PROLOG


Bagaimana mungkin?
Ruka menerka-nerka. Bagaimana mungkin hidupnya begini menyedihkan? Apa salahnya?
Tubuh kurus kering telanjang Ruka bergetar hebat. Menggigil. Tulang-belulang yang menonjol di bawah kulit pucatnya itu terlihat mengerikan. Ia belum makan selama berhari-hari. Ia tidak bisa melakukan apapun. Ia hanya bisa menangis. Sesenggukan. Meringkuk di pojok ruangan gelap dingin itu. Sendiri.
Tangan dan kaki terikat.
Mulut tersumpal.
Tubuh telanjang penuh lebam. Hasil siksaan. Cambukan. Pukulan.
Menunggu diterkam. Menunggu untuk diperkosa lagi.
Menunggu kematian.
Tangisan tertahan Ruka bisa terdengar. Begitu pula rintihannya yang menyedihkan. Ia gigit kuat-kuat kain yang menyumpal mulutnya. S-a-k-i-t. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Mati rasa. Penuh lebam.
Darah dan luka di mana-mana.
Sungguh, hingga kini, tak pernah secuil pun keberuntungan yang pernah mampir dalam kehidupannya. Sekali ia merasakan kehangatan seorang Alpha, jatuh cinta layaknya manusia lain, keberuntungan itu justru berakhir di dalam ruangan kotor dingin ini. Alpha yang telah ia percayai sepenuh hati justru tega menyekap dan memerkosanya tiap hari!
Hidup Ruka benar-benar buruk... sangat buruk.
Semenjak awal kehadirannya di dunia, ia telah hina. Kotor. Busuk. Tak pernah diinginkan oleh kedua orang tuanya. Hidup dan tumbuh di sebuah panti penampungan kecil.
Ketika ia baru sepuluh tahun, kau tahu? Sekecil itu ia telah dipermainkan oleh paman pemilik panti asuhan tempat ia tinggal. Bayangkan. S-e-p-u-l-u-h. Bajingan itu selalu memperlakukan Ruka layaknya sampah. Mengancam akan membunuh si omega bila ia berani-beraninya mengadu pada orang lain soal ini. Dia membuat Ruka sebagai budaknya selama bertahun-tahun. Hampir setiap malam.
Dan tak hanya digerayang oleh lelaki tua bejat itu. Menjadi satu-satunya omega dan yang termuda di panti penampungan juga membuat hidup Ruka makin penuh penderitaan. Sengsara yang menakjubkan. Ketika Ruka baru tiga belas... ia digerayang oleh penghuni panti asuhan lain. Oleh para kakak laki-laki yang ia kira awalnya baik. Mereka menyentuh Ruka. Menggerayangnya. Memerkosanya. Lantas meninggalkan tubuh telanjang Ruka begitu saja. Tergeletak penuh lebam, kotor, sendirian...
Ruka tergugu, meratapi takdir hidupnya yang begitu kejam. Wajahnya basah. Basah oleh cairan kental putih menjijikkan dari lelaki yang telah menyekapnya, basah oleh air mata.
Ia benar-benar tak pernah menginginkan ini. Ia tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai seorang omega.
DAN DEMI DEWA! DIA JUGA TAK PERNAH MEMINTA UNTUK DIPERKOSA!
Namun apa yang bisa ia lakukan....
Paling tidak, bila ia mati hari ini, seluruh penderitaannya tentu akan hilang. Malam-malam penuh penghinaan ketika ia digerayang, hari-hari penuh luka ketika ia dipukuli. Semuanya akan hilang. Lenyap bersamaan hidupnya yang sebentar lagi akan terbawa angin ke dalam gulita.
Maka, ketika pintu ruangan dingin gelap itu berderit terbuka, sedikit-demi sedikit menampakkan sosok penyekapnya, Ruka menyerah. Benar-benar menyerah.

Ia tergugu. Membuat tubuhnya sekecil mungkin di pojok ruangan itu. Meringkuk seperti janin. Seluruh penderitaannya akan lekas berakhir.
Ia akan mati.
Segera―