kelam itu nyata.
Lama Jung Yuan hanya diam berdiri di situ, menatap nanar pada jendela yang tertutup tirai rapat. Ia merasa, bukan hanya seringaian jahat matanya saja yang menakutkan, namun ada sesuatu lain. Sesuatu mengerikan yang menyeruak dari dalam diri sosok itu. Sebuah rasa. Nostalgia. Ah, tapi bukan. Bukan nostalgia yang sering ia alami ketika berada di dekat Wei Feng, bukan rasa rindu. Melainkan ketakutan dan rasa bersalah. Sangat dalam hingga menohok dada Jung Yuan begitu keras. Serupa kutukan.
Jung Yuan mengerjapkan mata, sekali-dua kali, lantas menyadari bahwa dirinya masih berdiri mematung dengan tangan yang mulai gemetar. Ia tak bisa berpikir. Otaknya tidak menyuruh dia untuk kabur atau lari dari sana. Ia justru merangsek ke atas tempat tidur dan menyelubungi seluruh tubuhnya dengan selimut. Agak aneh memang, sebab ia merasa tak perlu untuk angkat kaki dari kamar dan meminta pertolongan. Ia takut, tapi ia merasa aman pada saat yang sama. Seolah, seseorang tengah melindunginya dari jarak jauh, entah di mana.
Menghiraukan kehadiran sosok kelam yang barangkali belum enyah, Jung Yuan berusaha untuk tidur. Ia memaksa matanya untuk terlelap. Kadangkala sambil menghitung domba, lain waktu memikirkan hal-hal yang dapat membuat matanya lekas terpejam. Tak lama, kesadaran lelaki cantik itu mulai hilang, terdorong jauh menembus kegelapan.
Dan malam itu, ia bertemu dengan seseorang.

ζ

SAAT membuka mata, Jung Yuan telah berganti tempat. Segalanya terasa menyilaukan dan berbeda. Matanya terbuta-kan oleh cahaya yang sangat terang. Amat benderang hingga ia harus menghadangnya dengan kedua tangan.
Dan ketika Jung Yuan merasa bahwa cahaya itu telah berangsur kadar terangnya, setelah perlahan mampu mem-buka kedua mata, hatinya langsung tersentak. Kaget sekaligus kagum. Mata beningnya tak menemukan langit-langit kamar atau lemari pakaian, melainkan sebuah taman! Dan itu bukanlah sekadar taman biasa, melainkan taman yang maha luas dan sangat indah!
Ia memandang sekeliling. Rumput hijau segar terpang-kas rapi di bawah kaki telanjang Jung Yuan. Ratusan jenis bebungaan mekar di berbagai sudut, merekah indah dengan kupu-kupu yang beterbangan di atasnya. Ribuan larik cahaya matahari lembut menerobos pagi. Syahdu. Merdu.
Tetapi, bukan hamparan bunga dan kupu-kupu yang paling membuat hati Jung Yuan takjub, melainkan pohon itu.
Pohon besar yang berdiri gagah tepat di tengah taman. Begitu besar dengan lekukan-lekukan yang indah. Batangnya berwarna putih dan sangat mulus, menjulang sempurna ke angkasa. Dahan-dahannya rimbun dan tumbuh simetris. Dedaunannya lebat berwarna jingga kemerahan. Sama sekali tak ada goresan pada batang pohon, ranting patah, ataupun daun layu. Begitu sempurna dan meneduhkan. Pun di dasar pohon itu, ada sebuah jalan setapak yang terbuat dari pualam berwarna gading. Menjuntang panjang serupa karpet penyambut tamu agung, lantas berakhir pada sebuah gerbang besi tempa raksasa yang melengkung, hampir seluruh jengkal besinya terlilit oleh tanaman sulur.
Jung Yuan mendekat pada sang pohon agung, hatinya begitu terkesima. Ia ingin menyentuhnya, merasakan tiap lekukan dan celah pohon itu. Namun, saat tangannya hampir menyentuh batang pohon itu, ada angin yang bertiup. Bukan angin kecemasan, bukan pula angin ancaman. Angin tersebut justru membawa kehangatan yang syahdu, menghantarkan aroma yang begitu dikenalnya, dari seseorang, begitu lembut, ringan, dan kehangatannya menyeruak dalam dada Jung Yuan.
Lantas, datanglah sosok-sosok itu.
Mereka bertujuh. Berjalan di atas setapak pualam dengan langkah yang begitu anggun. Seolah terbang atau mengambang. Jubah putih panjang mereka melambai-lambai tertiup angin magis. Cahaya terang sekaligus menenangkan menyeruak dari balik tubuh-tubuh malaikat itu.
Seorang lelaki cantik, penuh karisma dan daya tarik, menyita perhatian Jung Yuan. Perutnya agak membesar. Mengandung, Jung Yuan menduga. Mungkin ia seorang pemimpin. Sang lelaki memiliki wajah yang benderang bersinar. Begitu cantik. Serupa malaikat. Mengenakan jubah terindah yang pernah Jung Yuan lihat, paling terang di antara jubah-jubah terang lainnya. Sementara untaian aster jadi mahkota. Senyum lembut menghaturkan kehangatan. Sangat indah dan sakral.
Dan semenjak kedatangan ketujuh sosok itu, alam seolah tunduk. Angin berdesir lebih lembut, kupu-kupu hinggap di atas bebungaan seolah berlutut, nyanyian makin syahdu. Dan Jung Yuan hanya berdiri, ikut tunduk pada kedatangan mereka, pada lelaki bermahkota aster.
Tidak lama, si lelaki anggun melanjutkan perjalanannya sendiri mendekati sang pohon agung. Para pengantarnya berhenti sekitar lima meter dari pohon itu, menunggu. Dan meski sedang mengandung, langkah kakinya tak terlihat tersaruk atau kesusahan. Masih anggun di balik jubahnya yang bersinar.
Jung Yuan memerhatikan sosok sang lelaki bersimpuh di bawah pohon agung. Tangan tertelungkup di atas paha, mata terpejam. Ia menyalurkan energi positif ke seluruh penjuru taman, mungkin pula hingga bermil-mil jauhnya ke luar, membuat tanah-udara makin bersinar, bercahaya, dan tenang.
“Jangan khawatir, anakku....”
Tubuh Jung Yuan seketika bergetar, ia terkejut. Suara itu masih terdengar sama, masih mendayu seperti lagu pengantar tidur terindah yang pernah ia dengar.
“Kasih Ibu seperti sungai yang tak berujung, tak berbatas menampung segala deras air. Tahukah kau, kalau Mama selalu ada di hatimu? Menjagamu sepenuh hati? Dari segala keburukan yang makhluk-makhluk jahat itu lakukan? Percayalah, Mama menyayangimu, sayang. Begitupula dengan Babamu, selalu....”
Hati Jung Yuan luruh bersama suara mendayu itu. Meremasnya penuh kerinduan. Air mata merembes dari ujung kelopaknya. Perlahan, tangis tanpa suara, tanpa sengguk, tanpa jeda.
“Menangislah sayang. Karena setiap tetesnya membasuh luka di hati kita. Tak perlu ditahan. Menangislah kalau kau merindukan Mama, menangislah kalau kau merasa ingin menyerah dari beban yang sebentar lagi datang. Karena menangis dapat menjadi obat bagi sesak di dada. Karena Mama akan selalu ada di sini, di hati Jung Yuan....”
Seembusan angin menyentuh pipi Jung Yuan, merasuk ke dalam hati, menyeruakkan kehangatan. Menjamin segala kedamaian. Lalu, wajah lelaki indah itu tiba-tiba menoleh pada Jung Yuan, perlahan, menampakkan senyum paling menenangkan yang pernah ada. Mereka bertatapan. Terjaga dalam kerinduan.
“Mama merindukanmu...”

“...Yuan...”
“Yuan, sayang?” Tuan Han berusaha memanggil-manggil nama anaknya yang menangis dalam tidur. Matanya bergantian mengamati wajah sendu Jung Yuan dan tangan yang mulai gemetaran. Jelas sekali ia khawatir.
“Sayang? Sayang? Yuan, ada apa?” ia duduk di sisi Jung Yuan, menyentuh lembut kulit pipinya. “Apa yang sakit?”
Sentuhan itu berhasil membangunkan Jung Yuan, tapi tak ada jawaban.
“Mana yang sakit, sayang?” Tuan Han sebenarnya panik, namun berusaha untuk tidak menampakkan.
Dua tangan Jung Yuan bergerak meremas dada. Ia terlihat kesakitan, kesusahan bernapas, dan tersengal-sengal. Ia membuka mulut, berniat untuk mengatakan sesuatu, namun hanya sengalan yang keluar. Bibirnya terasa dingin dan bergetar. Samar-samar, ia melihat tangan ayahnya menjangkau sesuatu di sisi tempat tidur. Lalu ada sensasi sejuk yang tiba-tiba menyeruak di bawah hidung Jung Yuan, ia menduga bahwa itu adalah selang oksigen.
Bukannya membaik, rasa sakit pada dada Jung Yuan justru makin memburuk. Ia menenggelamkan kukunya makin dalam. Ia tersedu, dan ia baru sadar kalau dirinya tengah menangis.
Tuan Han membenarkan posisi selang itu ke belakang telinga Jung Yuan. “Sayang, dengar, detak jantungmu sangat tinggi dan kadar oksigenmu tiba-tiba merendah,” ia berhenti sebentar, melembutkan suaranya. “Sekarang, tenangkan dirimu dan tarik napas dalam-dalam.”
Jung Yuan tidak begitu mengerti apa yang sedang terjadi, tapi ia tahu kalau ia harus menuruti kalimat ayahnya. Ia berusaha untuk tenang, kemudian mengambil napas dalam-dalam lewat hidung. Ia melakukan itu beberapa kali lagi hingga akhirnya merasa normal kembali.
“Masih sakit?” tanya Tuan Han beberapa menit kemudian.
Jung Yuan hanya menggelengkan kepalanya lemah, lalu memeluk tubuh sang ayah erat-erat. “Maaf.”
“Hmm, untuk?” Tuan Han menyambut pelukan itu, membenarkan posisi sang anak di atas pangkuannya. Satu tangan ia gunakan untuk mengelus lembut puncak kepala Jung Yuan. “Jangan meminta maaf, ini bukan salahmu.”
“Kalau rasa sakitnya datang lagi, langsung bilang, oke? Atau... apa perlu kita ke rumah sakit?”
Jung Yuan menggelengkan kepalanya lagi, menggu-mamkan kata “tidak perlu” dalam rengkuhan ayahnya. Mereka bertahan dalam posisi itu untuk beberapa lama hingga Tuan Han bangkit dan turun ke dapur mengambil sarapan dan obat untuk Jung Yuan.
Sekeluarnya sang ayah dari kamar, Jung Yuan mendadak ingin menangis lagi, tersengguk hingga tak ada air mata yang tersisa. Ada kerinduan yang hinggap di hatinya. Ia ingin menceritakan segalanya pada sang ayah, tetapi ia merasa tak mampu untuk menyampaikan mimpi itu kepadanya. Ia sungguh bingung. Jung Yuan telah menghabiskan seluruh hidupnya bersama mereka. Tentu ayahnya akan sangat kecewa jika ia tiba-tiba meragukan perihal posisinya dalam keluarga ini. Terlebih lagi, mereka tak pernah memerlakukan Jung Yuan secara semena-mena. Mereka menyayangi Jung Yuan, sepenuh hati.
Apa yang harus aku lakukan? Jung Yuan mengira-ngira dalam hati. Apakah ia harus mendorong Wei Feng dan Xiao Guan untuk mengungkapkan segalanya? Tapi, bagaimana kalau mereka menolak untuk menjelaskan, walau sudah bersikeras dipaksa? Sebenarnya apa yang mereka sembu-nyikan? Siapa sosok kelam yang tadi malam mendatanginya? Dan siapa pula sosok indah yang dua kali ini telah berkunjung ke dalam mimpinya? Ataukah... sosok lelaki anggun itu sesungguhnya orangtua Jung Yuan yang asli?
Barangkali.
Bagi Jung Yuan, pertanyaan terakhirlah yang paling ingin ia ketahui. Sosok indah itu telah mengganggu hatinya, menyeruakkan rasa rindu yang tak terelakkan. Ia ingin menemuinya, melepas kerinduan secara nyata. Namun ia tak tahu bagaimana caranya. Jung Yuan ingin merengkuh sosok itu.
Ia rindu.


HILANG


KETIKA Zhongguo melihat ayahnya turun dari lantai atas, menyiapkan sarapan dan obat, ia tahu kalau ada sesuatu yang baru saja terjadi pada kakaknya. Sang ayah memang mengaku kalau kakaknya tidak apa-apa dan meminta ia agar tidak khawatir, tapi Zhongguo tahu. Ia selalu takut mendengar kabar semacam ini. Ia selalu ingat akan hari-hari di mana kakaknya kambuh, ketika Jung Yuan mengerang kesakitan atau ketika ia tak sadarkan diri seolah tak akan pernah bangun lagi keesokan harinya. Zhongguo tahu. Dan ia selalu dapat menangkap gurat kecemasan yang tertanam di wajah ayahnya walau beliau tak pernah lepas menyunggingkan senyum jaminan.
Zhongguo menyayangi Jung Yuan. Seluas alam raya, sepenuh hati, tak kurang dari langit dan bumi dijadikan satu. Ia selalu protektif terhadap Jung Yuan, dan sikap protektifnya itu bukanlah tanpa alasan.
Dalam ingatannya, dulu, ketika mereka masih kanak-kanak, sewaktu Jung Yuan baru sepuluh dan Zhongguo sem-bilan, ia hampir saja membunuh gegenya sendiri. Membu-nuh dalam artian sebenarnya.
Ia masih ingat ketika ia usil mengajak Jung Yuan untuk bersenang-senang di sungai tepi hutan dekat rumah kakeknya, menarik-narik lengan sang kakak untuk meniti jembatan kayu kecil reyot walau sejujurnya sudah berkali-kali ditolak.
Zhongguo yang keras kepala, tidak menghiraukan seruan gegenya yang melarang ia untuk menyebrangi jembatan tersebut. Ia tak peduli. Ia justru bersenandung, makin senang hatinya. Ia melakukan itu seolah untuk menantang, mem-buktikan bahwa dirinya adalah seorang anak yang pemberani.
Sayang, sesampainya di tengah jembatan, ketika Jung-kook secara acuh terus-menerus menarik lengan sang kakak, tak sabar menyuruhnya untuk segera menambah langkah, Jung Yuan terpeleset. Bocah cantik itu berseru kaget. Kakinya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terjatuh dari atas jembatan.
Zhongguo yang melihat kejadian itu seketika berseru tertahan. “GEGE!”
Masalahnya bukan hanya tinggi jembatan itu yang hampir mencapai tiga meter, air sungai di bawahnya juga deras, dipenuhi bebatuan pula. Dan kesanalah tubuh mungil itu terhujam. Berdebum. Dan dalam gerakan lambat yang mengerikan, kepala Jung Yuan menghantam bebatuan.
“GEGE! YUAN-GEGE!” Zhongguo pias.
Ia gemetar menuruni jembatan. Gemetar menuju tepian sungai. Zhongguo benar-benar takut. Lihatlah, gegenya tersangkut di bebatuan besar, pingsan. Kepalanya berdarah. Ia sungguh kalut. Ini semua salahnya. Tidak seharusnya ia mengajak gegenya yang sakit-sakitan bermain di tepian hutan. Tidak seharusnya ia memaksa Jung Yuan untuk meniti jembatan berbahaya itu.
“Gege... gege....” Zhongguo menangis. Bingung.
Bagaimanalah ia akan menyelamatkan kakaknya yang pingsan di tengah sungai deras itu? Apa yang harus ia lakukan? Memanggil ayahnya dulu? Tapi bagaimana kalau terlalu terlambat? Bagaimana kalau gegenya terlanjur kehilangan nyawa? Apa yang akan ia katakan pada ayahnya nanti? Zhongguo ciut oleh perasaan takut. Gentar seluruh hatinya.
“Dewa... Zhongguo mohon, Zhongguo mohon, jangan ambil nyawa gege... biarkan Zhongguo saja yang menggantikannya... biarkan Zhongguo saja...” Zhongguo kecil mencicit di tepi sungai, berdoa sambil tersedu. Dadanya bergemeretupan, cemas bukan kepalang.
Lantas, bagai ada burung yang mengantarkan doa tulus itu, secepat kilat, ayah dan kakeknya tiba-tiba muncul dari belakang. Tergopoh-gopoh mereka menyebrangi sungai. Cemas. Kalut. Ayahnya meraih tubuh gegenya yang basah, menggendongnya ke tepian sungai.
“Yuan, Yuan... sayang...”
Zhongguo melihat wajah pucat Jung Yuan. Kepalanya bocor, setengah wajahnya memar. Pun tangan dan kakinya juga terluka. Cairan merah itu mengalir, menodai baju ayahnya.
Wajah sang ayah pias. Sungguh pias. Dadanya berge-meretupan. Takut dan marah bergumul jadi satu, bertaut, dan bertindih-tindih. Bergumul-gumul. Tapi bukan! Ia bukan marah terhadap Zhongguo, melainkan diri sendiri. Tak becus dalam mengawasi kedua anaknya. Ia sungguh menyesal. Matanya memanas, menangis, dan kalap terus-terusan memanggil nama anaknya.
“Yuan.... Yuan, bangun sayang...”
Kakek Han yang melihat anaknya kalap tak bisa tenang, mengambil alih. Ia berusaha untuk tidak gemetar memeriksa kepala Jung Yuan. Lukanya besar. Robek. Beliau melepas kemeja luarannya, mengelap darah. Percuma. Darah terus mengucur. Tapi ia pantang menyerah. Meski ketakutan mencengkeram jantungnya, tapi kakek Han tetap berusaha. Ia memeluk tubuh Jung Yuan, menciumi pipi cucunya, kemudian bangkit dan menggendong tubuh mungil itu dengan bebat kemeja di kepala.
Di rumah sakit, semua orang menunggu cemas. Ibunya terus tersedu, memeluk suaminya. Sementara Zhongguo? Ia hanya menangis dalam rengkuhan sang kakek, berjam-jam. Tak mau berhenti. Merutuki diri. Meyakini bahwa gegenya akan selamat. Hidup dan tertawa lagi esok harinya. Bercanda, saling menggelitiki, melompat-lompat riang di atas kasur, atau saling berebut remot tivi.
Sungguh, Zhongguo ingat betapa gegenya terbaring tak berdaya di atas ranjang, dibelit infus dan banyak selang. Sementara tulisan hijau pada mesin medis terus berdengking, berkedip, dan naik-turun mengabarkan kondisi gegenya yang tengah sekarat. Puluhan belalai peralatan medis menghujam ke tubuh kurus dan lemah Jung Yuan, terlihat menyakitkan.
“Zhongguo-er,” Tuan Han yang sudah kembali lagi dari lantai atas, membawa piring seperempat tandas dan gelas kosong, sekarang telah berdiri di seberangnya. Zhongguo berkedip dua kali, mencoba fokus kembali. Oh, ternyata dari tadi dia hanya mengaduk-aduk serealnya tanpa menyan-tapnya sedikitpun. “Kau khawatir pada gegemu?”
“Um... ya...” Ia tersenyum getir, tertangkap basah. Merasa bersalah karena memikirkan kesalahan masa lalu, kesalahan kanak-kanak yang sesungguhnya sama sekali tidak dipermasalahkan oleh ayah maupun gegenya. Tapi, hati siapa pula yang bisa tenang setelah hampir merenggut nyawa orang lain?
Ayahnya berjalan menuju tempat cucian, menaruh piring dan gelas bekas gegenya di sana, lalu kembali lagi ke dekat Zhongguo.
“Ayah ada urusan di kota sebelah. Kau jaga rumah dan gegemu, ya?” Ayahnya mengacak lembut rambut Zhongguo, tersenyum. “Jangan khawatir, dia baik-baik saja.”
Dan begitulah, setelah memberikan jemari yang begitu tenang dan menentramkan, ayahnya lantas pergi dan meng-hilang secepat embusan angin.
Zhongguo mendesah. Menghabiskan serealnya, meng-ambil satu buku di rak, lalu melangkah keluar rumah dan duduk di beranda depan. Ia selalu melakukan ini ketika hatinya sedang kalut. Tentang bagaimana otak liarnya suka berpikiran yang macam-macam. Tentang bagaimana takutnya ia bila kehilangan Jung Yuan untuk selama-lamanya. Bagi Zhongguo, Jung Yuan adalah sosok abadi yang bersemayam dalam benaknya. Kapan pun ia merasa kosong dan sedih, tubuhnya akan selalu surut pada Jung Yuan, mencari-cari ketenangan. Ia menikmati ketika dirinya berada di pangkuan Jung Yuan sementara mulutnya berkisah panjang lebar. Dan sambil mendengarkan curahan Zhongguo, Jung Yuan biasanya akan membelai lembut kepala sang adik dengan gerakan yang tenang dan mendamaikan.
Zhongguo menyukai hal itu. Ia menyukai segala hal yang ada dalam diri kakaknya. Tawa menyenangkan Jung Yuan, senyum hangat yang ia berikan, dan segala penjelasan yang selalu membuat pikiran Zhongguo jernih kembali. Seolah, gegenya itu memiliki kekuatan magis yang dapat menyem-buhkan luka hati seseorang.
“Percayalah, gege akan selalu ada di sini, menemanimu.” Begitu Jung Yuan selalu berkata.
Zhongguo memandang ke arah depan, pada jalanan sepi yang di kelilingi oleh pinus-pinus raksasa. Ia tak membuka bukunya. Ia tiba-tiba teringat akan rahasia masa kecil gegenya dulu. Sesuatu yang Jung Yuan simpan rapat-rapat hingga kini.
Suatu hari, sewaktu mereka baru pulang sekolah, melewati sebuah taman, Jung Yuan mendadak berhenti dan berseru kalau ia melihat seekor kuda putih. Berdiri gagah dengan surai lembut dan terang bersinar. Katanya, kuda itu seperti memanggil-manggil namanya, menyuruh Jung Yuan untuk mendekat dan menaiki hewan itu. Zhongguo kecil yang tak melihat kuda yang dimaksud oleh Jung Yuan tentu saja kebingungan. Matanya mencari-cari di seluruh penjuru taman, kanan, kiri, tapi tak menemukan apa-apa.
Awalnya, Zhongguo hanya menganggap itu sebagai imajinasi dari gegenya belaka. Ia tak berusaha mengorek informasi tentang kejadian di taman. Namun, lama-kelamaan gegenya itu makin menjadi-jadi. Ia bahkan bilang pada Zhongguo bahwa dirinya memiliki seorang teman baru. Teman yang bila ditanya siapa nama atau bagaimana rupanya, Jung Yuan pasti akan menggeleng tidak tahu. Seolah, gegenya itu baru saja terbangun dari mimpinya.
Dalam kasus yang lebih menyeramkan, Jung Yuan bahkan pernah hampir mencelakai dirinya sendiri. Ia berkeliaran di bawah guyuran hujan selama berjam-jam. Di tengah dingin bulan Desember yang menusuk kulit. Demi mencari seorang teman imajinasi yang katanya sudah berhari-hari tidak kelihatan. Dan karena itulah, ayah dan ibunya menjadi khawatir. Takut bahkan. Bukan takut akan sikap aneh gegenya, melainkan takut jika hal itu dapat mencelakai diri Jung Yuan.
Kadangkala bocah cantik itu bercerita bahwa ia baru saja melihat istana yang begitu megah dan indah. Meraksasa di tengah hutan dengan air terjun, taman, dan makhluk-makhluk mustahil di dalamnya. Jika ditanya apa yang sedang ia pikirkan atau lihat, Jung Yuan kecil bisa menyerocos dengan cerita-cerita yang tiada habisnya, memukau para pendengarnya. Ia juga bersikeras bahwa cerita-cerita tersebut adalah nyata. Bukan khayalan. Bukan pula mimpi. Ia merasa bahwa penglihatan itu seperti sengaja dikirimkan kepadanya, barangkali dari dunia lain.
Dan akibat keanehan ini, kedua orangtua Jung Yuan akhirnya memutuskan untuk membawa anak mereka ke seorang psikiater. Beruntung bocah cantik itu tidak menolak, malah terlihat senang air mukanya. Di tempat konsultasi, Jung Yuan ditanyai dengan berbagai macam pertanyaan yang menarik, dan percakapan itu berlangsung begitu seru hingga Jung Yuan balik bertanya pada sang psikiater. Semacam, bagaimana dengan dokter sendiri? Apakah dokter juga memiliki cerita yang menarik? Apakah dokter dapat melihat hal-hal yang bisa dilihatnya?
Ketika sesi konsultasi tersebut usai, sang psikiater menyatakan bahwa tidak ada yang salah pada diri Jung Yuan. Justru sebaliknya, Jung Yuan itu istimewa. Cerdas dan penuh imajinasi. Sang psikiater juga sempat menyalami dan berte-rima kasih pada orangtua Jung Yuan karena telah membawa bocah itu ke hadapannya. Ia bilang, mereka sangat beruntung bisa memiliki seorang anak seperti Jung Yuan.
Namun, paska kecelakaan di sungai tepi hutan, Jung Yuan berubah menjadi seorang yang bungkam. Ia menjadi lebih pendiam. Ia tak menceritakan kisah-kisah memesona itu kembali. Berhenti. Seolah lupa atau barangkali ia menyadari bahwa tak ada seorang pun di sekelilingnya yang dapat melihat apa yang bisa ia lihat. Tetapi, dalam beberapa kesempatan, Zhongguo sekali-dua pernah melihat gegenya berbicara sendiri. Seperti dulu. Mungkin dengan teman imajinasinya. Yang berbeda adalah, kini ia melakukan itu secara sembunyi-sembunyi. Tak ingin ada yang memer-gokinya.
Dan asal kau tahu, Jung Yuan itu sebenarnya adalah seorang yang jenius. Otaknya cemerlang. Bisa mendapatkan nilai sempurna kalau ia mau. Namun sungguh, urusan kejeniusan inilah yang justru membuat Jung Yuan menjadi seorang yang berbeda. Seseorang yang memiliki pemikiran jauh lebih ke depan daripada anak sebayanya. Hingga membuat ia seringkali merasa terpencil bila berada di tengah-tengah keramaian. Asing. Makanya, semenjak menyadari hal itu, Jung Yuan memutuskan untuk mati-matian berusaha menjadi seorang yang s-e-b-i-a-s-a mungkin. Mendapatkan nilai rata-rata, tidak terlampau unggul dalam diskusi, dan menjadi sesuatu yang tidak terlihat.
Tetapi tetap. Bagi Zhongguo, Jung Yuan-gege adalah seorang yang istimewa. Dalam matanya, dia itu serupa pengendali hati. Karena suatu saat, jika kau beruntung bertemu dengannya, ketika kalian saling bertatap untuk pertama kalinya, kalian akan paham rasa itu. Waktu serasa akan berhenti. Seolah ada cahaya keindahan yang menyemburat dari dalam diri Jung Yuan, menggetarkan jantung. Hingga membuatmu bertekuk lutut dan berakhir jatuh hati padanya.
Zhongguo tersenyum pada kenangan itu. Ia dari tadi hanya duduk di kursi panjang beranda rumah, tak melakukan apa-apa. Berpikir, mengingat-ingat masa lalu. Kadangkala membaca buku yang ada di genggamannya kembali. Empat jam barangkali. Hingga tak terasa waktu siang telah tiba.
Ia mendongak ke atas. Sama seperti kemarin, langit terlihat murung dan kelabu. Gumpalan-gumpalan awan tak mau beranjak dari sana. Senang rupanya membuat kota kecil ini mendung tak tertembus oleh cahaya matahari.
Zhongguo bangkit dari duduknya, masuk ke dalam rumah, lantas naik ke lantai atas berniat untuk mengecek gegenya.
Namun, ketika ia membuka pintu kamar Jung Yuan, sepersekian detik berikutnya, kamar itu terlihat kosong. Jung Yuan tidak ada di sana. Aneh. Firasat buruk tiba-tiba mencengkeram jantungnya, begitu kuat. Seketika Zhongguo mencari-cari sosok kakaknya di seluruh penjuru rumah. Pertama kamar mandi. Tidak ada. Dapur. Tidak ada. Ruang tengah. Juga tidak ada. Zhongguo panik. Ia tidak bisa menemukan kakaknya di mana-mana. Bahkan di luar rumah sekalipun. Sosoknya tak terlihat. Kakak cantiknya itu telah menghilang. Entah kemana.
“Gege! Yuan-gege! Yuan-gege!” Zhongguo panik berteriak. Berseru ke sana kemari. Sungguh, ini benar-benar mengingatkannya akan kejadian tujuh tahun silam. Pada rasa takutnya akan kehilangan Jung Yuan.
“Gege!” jerit Zhongguo.
Ia memutar-mutar di perkebunan jeruk, menyusuri te-pian hutan, kembali lagi ke dalam rumah. Tak ada sahutan.
“Yuan-gege!” panggil Zhongguo, mendadak pemuda tanggung itu merasa sangat cemas. Tak ada sahutan. Ia merasa ada yang salah di sini. Telah ia longok sudut-sudut rumah, dalam dan luar, bahkan hingga sungai tepian hutan yang menjadi masa lalu buruknya. Tak terlihat sosok gege cantiknya itu.
Bergemerutupan hati Zhongguo. Mukanya pias, keringat mengucur. Dada berdentum tak keruan. Ia kebingungan. Takut dan kecewa atas dirinya sendiri. Matanya memanas, menahan tangis, gelegakkan amarah pada dadanya ber-gemuruh.
Zhongguo kira, semenjak pertama kali ia dilahirkan, kemudian dapat berjalan dan berbicara pada Jung Yuan, se-menjak itu pula ia berpikir bahwa dirinya diturunkan ke bumi untuk menjaga sang kakak.

Namun kini ia sadar, semua itu hanyalah omong kosong belaka.
Zhongguo bergegas kembali ke dalam rumah, berusaha tenang dan menghubungi ayahnya. Saat masuk, hutan di belakangnya terlihat lebih suram. Gumpalan awan makin menebal. Kabut pegunungan membuat warna hijau hutan menjadi keabu-abuan. Dingin makin menyumsum.
Dan Zhongguo tidak tahu. Kalau seseorang telah memasuki hutan sunyi itu, sendirian. Mencari sesuatu.

DI DALAM HUTAN ENTAH DI MANA


ADA sesuatu yang memanggil-manggil namanya, menyuruh ia untuk bangkit dan masuk ke dalam hutan. Berupa suara angin. Menelisik dari luar, melewati jendela, kemudian sampai pada telinga Jung Yuan.
Kata suara itu, jika ia ingin mengetahui segalanya, mengakhiri segala kegelisahan dan kerinduan, Jung Yuan harus menemuinya di dalam hutan. Sendiri.
Suara itu terdengar begitu menghanyutkan, merasuk ke dalam hati, membuat Jung Yuan bertanya-tanya siapakah pemilik suara tersebut.
Sambil menyeret tabung oksigennya, Jung Yuan mendekat ke arah jendela besar, menyingkap tirainya yang berwarna gading. Dan ia baru sadar kalau semenjak tadi malam jendela ini hanya tertutup oleh tirai, lupa dikunci karena kehadiran sosok kelam yang sempat membuatnya ketakutan.
Sesuatu menarik perhatian Jung Yuan.
Terpisah oleh jarak seratus meter, di sela-sela pepo-honan pinus, seseorang tengah berdiri menatap Jung Yuan. Itu bukan sosok yang sama seperti tadi malam―atau barangkali begitu kira Jung Yuan? Sebab mata itu tidak berwarna kelam, tidak pula memancarkan ancaman, tetapi berwarna emas yang penuh kesedihan. Orang asing tersebut barangkali sebaya dengan Jung Yuan, lebih tua tiga atau empat tahun mungkin. Rambut hitam legamnya bergerak-gerak tertiup angin dan tatapan matanya terasa pilu. Jung Yuan lamat mengamatinya, lelaki itu pasti tahu mengenai hal-hal janggal yang akhir-akhir ini terus menghantuinya. Lagipula kalau tidak, mengapa ia ada di sana? Mengapa ia memiliki selubung aura yang aneh?
Jemari kurus Jung Yuan perlahan menyentuh permukaan bingkai jendela. Lelaki asing yang tadinya hanya memandangi Jung Yuan dengan tatapan sendu, kini sedikit menarik ujung bibirnya, membentuk seringaian kecil. Mereka berpandangan. Dan waktu seketika terhenti.
Citra-citra mendadak berdatangan lagi di kepala Jung Yuan.
Segalanya tergantikan oleh warna putih. Terlalu putih kalau boleh dibilang. Tidak ada hijau, kuning, maupun ungu. Hanya putih. Lantai, langit-langit, dan dindingnya bersatu dalam warna itu. Kemudian, bagai tamu yang tak diundang, Jung Yuan telah berada di ujung jurang besar terbuat dari bebatuan keras. Air laut di bawahnya berkecambuk menakutkan. Satu per satu bebatuan yang diinjaknya mulai runtuh. Serpihan-serpihannya melayang jauh ke bawah, menimpa lautan berbuih yang ganas. Jung Yuan sangat takut kalau sewaktu-waktu ia akan jatuh, tapi tubuhnya serasa mati rasa. Ia tidak bisa bergerak.
Dan saat Jung Yuan tahu bahwa dirinya benar-benar akan terhempas ke runcingnya bebatuan, air laut di bawah mendadak berubah jadi merah. Saking merahnya, Jung Yuan yakin bahwa itu adalah tumpahan darah. Ia menoleh ke belakang, hatinya tersentak seketika. Jung Yuan melihat wajah seseorang di sana. Pucat, penuh darah. Terlentang di atas tanah yang juga sama-sama terkubangi oleh warna pekat merah.
Lantas seseorang datang, menjeritkan namanya. Menge-rang frustasi, mengguncang-guncangkan tubuh sang sosok yang telah mati. Si lelaki terlihat kacau. Tubuhnya dipenuhi oleh cipratan darah. Ia tersengguk, seolah tak percaya melihat apa yang ada di depannya. Meratapi. Ia berteriak-teriak, memanggil-manggil nama sang kekasih. Memprotes entah pada siapa. Memilukan.
Tanpa sadar, Jung Yuan yang berdiri di ambang jurang, menggigit bibir bagian bawahnya. Asin. Berdarah. Ia melihat si lelaki yang bersimpuh di atas tubuh mayat itu. Dadanya jadi ikut-ikutan sesak mendengar ratapan yang begitu menyayat. Ia ingin mendekat pada si lelaki untuk mene-nangkannya. Mengatakan bahwa segalanya baik-baik saja, bahwa perang ini akan segera usai dan kematian sosok yang ada dalam rengkuhannya tidaklah percuma. Jung Yuan juga ingin mengucapkan kata maaf pada rasa kehilangan yang dialami oleh si lelaki. Maaf karena telah membuat kekasihnya mati begitu saja. Tanpa kecupan akhir. Tanpa kata-kata perpisahan.
Jung Yuan tersadar kembali.
Pipinya terasa basah, tenggorokannya kering. Air mata mengalir tanpa bisa ia bendung. Jung Yuan tahu pasti, bahwa kilasan tadi amatlah nyata. Perasaan pilu itu dengan sadis hinggap di hatinya. Tapi yang Jung Yuan bingung, perang apa yang ia maksud? Rasa bersalah apa yang membuat hatinya jadi begini sedih? Kenapa ia seolah mengenali dua sosok itu?
Jung Yuan tidak mengerti.
Lama, ia hanya memandangi sang lelaki asing, hingga sosoknya pergi dan menghilang di balik perdu pepohonan. Jung Yuan berpikir. Ah, kenapa aku tidak turun saja? Menemui lelaki itu? Dengan begitu, bukankah ia jadi bisa leluasa bertanya padanya? Perihal kebingungannya akan segala hal janggal yang terus menghantuinya? Lagipula lelaki itu tidak terlihat mengancam sama sekali, benar bukan? Barangkali ia akan menceritakan segalanya. Barangkali suara itu berasal darinya.
Maka, Jung Yuan balik tubuh kurusnya. Ia melepaskan selang oksigen dari hidung, membiasakan paru-parunya dengan udara sekitar beberapa saat, kemudian mengenakan jaket dan sepatu. Ia menuruni anak tangga, keluar melewati pintu samping rumah, dan mulai berjalan memasuki hutan.
Menjadi seorang yang katanya berbeda, atau aneh lebih tepatnya, Jung Yuan jadi teringat satu temannya. Teman yang semenjak kepindahannya ke kota ini, dengan anehnya tidak pernah menghubungi Jung Yuan lagi. Sama sekali.
Padahal menurut Jung Yuan, dia itu adalah teman paling setia dan menyenangkan yang pernah ada. Ah, siapa namanya? Bagaimana rupanya? Jung Yuan tidak tahu. Ia tak pernah bisa mengingat nama atau rupanya. Pun ia tidak pernah merasa perlu untuk mengetahui kedua hal itu. Yang jelas, mereka berdua adalah sahabat baik.
Pada mulanya, Jung Yuan mencoba menceritakan hal ini pada ayah, ibu, dan adiknya. Mereka awalnya terlihat kebingungan, namun setelah paham apa yang dimaksud Jung Yuan, mereka mengatakan apa yang dilihat Jung Yuan hanyalah imajinasi. Tak lebih dari sekadar buatan otak kanak-kanaknya belaka. Tapi Jung Yuan menyanggah hal itu keras-keras.
Temannya itu nyata.
Mereka hanya tidak mampu melihatnya. Sama seperti kala mereka tidak dapat melihat kuda putih, istana, atau makhluk-makhluk lain yang selalu memukau Jung Yuan.
Seribu sayang, semenjak kecelakaan tujuh tahun silam, hampir semua penglihatan tersebut sirna. Hanya menyisakan satu. Yang tak lain adalah temannya itu. Pun kehadirannya juga tidak sesering dulu. Sangat jarang hingga membuat Jung Yuan menjadi seorang yang pemurung dan lebih sering diam.
Kadangkala Jung Yuan berpikir, barangkali memang ada yang salah pada dirinya. Barangkali ia memang berbeda dari anak sebayanya. Jung Yuan telah berusaha sebaik mungkin untuk melihat dan memahami dari sudut pandang mereka. Ia bahkan sempat berusaha tidak menghiraukan ‘teman imajinasinya’ itu, menganggapnya tidak ada. Ia berupaya, mati-matian. Namun ketika semua usaha itu tak bekerja, tak ada korelasi mana yang nyata dan mana yang hanya ilusi, Jung Yuan memutuskan untuk berhenti melihat dari sudut pandang ‘orang-orang normal’. Ia kembali berbicara pada temannya lagi. Tetapi kali ini secara sembunyi-sembunyi.
Sebab, memangnya mereka bisa paham apa yang Jung Yuan mampu lihat?
Jung Yuan tak bisa membicarakan masalahnya ini pada kedua orangtuanya, Zhongguo, apalagi orang lain. Kemurungannya ini membuat ia jadi malas untuk berdebat dengan mereka. Karena setiap kali ia membicarakan perihal penglihatan-penglihatan tersebut, mereka selalu saja menganggap itu sebagai khayalan belaka. Dan urusan berbeda pendapat inilah yang sering membuat si lelaki cantik jadi sungkan bercerita kembali. Ia yakin bahwa keputusannya untuk tidak membicarakan soal ini adalah benar. Bukankah ada kalanya sesuatu tidak harus kau ceritakan pada orang lain? Simpan di hatimu, dan segalanya akan jauh lebih baik.
Berjam-jam Jung Yuan menghabiskan waktunya untuk mencari pencerahan, terus berjalan menelusuri hutan sembari mengingat-ingat masa lalu. Jika ia bisa menemukan lelaki itu, yang entah di mana, di dalam hutan, mungkin saja Jung Yuan bisa mendapat penjelasan. Daripada memilih berdiam di rumah, tenggelam dalam rasa ingin tahunya sendiri.

ζ

HUTAN, semakin lama semakin lebat. Cahaya matahari tiada yang mampu menembus tebalnya gumpalan awan, pun kabut pegunungan yang mulai turun. Hiruk-pikuk keliaran memenuhi langit-langit hutan. Ada yang berdengking, berkicau, tetapi semua suara itu seolah memeringatkan Jung Yuan agar ia tidak masuk lebih jauh lagi ke dalam hutan. Bising. Aneh. Tapi kepala Jung Yuan serasa telah tersihir. Ia tidak peduli akan jeritan-jeritan makhluk itu. Ia sudah berjalan hampir tiga jam. Menyusuri jalan setapak yang kadang ada, kadang hilang di tengah hutan.
Tapi, di manakah lelaki itu?
Tanpa bisa Jung Yuan cegah, ia tidak bisa mematuhi peringatan-peringatan para keliaran hutan. Ada sesuatu tak kasat mata yang terus mendorongnya untuk memasuki hutan lebih jauh. Terlalu menghanyutkan untuk ditolak. Jung Yuan benar-benar seperti tersihir.
Ia benar-benar serupa orang linglung, hanya seorang diri.
Jadi, ketika tetes demi tetes hujan mulai jatuh, Jung Yuan juga tidak menghiraukannya. Ia cemas, tapi ia tidak peduli. Hujan membuatnya semakin terperangkap dalam hutan. Seperti dalam lingkaran. Tanpa ia sadar.
Jung Yuan mendongak ke atas, mendung tebal membuat suasana hutan nampak suram dan kelabu. Udara terasa dingin dan lembap. Tanah di bawah sepatunya terlihat basah. Sembari merapatkan jaket, Jung Yuan terus melangkah memasuki hutan yang menyeramkan. Pepohonan yang ia temui tumbuh lebih rapat. Jung Yuan terus berjalan ke dalam, di antara pepohonan, berusaha mengacuhkan peringatan-peringatan para keliaran hutan. Yang anehnya, dan entah bagaimana kini telah berhenti seutuhnya. Tergantikan oleh senyap.
Sangat senyap.
Sunyi.
Tak ada seekor binatang pun yang berkelakar lagi.
Mendung makin menebal. Rintik semakin besar.
Langkah kakinya tak terasa membawa Jung Yuan menuju sisi lain hutan, jauh yang tak pernah ia kira. Seperti digiring. Menuju sesuatu.
Jung Yuan memejamkan matanya, berusaha menenangkan tangan dan tubuhnya yang mulai gemetaran. Gelap. Jung Yuan tiba-tiba mendengar sebuah jeritan. Menyayat hati. Serupa lolongan.
Lolongan siapakah itu?
Mengapa lolongan itu terasa menyakitkan? Menyayat hati, merobek-robek sampai tiada satu kebahagiaan pun yang tersisa? Apakah ini yang dinamakan kepiluan murni? Seperti terlempar ke dalam jurang yang tanpa dasar? Kapankah sampainya? Kapankah hilangnya? Apa maksud dari semua ini?
Ah, Jung Yuan tidak bisa membuka kedua matanya kembali. Seperti ditahan, dipaksa untuk mengingat. Dipaksa untuk merasakan apa yang pemilik suara lolongan itu rasakan. Tubuhnya kaku, diam.
Dalam gelap, seharusnya ia tidak dapat melihat apapun, dan hanya mendengar lolongan yang panjang. Tapi ia tidak. Jung Yuan justru dihadiahi oleh penglihatan-penglihatan mengerikan. Ia benar-benar dipaksa untuk menyaksikan kengerian ini. Dalam mata tertutup yang seharusnya menampakkan gelap.
Ia tiba-tiba berada di tengah medan perang. Ia melihat tubuh-tubuh bergelimpangan, mati. Darah menggenang di mana-mana. Bau anyir menyeruak. Suara teriakan mem-bumbung.
Lolongan-lolongan menyayat hati terdengar semakin jelas. Ceceran darah mengubang. Kepedihan mengepul. Tangan-tangan berpedang berayun-ayun.
CLASH!
Satu kepala tertebas. Menggelinding. Satu jantung tertusuk. Satu perut terobek. Tanah sempurna menjadi lautan merah. Darah.
Suara-suara memilukan tertahan.
Jung Yuan terpaku. Tak bisa bergerak. Ta-kut.
Dan dari segala pemandangan itu, ada sesuatu yang membuat Jung Yuan yakin bahwa sebagian kematian dari tubuh-tubuh itu adalah karena kesalahannya. Menggerogoti kepala Jung Yuan. Membisikkan sesuatu. Sesuatu yang tak ingin Jung Yuan dengar.
Kilasan-kilasan itu menghantui Jung Yuan. Ia membolak-balik, mengamati, menerka setiap jengkal dari ingatannya. Berusaha mencari tahu apa yang telah ia lakukan di masa lampau. Lupakah ia pada sesuatu? Ataukah... Jung Yuan pernah hidup sebelum masa ini? Jika benar, apakah ada dimensi lain yang beriringan dengan dimensinya kini? Jung Yuan tak bisa berhenti untuk bertanya-tanya. Semua hal itu membuat otaknya jadi sesak.
Ia terus dihantui oleh penglihatan-penglihatan meng-erikan itu. Apakah nyata atau tidak? Ia terus ada di sana. Kaku. Diam. Tak dapat memutar kepala kiri dan kanan. Seberapa keras pun Jung Yuan mencoba, hingga kepalanya berdenyut-denyut tak keruan, ia tak bisa menemukan apa-apa.
Apa yang salah dengannya? Apa semua ini benar-benar nyata? Ia menerka. Ataukah ini hanya sesuatu yang sesung-guhnya adalah buatan otaknya belaka?
Kilasan. Wei Feng. Xiao Guan. Mata kelam. Teman. Rasa rindu. Ibu. Semuanya bercampur menjadi satu. Teraduk. Membingungkan. Serupa mimpi, penglihatan itu seperti tak nyata dalam kepalanya.
Mungkinkah semua ini benar kesalahannya? Tapi apa? Bagaimana bisa? Jung Yuan benar-benar tidak mengerti. Pilu hatinya. Gemetar seluruh tubuhnya.
Dalam perasaan sedih dan takut yang teramat sangat, terdengar lagi suara lolongan. Ah, tidak. Kali ini lolongan itu telah berubah menjadi geraman. Geraman yang menakutkan, penuh ancaman, dan ingin membalas dendam.
Lantas matanya tiba-tiba dapat terbuka kembali.
Bukan hanya hutan. Bukan hanya kabut yang ada di hadapan. Ketakutannya mendadak jadi berlipat-lipat ganda. Dadanya bergemeretupan. Seluruh tubuhnya gemetar.
“S-siapa kau?”
Rupa yang muncul di hadapan Jung Yuan sangatlah mengerikan. Semengerikan-mengerikannya seekor makhluk di bumi. Rupa iblis. Mata kelam. Penuh dendam. Makhluk itu tidak membalas. Ia justru menggeram, mendekat dengan keempat kakinya yang yang tertanam cakar tajam.
Jung Yuan takut. Ia tidak bisa bergerak. Bagaimana ini?
LARI!
Sebuah suara merasuk ke dalam kepala Jung Yuan. Entah milik siapa. Entah dari mana asalnya.
Jung Yuan tidak mengerti, tapi ia tahu kalau suara itu benar adanya. Ia harus lari. Secepat kilat, seumpama ia sama sekali tidak memiliki penyakit, Jung Yuan berlari. Sangat kencang hingga ia tidak bisa merasakan lagi udara dingin yang menyumsum. Tidak peduli pada kondisi paru-parunya. Tidak peduli pada hujan yang tiba-tiba turun begitu deras. Tidak peduli pada sekitar. Jung Yuan tidak peduli!
Yang saat ini ia pedulikan hanyalah menjauh dari makhluk menyeramkan itu. Makhluk besar berbulu hitam dan bertaring kuat mengilat. Berotot. Kuat meraksasa. Cengkeramannya laksana ragum seolah-olah dapat mematahkan manusia dalam sekali coba.
M-e-n-g-e-r-i-k-a-n.
Jung Yuan menoleh ke belakang. Makhluk itu masih mengejarnya. Ah, bukan lari. Di mata Jung Yuan, makhluk itu hanya berjalan normal, seolah mengejek Jung Yuan yang berlari ketakutan. Seolah mengejek Jung Yuan bahwa berlari secepat apapun tidak akan menyelamatkannya dari makhluk itu. Jung Yuan hanya manusia. Sementara pemburunya adalah monster ganas. Iblis.
Namun Jung Yuan tetap tak menggubris ejekan itu. Meskipun kecil, masih ada sedikit harapan yang tertinggal di hatinya. Ia berlari layaknya orang kesetanan. Menembus apapun yang ada di hadapan. Sesekali terjatuh karena tersandung tonjolan akar pohon besar. Mukanya pucat sedikit berdarah karena tertampar oleh ranting-ranting pohon. Nahas, setelah berlari entah berapa lama, barangkali rekor terlama sepanjang hidupnya, mengerahkan seluruh tenaga, kaki Jung Yuan terperosok oleh batuan yang menyembul. Batu itu tajam. Melukai kakinya. Jung Yuan kehilangan keseimbangan. Lantas tubuhnya terjatuh pada tanah yang menurun. Berguling-guling. Sekali. Dua kali. Berkali-kali tubuhnya menghantam dahan-dahan kayu. Tanah berkerikil. Jatuh semakin dalam. Sangkut-menyangkut di semak belukar, jatuh lagi. Berdebum. Lantas kepalanya meluncur pada sebuah batu besar. Menghantam.
Tapi Jung Yuan masih sadarkan diri.
Ia mengerang sebentar. Seluruh tubuhnya kotor. Dipenuhi ranting, tanah, dan kerikil. Satu tangannya menyentuh dahi, berdarah. Pening mendatangi kepalanya. Mendadak, ia kehilangan seluruh tenaga. Keringat deras mengucur. Membasahi kaos, sampai pada seluruh tubuh. Jantungnya berkejaran. Napasnya tersengal. Berat. Dan perlahan, ia tak mampu lagi mendengar suara-suara. Tidak pada jeritan keliaran hutan, dan tidak pula pada napasnya sendiri.
Lari! Lari! Lari!
Suara itu panik menyuruh Jung Yuan. Ketakutan. Seumpama ia sendiri yang merasakan. Menangis.
Tak ada waktu! Kau harus bangkit! Lari!
Jangan menyerah, kumohon!
Gemetar seluruh tubuh Jung Yuan. Ia berusaha tersadar kembali. Tertatih ia bangkit. Susah payah ia menumpu seluruh beban tubuh. Sakit. Sepertinya tulang mata kakinya bergeser. Ah, tapi tidak ada waktu! Jung Yuan harus bangkit. Ia harus berlari.
Hujan deras terus membuncah di atas kepala. Guntur menggelegar. Tubuh kurus itu kuyup. Basah. Kedinginan. Menggigil.
Jung Yuan menitikkan air mata, menahan rasa sakit yang teramat sangat. Kakinya nyilu karena dipaksa terus untuk berlari. Dalam hati, ia bertanya-tanya, apa arti semua ini? Apa yang ia cari? Rindu. Kosong. Pilu. Bagaimana bisa semua rasa itu tercampur menjadi satu? Terus-menerus menohok hati Jung Yuan? Air matanya mengalir. Jung Yuan tidak mengerti. Jung Yuan tersengguk.
Ia terseok berjalan. Pasrah sudah pada segalanya. Pada sisa-sisa tenaga yang hanya tinggal secuil. Menerobos perdu. Melewati batang pohon yang tumbang. Entah berapa lama. Barangkali lima belas menit.
Jung Yuan mendengar suara raungan keras dan dalam ketika ia menyadari ada sungai berbatu menghadang di depannya. Aliran airnya sangat deras. Membuat siapapun yang nekat menyebrangi sungai itu tanpa pengaman akan hanyut seketika. Bahkan bagi perenang handal sekalipun. Jung Yuan bingung. Peluang satu-satunya hanyalah menye-berangi sungai itu. Dia harus berani kalau ingin selamat dari ganasnya cengkeraman sang monster. Satu kesempatan untuk menyelamatkan nyawanya. Namun, Jung Yuan ragu-ragu. Melewati sungai berarti ia harus hanyut dan mungkin tenggelam kehilangan nyawa. Atau mundur dan mati tersobek-sobek dalam cengkeraman sang monster.
Raungan yang memekakan telinga terdengar lagi di belakangnya. Dan seketika itu juga, seolah mengamini takdir hidup Jung Yuan, paru-parunya yang sedari tadi diam kini mulai bereaksi. Ia terduduk lemas di atas tanah. Posisinya tersimpuh, dua tangan mencengkeram kuat di dada. Rasanya sesak sekali. Padahal ia sedang berada di dalam hutan, oksigen sangat berlimpah di sana. Namun, ia tahu, inilah akhirnya. Jung Yuan harusnya sudah menduga bahwa ia tidak bisa lepas dari takdir kematian. Cepat atau lambat pasti nyawanya akan melayang. Tenggelam atau tercabik.
Dia tidak mungkin lolos.
Jung Yuan berbalik, sang monster kini telah berada tiga meter di hadapannya. Jung Yuan memandangi mata hitam gelap menyala itu. Mata yang seolah menyimpan dendam ratusan tahun. Mata yang penuh kemarahan sekaligus pilu luar biasa. Perasaan Jung Yuan jadi ikut sedih seperti tatapan makhluk menyeramkan itu. Bayangan sang ayah, mendiang ibu, Zhongguo, kakek, dan neneknya berkelebat. Saat itu juga ia seolah ingin meneriakkan kata maaf terakhir pada mereka. Atas segala kerepotan yang selama ini telah ia timbulkan.
Penglihatan Jung Yuan mengabur, air mata sudah buncah ingin keluar dari pelupuk mata. Kepalanya juga mulai pening dan sakit. Sepersekian detik setelah itu, tubuhnya ambruk ke atas tanah.
Ia tahu, ini adalah akhirnya.
Monster itu makin mendekat ke arah Jung Yuan. Salah satu kaki sang monster yang amat besar mencengkeram kuat pundak kanan Jung Yuan. Kuku-kukunya yang tajam dan panjang membuat kulit Jung Yuan robek dan mengeluarkan darah. Kalau saja penglihatan Jung Yuan tidak mengabur, ia mungkin akan sangat ketakukan melihat rupa mahluk itu. Menggeram tepat berada di depan wajahnya. Taring kuat mengilat seolah baru diasah, mata hitam pekat menyalak penuh dendam, dan tubuh super besar penuh bulu lebat. Siapa pula yang tidak akan merinding menyaksikan itu? Ah, namun dari kejauhan pun Jung Yuan sudah tahu bagaimana mengerikannya rupa mahluk itu. Agaknya ia amat bersyukur karena matanya berair, tidak perlu bertatap-tatapan secara langsung sedekat ini.

Namun, entah bagaimana tiba-tiba Jung Yuan merasakan cengkeraman mahluk itu enyah dari pundaknya. Di tengah kesadarannya yang tinggal secuil, samar-samar ia mendengar suara keretakan keras sekali. Seperti dua batang kayu besar yang ditumbuk. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Tiap keretakan selalu diiringi dengan suara raungan yang amat menyakitkan.
Perlahan, mata Jung Yuan mulai menutup, tapi secara bersamaan ia juga merasakan ada seseorang yang meng-guncang-guncang tubuhnya lembut.
“...Yuan...” ada yang memanggilnya. “Jung Yuan...”